Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Lagi Video Mesum Pelajar SMA Meresahkan Situbondo

SITUBONDO – Masyrakat Situbondo, Jawa Timur, saat ini tengah resah dengan beredarnya video mesum sepasang pelajar SMA.
Baca lebih lanjut

17 November 2012 Posted by | hukum, Seksualitas | , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Inilah “Dawarblandong Bergoyang” Video Mesum Pelajar Dari Mojokerto

MOJOKERTO – Dua pekan terkahir di bulan ramadhan ini, warga Mojokerto, Jawa Timur, heboh oleh beredarnya video mesum yang diperankan sepasang ABG, yang diduga sebagai pelajar SMA asal Dawarblandong.
Baca lebih lanjut

11 Agustus 2012 Posted by | Pendidikan | , , , , , , , | 4 Komentar

Heboh lagi, Oknum Polisi Pasuruan Diam-diam Rekam Mahasiswi Kebidanan Mandi

Pasuruan – Ada-ada saja ulah serta kenekatan lelaki bila sudah hendak mengintip tubuh perempuan, terlebih saat mandi –yang tentu saja harus menanggalkan seluruh pakaiannya, alias bugil– walau kasus-kasus semacam ini terus saja bermunculan dan diantaranya hingga dilaporkan ke pihak berwajib untuk diproses, tetap masih saja ada yang masih nekat melakukannya. Bahkan seperti yang ini, oleh anggota polisi sekalipun!
Baca lebih lanjut

12 September 2011 Posted by | hukum, Kepolisian, Kriminalitas | , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Massa Bakar Puluhan Mobil DPRD Mojokerto

Kericuhan mewarnai rapat pleno penyampaian misi dan visi calon bupati Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (21/5). Puluhan massa dari Aliansi Rakyat Kabupaten Mojokerto (Arkam) mengepung dan menjebol pagar gedung DPRD setempat. Baca lebih lanjut

21 Mei 2010 Posted by | Uncategorized | , , , , | 2 Komentar

TKI Madura Tewas disembelih, Akibat Perselisihan Dengan TKI Asal Jawa?

KUALA LUMPUR -Sama-sama merantau di negeri orang, ternyata serta merta tidak membuat sesama TKI saling kompak. Sebaliknya, justru saling membunuh, itulah yang terjadi.
Ironisnya, kejadian itu berlangsung di negeri yang kerab dicap provokator dan maling oleh sebagian bangsa Indonesia, Malaysia. Baru-baru ini pihak berwajib Malaysia Baca lebih lanjut

27 Januari 2010 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , | 2 Komentar

Mitos Kesaktian Dan Kesembuhan Instan

Fenomena_tabib_cilik

Muliana (40) merayu polisi di ujung pintu masuk Dusun Kedungsari,
Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (12/2). Ia
bertanya mengapa pengunjung luar desa dilarang masuk dusun tempat
tinggal tabib cilik M Ponari.

Pengusaha salon di Jombang yang sejak empat tahun lalu terkena asam
urat itu menuturkan, ia telah tiga kali datang, tapi selalu gagal
menemui Ponari. Muliana berharap kesembuhan dari Ponari karena sudah
bosan berobat ke dokter. “Sekali ke dokter spesialis habis Rp
100.000.
Itu seperti duit terbuang karena saya tidak kunjung sembuh,”
ujarnya.

Selain Muliana, ada Jatmiko (32) dan Marodi (32). Buruh tani yang
datang dari Tuban sejak pagi hari itu mengeluh sakit sendi dan tulang.

“Saya sakit di punggung. Kata dokter, kecapekan. Lima kali berobat
enggak sembuh. Teman saya sakit di paha,” kata Jatmiko menunjuk
Marodi.

Menurut Jatmiko, biaya dokter Rp 50.000-Rp 100.000 tiap kali datang.
Padahal, penghasilan lelaki beranak satu itu hanya Rp 25.000 per hari.

Jatmiko mengaku belum tahu kalau lokasi praktik Ponari ditutup sejak
Selasa lalu. Hal serupa dikatakan Marsih (40) dan Tri (32), pedagang
di Pasar Ploso, Jombang.

Ribuan calon pasien masih memadati dusun Ponari. Mereka berharap
praktik pengobatan Ponari dibuka kembali.

Sebagian dari mereka bahkan bertindak di luar akal sehat. Mereka
mengambil air sumur milik tetangga Ponari dan tanah di sekitar rumah
Ponari. Mereka percaya air dan tanah itu berkhasiat menyembuhkan.

Hal itu diyakini Ano Setiawan (34) yang datang bersama istrinya dari
Madiun untuk mencari kesembuhan bagi anak mereka. Lulusan SMA yang
menjadi buruh dengan penghasilan Rp 25.000 per hari itu sudah di
lokasi tersebut sejak Minggu, tetapi Ponari belum bisa ditemui. “Ya,
saya ambil air dan tanahnya saja. Pokoknya saya yakin,” kata Ano
sambil memotong daun pisang untuk membungkus tanah.

Suwaji (49) dari Bojonegoro juga memutuskan membawa air dari sumur
tetangga Ponari. “Saya sudah ke sini enam kali. Lima kali sebelumnya
saya dapat air dari Ponari dan keluarga saya sembuh. Sekarang saya
dimintai tolong juragan saya,” ujarnya.

Wahyudi (45), tetangga Ponari yang air sumurnya diminta ribuan calon
pasien, mengaku tak tahu mengapa banyak orang percaya khasiat air
sumurnya. Wahyudi yang bekerja sebagai buruh tani itu mengaku tidak
bisa berbuat banyak sekalipun hal tersebut mengganggu aktivitas
keluarganya.

Orang-orang itu mengaku tidak punya akses pada program Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Purwanto (35), pegawai Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yang
ikut mengantre bersama kerabatnya, Sutar (48), mengatakan tidak tahu
cara mengakses Jamkesmas.

Calon pasien lain, Istiqomah (54), pedagang ikan laut di Pasar Batu,
Kota Batu, mengaku enggan mengurus Jamkesmas karena terlalu berbelit.
“Kalau sama Ponari, langsung datang, (bayar) seikhlasnya dan insya
Allah sembuh. Saya ke dokter berkali-kali dan sudah habis banyak uang,
tetapi belum sembuh,” kata Istiqomah.

Latar belakang pasien dan calon pasien Ponari tidak hanya kalangan
masyarakat yang kurang mampu atau kesulitan menjangkau pelayanan
kesehatan yang berkualitas.

Padahal, orangtua Ponari, Kamsen (30) dan Mukaromah (28), bersepakat
agar anak mereka menghentikan praktik pengobatan. Kesepakatan itu
diputuskan pihak keluarga, pimpinan daerah, guru sekolah, dan petugas
kesehatan di Kantor Kecamatan Megaluh. Penyebabnya, Ponari jatuh
sakit. Ponari juga ingin kembali sekolah. Apalagi masyarakat sekitar
rumah mereka terganggu akibat banyak orang datang.

Namun, hingga Jumat, Ponari yang duduk di kelas III SD Negeri 1
Balongsari, Megaluh, belum masuk sekolah. Mukhlison, kerabat Ponari
yang membantu mengatur calon pasien, mengatakan, untuk sementara
Ponari belajar di rumah dibimbing seorang gurunya.

Budaya lama

Dalam pandangan guru besar sosiologi kebudayaan Universitas Darul Ulum
Jombang, Prof Dr Tadjoer Ridjal, fenomena sedemikian percayanya calon
pasien Ponari disebabkan unsur sugesti yang tidak bisa disediakan dari
layanan kesehatan medis. Hal itu tak lepas dari minimnya akses layanan
kesehatan yang berkualitas dan terjangkau.

Terus membanjirnya ribuan calon pasien Ponari, bahkan setelah
pengobatan dihentikan, menurut Tadjoer, dapat ditelisik dari pemahaman
sebagian masyarakat Jawa soal kekuatan yang tidak didapatkan dari
prestasi, melainkan lewat proses penyerapan, bisa lewat keturunan atau
titisan, bisa pula lewat proses penaklukan.

“Fenomena Ponari ini cocok dengan konsep titisan. Seperti kisah Ki
Ageng Sela yang dalam kepercayaan Jawa bisa menangkap petir,” kata
Tadjoer.

Ia menyimpulkan, apa yang terjadi dalam kasus Ponari adalah bangkitnya
mitos warisan budaya lama dalam kultur Jawa kuno soal kesaktian.

Banyak orang bertahan menunggu giliran berobat pada Ponari, walau
banyak orang menganggap hal itu tak masuk akal dan secara resmi
pengobatan sudah ditutup. Agaknya, hal itu akibat kepercayaan terhadap
kesaktian, lama dan mahalnya pengobatan secara medis, serta keengganan
mengurus akses pengobatan gratis dari pemerintah.

Kliping: kompas com

14 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar