Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Kasus HIV/AIDS Meningkat Tajam

Kasus HIV/ AIDS di Indonesia, terutama di kota-kota tertentu terus meningkat tajam. Jakarta Pusat misalnya, jumlahnya kini menembus 400 penderita. Ini jauh melesat dibanding pada 2009 yang baru mencapai 145 kasus.


Sementara kota lainnya, Banyuwangi, Jawa Timur, juga dilaporkan terus meningkat setiap tahunnya. Kepala Seksi Program Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Banyuwangi Moh. Izzudin, Kamis (15/7), mengungkapkan, hingga pertengahan Juli tahun 2010 ini, data terakhir menunjuka sudah mencapai 565 orang.

Di Kulonprogo juga mengalami hal yang sama.
Tahun 2010 ini tercatat, setidaknya ada sekitar 40 orang penderita. Sebelumnya, pada 2009 hanya ada 34 penderita yang merupakan akumulasi sejak 2002.

Penularan lewat hubungan seksual
Sementara di Denpasar, Bali, telah tercatat 153 orang yang mengidap penyakit penurunan kekebalan tubuh itu.

Kepala Seksi Rawat Inap Penyakit Menular RUSP Sanglah, dr Ida Ayu Miswaryati di Denpasar, Senin (14/6), mengungkapkan pengidap umummnya masih berusia produktif yakni antara usia 20 tahun hingga 40 tahun. Yang mengutirkan, semua pasien yang berkonsultasi mengakui menjalani kehidupan seks dengan berganti-ganti pasangan atau berhubungan dengan lebih dari satu orang.

“Sekitar 106 orang melakukan aktivitas seksual dengan lebih dari satu orang dan selebihnya pasien tertular karena pasangan mereka lebih dulu mengidap penyakit HIV/ AIDS,” ucapnya.

Dia juga nyebutkan berdasarkan data korban meninggal didominasi kaum pria. Sepanjang lima bulan belakangan ini di RSUP Sanglah menunjukkan pada Januari sembilan lelaki meninggal dunia, Februari lima, Maret lima orang, April lima orang dan Mei sebanyak tujuh orang.

narkoba suntik

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jakarta Pusat Amiruddin Holik mengatakan di Jakarta, Sabtu (24/7), setelah diverifikasi, peningkatan penularan HIV/AIDS diperkirakan lebih banyak melalui narkoba suntik.

“Sesuai survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, 55 persen penderita terinfeksi akibat pengguna narkoba suntik, sisanya melalui hubungan seksual,” kata Amiruddin dalam rapat koordinasi penanggulangan HIV/AIDS di Kantor Walikota.
Dia menambahkan, Komisi Penanggulangan AIDS Jakpus bersama KPA DKI Jakarta dalam waktu dekat akan road show ke wilayah kecamatan-kecamatan. Tujuannya untuk mencegah jatuhnya korban.

Menurut Amiruddin, pencegahan terbaik dengan membentengi anak- anak berbekal pendidikan agama dan keimanan. Bagi masyarakat yang dicurigai terindikasi HIV/AIDS, akan diadakan pendampingan terapi. Dengan begitu yang bersangkutan memiliki semangat hidup dan memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang.

Persediaan Obat HIV/AIDS di Belu Kosong

Persedian obat antiretroviral atau obat HIV/ AIDS di RSUD Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sejak Juni 2010 kosong, Kamis (22/7). Situasi itu menjadi kekhawatiran petugas dan perawat atas nasib para pasien pengidap HIV/AIDS di klinik khusus di rumah sakit itu.

“Akibat keterbatasan stok obat, banyak penderita HIV/AIDS di Kabupaten Belu tidak bisa ditangani secara optimal oleh para konselor di RSUD. Mereka kesulitan mencari dan mendapatkan stok obat obat ini,” kata Direktur RSUD Atambua Yohanes Taolin.

Dijelaskan Yohanes, hingga Juni 2010 para konselor HIV/AIDS menemukan sekitar 17 pasien pengidap penyakit tersebut. “Hingga hari ini, sudah terdeteksi lagi empat orang pengidap HIV/AIDS, namun kami tidak bisa berbuat banyak,” katanya.

Pihak ruma sakit, kata Yohanes, sudah meinta bantuan melalui Dinas Kesehatan Provinsi di Kupang. Namun, katanya, stok obat ini juga terbatas bahkan sudah mengajukan permintaan langsung ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta, namun hingga saat ini belum ada jawaban.

“Pihak RSUD Atambua telah mengirim sekretaris tim penanggulangan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Belu Yoseph Un ke Kementerian Kesehatan sejak dua hari lalu guna meminta obat tersebut langsung, namun hingga hari ini belum ada laporan terkait hal ini,” kata Yohanes.

Yohanes mengatakan, untuk mengeluarkan obat yang dibagikan secara gratis ke para pengidap HIV/ AIDS itu harus memenuhi sejumlah syarat. Di antaranya, tambahnya, syarat administrasi bukti hasil pemeriksaan laboratorium yang membuktikan bahwa pasien tersebut terinveksi HIV/AIDS.

“Syarat lain, katanya, ada bukti bahwa ada pasien pengidap HIV/ AIDS di wilayah tertentu dilengkapi laporan pemakaian dan penggunaan obat selama tiga bulan terakhir berturut-turut. Jika lengkap syarat- syarat ini baru dikeluarkan obat tersebut,” papar Yohanes.

Namun karena jumlah pengidap HIV/AIDS diwilayah perbatasn ini dari hari ke hari bertambah signifikan, keluh Yohanes, sehingga persediaan dan stok obat yang dijatahkan untuk tenggat waktu tiga bulan tidak berbading lurus. “Sehingga cepat kehabisan stok,” katanya. Int.

27 Juli 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: