Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Merasa Asing di Negeri Sendiri


Mengenakan celana jean, dengan selendang hanya sebatas bahu, saya berkeliling naik sepeda motor di Banda Aceh. Suatu aksi perlawanan, yang tidak luput dari pengamatan polisi syariat di ibukota propinsi Aceh ini.

Bertugas sebagai wartawati Radio Nederland Wereldomroep, saya masih harus membiasakan diri dengan undang-undang ketat, yang berlaku sejak 1 Januari 2010.

Tidak nyaman
Saya mengaca dan melihat wajah berkerudung hitam, dengan selendang warna abu-bua tua. Saya tidak mengenali wajah di cermin itu. Seseorang berkomentar, pakaian itu cocok dengan aura saya. Saya ingin mengajukan ribuan alasan, mengapa saya merasa tidak nyaman. Saya berjalan ke luar, dan merasa, banyak mata memandang ke arah saya.
Saya ingat, saat saya untuk pertama kali mendarat di bandara Banda Aceh. Saya lihat banyak orang asing. Semua wanita asing tidak mengenakan kerudung. Hukum syariat tidak berlaku bagi wanita asing. Saya warga Indonesia, berambut hitam, tapi menetap di Belanda. Apakah undang-undang tersebut juga berlaku bagi saya? Saya merasa jadi orang asing di negeri sendiri.
Zulfikar, supir dan pemandu saya di Aceh, mulai bercerita tentang kota Banda Aceh. Ia menunjuk pada berbagai gedung, kuburan, restoran, toko, mobil dan sepeda motor. Tampak jelas, Banda Aceh sedang sibuk membangun, dalam tempo sangat cepat. Saya melihat banyak perempuan naik sepeda motor. Mengenakan celana panjang, rok hingga lutut, serta kerudung. Dan di atasnya helm. Saya tertegun. Saat itu 37 derajat celcius. Keringat mengalir di wajah dan punggung saya.

Polisi syariat
Kami menuju Ulee Lhuee, bagian Banda Aceh, yang paling dulu hancur kena hantaman tsunami. Laut telah mengikis pantai. Kini tidak ada lagi pantai putih. Dulu, pantai sarat pasangan yang sedang berpacaran. Sekarang, di mana-mana tampak pagar.
Wilayatul Hisbah (WH), polisi syariat, setiap kali datang memeriksa. Hukum syariat melarang orang yang sedang pacaran, terutama kalangan muda, berjalan bergandengan. Namun, mereka, tetap saja melakukan hal tersebut. Terutama pada sore dan malam hari, saat WH tidak begitu aktif.
Di suatu bagian pantai, saya melihat satu keluarga, dengan pakaian lengkap, mencebur ke dalam air, berenang. Menurut Zulfikar, wanita Aceh tidak boleh mengenakan pakaian renang. Jadi, mereka mencebur ke dalam air, dengan celana panjang, rok dan kerudung.
Zulfikar melanjutkan, pada malam sebelum tsunami terjadi, banyak orang berada di pantai. Mungkin saja mereka melakukan hal-hal yang tidak patut. Mungkin karena itu Tuhan marah, katanya. Saya kaget. Apakah banyak orang Aceh punya pendapat seperti ini? Apakah hukum syariat bisa menjamin masa depan?

Berontak
Sikap pemberontak dalam diri saya mendorong saya untuk berkeliling di jalanan mengendarai sepeda motor, dengan hanya melampirkan selendang di bahu. Bersama seorang rekan wanita. Banyak orang memandang kami. Beberapa di antaranya hanya tertawa, banyak lainnya tampak kaget dan heran. Tidak lama kemudian telepon saya berdering. Zulfikar memperingatkan, WH sedang membuntuti kami.
Kami harus cepat-cepat berhenti, dan bersikap, seolah tidak berbuat apa-apa. Kami berhenti di suatu warung makanan. Saya melihat sebuah mobil pick-up berisi petugas WH lewat. Di bak belakang duduk tiga orang petugas. Dua di antaranya wanita, mengenakan seragam. Mereka mengenakan celana panjang ukuran lebar.
Mereka memperhatikan kami, berhenti pada jarak sekitar 50 meter, dan terus mengamati kami. Setelah beberapa menit, mereka melaju kembali. Sayang juga. Sebenarnya saya ingin berdiskusi dengan mereka.

Bukan ulah GAM
Hari berikutnya saya berjumpa dengan beberapa mantan pejuang GAM, Gerakan Aceh Merdeka. Saya tanya pendapat mereka mengenai undang-undang syariat. Jawaban mereka tegas. Undang-undang itu tidak dibuat oleh orang Aceh. Tapi, oleh beberapa partai besar yang berkaitan dengan Jakarta. DPRD terakhir, yang bukan pilihan rakyat Aceh. Mereka ingin mendapat pujian dari Jakarta.
Selama konflik di Aceh, tidak pernah muncul masalah mengenai konservatisme atau fundamentalisme Islam. Tujuan GAM hanya satu: bebas dari Indonesia. Undang-undang syariat terutama didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera, PKS.
Irwandi Yusuf, gubernur Aceh dan mantan pemimpin GAM, hingga saat ini menolak menandatangani undang-undang syariat. Ia ingin agar DPRD Aceh yang baru terpilih, menyesuaikan undang-undang ini. Itulah tugas pertama DPRD baru. Delapan puluh persen anggota DPRD baru berasal dari Partai Aceh, yang merupakan kelanjutan GAM.

Tetap ngetrend
Di jalan, sekelompok kaum muda berdemonstrasi, mengecam pemerintahan Irwandi Yusuf. Mereka menuntut pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja baru, perbaikan fasilitas pendidikan, jaminan kesehatan bagi semua orang, dan pemerataan kekayaan.
Dari warung makan saya lihat juga sekelompok gadis remaja sedang ngobrol. Mereka tampak ngetrend, mengenakan celana jeans ketat dan kerudung. Bagi mereka, kehidupan tetap terus berlangsung, dengan atau tanpa undang-undang syariat. (Fediya Andina/RNW)

7 Januari 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Coba anda klipingkan berita-berita kekejama muslim dalam 10 tahun terakhir ini, anda akan kaget bila membandingkan dengan kekejaman-kekejaman manapun, hasilnya kekejama para pemeluk Islam jauh melebihi semua itu.

    Komentar oleh Budi | 9 Januari 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: