Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Subsidi BBM Indonesia: Bikin Bingung!

Membatasi BBM bersubsidi dan menaikkan harga premium 500 rupiah per liter menjadi 5000 rupiah. Siapa yang diuntungkan siapa yang dirugikan?


Saat ini pemerintah Indonesia tampak terjebak dua pilihan: tetap melaksanakan agenda liberalisasi sektor migas atau menyelamatkan APBN. Kesannya membingungkan, karena tidak jelas apa prioritas pemerintah, karena itu keduanya ditawarkan sebagai opsi di DPR. Menurut pakar ekonomi Revisond Baswir, pembatasan BBM bersubsidi tidak perlu dilakukan karena itu akal-akalan menerapkan liberalisasi migas.

Bimbang

Pemerintah terjebak dalam dua hal sekaligus, yang pertama pemerintah ingin melaksanakan agenda liberalisasi sektor migas. Sesuai dengan agenda liberalisasi itu, mestinya harga BBM itu diserahkan ke harga pasar. Tetapi itu tidak bisa dilakukan karena pasal mengenai harga migas dalam UU Migas sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Ini terutama erat kaitannya dengan rencana pembatasan BBM bersubsidi. Yang kedua, sebelum diputuskan, harga minyak mentah di pasar internasional naik tinggi sekali, sehingga mengakibatkan alokasi subsidi di APBN itu menjadi membengkak. Nah, sekarang tidak jelas, sebenarnya yang mana yang mau jadi prioritas pemerintah: mau menyelamatkan APBN atau mau melaksanakan agenda liberalisasi di sektor migas.

Tolak

Makanya kesannya membingungkan, karena tampaknya pemerintah ingin melaksanakan keduanya. Revisond Baswir sendiri menolak liberalisasi sektor migas, karena itu sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Kalau harga minyak mentah tiba-tiba naik dan menjadi beban di APBN, itu masih bisa didiskusikan karena sebagai produsen migas, Indonesia tidak hanya menanggung beban subsidi yang membengkak, tapi juga menikmati peningkatan penghasilan yang membengkak.

Dari segi kenaikan harga minyak mentah internasional, posisi Indonesia sebenarnya netral, karena pendapatannya juga meningkat. Yang dirugikan kalangan miskin, karena itu menurut Revisond pembatasan subsidi BBM tidak perlu dilakukan, karena itu sebenarnya akal-akalan untuk melakukan liberalisasi migas.

Menurut pengamat ekonomi Henry Sandee, kalangan miskin justru tidak dirugikan pembatasan BBM bersubsidi. Dengan kebijakan ini pemerintah ingin melakukan pemerataan. RNW

10 Maret 2011 - Posted by | Uncategorized | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: