Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Mengaitkan Tiga Peristiwa Alam: Pertanda SBY Tersandung Mitologi Kekuasaan?


Sistem politik modern
yang dianut Indonesia, khususnya pasca-amandemen konstitusi, tak
berarti mengubur mitologi kekuasaan di republik ini. Insinkronisasi antara blue print konstitusi dengan konstruksi berpikir masyarakat dalam memandang negara serta lembaga negara masih melekat kuat dalam pola pikir masyrakat Indonesia modern.

Diawal tahun ini, setidaknya ada tiga peristiwa di sekitar SBY yang dianggap sebagai tanda atau isyarat alam yang serius dicermati masyrakat, yang dikait-kaitkan dengan kekuasaan kepresidenan SBY.


Ketiga peristiwa tersebut yakni pada Kamis (5/1/2012) lalu, pohon trembesi yang ditanam SBY setahun lalu tumbang tercabut hingga akar-akarnya oleh terjangan hujan disertai angin yang melanda Jakarta dan
sekitarnya. Tidak hanya pohon trembesi, beberapa cabang pohon di depan Sekretariat Negara dan Istana Kepresidenan juga patah berguguran.


Peristiwa kedua saat
pelantikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Albert Hasibuan, Senin (10/1/2012) awal pekan ini. Meja marmer tempat penandatanganan surat keputusan pengangkatan Albert Hasibuan sebagai anggota Wantimpres
pecah menjadi sembilan keping saat SBY akan menyalami Albert Hasibuan.


Peristiwa selanjutnya terjadi
Rabu (11/1/2012) kemarin yang menimpa rombongan Presiden SBY saat melakukan kunjungan kerja di Malang, Jawa Timur,
dalam rangka pembukaan muktamar thariqot
naqshabandiyah. Sedikitnya lima mobil iring-iringan rombongan Presiden tabrakan secara
beruntun, disebabkan
kendaraan di depan mobil tersebut mogok di tengah
jalan.

Ketiga peristiwa tersebut saat ini menjadi perbincangan informal yang hangat
di berbagai kelompok masyarakat. Seorang pengurus partai politik besar kepada Inila.com, Kamis (12/1/2012) mengaitkan tiga peristiwa tersebut dalam kosmologi Jawa, “Dalam
kosmologi Jawa, peristiwa tersebut sebagai isyarat atas nasib Presiden SBY,” katanya.

Pengaitan peristiwa alam seperti diatas dengan proses politik yang
tengah terjadi tidak hanya kali ini saja. Dalam sejarah
Indonesia moderen, fenomena alam kerap
dikaitkan dengan
isyarat pergantian penguasa.

Mantan Ketua DPR/MPR Harmoko dalam buku “Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko” di bab kedua mengungkap soal misteri “Palu Patah” saat penutupan
Sidang MPR pada 11 Maret 1998 dalam rangka memutuskan Soeharto sebagai presiden ketujuh.

“Begitu palu sidang saya ketukkan, kepala palu tiba-tiba patah dan terlempar ke depan di hadapan jajaran anggota MPR yang terhormat, di antaranya ada Mbak Tutut (putri sulung Soeharto), dan
Ginandjar Kartasasmita yang
duduk berhadapan dengan kursi pimpinan dewan. Palu itu kemudian diamankan oleh
petugas Pengawal Keamanan Presiden,” begitu kata Harmoko dalam buku tersebut.

Dalam buku tersebut, Harmoko menyebutkan patahnya palu
sidang tak lain sebagai isyarat lengsernya Soeharto. Karena
tepat 70 hari setelah peristiwa tersebut, Presiden Soeharto lengser dari jabatannya.

Itulah kondisi obyektif yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam memaknai peristiwa alam dengan politik modern. Memang mengaitkan
fenomena alam dengan proses politik jelas tak menemukan argumentasi konstitutif. Dalam
sistem presidensial yang dianut
saat ini, tidaklah mudah menurunkan presiden di
tengah jalan. Tahapan politik
membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan begitu
rumit hingga akhirnya benar-benar Sang Presiden lengser.

Meski tak bisa dipungkiri, lanskap pendapat publik
terhadap Presiden SBY telah tercermin dengan baik dalam berbagai hasil riset politik.
Seperti yang terbaru hasil riset politik Lingkaran Survei
Indonesia (LSI) pada Oktober lalu mengungkapkan hanya 56,2 persen publik merasa
puas dengan kinerja Presiden SBY.

Survei Lembaga Survei Indonesia yang dirilis awal
tahun ini juga mengungkapkan
kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dan
pemberantasan korupsi pemerintah kian menurun. (tulis ulang dari inilah com)

12 Januari 2012 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. sungguh berat tugasmu pak sby,,,,Lanjutken,untuk sementara ini biarkan indonesia dipegang yg tua2,,,,kalau emang dah gak bisa yg tua kudu sadar kasih kesempatan bagi yg muda,seperti kata ir sukarno berikan aku 1 pemuda akan ku goncang dunia….

    Komentar oleh Denny Lord Jr. | 15 Februari 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: