Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Konflik Palestina

Oleh : Andar Ismail

Lebih dari separuh isi Alkitab berkonteks di wilayah yang kini merupakan Republik Palestina dan Republik Israel. Sejak puluhan abad sebelum Masehi hingga kini wilayah itu terus menerus menjadi ajang konflik.

Dulu wilayah ini bernama Kanaan. Lalu mulai abad ke-10 SM nama yang lazim adalah Israel. Kemudian pada abad ke-5 SM Herodotus, pakar sejarah Yunani, menyebut wilayah ini dengan kata Yunani Palaistina yang mengacu pada bangsa nomad Filistin dari pulau Kreta. Sejak zaman purba wilayah sempit dan gersang ini menjadi rebutan berbagai bangsa nomad karena merupakan satu- satunya jalur darat antara Eropa dan Afrika.


Pada abad ke-19 SM Abraham dan Sarah bermigrasi ke Kanaan dari Ur-Kasdim (kini wilayah Irak). Mereka menjadi leluhur bangsa Israel. Selama beberapa ratus tahun bangsa Israel merupakan konfederasi dua belas suku. Pemimpinnya berawal pada Musa dan berakhir pada Samuel.

Babak baru berupa negara kesatuan dimulai pada tahun 1020 SM dengan berdirinya Kerajaan Israel yang meliputi seluruh Kanaan dbp Saul, Daud dan Salomo. Setelah itu kerajaan terpecah dua menjadi Yehuda (akar dari kata Yahudi) dan Israel. Keadaan ini berlangsung lebih dari tiga abad. Pada tahun 597 SM seluruh wilayah itu dijajah Kekaisaran Babilon. Kemudian pada tahun 538 M giliran Kekaisaran Persia yang menguasai wilayah itu. Selanjutnya mulai tahun 336 SM Kekaisaran Yunani dbp Aleksander Agung menguasai wilayah Israel.

Berbeda dari Aleksander Agung yang bijak, para penggantinya bertindak sebaliknya. Mereka menghina agama Yahudi. Mengetahui bahwa agama Yahudi mengharamkan babi, raja Antiokhus VI sengaja menyembelih seekor babi di atas mezbah Bait Allah di Yerusalem lalu memaksa orang Yahudi makan daging itu. Akibatnya orang Yahudi memberontak terhadap penjajah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 168 SM dibawah pimpinan Yudas Makabe.

Revolusi Makabe ini berhasil meraih kemerdekaan Israel. Bait Allah dipulihkan kembali dan peristiwa ini dirayakan sampai sekarang sebagai hari raya Hanukkah. Tetapi baru sekitar seratus tahun merdeka wilayah Palestina dikuasai penjajah lain yaitu Kekaisaran Romawi. Pada tahun 63 SM atau beberapa puluh tahun sebelum kelahiran Kristus, Palestina mulai dijajah oleh Romawi. Penjajahan ini berlangsung selama beberapa abad.

Umat Yahudi ditindas oleh penjajah Romawi. Pada tahun 40 Kaisar Gayus meletakkan patung dirinya terbuat dari emas di dalam bait Allah di Yerusalem dan menyuruh umat Yahudi menyembahnya. Pada tahun 70 Kaisar Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem.

Sementara itu di Palestina lahir agama baru sebagai kelanjutan gaya hidup Yesus Kristus. Pengikut agama ini juga menolak pemujaan kaisar. Akibatnya pasukan Romawi menindas umat Kristen.

Selama beberapa abad para kaisar Romawi menyembah dewa-dewa dan menganggap diri sebagai dewa, namun tiba-tiba pada tahun 312 kaisar Konstantinus menjadi Kristen. Sejarah langsung berubah arah. Penindasan dihentikan. Ia membangun banyak gedung gereja di Palestina.

Pada tahun 614 Palestina direbut oleh pasukan Persia. Tak lama lagi pasukan Arab Muslim mengalahkan Persia sehingga mulai tahun 638 Palestina diduduki oleh orang Arab dbp Khalifah Umar. Sebagai seorang khalifah Muslim yang bijak ia melindungi sinagoge dan gereja dan menjamin kebebasan beragama. Ia sangat bersahaja dan mesjid- mesjid yang dibangunnya juga sederhana.

Pada tahun 1070 pasukan Arab dikalahkan oleh pasukan Turki yang juga beragama Islam. Berbeda dari para pemimpin Arab Islam, para pemimpin Turki Islam menindas umat Yahudi dan umat Kristen Palestina. Di bawah penjajahan Turki, penduduk Palestina menjadi miskin.

Akibatnya dari tahun 1095 sampai 1291 raja Prancis, Jerman dan Inggris berusaha merebut Palestina dari penguasa Turki. Walaupun ada keberhasilan secara sporadis, secara keseluruhannya usaha ini gagal dan menimbulkan banyak kekejian. Kedua belah pihak berperang dengan dalih agama, padahal sebenarnya mereka berperang demi pencitraan politik pribadi mereka dengan mengorbankan nyawa anak buah mereka. Selama beberapa abad selanjutnya Palestina terus dijajah Turki.

Sesudah Perang Dunia I Liga Bangsa Bangsa menetapkan Palestina menjadi Mandat Inggris mulai tahun 1920. Lalu pada tahun 1947 PBB membagi wilayah ini menjadi dua yaitu untuk rakyat Palestina dan rakyat Israel yang sementara itu sudah banyak pulang kembali dari Eropa. Orang Israel lalu memproklamasikan Republik Israel.

Negara-negara tetangga langsung menolak kehadiran Republik Israel dan banyak orang Palestina keturunan Arab mengungsi dari wilayah Israel. Perang berkecamuk. Pertikaian senjata masih terus berlangsung hingga kini. Kekejaman satu pihak dibalas dengan kekejaman yang lebih buas oleh pihak lain.

Upaya perundingan damai sering terganggu oleh ulah garis keras yang lebih menyukai tindakan ekstrem. Baik pada pihak Republik Palestina maupun Israel terdapat pemimpin garis tengah namun ternyata pemimpin garis keras lebih mendapat publikasi.

Yang paling menderita adalah anak-anak. Sejak kecil mereka sudah terkecam prasangka untuk membenci dan mendendam. Oleh sebab itu, di tingkat akar rumput ada gereja, mesjid dan sinagoge yang bekerja sama meniadakan prasangka dengan cara mengajak anak-anak Yahudi dan anak-anak Palestina mengikuti kelompok bermain, menggambar, menari dan berolah raga secara lintas agama dan lintas bangsa.

Rakyat Palestina dan rakyat Israel sebenarnya merindukan hidup yang damai. Oleh sebab itu tidak patut dunia luar memanaskan situasi. Yang patut adalah justru mendorong usaha perdamaian. Yesus, yang dihukum mati oleh penjajah Romawi, bersabda, “ Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah ” (Mat.5:9). Jika kita peduli pada nasib rakyat disana, kita membantu upaya untuk membawa damai.

Memang ada banyak anggapan keliru tentang konflik Palestina. Kelirulah anggapan bahwa konflik ini adalah konflik agama Islam dengan agama Yahudi, sebab banyak warga Palestina juga beragama Yahudi dan beragama Kristen Maronit, Ortodoks, Katolik dan Protestan. Sebaliknya banyak pula warga Israel beragama Islam dan Kristen.

Keliru juga anggapan bahwa negara Israel identik dengan umat Allah dari zaman penulisan Alkitab, sebab Republik Israel sekarang adalah sebuah entitas geopolitik, padahal umat Allah di zaman penulisan Alkitab adalah entitas sosioteologis.

Namun yang paling keliru adalah bila kita memanaskan saudara kita di Palestina untuk menghancurkan tetangganya. Saling menghancurkan sama saja seperti menghancurkan diri sendiri. Jika kita berpikiran jernih, masakan kita menyoraki saudara kita untuk terus berkelahi dengan tetangganya? Sudah empat ribu tahun orang Palestina berlumuran darah. Yang mereka perlukan adalah pembawa damai.

Penulis adalah pengarang buku-buku Renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia.
(Suara Pembaruan)

25 Oktober 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. Dimana-mana bila ada campur tangan dari pihak ketiga mesti kacau hasilnya, terutama campur tangan dari islam radikal hasilnya pasti neraka!

    Komentar oleh Karin | 28 Oktober 2010 | Balas

  2. Jadi begini ceritanya ya? Kalo begini yang benar Israel dong?

    Komentar oleh Anonim | 19 November 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: