Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Ketua AJI: Kontributor Trans TV Cengeng

Dewan Pers menilai kontributor Trans TV, Zikrullah Syubi, gegabah melaporkan Ariel ke polisi. Menurut wartawan infotainment itu, Ariel sengaja merusak kameranya.

Namun menurut Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), tidak ada faktor kekerasan terhadap wartawan dalam insiden itu.
Ketua AJI berpendapat, pihak media semestinya melakukan kritik terhadap diri sendiri. Kontributor Trans TV itu menyosorkan kameranya ke muka Ariel. Nezar menyimpulkan bahwa ini adalah insiden di lapangan.
“Saya kira itu risiko ketika melakukan liputan-liputan infotainment seperti itu, ” tandas Nezar.

Ariel kepepet
Pada saat itu, menurut Nezar, si narasumber kepepet sehingga sulit bergerak. Akibatnya ia secara tidak sengaja menepis handycam Zikrullah Syubi.
Menurut ketua AJI wartawan intotainment ini mirip paparezzi yang bekerja tanpa mengindahkan kode etik. Mereka sering masuk saja ke ruang privat. Selain itu mereka bekerja bukan untuk kepentingan publik.
Hal ini berbeda dengan para wartawan yang misalnya mengejar informasi dari seorang koruptor. Nah, kalau mereka misalnya dipukul, maka ini baru termasuk katagori kekerasan terhadap wartawan. Reza menyebut kasus Ahmadi di Aceh sebagai contoh. Wartawan ini ditangkap, kemudian diintimidasi dan di bawah ke sebuah lapangan. Dan di sana dilakukan penembakan ke arah kakinya untuk menakut- nakuti.
“Saya rasa itu jelas upaya-upaya yang metodologis untuk melakukan kekerasan terhadap wartawan dan menghambat wartawan untuk mendapatkan informasi yang benar.

Cengeng banget
Walhasil Reza Patria sependapat dengan Dewan Pers, bahwa sebaiknya Zikrullah Syubi melapor dulu ke Dewan Pers.
“Kalau urusan kamera kayak gitu aja kita udah ributnya sampai ke polisi, saya kira kok kita jadi cengeng banget gitu lho.”
Terlepas dari insiden ini, Reza menilai kebebasan pers di Indonesia tahun-tahun belakangan mengalami banyak kemajuan. Menurut Reza, terutama tekanan negara terhadap pers berkurang.
Namun ia menambahkan, ancaman terhadap pers tidak hilang sama sekali.
“Kita juga bisa melihat upaya untuk mengendalikan kembali pers atau mempersempit ruang gerak pers, itu terus menerus dilakukan,” katanya.
“Ini merupakan pertarungan abadi, “simpulnya.
RNW

17 Juni 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Wartawan engak tau diri tuh

    Komentar oleh Anas | 18 Juni 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: