Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

“DEMO BERBISIK” Saingan Film Pasir Berbisik?

Saya pikir tidak ada salahnya bila kegelisahan Adhie M Massardi
pada milis Kompas saya tuangkan disini.
Siapa tau bisa membantu kondisi demokrasi kita yang tengah megap-megap dihimpit cengkraman tangan besi para pemimpin kita yang mungkin tengah galau memikirkan kedudukannya sekaligus pada sisi lain juga harus memikirkan teriakan panik jutaan masyarakatnya yang tengah demam resesi ini.

DEMO BERBISIK
by Adhie M Massardi

PADA 2001,
sineas muda Nan T Achnas bikin film indah berjudul Pasir Berbisik. Berkisah
tentang cinta yang kompleks seorang gadis desa, dan ibu yang letih dan takut
kehilangan. Christine Hakim bermain bagus sebagai ibu. Tapi lebih bagus lagi Dian
Sastro yang jadi Daya, gadis dusun itu. Makanya di Festival Film Asiatique
Deauville dan Festival Film Antarangsa di Singapura, Dian menyabet gelar Aktris
Terbaik.

Karena waktu
itu belum ngetren film nasional, Pasir
Berbisik tidak bikin berisik. Sehingga tidak menarik perhatian Presiden RI
untuk nonton. Kalau toh tertarik, karena presidennya waktu itu Gus Dur, tentu
tidak mungkin nonton film. Presiden RI lebih banyak menikmati suara berisik
para demonstran. “Bagaimana pun itu kan suara rakyat, harus kita dengar,” kata
presiden kepada jubirnya saat itu.

Memang, waktu
itu, hampir setiap hari Istana disatroni demonstran, baik yang pro maupun yang
kontra. Sudah lazim demonstran membawa mobil komando dengan loudspeaker segede-gede kulkas yang
ditumpuk-tumpuk, diarahkan ke Istana. Tentu saja suaranya menggelegar seperti sound system pentas musik rock.

Tapi di dalam
Istana, presiden dan para anggota kabinet, salah satunya Jenderal (Pur) Susilo
Bambang Yudhoyono, tetap bekerja.Begitulah nasib penguasa di era pasca
Soeharto. Rakyat berani berteriak-teriak di depan Istana. Begitu pula yang
dialami Presiden Megawati dan para anggota kabinetnya, yang salah satu di
antaranya Jenderal (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekarang suasana demokratis seperti itu,
yang memungkinkan suara rakyat yang gelisah terdengar langsung ke dalam Istana,
tampaknya akan segera berakhir. Gara-garanya, Presiden Yuhoyono merasa
terganggu oleh suara-suara yang gelisah itu.

Kata Presiden,
seperti dikutip sebuah situs berita, “Kita ini mau mulai rapat, ada unjuk rasa,
jadi tidak bisa bekerja. Bahkan unjuk rasa menggunakan loudspeker sebesar itu. Ini siapa yang harus menangani? Saya rasa ini satu-satunya negara di
dunia yang seperti ini…!”

Karena yang
bicara Presiden merangkap Kepala Negara, Kapolri Jenderal Bambang
Hendarso segera merespon ala komando. Makanya, ia mengaku akan menindak tegas
demontrasi di depan Istana yang berisik hingga mengganggu jalannya rapat
kabinet. Dan mobil pendemo dengan loudspeaker
besar itu pun langsung diamankan polisi. Tinggal rakyat yang kini bingung.

Bagaimana mungkin
mengekspresikan aspirasi, melakukan unjuk rasa akibat penderitaan yang
ditimbulkan oleh kebijakan dan “ketidakbijakan” penguasa dengan cara
bisik-bisik? Lha, dengan memakai loudspeaker
saja tidak didengar? Padahal kan jubir presiden pernah janji boleh demo ke
Istana sehari tiga kali? Kalau demo sehari tiga kali tapi bolehnya hanya
bisik-bisik, apa bisa didengar?

Tapi saya berharap
keinginan Presiden Yudhoyono ini ditaati para demonstran. Sehingga bangsa
Indonesia bisa menjadi contoh bagi dunia bagaimana mengatur demo secara santun
dan sepi. Tidak seperti di Eropa dan negara lain yang rasanya “bukan demo kalau
tidak pakai perang bom molotov!” Seperti setiap hari disiarkan TV kita.

Mungkin agar lebih
bermanfaat, para demonstran kalau mau unjuk rasa bisa juga sambil bakar sampah,
karena bakar ban bekas kan juga bisa diganjar penjara oleh polisi.

Terlepas dari semua itu, semoga Nan T Achnas,
sineas kita itu, bisa terilhami oleh perkembangan mutakhir demokrasi di negeri
kita yang begini ini, lalu bikin film lanjutan Pasir Berbisik, judulnya, Demo
Berbisik…!

17 Desember 2008 Posted by | pancasila, SBY | , , , , , , , , , , | 5 Komentar

Andai pak H. Murdhani. Walikota Jakarta Timur.. Hanya sebuah komentar!

Mengomentari
AyomerdekA Walikota Jaktim Harus Pelajari Lagi Pancasila
Berkaitan dengan penyerbuan masyarakat sekitar Kampung Pulo, Pinang Ranti, Jakarta Timur, DKI Jakarta terhadap Sekolah Tingi Teologia SETIA.

Dari sisi hati nurani, memang patut disesali apabila walikota Jakarta Timur, H. Murdhani bersikap demikian.
Nuansa berpolitiknya akan jelas menunjukan kerendahan martabatnya sebagai manusia yang bernurani.
Dari sisi HAM, jelas ia melanggar kaidah, tapi apalah gunanya kalau memang ia dan mayoritas menghendaki demikian.

Andai pak H. Murdhani tengah mencoba memasuki ranah politik dengan memanfaatkan situasi, ya, jelas ia tidak salah, sebab dalam demokrasi, kita, yang dilegitimasi adalah mayoritas.

Lalu, bahwa banyak para politisi kita, sepeti (lagi-lagi) pak H. Murdhani, sepertinya menyadari betul bagaimana kondisi mayarakat sekitarnya, (lalu) mau memanfaatkan itu, sekali lagi, apa salahnya?
Tapi sebenarnya (kembali ke hati nurani) masyarakat kita sebenarnya butuh bimbingan yang benar (HAM). Mungkin seperti tanggung jawab kepala rumah tangga terhadap isteri maupun anak-anaknya, demi kebaikan mereka, adalah bermoral bila kita memarahi atau bahkan menghukum bila mereka (isteri atau anak-anak) melakukan kesalahan, ya, tentu saja bila kita tidak terlibat atau merekayasa kesalahan itu!

Tapi sekali lagi, apalah artinya, PANCASILA, HAM, HATI NURANI dan moralitas-moralitas universal lainnya apabila watak kita telah terjebak dalam prinsip; lu-lu beta-beta, asal beta suka, asal kita untung, yang penting kita menang?

Apalah artinya kalau ego kita telah menjadi allah dalam segala hal?
Apalah artinya lagi NKRI kalau agama telah menjadi Allah itu sendiri? Apa pedulinya?

Saya mau tutup komentar ini hanya dengan kalimat: masih lebih baik HAM menjadi agama atau Allah, karena masih bisa lebih adil bagi semua orang.

Catatan: HAM (Hak asasi manusia) adalah hak-hak yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir dan merupakan pemberian dari Tuhan. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1

Contoh hak asasi manusia (HAM):
* Hak untuk hidup.
* Hak untuk memperoleh pendidikan.
* Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain.
* Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.
* Hak untuk mendapatkan pekerjaan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/HAM)

19 September 2008 Posted by | Agama, Islam, moral, pancasila, politik | , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Komentar