Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Dalam Kasus Demokrat, Pers Harus Kembangkan Jurnalisme Investigasi

Jakarta – Carut-marut persoalan Nazaruddin dan Partai Demokrat mendapat perhatian publik. Tentunya perhatian tersebut tidak terlepas dari pemberitaan yang disajikan pers. Untuk itu, idealnya pers sebagai faktor terpenting pembentuk opini masyrakat -tentunya guna menghindari dari carut-marut persoalan seperti kasus Nasruddin- diharapkan bisa mengembangkan jurnalisme investigasi.
Seperti disarankan anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo, mengharapkan, dalam pemberitaan tentang Nazaruddin seharusnya tidak lagi berkutat pada jurnalisme yang berbasis statement. Menurut dia, kasus Nazaruddin telah berlangsung hampir dua bulan dan telah mendapat bantahan dari pihak yang disebut Nazaruddin.
“Apalagi ada asimetris informasi, Nazaruddin bilang apa, Anas (Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum) membantahnya. Seharusnya pers mengembangkan jurnalisme investigasi,” katanya seperti yang dikutip Inila.com saat diskusi di gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/7/2011).
Pernyataan ini mengomentari keluhan SBY terkait pemberitaan media massa tentang Nazaruddin dan Partai Demokrat yang bersumber dari SMS dan BlackBerry Messenger (BBM). Menurutnya, SBY harus lebih jelas dalam melakukan kritik. “Di media apa? Kapan?” sarannya. Agus menyebutkan bisa saja media memang tidak melakukan konfirmasi terhadap pihak-pihak yang disebut Nazaruddin.
Pengamat komunikasi politik Tjipta Lesmana mengatakan tidak menjadi soal bila BBM atau SMS dijadikan sumber berita. Dia menyebutkan saat ini media baru (new media) menjadi tren dunia. “Nah urusan dipublikasi atau tidak tergantung siapa yang bicara dan bagaimana kontennya,” katanya.
Gurubesar komunikasi ini mengatakan tidak tepat jika pers dibebankan untuk mencari kebenaran hukum. Tjipta menyebut, kebenaran hukum merupakan tugas aparat penegak hukum. “Kebenaran jurnalistik tidak bisa dicampuradukkan dengan kebenaran hukum,” tegas Tjipta.
Dalam kesempatan tersebut Tjipta juga menyayangkan di lingkar dalam Istana tidak memiliki tim komunikasi politik yang tangguh. Akibatnya, Tjipta menyebutkan pernyataan SBY terkait keluhan terhadap media menjadi bias.
Sementara anggota Komisi I DPR Teguh Juwarno menyebutkan persoalan yang menimpa Partai Demokrat sejatinya tidak hanya dialami partai pimpinan Anas Urbaningrum. Menurut dia, sikap kritis pers juga ditujukan ke hampir semua partai politik seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, PKS, dan PAN.
“Teman-teman pers bekerja dalam ranah demokrasi, ini risiko yang harus dihadapi dan bentuk korektif partai politik. Jadi tidak benar kalau pers hanya menyerang ke Partai Demokrat,” cetusnya.

15 Juli 2011 - Posted by | Uncategorized | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: