Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

10 Tewas, 72 Diduga Masih Terkubur Longsor

BANDUNG -Hingga Selasa (23/2) malam, sedikitnya sudah 10 orang ditemukan tewas dan 72 orang lainnya masih dalam pencarian akibat musibah tanah longsor di Desa Tenjolaya Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.
Diduga kuat, 72 warga Kampung Dewata yang masih dalam pencarian itu terkubur oleh ribuan kubik tanah longsor. Tim Search and Resque (SAR) dan relawan Taruna Siaga bencana (Tagana) Kabupaten Bandung, kemarin siang, mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi kejadian bencana di lingkungan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) PT Cakra (Perkebunan teh) itu. Sebab, medan jalan untuk menuju ke lokasi itu terjal dan kontruksinya rusak berat.
Karena itu, meski peristiwa longsor terjadi pukul 08.00 WIB, Tim SAR, relawan, dan aparat Pemkab Bandung baru sampai ke lokasi sekitar pukul 16.15 WIB. Mereka langsung melakukan evakusi dan menyisir serta memindahkan bongkahan tanah untuk mencari korban. Hanya dalam satu jam, pencarian korban oleh Tim SAR dan masyarakat menemukan empat korban.
Keempat korban itu terdiri dari dua pria dewasa, satu remaja pria dan satu lainnya perempuan yang diperkirakan berusia 13 tahun. Hanya satu jam kemudian, enam jasad korban tewas lain ditemukan.
“Temuan sementara hingga pukul 16.55 WIB, korban tewas 10 orang. Dan, hasil pendataan menyebutkan setidaknya 72 korban lain masih terkubur,” ujar petugas Kesehatan di Posko Kesehatan korban longsor, Deden Rahmansyah.
Sepuluh korban tewas itu, hingga Selasa petang kemarin, belum dapat diidentifikasi. Kasatlak PBA Kabupaten Bandung, Sofian Nataprawira, menyatakan musibah yang menimpa warga di Kampung Dewata, Desa Tenjolaya Kecakatan Pasirjambu itu, berawal dari curah hujan yang tinggi selama hampir empat jam di daerah itu.
Sofian menyebutkan, pihaknya sudah menurunkan aparat. Di antaranya Kepala Bagian Sosial, Terry S, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial, untuk melakukan antisipasi terhadap korban dan keluarga korban. Korban yang masih terkubur ribuan meter kubik tanah merah itu mencapai 80 orang.
Guyuran hujan lebat yang terjadi Senin malam di daerah itu menyebabkan Bukit Paros yang berada di atas pemukiman warga Kampung Dewata tidak mampu menahan beban air. Pada Selasa pagi, Bukit Paros pun ambruk.
“Kejadiannya begitu cepat, kami pun baru beberapa langkah dari rumah untuk ke kebun. Tidak bisa diceritakan tanah longsor tiba-tiba, saya mencoba menyelamatkan diri,” kata Muhadi (45), warga yang selamat. Muhadi harus rela kehilangan istri dan anaknya. “Istri saya belum ditemukan, tidak tahu terkubur atau selamat,” katanya sambil menyeka air mata.
Kapolres Bandung AKBP, Imran Yunus, di sela-sela kesibukanya mengatur evakuasi di lokasi kejadian, menyebutkan bahwa sekitar 60 orang warga setempat belum diketahui nasibnya. “Informasi terakhir yang saya dapat, menyatakan 60 orang belum diketahui kabarnya,” ucap Imran Yunus.
Evakuasi
Tim SAR dan aparat Pemkab Bandung serta aparat pemerintah setempat, sekitar pukul 12.30 WIB, melakukan evakuasi bongkahan dan materil longsor yang menimbun sedikitnya 40 rumah itu. Namun, hingga petang kemarin, baru ditemukan empat korban.
Tim SAR dan sejumlah personil penanggulangan bencana longsor, kesulitan berkomunikasi. Telepon seluler di daerah kejadian tidak mendapat sinyal. Anggota Polsek Pasirjambu, Aiptu Yayan Mulyana, menyebutkan pada awal kejadian, pihaknya sulit berkomunikasi. Sedangkan radio komumnikasi di daerah itu, selain langka, juga tidak berfungsi dengan baik. Sebelum kejadian longsor, menurut Yayan, pemukiman penduduk di bawah Bukit Paros di Kampung Dewata itu berjumlah lebih dari 65 rumah.
Rumah yang tertimbun longsor itu umumnya dengan konstruksi kayu, atau disebut rumah panggung. Karena itu, saat bongkahan material longsor menyergap pemukiman, serta merta rumah panggung melesak.
Lokasi kejadian berjarak sekitar 96 Km dari Kota Bandung, atau sekitar 73 Km dari Ibu Kota Kabupaten Bandung Soreang, dan 60 Km dari Kantor Camat Pasir Jambu ke arah Barat Daya.
Pemukiman yang dibenamkan oleh longsor itu, menurut Kepala Desa Tenjolaya, Tatang Sudrajat, adalah PT Perkebunan Cakra, Affedlling Dewata, di Blok A. Di bagian Barat permukiman, menjulang tebing setinggi lebih dari 10 meter yang ditanami pohon teh. Di atas bukit yang longsor itu, menurut sejumlah keterangan, terdapat tanaman teh.
Sementara itu, ribuan warga Desa Sukalaksana, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, yang letaknya sekitar 120 Km arah selatan dari pusat kota Garut, sejak 18 Februari lalu hingga kini merasa tidak nyaman. Sebab, kondisi rumah mereka setiap malam gelap gulita. Suasana desa menjadi mencekam.
Terjadi gangguan pada sistem kelistrikan akibat rubuhnya sejumlah tiang jaringan arus listrik sepanjang ruas jalan provinsi, yang menghubungkan Talegong Garut dengan Pangalengan Bandung. “Tiang listrik rubh tergerus tanah longsor dan banjir lumpur,” kata camat setempat, Rena Sudrajat. Suara Karya

24 Februari 2010 - Posted by | Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: