Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Intimidasi Muslim di Eropa Makin Nyata

London – Referendum Swiss untuk pelarangan menara masjid memicu goyahnya kerukunan umat beragama di Eropa. Muslim kini merasa mereka dikucilkan masyarakat di kawasan itu.
“Hubungan kompleks Muslim dan Eropa makin terlihat jelas. Komunitas Islam di benua itu meyakini, perlahan tapi pasti, mereka dikucilkan masyarakat Eropa,” demikian kesimpulan jajak pendapat LSM Open Society Institute (OSI) milik George Soros, yang dipublikasikan kemarin.
Sebanyak 20 juta Muslim tersebar di penjuru Eropa, terutama di ibukota dan kota industri besar. Mereka merupakan 25% populasi di Marseilles dan Rotterdam, 20% di Malmo, 15% di Brussels dan Birmingham, serta 10% di London, Paris, dan Kopenhagen. Jajak pendapat ini melibatkan Muslim di 11 kota besar Uni Eropa (UE).
Hasilnya, 55% Muslim merasa diskriminasi agama telah meningkat di kawasan itu selama lima tahun terakhir. Meski telah lama menjadi bagian dari kota-kota tersebut, laporan itu menyebutkan tingkat pengangguran Muslim lebih tinggi tiga kali lipat ketimbang non-Muslim. Padahal, mereka mengaku masih ingin berintegrasi dengan dengan masyarakat lainnya.
“Banyak penduduk Muslim, terutama orangtua, merasa sedih karena mereka tidak bisa hidup dalam lingkungan campuran. Mereka ingin mempelajari perbedaan itu,” ujar penulis utama laporan jajak pendapat OSI, Tufyal Choudhury.
Temuan ini juga menggambarkan riset sebelumnya mengenai kekerasan terhadap Muslim dan kelompok minoritas lainnya. Biro Hak Fundamental (FRA) melaporkan pada 9 Desember lalu, mengenai 23 ribu individual dari etnis dan kelompok imigran minoritas. Mereka menjadi korban diskriminasi, tindak kriminal yang berkaitan dengan rasisme, dan kebijakan di UE.
Riset FRA membuktikan diskriminasi itu umumnya dirasakan ketika mereka mencari pekerjaan, berbelanja, hingga mengunjungi dokter. Kelompok itu merasa tindakan ini sangat rasis, anti-imigran, dan fobia Islam yang tak patut dialami dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, peluang nama Muslim untuk mendapatkan wawancara pekerjaan lima kali lebih rendah ketimbang non-Muslim.
“Masyarakat Eropa berada dalam tahapan di mana kecurigaan mereka terhadap Muslim sangat tinggi. Di bandara saja, saya sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan kolega saya, meski jelas-jelas paspor saya berbendera Inggris,” kata anggota parlemen Inggris yang beragama Islam, Sajjad Karim.
Ketakutan macam inilah yang memicu dukungan untuk politisi anti-Islam macam Geert Wilders asal Belanda. Partainya, Freedom Party (VVD) yang berlandaskan anti-Islam, mendapat 11% suara dalam pemilu Belanda, Juni lalu. Pengaruh anti-Islam dalam politik itu makin membuat Muslim merasa mereka tidak diinginkan di Eropa.
Ditambah lagi beberapa negara Eropa mengetatkan hukum imigrasi mereka, memberlakukan tes kependudukan, serta mengeluarkan aturan mengenai penggunaan jilbab dan burkha (cadar) seperti di Prancis. Secercah harapan Muslim timbul ketika Presiden Prancis Nicolas Sarkozy merasa referendum Swiss memprovokasi ketakutan di penjuru Eropa.
Namun demikian, Direktur LSM Social Cohesion di London, Douglas Murray, merasa diskriminasi yang diterima Muslim Eropa sama saja dengan perlakuan yang diterima pendatang baru. Masyarakat Eropa, menurutnya, menolak kedatangan outsider di wilayah mereka. Ia merasa bangsa Eropa tidak sedemikian diskriminatif terhadap Muslim.
“Mereka yang berpikir ada diskriminasi, selalu berujung pada hal yang sama. Yakni menunjukkan bahwa bangsa Eropa merupakan orang-orang rasis. Sangat menjijikkan pemikiran demikian,” papar Murray.
Sejarahnya, ada beberapa faktor yang mau tak mau diakui sebagai penyebab diskriminasi Muslim. Seperti kontroversi pembunuhan sineas Belanda Theo van Gogh oleh esktremis Islam. Serta beberapa teror di penjuru bumi lain yang disebabkan oleh Muslim. Terutama pasca serangan di WTC New York dan Pentagon di Washington, AS.
Studi OSI juga menyimpulkan penduduk Muslim Eropa hanya menginginkan persamaan derajat dan hak mereka sebagai warga negara. Apalagi, sebanyak 90% penduduk Muslim Eropa masih memiliki sense of belonging terhadap kota dan negara yang mereka tinggali. Tingginya perasaan itu terlihat jelas di Inggris yang memang negara Eropa paling toleran terhadap Muslim. Inilah

18 Desember 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , ,

1 Komentar »

  1. Mereka datang ke tempat orang lalu berjihad di tempat orang, wajar saja di benci. Bangsa eropa justru terlalu lunak dan menganggap sepele isi Quran.

    Komentar oleh Raga | 18 Desember 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: