Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

ICW: Dana BOS dan DAK Digunakan untuk Pemilukada


Peneliti ICW Apung Widadi saat memberikan pemaparan dalam seminar di Universitas Paramadina, Jakarta (14/2).

Indonesian Corruption Watch
(ICW) sepanjang tahun lalu
melakukan penelitian di empat kabupaten dan provinsi yang baru saja melaksanakan pemilukada. Hasilnya, korupsi melingkar di daerah terjadi lewat penggunaan dana raksasa dari berbagai sumber; termasuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang berasal dari
pos APBN.

Riset evaluasi dilakukan ICW di Kabupaten Pandeglang dan
Kota Jayapura, serta pemantauan pemilukada di Kabupaten Kampar, Riau dan
Provinsi Banten. Secara umum, mayoritas kandidat adalah politisi yang sekaligus
pengusaha.

Tidak ada transparansi
penggunaan anggaran, karena sebagian besar kandidat ‘menyembunyikan’ total dana kampanye dari perusahaan dan pengusaha pendukungnya. Hal ini diungkapkan oleh peneliti
ICW, Ade Irawan, di kampus
Universitas Paramadina, Jakarta , Selasa. Modal utama para kandidat, kata Ade, terbanyak berasal dari dana pribadi dan keluarga,
serta pengusaha lokal yang
bergantung dari dana-dana
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD). Selain itu, modal pemenangan berasal
pula dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.

”Bukan cuma dana APBN yang dibajak (bansos dan hibah), tetapi dana APBN yang populis pun digunakan seperti dana BOS dan DAK. Seperti di Banten dana
BOS dibuat buku yang sampulnya Ibu Gubernur (Ratu Atut Chosiyah) dengan pesan kecil dan gambarnya besar. Di Pandeglang bahkan ada instruksi dari Sekretaris Daerah (Sekda) agar dana BOS digunakan untuk membuat baliho di sekolah dengan pesan-pesan kampanye incumbent. Di Pandeglang, dana CSR
(Corporate Social Responsibilty) Bank Jabar pun dibelikan sarung bergambar bupati,”
ungkap Ade Irawan.

Sedangkan dari hasil
pemantauan di Jayapura,
Pemilukada yang berlangsung Oktober 2010 dan diulang karena terdapat sengketa pada Fenruari 2011, dimenangkan oleh pasangan politisi pebisnis Benhur Tommy Mano dan Nur Alam.

Peneliti ICW Apung Widadi
mengatakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jayapura sama sekali tidak netral.

”Di Jayapura, baik KPUD maupun Panwaslu itu tidak bekerja secara maksimal bahkan cenderung larut dalam kepentingan elit politik lokal.
Ketua KPU dan Sekretarisnya
dipenjara, dua anggota
Panwaslu dipenjara. Ini ‘ kan
sudah menandakan kredibilitas mereka dirusak oleh elit (politik) di sana,” ujar Apung Widadi.

Sama dengan tiga daerah
lainnya, politik uang dan
sumber-sumber ekonomi yang dikuasai elit politik lokal yang sekaligus pebisnis, masih jadi persoalan khas. Bedanya, politik uang tidak diberikan
perorangan melainkan per-desa atau per-kampung.
Apung Widadi menambahkan,

”Mungkin kalau di kita politik
uang itu dibagi ke rumah-rumah terus memberikan uang, tetapi kalau di Jayapura itu satu truk,
orang satu kampung itu di-drop ke TPS-TPS (Tempat
Pemungutan Suara).”

Pro kontra pemilukada langsung sejak lama dibicarakan karena
sering menimbulkan sengketa hukum di Mahkamah Konstitusi
dan kerusuhan massal di
beberapa provinsi dan
kabupaten/kota.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman, mengatakan bahwa dari hasil evaluasi setahun terakhir, pemilukada dengan biaya tinggi
tetap tidak terelakkan.

”DPD masih melihat dengan
demokrasi yang berkembang di tengah kemajuan teknologi
sekarang ini, tentu pilihan
langsung masih jadi pilihan. Tapi dengan catatan, supaya
efisiensi itu bisa dilakukan,
misalnya dengan penyeragaman pelaksanaan Pemilukada yang serentak pada tingkat provinsi, seperti yang pernah dilakukan di Sumatera Barat, sehingga biayanya bisa ditekan sampai separuh,” demikian penjelasan Irman Gusman. VOA

15 Februari 2012 - Posted by | hukum, KKN | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: