Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Ironis! PWI Gunakan UU ITE, AJI: Infotainment Bukan Jurnalis

JAKARTA – Kompas Entertaiment merilis keterkejutan, penyesalan, sekaligus pengecaman dari sejumlah kalangan dalam menyingkapi tindakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya beserta sejumlah awak pekerja infotainment, yang menggunakan sejumlah pasal kontroversial dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik untuk mengadukan artis Luna Maya, terkait “curhatnya” di microblogging twitter, menyusul langkah kontroversial Ketua PWI Jaya Kamsul Hasan yang mendampingi sejumlah kru infotainment, ikut melaporkan Luna Maya ke pihak kepolisian dengan sangkaan – salah satunya, melanggar Pasal 27ayat 3 UU ITE, menyusul pesan pribadi yang dituliskan kekasih Ariel “Peterpan” itu di akun Twitter, yang dianggap menghujat para pekerja infotainment.
Pasal serupa juga pernah digunakan dalam kasus perseteruan antara RS Omni Internasional Alam Sutera dengan seorang ibu rumah tangga, Prita Mulyasari, yang sampai sekarang masih terus berjalan dan memicu kontroversi besar-besaran serta memancing solidaritas dari kalangan masyarakat terhadap Prita.
“Saya yakin mereka (pekerja infotainment dan PWI Jaya) sama sekali tidak paham bahayanya UU ITE itu. Seharusnya mereka tahu, sejak awal kami di Dewan Pers sudah menolak keras dan bahkan menyerukan ke pemerintah dan DPR kalau sejumlah pasal dalam UU ITE, seperti Pasal 27 ayat 3dan Pasal 45 ayat 1, adalah musuh kemerdekaan pers dan berekspresi,” ujar Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara di Jakarta, Jumat (18/12/2009).
Menurut Leo, dengan pasal dan UU itu lah seorang ibu rumah tangga seperti Prita bisa langsung ditahan dan dituntut enam tahun penjara hanya karena menuliskan keluhannya atas pelayanan RS Omni Internasional Alam Sutera dan mengirimkannya lewat surat elektronik pribadi ke sejumlah rekannya.
Leo juga menambahkan, akun jejaring sosial seperti Twitter atau Facebook memang tidak termasuk dalam kategori media massa berbadan hukum. Akan tetapi jika mengacu pada Pasal 1ayat 1 UU Pers disebutkan, pers merupakan hasil kegiatan jurnalistik yang menggunakan media cetak, elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
“Secara substantif, walau tidak berbadan hukum, (produk tulisan) seperti di Twitter, Facebook, atau internet itu ada kaitannya dengan UU Pers. Oleh karenanya kemarin kita bela Prita Mulyasari. Seharusnya para pekerja infotainment itu kalau merasa dirugikan nara sumbernya, gunakan saja hak jawab atau kalau perlu ajukan ke Dewan Pers,” ujar Leo.
Leo menegaskan, kalau tetap nekat menggunakan UU ITE dalam kasus itu, hal itu sama artinya baik pekerja infotainment maupun PWI Jaya setuju dan mendukung UU ITE, yang juga berarti mendukung upaya mengkriminalisasi pers sendiri. Hal seperti itu teramat ironis dan memprihatinkan.
“Nanti pemerintah kan juga senang, ternyata ada wartawan infotainment setuju kebijakan yang bisa menjadi produk aturan yang represif bagi pers sendiri. Yang seperti itu malah jadi preseden di masa mendatang. Padahal kita berjuang agar dua pasal itu dicabut. Kami akan undang PWI Jaya supaya mereka paham apa itu kemerdekaan pers,” ujar Leo.

AJI: Infotainment Bukan Jurnalis
Sementara Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nezar Patria berpendapat, infotainment bukanlah bagian dari jurnalis. Pasalnya, infotainment kerap memberitakan seseorang terlalu jauh tanpa mengindahkan kode etik yang digunakan para jurnalis.
“Perlu diingat, infotainment bukan jurnalis. Mereka hanya bekerja kepada perusahaan hiburan,” tegas Nezar Patria saat dikonfirmasi okezone per telepon, Sabtu (19/12/2009).
Menurut Nezar, dunia jurnalis memang mengenal wartawan hiburan. Namun, wartawan hiburan yang dimaksud bukanlah seperti infotainment, melainkan lebih kepada acara pertunjukan yang beritanya perlu disebarluaskan ke publik.
“Mereka yang meliput acara konser, pameran, dan sejenisnya itu masuk dalam kategori wartawan. Tetapi kalau infotainment bukan, karena mereka memberitakan privasi orang dan wartawan tidak berkepentingan dengan hal itu,” tandasnya.
Nezar juga menyesalkan mengapa pihak infotainment menjerat Luna dengan pasal ITE. Padahal, menurut Nezar, keduanya merupakan pihak yang saling menguntungkan. Infotainment butuh artis, begitupun sebaliknya.
“Kasus itu sebetulnya tidak perlu sampai ke pidana tetapi cukup diselesaikan secara baik-baik. Misalnya, pihak infotaiment bertemu langsung dengan Luna atau organisasi artis,” ujarnya.

19 Desember 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. Artis dan infotainment berseteru bukanlah hal yang aneh di dunia hiburan. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda. Namun apabila ditelusuri lebih jauh, mereka adalah dua pihak yang saling membutuhkan.

    Ketika hal seperti ini terjadi, alangkah bijaknya apabila masing-masing pihak berpikir jernih dan mengutamakan perdamaian. Demi mencari solusi yang akan sama-sama menguntungkan. Namun hal ini juga bisa jadi peringatan untuk lebih bijak dalam bertutur di dunia maya.
    Cara Membuat Blog

    Komentar oleh Cara Membuat Blog | 19 Desember 2009 | Balas

  2. jadi makin seru nih cerita luna maya.. yang punya blog lam kenal aja..ma kasih

    Komentar oleh yuwaku | 20 Desember 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: