Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Dapatkah Revolusi Facebook Menumbangkan Rezim di Cina atau Belarus?


Facebook dan Twitter menggerakkan massa

Tumbangnya beberapa rezim di negara-negara dengan tradisi Islam yang kuat, diyakini internet-lah menjadi salah satu faktor kuncinya yang berhasil
menguak transparansi
yang jauh lebih kuat dan meyakinkan dibandingkan kekuatan rezim
otoriter yang berupaya menutupinya.

Suatu pertanyaan, apakah di Cina atau Belarusia juga bisa terjadi hal yang sama? Apakah jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter mampu membangkitkan revolusi massa guna mendobrak rezim disana?

Beberapa saat setelah tengah malam, tanggal 28 Januari 2011, pemerintah Mesir memblokir jaringan internet.
Saat itu, aksi protes melawan penguasa telah merebak luas dalam dua hari terakhir. Langkah itu diambil setelah melihat betapa cepatnya aksi massa bergerak, dan internet diyakini sebagai faktor penyebabnya. Sayang, langkah itu tak mampu membendung massa yang kian besar yang akhirnya dapat menumbangkan pemerintahan yang sebelumnya tak tergoyahkan.
Ini menyusul gerakan massa sebelumnya di Tunisia yang berhasil menggulingkan Ben Ali.

Aksi protes di Tunisia bermula dari peristiwa bunuh diri yang dilakukan pedagang sayur di Sidi Bouzid, di selatan negeri itu.

Pemimpin Radio Kalima, sebuah media oposisi, Sihem Bensedrin mengatakan,”Bentrokan di Sidi Bouzid dapat berujung pada sebuah revolusi, karena penyebaran informasi tentang
hal itu ke seluruh negeri.
Peristiwa itu menyebar lewat
facebook, lewat video di telefon genggam dan twitter, serta radio-radio oposisi yang disiarkan di internet. Peristiwa itu bukan diciptakan oleh
internet, tapi internet
mendorong kemungkinan
terjadinya hal itu.”


Simbol Revolusi Facebook

Konsultan Penggulingan
Diktator

Sejak saat itu, dikenallah istilah revolusi dari facebook, yakni
revolusi yang dipicu oleh jejaring sosial di internet.
Ini pernah disadari Pemerintahan Hosni Mubarak lalu melakukan pemblokiran internet, namun langkah itu tak membantu pemerintah Mesir untuk menghentikan aksi protes.
Gerakan massa sudah
melampaui batas kritis, ujar
Slobodan Djinovic, seorang
organisator aksi protes asal
Serbia yang pernah sukses menentang Milosevic tahun 2000.
Organisasinya yang bernama
Canvas, menjadi konsultan bagi gerakan oposisi di seluruh dunia, yang ingin menggulingkan pemerintahan yang diktator,
dengan cara damai.

Baik di Tunisia maupun di Mesir, jaringan sosial internet pada
akhirnya menentukan,
“Segalanya berlangsung
sedemikian cepat. Orang-orang turun ke jalan, pemerintah terperangah dan terlambat bereaksi. Itulah yang baru saja
terjadi.“


Revolusi Suriah juga menggunakan jaringan sosial internet
Belarusia
Yang kemudian banyak didiskusikan adalah, apakah di era globalisasi internet ini, rezim otoriter tak mampu bertahan?

Bisa saja, ujar Yan Rozum, yang merupakan pimpinan redaksi sebuah media internet di Belarusia.
Di negara ini, kelompok oposisi juga berusaha, mengorganisir aksi demonstrasi lewat jaringan
sosial internet, “Setiap orang dapat menjadi anggota kelompok dan memperoleh akses untuk melihat siapa saja
yang menjadi anggota-
anggotanya. Polisi juga
memanfaatkan informasi ini.
Jadi, dalam waktu singkat,
mereka bisa mengamati siapa saja anggota kelompok
tersebut. Dalam jaringan sosial internet tak dapat terjadi konspirasi. Tapi dalam aksi menumbangkan diktator, maka kita harus bekerja atau mengorganisir dengan cara konspiratif. Katakanlah ada empat atau lima aksi protes yang berhasil, lalu kemudian pemimpin kelompoknya ditahan hingga 15 hari, bisa dipastikan, gerakan protes pun ikut lenyap.”

Bagaimana di Cina?
Saat ini para pemimpin otoriter menyadari betul bagaimana mempertahankan kekuasaannya, dengan mengendalikan jaringan
internet. Misalnya Cina.

Seorang blogger kenamaan,
Michael Anti, tak yakin, bahwa di negaranya akan terjadi revolusi seperti di negara-negara Arab. Hal ini bukan karena sensor ketat
pemerintah atas jaringan
internet. Melainkan masih
bagusnya perspektif masyarakat terhadap perekonomian di negeri komunis itu,
menyebabkan generasi mudanya tidaklah siap untuk
turun ke jalan, menyuarakan kebebasan berpendapat dan demokrasi.

Walaupun demikian, Anti menambahkan, pemerintah Cina tetap was-was, bahwa kemungkinan itu tetap terbuka, “Kalau di Cina
ada yang khusus. Cina mengkopi semua jaringan sosial internet.
Misalnya untuk twitter, mereka punya sendiri yang bernama Sina Weibo. Inilah perbedaan besarnya dengan negara-negara di Arab maupun di Barat. Pemerintah Cina mengendalikan semuanya. Oleh sebab itu hingga kini saya tak melihat bahwa di sana muncul struktur-struktur politis.“ ditulis kembali dari DW

16 September 2011 - Posted by | politik | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: