Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Wahai Para Orang Tua, Berhati-hatilah Dengan Guru ngaji!


Aida Saskia mengaku diperkosa

Para orang tua, terutama yang memiliki anak perempuan sudah seharusnya mengawasi dan terus-menerus mewaspadai dimanapun keberadaan putrinya. Mencermati kasus-kasus pelecehan seksual pada berbagai media, selama ini, kebanyakan kasus justru terjadi pada berbagai kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan.
Kesadaran itu juga telah memaksa Vatikan untuk -dalam waktu dekat ini- segera mengeluarkan sebuah dokumen bagi para uskup se-dunia, dengan pedoman memerangi pelecehan seksual anak di lingkungan Gereja Katholik Roma.
Sementara itu di Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim yang bisa mencapai 80an persen, kasus-kasus pelecehan seksual, lagi bila kita cermati pemberitaan pelecehan seksual di berbagai media, tidak bisa dibilang sedikit, terjadi, terutama pada tempat-tempat pengajian anak. Ini bisa terjadi karena pada tempat-tempat pengajian tanpa disadari telah terbangun suatu hubungan emosional yang unik.
Seorang guru mengaji atau Ustadz, biasanya sangat dihormati, dikagumi serta dipercayai bahkan diidolakan. Tentu saja ini berhubungan dengan kemampuannya menguasai isi Al-Quran dan aura Al-Quran itu sendiri yang sangat disakralkan umat Islam. Akibatnya tingkat pengawasan orang tua bahkan lingkungan terhadap hubungan guru dan murid di tempat-tempat pengajian sangat rendah, yang berakibat munculnya berbagai tingkat pelecehan seksual yang bisa saja muncul dari sana. Ironisnya, pelecehan-pelecehan itu cenderung ditutup-tutupi, terutama pada kasus-kasus yang dianggap “ringan”, karena didalam Al-Quran sendiri umat tidak seharusnya melakuan pergunjingan. Kita masih ingat, saat tengah panas-panasnya kasus video porno Ariel Peterpan-Luna Maya, para ulama sempat mempermasalahkan soal pergunjingan atau membicarakan aib seseorang (muslim) sempat nyatakan haram. Ini tidak salah juga, sebab seperti yang tersurat dalam Al-Quran, umat islam sudah seharusnya menutupi aib sesamanya.
Kembali lagi ke topik, lemahnya pengawasan pada guru ngaji atau ustadz bisa dicontohkan seperti kasus yang dialami seorang artis dangdut, Aida Saskia, yang mengungkapkan kejadian perkosaan atas dirinya saat masih remaja, beberapa tahun silam. Pengakuannya itu mengagetkan karena sang pelaku adalah Zainuddin MZ, yang sempat populer sebagai da’i sejuta umat.
Berikutnya seperti kasus baru-baru ini di Nganjuk Jawa Timur. Seorang guru ngaji membawa pergi sang murid berhari-hari lamanya, lalu menyetubuhinya.
Kasus tersebut akhirnya sampai ke polisi, setelah sang murid merasa menjadi korban perkosaan, melaporkan kejadian itu pada kedua orangtuanya yang semula telah mempercayai sang ustadz untuk membawa pergi sang putrinya itu berhari-hari lamanya.
Berdasarkan keteranan AKP Karjadi Kasubag Humas Polres Nganjuk, kepada wartawan, menyebutkan, selama ini tersangka S (27) asal Purwokerto-Jawa Tengah, mengajar ngaji di di sebuah mushola di desa Lengkong Lor kecamatan Ngluyu, Nganjuk
Dalam sebuah kesempatan tersangka mengajak -sebut saja- Bunga, murid kesayangannya, ke Surabaya dengan alasan untuk menemui guru S di Surabaya. Sesampainya di Surabaya, mungkin memang sudah direncanakan sang ustadz, Bunga (17) disekap lalu disetubuhi di rumah saudara tersangka selama 6 hari.
Begitu pulang, Bunga langsung menceritakan pengalaman pahitnya tersebut kepada orang tuanya. Sontak, kedua orangtua Bunga diikuti beberapa warga lainnya, langsung melabrak sang ustadz.
Mujur, sang guru ngaji yang nyaris menjadi sasaran amuk warga, keburu diamankan polisi.

S kemudian dibawa petugas ke ruang unit perlindungan perempuan dan anak di Mapolres Nganjuk.
Kepada petugas S memang mengakui telah menyetubuhi murid kesayangannya itu hingga beberapa kali.
Namun, menurutnya hal itu dilakukan berdasarkan rasa suka sama suka.

Akibat perbuatannya tersebut ustadz S yang nampak pasrah, terancam dijerat dengan undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Dalam berbagai putusan sidang Pengadilan, kasus semacam itu, para pelakunya tidak pernah mendapat hukuman maksimal, suatu hal yang dianggap tidak sepadan dengan akibat perbuatannya terhadap sang korban, yang dalam bacaan putusan amarnya -umumya- disebutkan telah “menghancurkan masa depan seorang gadis”.
Benarkah demikian? Kalau demikian tidak ada salahnya kalau saya menyerukan “Wahai para orang tua, berhati-hatilah dengan para guru ngaji!”

12 Mei 2011 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: