Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Kisah Pembantaian Cikeusik: Cuma Bisa Pasrah


Apa kata yang tepat untuk 1000 orang lawan 20? Pembantaian. Itulah yang terjadi di Desa Umbulan, Cikeusik, Banten, terhadap warga-warga Ahmadiyah.


Minggu 6 Februari lalu jadi sejarah kelam bangsa ini dalam mempertahankan toleransi beragama. Reporter KBR68H Novri Lifinus mendatangi rumah ulama Ahmadiyah Cikeusik, Ismail Suparman yang jadi sasaran penyerangan.
Pukul 7.00 malam WIB, di depan rumah Bapak Suparman, salah seorang Jemaat Ahmadiyah yang rumahnya dirusak sekelompok massa. Garis polisi masih melintang di sekitar rumah yang sudah hancur lebur ini. Tembok-tembok banyak yang hancur, bahkan bagian depan rumah yang menghadap jalan utama jebol akibat dirusak massa yang saat itu berjumlah sekitar 1000 lebih.
Barang dalam rumah terlihat berserakan, seperti pakaian, lemari, dan lainnya. Tepat di depan atau di halaman rumah ada sebuah mobil yang hangus dibakar massa. Sementara sekitar 50 meter di samping kanan juga ada sebuah mobil yang hangus. Beberapa belas polisi masih terlihat berjaga-jaga.

Polisi
Desa Cikeusik jauh di pelosok provinsi Banten. Butuh sekitar 5jam ke sini dari pusat kota Pandeglang, dengan kondisi jalan yang rusak. Di desa ini tinggal 20-an Jemaat Ahmadiyah. Mereka membaur bersama warga lain. Ibadah Jemaat Ahmadiyah biasa dilakukan di salah satu rumah, yaitu milik Ismail Suparman, ulama Ahmadiyah.
Rumah Rasna hanya berjarak 10meter dari rumah Ismail Suparman. Sejak kecil, mereka berteman. Hari Minggu itu, serangan dari ribuan orang menyasar ke rumah Suparman. Wajah Rasna tegang ketika bercerita soal aksi kekerasan yang terjadi tepat dihadapannya. Ia melihat bagaimana korban tewas dipukuli, hanya 6 meter dari depan rumahnya.
Sebelum penyerangan, Suparman diamankan polisi, dibawa keluar Cikeusik. Menurut kabar, polisi sudah tahu sejak dua hari sebelumnya soal rencana penyerangan ini. Rasna yakin, para penyerang ini berasal dari luar Cikeusik. Mereka pakai pita biru. Polisi, kata Rasna, tak melakukan apa pun. “Polisi juga tidak melawan. Hanya ada beberapa ratus polisi. Sedangkan massa jauh lebih banyak.”

Mengungsi

Pasca penyerbuan, sebagian besar warga Ahmadiyah di Cikeusik diungsikan. Ada yang ke Jakarta, yang berjarak sekitar 160-an kilometer. Atau ke tempat yang dirahasiakan LBH Jakarta, selaku kuasa hukum Jemaat. Mereka yang diungsikan termasuk yang di rumah sakit.
Lastri, warga Ahmadiyah, masih ingat betul kejadian Minggu itu. Lemparan batu, sayatan golok, rumah Suparman yang hancur, kaca-kaca pecah dan 2 mobil dibakar massa. Ketika serangan terjadi, ia menyaksikan bagaimana polisi mengabaikan permintaan tolong sang korban.
Buntut dari penyerangan itu, tiga anggota Jemaat Ahmadiyah tewas dan 5 lainnya luka berat. Mereka yang sebelumnya dikabarkan hilang, sudah ditemukan. Rata-rata mereka lari bersembunyi ke hutan-hutan wilayah Cikeusik.
Pekerja Bantuan Hukum LBH Jakarta, Tommy Albert Tobing menyatakan, “Dari jumlah 11 yang awalnya hilang tapi sudah semua ditemukan. Terakhir dua orang, Arif Rahman dan Alvi. Ada beberapa warga yang dikatakan masih terjebak di TKP, tapi tadi kami coba klarifikasi. Mereka memang berada di sana dalam kondisi aman.”

HAM
Apa yang terjadi di Cikeusik, menunjukkan kalau Pemerintah tak sanggup menjaga keselamatan setiap warganya. Video kekerasan segera merebak di berbagai situs jejaring sosial. Ironis. Penyerangan Cikeusik terjadi persis ketika sedang berlangsung perayaan Pekan Kerukunan Beragama Sedunia. Agenda resmi PBB ini dihadiri tokoh agama, tokoh nasional dan ratusan umat berbagai agama di seluruh Indonesia, mengkampanyekan pentingnya kesadaran kehidupan antar agama yang harmonis.
Komnas Hak Asasi Manusia menyebut penyerangan Cikeusik sebagai pelanggaran HAM serius. Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim menilai, negara gagal menjaga hak warganya. Untuk itu, penyelidikan bakal digelar.
Ifdal: “Komnas HAM akan melakukan penyelidikan terhadap peristiwa ini dan tim akan mulai bekerja untuk melakukan investigasi secara objektif terhadap apa yang terjadi di desa yang mengakibatkan kematian tiga warga negara itu. Sekaligus akan mengkompilasi kasus-kasus yang menimpa Ahmadiyah ini di tempat-tempat lain.”
Kasus ini, juga berbagai penyerangan lain terhadap Ahmadiyah, akan dilaporkan ke Sidang Dewan HAM PBB, yang akan berlangsung akhir Februari ini.

Diserang
Jemaat Ahmadiyah di Indonesia tak henti-hentinya diserang, sejak MUI mengeluarkan fatwa sesat tahun 1980 dan 2005. Dari awal tahun lalu sampai Januari 2011 saja, sedikitnya terjadi 8 kekerasan terhadap Ahmadiyah. Semua lantaran Ahmadiyah dianggap sesat. Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Zafrullah Ahmad Pontoh, menegaskan, tak ada yang sesat dari keyakinan Ahmadiyah.
Dan meski Ahmadiyah yang jadi korban, negara tetap menyalahkan Ahmadiyah sebagai pangkal masalah. Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri soal Ahmadiyah ditandatangani pada 2008, salah satunya oleh Menteri Agama saat itu, Maftuh Basyuni. Menteri Agama saat ini Suryadharma Ali, tak beda dengan MUI, menganggap Ahmadiyah sesat.

18 Februari 2011 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: