Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Rengkuh Kuasa, Si-“Pembenci” Islam Itu Melunak?

Geert Wilders berdiri di Ruang Noen penuh ornamen indah di Senat Belanda, pusat kekuasaan politik, saat ia mengumumkan dukungannya pada pemerintahan baru.


Hari Senin (04/10), ia harus berdiri di hadapan hakim di ruang sidang di Amsterdam, membela dirinya dalam persidangan yang dimulai kembali atas tuduhan pidato menghasut kebencian.


Perang Salib
Berkuasa, namun diadili. Unik dalam sejarah politik Belanda terkini. Konsekuensi apa yang akan dibawa persidangan dalam debat publik? Apakah Geert Wilders kemudian akan merendahkan sedikit retorikanya?

Wilders merasa dirinya sedang menjalankan sebuah misi. Penasihat terdekat dan kolega satu partainya, Martin Bosma, bahkan sampai menyebutnya pejuang perang salib. Wilders sendiri berkomentar, di akhir hari pertama persidangannya di bulan Januari, “Ini bukan saja hak, tapi kewajiban setiap orang bebas untuk menentang setiap ideologi yang membahayakan kebebasan.”

Transformasi peran dari bangku oposisi ke pendukung pemerintahan tidak akan merubah awal tujuan ini. Selama presentasi perjanjian persetujuan pemerintah yang baru, ia mengatakan “Kita hidup di zaman bersejarah dan kita telah telah mencapai kesepakatan bersejarah… kesepakatan ini akan berefek luas pada Belanda.”

Masa Lebih Lunak
Dalam menyampaikan kesepakatan itu, dan selama pidatonya di New York pada tanggal 11 September, Wilders tidak lagi mengulang beberapa pernyataannya yang kontroversial akan Islam. Beberapa pengamat mengatakan Geert Wilders mungkin memasuki fase lebih lunak seiring dengan makin dekatnya dia terhadap kekuasaan.

Tapi ini tampaknya tidak akan bertahan lama, paling tidak sebagian disebabkan karena persidangannya.

Wilders mengatakan kasus terhadap dirinya bermotif politik, bahwa itu adalah upaya untuk membungkamnya. Walaupun ia mengakui cukup khawatir terhadap kemungkinan dirinya dipenjara (dia menghadapi hukuman maksimal dua tahun penjara), dia tetap lantang menantang. Dan dia sangat bersemangat membela haknya untuk mengatakan apa yang ia inginkan. Oleh karena itu, menurunkan nada suaranya akan merusak kredibilitas yang diusungnya.

Tuduhan
Wilders menghadapi tiga tuduhan: hasutan kebencian, diskriminasi terhadap Muslim, dan menghina imigran Maroko. Tuduhan didasarkan pada pernyataan yang dikeluarkannya di hadapan publik, artikel yang ditulisnya, dan film Fitna yang diproduksinya.

Wilders menggambarkan Islam sebagai “kekuatan jahat”, “agama penuh kekerasan”, dan “sebuah ideologi yang tidak toleran dan fasis”. Dia menyerukan larangan langsung pada kitab suci umat Islam, Quran, menyebutnya sebagai “Mein Kamf” ala Islam. Ia menyebut nabi terakhir umat Islam, Muhammad, sebagai seorang “pedofilia pesakitan” yang berperilaku “seperti babi.” Dan ia juga menyerukan “pajak jilbab” pada musimah yang mengenakan jilbab.

Ia menyebut muslim di Belanda sebagai “penjajah”, karena mereka berusaha untuk “mengubah Belanda menjadi sebuah provinsi dari sebuah negara besar Islam, Eurabia.”

Wilders mungkin penuh kontroversial, tetapi begitu pula dengan kenyataan bahwa dirinya diajukan ke pengadilan. Kantor kejaksaan di Amsterdam baru mau mengajukan tuduhan terhadap Wilders setelah hakim memerintahkan demikian. Sebelumnya, jaksa penuntut umum telah berulang kali menolak mengajukan tuntutan, dengan alasan bahwa sebagai tokoh masyarakat, Wilders harus diberi banyak ruang dalam mengungkapkan berbagai pandangannya. Pandangannya merupakan bagian dari debat publik.

Konflik Fundamental
Keputusan untuk tidak menuntut Wilders dikritik oleh sebagian orang, dan perintah hakim untuk mengajukan tuntutan dikritik oleh sebagian lainnya. Persidangan Wilders sendiri berhasil membagi masyarakat Belanda. Mana yang lebih penting, kebebasan berbicara, atau kebebasan beragama?

Pihak tertuduh, Wilders dan pengacaranya, Bram Moszkowicz, mempunyai dua argumen: Wilders tidak melanggar hukum, dan bahkan jika ia melanggarnya, berarti hukum tersebut bertentangan dengan norma-norma internasional atas kebebasan berbicara.

Sejumlah ahli hukum setuju. Geert Jan Knoops adalah profesor hukum pidana internasional dari Universitas Utrecht. Dia mengatakan: “Anda harus menentang Wilders dalam debat publik, tidak mendiamkannya dalam ruang sidang. Terlepas dari apa yang Anda pikir tentang pandangan-pandangannya.”

Tak Ada Preseden
Hasil persidangan sulit diprediksi. Preseden dalam hukum Belanda mengenai hasutan kebencian dan diskriminasi tidaklah jelas. Salah satu kasus terkenal melibatkan politisi sayap kanan ekstrim, Hans Janmaat. Dia dihukum tiga kali, di tiga wilayah hukum berbeda pada 1990an untuk tuduhan diskriminasi. Tapi pernyataannya yang paling lantang, bahwa negara ini tidak bisa menampung imigran lagi karena “sudah benar-benar penuh”, beberapa tahun kemudian, jadi terdengar relatif ringan.

Wilders juga tidak bisa lagi mencari suaka dari hukum internasional. Sementara kecenderungan di masa lalu adalah untuk memberikan politisi ruang ekstra untuk berekspresi, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa baru-baru ini mengeluarkan pembatasan ‘kebebasan berbicara’ politisi, di ranah yang berhubungan dengan hasutan kebencian (Lihat: Jean-Marie Le Pen di Perancis, Daniel Feret di Belgia dan Mark Norwood di Inggris.)

Tetap Waspada
Sidang dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan, dengan penjatuhan vonis dijadwalkan tanggal 4 November. Sembari itu, Geert Wilders akan mendapati banyak gagasannya yang dilaksanakan, selagi pemerintahan dimana partainya mengambil bagian mulai menjabat.

Tetap bersura ultra keras seperti sedia kala bisa mengecewakan rekan-rekan politik barunya. Persidangan juga dapat membuat Wilders untuk sementara berpikir lebih jauh – tetapi dalam jangka panjang sulit mengharapkan Wilders mengubah gaya yang telah mengusungnya meraih keberhasilan ini.

Untuk ke depan, tampaknya perdebatan di Belanda akan tetap berlangsung liat seperti sedia kala.
RNW.

Tapi ini tampaknya tidak akan bertahan lama, paling tidak sebagian disebabkan karena persidangannya. Wilders mengatakan kasus terhadap dirinya bermotif politik, bahwa itu adalah upaya untuk membungkamnya. Walaupun ia mengakui cukup khawatir terhadap kemungkinan dirinya dipenjara (dia menghadapi hukuman maksimal dua tahun penjara), dia tetap lantang menantang. Dan dia sangat bersemangat membela haknya untuk mengatakan apa yang ia inginkan. Oleh karena itu, menurunkan nada suaranya akan merusak kredibilitas yang diusungnya. Tuduhan Wilders menghadapi tiga tuduhan: hasutan kebencian, diskriminasi terhadap Muslim, dan menghina imigran Maroko. Tuduhan didasarkan pada pernyataan yang dikeluarkannya di hadapan publik, artikel yang ditulisnya, dan film Fitna yang diproduksinya. Wilders menggambarkan Islam sebagai “kekuatan jahat”, “agama penuh kekerasan”, dan “sebuah ideologi yang tidak toleran dan fasis”. Dia menyerukan larangan langsung pada kitab suci umat Islam, Quran, menyebutnya sebagai “Mein Kamf” ala Islam. Ia menyebut nabi terakhir umat Islam, Muhammad, sebagai seorang “pedofilia pesakitan” yang berperilaku “seperti babi.” Dan ia juga menyerukan “pajak jilbab” pada musimah yang mengenakan jilbab. Ia menyebut muslim di Belanda sebagai “penjajah”, karena mereka berusaha untuk “mengubah Belanda menjadi sebuah provinsi dari sebuah negara besar Islam, Eurabia.” Wilders mungkin penuh kontroversial, tetapi begitu pula dengan kenyataan bahwa dirinya diajukan ke pengadilan. Kantor kejaksaan di Amsterdam baru mau mengajukan tuduhan terhadap Wilders setelah hakim memerintahkan demikian. Sebelumnya, jaksa penuntut umum telah berulang kali menolak mengajukan tuntutan, dengan alasan bahwa sebagai tokoh masyarakat, Wilders harus diberi banyak ruang dalam mengungkapkan berbagai pandangannya. Pandangannya merupakan bagian dari debat publik. Konflik Fundamental Keputusan untuk tidak menuntut Wilders dikritik oleh sebagian orang, dan perintah hakim untuk mengajukan tuntutan dikritik oleh sebagian lainnya.

3 Oktober 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Gorok aja lehernya!

    Komentar oleh Usman | 17 Oktober 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: