Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Wajah Aparatur di Pantat Gayus

Ada artikel yang menarik di Detikcom, tulisan Chaidir Anwar Tanjung, wartawan detikcom, soal sepak terjang Gayus Tambunan.

Tulisan yang diakhiri “Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi” itu mungkin tidak menarik perhatian saya karena tulisan-tulisan semacam itu, yang menyoroti kinerja aparatur negara, terutama Polri, sudah berjubel-jibun numpuk di benak saya, namun tulisan ini berbeda.

“Wajah Aparatur di Pantat Gayus” judul tulisan itu -tentu saja merupakan sebuah ilustrasi- sudah menyentak sekaligus menarik perhatian saya.

Menyentak karena belum cukup lama berselang, Majalah Tempo sempat bersitegang dengan Polri, lantaran majalah yang pernah dibrendel diera Orba itu, dalam edisi edisi 28 Juni – 4 Juli 2010 bertajuk “Rekening Gendut Perwira Polisi”, pada cover depannya mengilustrasikan seseorang mirip sosok polisi berbaju coklat tengah menggiring tiga celengan berbentuk babi yang gendut dengan menggunakan pita kuning.

Menarik, karena penyampaian pesan atau gagasan dengan cara ilustrasi atau analogi pada banyak hal memang mempermudah penjelasan fakta- fakta dan prinsip-prinsip yang sulit dimengerti oleh seseorang, namun tak jarang juga daya imajinir seseorang terkadang menjadi sangat bertolak belakang dengan kehendak penyampai pesan, seperti kasus cover celengan babi majalah Tempo yang menimbulkan kemarahan para petinggi Polri;

“.. jangan seperti itu kita digambarkan. Itu kan binatang haram, kok digambarkan seperti itu kita. Tentunya anak-anak kami yang sedang bertugas di wilayah perbatasan, bekerja di pedalaman melihat seperti itu pasti mereka merasa tergugah,” kata Kapolri, saat itu dijabat BHD.

Kasus cover Tempo itu memang berakhir damai setelah beberapa pihak terkait ikut memediasi Majalah Tempo dan Polri.
“Damai itu indah,” ungkap Kadiv Humas Mabes Polri, Edward Aritonang saat berjabat tangan dengan Pimred Tempo Wahyu Muryadi di Gedung Dewan Pers, Kamis (8/7/10).
Namun hingga kini tetap menyisakan tandatanya soal bagaimana rekening para perwira Polri bisa sedemikian gendutnya?

Tapi, mungkin inilah jawabannya, seperti yang saya kutip dari tulisan Chaidir Anwar Tanjung pada detikcom Selasa, 16/11/2010:
“…yang namanya aparatur negara tetap saja bisa disogok. Buktinya, belakangan Gayus dengan santai menonton turnamen tenis lapangan di Bali yang konon bersama istrinya.
Pelesirannya Gayus ke Pulau Dewata ini tentulah membuat syok masyarakat.
Masyarakat terperangah, lah kok koruptor yang menjadi perhatian publik itu, bisa-bisanya melenggang dengan pengawalan pak polisi tadi.”

Lebih jauh Chaidir Anwar Tanjung menulis: Maka untuk menutupi kebobrokan di tubuh Polri itu, kepala tahanan dan anak buahnya pun segera dicopot. Pencopotan hal semacam itu hal yang biasa.

Tapi yang luar biasa itu adalah keyakinan Gayus tadi yang masih meyakini bahwa pak polisi masih mau disuap walau kasusnya menjadi perhatian umum. Apa yang dilakukan Gayus melenggang ke Bali, merupakan bentuk PR yang harus dikerjakan bersama pak polisi, pak jaksa, pak hakim, dan bapak-bapak lainnya. Tugas bapak-bapak itu menjadi berat untuk menelusuri dengan siapa saja selama di luar tahanan Gayus bertemu atau berkomunikasi.

Ibarat main petak umpet, Gayus telah mampu mengelabuhi lawan-lawannya. Buktinya, sudah banyak pak polisi kita menjadi korban permainannya. Begitu juga pak jaksa, dan pak hakim bisa dininabobokan Gayus dalam menangani perkaranya. Kini mungkin di balik terali besi, Gayus tersenyum manis.

Dia dapat menunjukan kepada anak bangsa ini, bahwa dirinya tidaklah terlalu bobrok dalam urusan korupsi. Masih ada lagi aparatur negara ini yang jauh lebih bobrok ketimbang dirinya. Dan Gayus selaku orang Batak sudah membuktikannya, “Hepeng do na mangatur nagaraon (duit yang mengatur negara ini)”.

Sebuah ilustrasi miris menutupi rangkaian tulisan Tanjung dengan satu kalimat “Kini wajah aparatur negara kita ada di pantat Gayus.”

Tentu saja ini ilustrasi kata-kata yang luar biasa, yang bisa menimbulkan kemarahan aparatur negara, terutama Polri yang berkaitan langsung dengan keberadaan Gayus Tambunan selama ini. Apakah ilustrasi itu tepat setelah celengan babi-nya Tempo? Semua terserah permainan imajiner anda!

16 November 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: