Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Baridin diduga Terus Kembangkan Jaringan Teroris

POLISI menduga, Baridin telah mengembangkan jaringan penyokong yang bersembunyi di Garut, Jawa Barat. Karena itu, polisi terus intensif melacak tempat transit Baridin, mertua Noordin M. Top. ”Sedang di-track ulang. Disusur mundur,” kata seorang perwira Mabes Polri.

Pria kelahiran 1955 itu memang menyebut beberapa nama. Selain nama baru, ada nama lama yang pernah dipidana dalam kasus terorisme, namun kini telah bebas. ”Mereka adalah alumni Ring Banten, kelompok Kang Jaja,” kata sumber itu.
Kelompok Kang Jaja sudah lama menjadi penyokong jihad ala Noordin M. Top. Kelompok itu menyuplai orang untuk operasi bom Bali I dan operasi bom Kedutaan Besar Australia 2004. Salah seorang yang terkenal dalam kelompok Kang Jaja adalah Iwan Dharmawan alias Rois. Dia adalah anggota Ring Banten, komandan lapangan pengeboman Kedubes Australia pada September 2004.
Lulusan SMA negeri di Sukabumi itu pernah mendapat pelatihan di kamp milik Darul Islam di Mindanao 1999-2000. Rois juga dikenal sebagai veteran Ambon dan Poso. Dia mendirikan kamp pelatihan militer atas permintaan Noordin di Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Kamp itu dirancang untuk memilih para pelaku bom bunuh diri.
Rois ditangkap pada November 2004 di Bogor dan dijatuhi hukuman seumur hidup pada Juli 2005. Apakah Baridin dilindungi murid-murid Rois? Sumber itu belum bisa memastikan. ”Tapi, Baridin memang mengenal Rois,” katanya.
Saat perang Afghanistan berkecamuk pada akhir 1980-an, Baridin menjadi salah seorang sukarelawan yang ikut berjuang di kamp-kamp pejuang Afghanistan. Dia berangkat bersama tokoh-tokoh garis keras lain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. ”Bukan hanya konflik Afghanistan yang membuat Baridin menjadi tokoh garis keras,” jelasnya.
Saat konflik Poso dan Ambon, Baridin dilaporkan menjadi bagian dari pengiriman laskar jihad dengan sejumlah relawan dari Cilacap dan Banyumas. Konflik Poso dan Ambon membuat Baridin semakin matang dalam mengaplikasikan ilmunya saat berada di kamp-kamp pejuang Afghanistan.
Berbagai kemampuan strategi perang diyakini digunakan Baridin untuk menyiapkan para ”mujahid” dalam bom bunuh diri. Saat menyiapkan laskar itu, mungkin Baridin mengenal dekat Rois yang juga mujahidin yang dikirim kelompok Banten ke Ambon.
Baridin memilih lokasi di sekitar Pantai Santolo Indah, Cikelet, Garut, Jawa Barat, karena lokasi itu pernah digunakan untuk pelatihan singkat (dauroh) beberapa orang muridnya dalam kelompok Cilacap. ”Mereka menggunakan lokasi pantai untuk berlatih survival tiga hari pada 2006,” kata sumber itu.
Jalan atau akses dari Garut ke lokasi juga susah ditempuh. Jalannya rusak dan berkelok-kelok. Akses media di lokasi itu juga jarang. ”Karena itu, Baridin aman selama berbulan-bulan,” katanya. Di sekitar Pamengpeuk juga dikenal sebagai basis eks laskar DI/TII era Kartosuwiryo yang mengembangkan keturunannya di lingkungan itu. ”Karena itu, basis keagamaan juga lumayan kuat di daerah itu,” ujarnya.
Meski mengaku seorang diri, polisi menduga Baridin diperlakukan sebagai tamu jamaah yang harus dihormati. ”Tidak dibantu secara penuh, tapi dijaga,” katanya.
Mabes Polri memang tak buru-buru mengumbar informasi seputar Baridin. ”Kami menunggu informasi lengkap dari Bareskrim dulu,” ujar Wakadivhumas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak.
Sulis memastikan, informasi penangkapan Baridin sudah dilaporkan kepada Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. ”Beliau menyampaikan penghargaan atas kerja keras personel di lapangan yang tak kenal hari libur,” kata jenderal bintang satu itu.

Sebelumnya berbagai median melaporkan pelarian buron polisi Baharudin Latif alias Baridin, mertua teroris Noordin M. Top yang tewas ditembak Densus 88 di Mojosongo, Solo (17/9), berakhir kemarin saat Densus 88 Mabes Polri membekuknya di sebuah perkebunan kelapa di Kampung Banyuasih, Desa Pamalayan, Cikelet, Garut, Jawa Barat. Lokasi tersebut tidak jauh dari stasiun peluncuran roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).
Baridin (54 tahun) berhasil ditangkap anggota Densus 88 di sebuah gubuk dari bilik bambu berukuran 1,5 x 2,5 meter di tengah perkebunan kelapa, sekitar pukul 04.00 Kamis (24/12). ”Dijemput tanpa perlawanan,” ujar Kepala Densus 88 Mabes Polri Brigjen Tito Karnavian kemarin. Bersama Baridin, ikut ditahan putra ketiganya, Ata Sabik Alim, 23. Ata adalah adik Ariani Rahmah, istri ketiga Noordin.
Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Ito Sumardi menjelaskan, penangkapan Baridin merupakan hasil penyelidikan Densus 88 sejak lama. ”Dari penangkapan ini, semoga ada informasi lain yang berguna untuk penanggulangan teror,” ungkapnya. Jawa Pos

25 Desember 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Binatang-binatang teroris ini adalah kaki tangan Iblis jahanam.

    Komentar oleh Wayan | 26 Desember 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: