Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Pemimpin Dunia Kecam Pembunuhan Menteri Minoritas Pakistan


Jenazah Menteri Urusan Warga Minoritas Shahbaz Bhatti. Foto: REUTERS

Menteri Urusan Warga Minoritas Clement Shahbaz Bhatti diberondong tembakan hingga tewas di Islamabad, Pakistan. Taliban mengklaim sebagai pelakunya.

Kejadian tersebut berlangsung setelah sang menteri pulang mengunjungi ibunya di Islamabad. Dalam perjalanan, tiba-tiba mobilnya dihentikan segerombolan orang yang membawa senapan AK. “Tiga atau empat orang yang mengendarai mobil Suzuki langsung memotong laju kendaraan dinas menteri,” kata Wajid Durrani, kepala polisi setempat. Dua anggota gerombolan itu lantas membuka pintu dan mencoba menarik Bhatti dari mobilnya. “Seorang lagi terus memberondongkan senjata,” kata salah seorang saksi.
Bhatti kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Shifa di Islamabad. Tetapi, menurut Azmat Ullah Qureshi sebagaimana dilansir CNN, Bhatti dinyatakan dead on arrival. Dia tiba di rumah sakit tanpa nyawa dengan delapan lubang peluru di tubuhnya.
Saksi lain menyebutkan, para penyerang juga menyebarkan selebaran dari Al Qaidah dan Taliban Punjab. Selebaran itu bertulisan Arab. Bunyinya: Ini hukuman untuk orang terkutuk ini.
Sebagai seorang menteri, Bhatti seharusnya selalu dikawal ke mana pun pergi. Apalagi, dia sudah lama diincar para pembunuh. Namun, Bhatti sendiri yang memerintah para pengawalnya menunggu di kantor kementerian. Sebab, biasanya dia tidak pernah dikawal saat mengunjungi ibunya. Menteri berusia 42 tahun itu hanya ditemani sopirnya, Gul Sher, yang selamat dari pembunuhan karena terus menunduk di kursi depan.
Bhatti, penganut Katolik dan satu-satunya menteri nonmuslim di pemerintahan, aktif menentang undang-undang penodaan agama di Pakistan. Lewat undang-undang itu, orang bisa dihukum mati lantaran dituduh menghina Islam. Para kritikus berpendapat, undang-undang tersebut bisa kian merepresi kalangan minoritas di Pakistan yang jumlahnya tidak sampai 4 persen dari seluruh populasi.
Selain itu, pembuktian undang-undang tersebut hanya berdasar keterangan saksi. Akibatnya, sebagian besar kasus justru berasal dari fitnah dan dendam pribadi.
Pada 2009, Aasia Bibi, ibu lima anak, ditangkap dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Dia dilaporkan menghina Nabi Muhammad oleh para tetangganya. Sebelumnya, Bibi memang terlibat cekcok dengan beberapa wanita di lingkungannya. Sebab, para wanita itu menolak minum air yang sudah dibawakan Bibi untuk mereka.
Tahun lalu seorang imam masjid dan putranya juga dijatuhi hukuman penjara dengan tuduhan menghina Islam. Pasangan bapak-anak itu dijatuhi hukuman masing-masing 10 tahun dan 5 tahun penjara. Kejadian itu dipicu sengketa antarkomunitas agama. Puncaknya, Mohammad Shafi, imam masjid tersebut, melepas poster undangan pengajian memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad di tembok tokonya. Tindakan itulah yang lantas dilaporkan sebagai penghinaan terhadap agama.
Hingga kini, belum ada yang dieksekusi berdasar undang-undang itu. Tetapi, orang-orang yang akhirnya bebas dari hukuman justru dibunuh oleh ekstremis atau harus bersembunyi. Sebagian lagi memilih menghabiskan waktu lama di penjara hingga kasus mereka hilang tertiup angin.
Karena itu, banyak pihak yang meminta undang-undang tersebut diamandemen.
Salah satu yang juga menentang undang-undang tersebut adalah Salman Taseer, gubernur Negara Bagian Punjab. Taser akhirnya dibunuh oleh pengawal pribadinya. Sang pengawal kemudian dielu-elukan sebagai pahlawan oleh banyak kalangan di Pakistan.
Jacob Bhatti, ayah sang menteri, juga tewas akibat shock karena berita pembunuhan Taseer tersebut.
Setelah Taseer tewas, menteri Bhatti yang banyak menerima ancaman, pernah mengungkapkan kepada AFP, “Sayalah target tertinggi saat ini.”
Kepada VOA, bulan lalu, Bhatti juga mengungkap tentang ancaman yang diterimanya dari Taliban dan Al-Qaida. Tetapi, ia mengatakan tidak akan membiarkan ancaman ini menghalangi niatannya membela hak-hak warga Kristen dan kelompok minoritas lainnya.
Meski begitu, Bhatti tetap menolak tambahan pengawalan. “Saya tidak percaya keamanan. Saya hanya yakin pada perlindungan dari surga. Para pengawal tidak bisa menyelamatkan Anda,” ujar Bhatti kala itu.
Terkait afiliasi politiknya di Partai Rakyat Pakistan, Bhatti juga pernah hampir terbunuh, saat ketika ikut dalam rombongan mantan PM Benazir Bhutto, pimpinan partai itu, pada 2007. Ketika itu seorang bersenjata menembak Bhutto, lantas meledakkan diri. Bhutto tewas, Bhatti hanya luka ringan. Dan, mukjizat jarang datang dua kali. Kemarin giliran Bhatti yang tewas akibat pilihan aspirasinya.
Taliban Pakistan mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut. “Pembunuhan Bhatti adalah pesan bagi mereka yang menentang undang-undang penodaan agama,” kata Ihsanullah Ihsan, juru bicara Taliban. “Kami akan terus menarget orang-orang yang melawan undang-undang yang menghukum para penghina Nabi. Nasib mereka akan sama dengan si murtad ini (Bhatti, Red),” ungkapnya sebagaimana dilansir BBC.
Hingga kemarin, pemerintah masih belum beranjak dari kebijakannya untuk terus mempertahankan undang-undang penodaan agama tersebut. Walaupun, mereka juga mengutuk kekerasan akibat pertentangan pendapat itu. Sedangkan para pemimpin Islam justru menyebut pembunuhan itu sebagai konspirasi dunia untuk mempertentangkan Islam dan Kristen di Pakistan. (JPN)

3 Maret 2011 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Mentuhankan iblis maka hasilnya teroris!

    Komentar oleh Fan | 4 Maret 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: