Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Massa Ancam Bakar PN dan Kejari Atambua

“Saya pernah ditodong dengan senjata api pada 11 Agustus 2010 oleh oknum kejaksaan bernama Bagoes Raditya pada saat mengklarifikasi perihal tuntutan JPU yang hanya menuntut terdakwa satu bulan penjara”


Atambua -Puluhan pengunjung sidang Pengadilan Negeri (PN) Atambua tiba-tiba mengamuk dengan berbagai umpatan kasar terhadap para hakim di PN Atambua, menyusul putusan majelis hakim yang menjatuhkan hukuman tiga bulan penjara atas kasus lakalantas, tabrakan, yang mengakibatkan tewasnya seorang bocah berusia 2,8 tahun, Juan Carlo oleh oknum anggota DLLAJ Kabupaten Belu, Karel Fredrik Johny pada sidang putusan yang digelar pada Selasa (31/8).

Kekecewaan itu lantaran berharap di Pengadilan, keadilan bisa mereka dapatkan, tapi kenyataannya, rasa keadilan mereka justru terinjak-injak di Pengadilan tersebut.

“Hukum sudah dibeli. Dimana keadilan itu,“ teriak diantaranya.

Selain disebut-sebut hukuman yang diberikan majelis hakim kepada terdakwa Fredrik tidak setimpal, mereka juga berteriak mempertanyakan ketidakhadiran Patahuddin sebagai Jaksa Penuntut Umum. “Mana JPU yang namanya Patahuddin. Dia sudah kabur ke mana? Masa sih sebagai JPU, dia tidak datang. Dia kemana kami mau tanya.”.

Sementara Ayah korban, Stefen Bouk (32) usai sidang kepada wartawan menyatakan kekecewaannya terhadap putusan hakim. “Kami sangat kecewa dan tidak terima dengan putusan ini. Putusan tiga bulan sangat tidak adil, apalagi jaksa penuntut umum hanya mengajukan tuntutan satu bulan dan tidak hadir dalam sidang putusan. Tukang ojek yang hanya tabrak tidak sampai mati saja hukumannya hingga satu tahun penjara. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang,“ ucap Stefen.
“Yang membuat saya semakin tidak terima karena saya pernah ditodong dengan senjata api pada 11 Agustus 2010 oleh oknum kejaksaan bernama Bagoes Raditya pada saat mengklarifikasi perihal tuntutan JPU yang hanya menuntut terdakwa satu bulan penjara,” tambah Stefen emosional.

Pengakuan ayah korban ini, membuat massa yang sebahagian besar merupakan keluarga korban kian emosional. Bahkan, beberapa diantaranya mulai mengancam akan membakar kantor kejaksaan dan PN Atambua. “Bakar saja sebagai simbol kita tidak percaya lagi kepada semua penegak hukum serta hukum di Atambua yang ada di kejaksaan maupun pengadilan Atambua. Bakar saja sebagai lambang kalau hukum sekarang milik ketamakan para jaksa maupun hakim di Atambua,”

Untungnya emosi orang banyak itu masih bisa terkendali, sehingga ajakan untuk membakar aset-aset negara itu tidak bersambut. Mereka kemudian menuju kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Atambua untuk mencari dan meminta kejelasan kepada jaksa Patahuddin.
Namun jaksa penuntut umum pada kasus tabrak mati yang terjadi pada 6 April 2010 di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu tersebut tidak ditemukan.

Merasa kecewa, mereka lalu menyatakan tekad untuk menunggu Patahuddin di depan rumahnya, sampai ada penjelasan darinya.

31 Agustus 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , ,

3 Komentar »

  1. Jangan bakar gedung PN dan Kejaksaannya, sebab manamungkin gedung-gedung itu bersalah? Yang paling pantas dibakar adalah para oknum yang menyusahkan rakyat seperti Bagoes Raditya Patahuddin itu memang pantas dibakar hidup-hidup!

    Komentar oleh Belu Oan | 3 September 2010 | Balas

  2. Oknum seperti itu pantas di keroyok massa hingga tewas.

    Komentar oleh Rena | 11 September 2010 | Balas

  3. mampir nich dari jakarta selatan…
    also visit jasa pengamanan

    Komentar oleh Penginapan di jakarta | 27 Februari 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: