Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

6 Alasan dan Cara Membuat Nama Pena

Oleh: Udo Yamin Majdi

Nama Pena. Ini salah satu tema yang sering ditanyakan oleh teman-
teman, baik dalam Pelatihan Jurnalistik, Sekolah Menulis SMART, milis wordsmartcenter@yahoogroups.com, blog www//
http:udoyamin.multiply.com, maupun lewat e-mail pribadi saya, udoyamin_majdi@… Oleh sebab itu, ketika saya kembali mengasuh acara
Sekolah Menulis On-Air di radio Community Jerman stasiun 2 Cairo, tema tersebut menjadi tema perdana dari sembilan pertemuan, setiap hari Kamis pukul 19:00 waktu Cairo, kecuali minggu ke-3 acara BOLPEN (Bincang Online Kepenulisan) bekerjasama antara Word Smart Center, FLP Jerman, dan Radio Comunnity.

Saya sempat menanyakan kepada beberapa orang: Anda kenal Etty Hadiwati Arief dan Heri Hedrayana Haris? Mereka hampir semuanya geleng kepala. Tidak tahu. Namun ketika saya tanyakan: apakah kenal dengan Pipiet Senja dan Gola Gong? Mereka pun menjawab, "Ya jelas kenal dong!" Setelah saya jelaskan, bahwa dua nama pertama, itu adalah nama asli dari dua penulis tersebut. Nah, dua nama di akhir, itu kita kenal dengan nama diri atau nama asli, sedangkan dua nama akhir, kita sebut nama pena.

Kita memang lebih mudah menunjukan nama pena dibandingkan dengan mendefinisikannya. Apalagi, nama pena ini, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ketiga belum termaktub. Begitu pun di wikipedia berbahasa Indonesia, belum ada. Yang ada pada wikipedia berbahasa Melayu. Di sana disebutkan bahwa nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis yang bukan nama aslinya karena alasan tertentu. Kalau demikian, nama pena versi Bahasa Melayu semakna dengan "nama samaran" dalam KBBI.

Terlepas, apakah kita setuju atau tidak dengan definisi di atas, yang jelas, setidaknya membantu kita untuk memahami makna nama pena.
Walaupun, terus terang, secara pribadi, saya tidak sependapat bahwa nama pena itu harus berbeda sama sekali dengan nama asli. Sebab, dalam kenyataan, saya sering menjumpai nama pena itu tetap mempertahankan nama aslinya atau hanya sebatas singkatan dari nama asli.

Misalnya, Mohamad Fahri memakai nama pena Fahri Asiza, Hamka nama pena dari nama asli singkatan Haji Abdul Malik Amrullah, atau gabungan dari singkatan dan nama asli, misalnya Muhammad Ainun Nadjib menjadi Emha Ainun Nadjib. Menurut saya, nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis ketika mempublikasikan karyanya kepada khalayak ramai, baik itu nama samaran, nama singkatan, maupun gabungan dari keduanya.

Mengapa para penulis memakai nama pena? Lagi-lagi, tidak mudah
menjawabnya, sebab setiap orang punya alasan masing-masing. Di sini
kita hanya mendiskusikan tujuh alasan seseorang memakai nama pena
berikut ini:

1. Karena kurang percaya diri. Rasa kurang pede ini, bisa berkaitan
langsung dengan nama aslinya, karyanya, maupun dengan spesialisasi
ilmunya. Teman saya, memakai nama pena sebab nama asli terkesan
kampungan dan menunjukan suku tertentu. Ada lagi memakai nama pena,
sebab merasa tulisannya belum begitu baik dan ia memposting tulisan
di berbagai milis dengan nama pena berbeda-beda semata-mata ingin
memperoleh masukan dari banyak orang tanpa mereka mengetahui siapa
penulisnya. Ada juga teman saya yang kuliah di Universitas Al-Azhar
jurusan Tafsir memakai nama pena sebab antara spesialisasi ilmu yang
pelajari jauh berbeda dengan novel dan cerpen yang ia tulisi.

2. Karena ingin menjaga keamanan diri. Tidak sedikit penulis yang
harus meringkuk di balik jeruji besi, bahkan harus menyerahkan
nyawanya di tiang gantungan gara-gara dari sebuah tulisan. Misalnya
apa yang terjadi pada Sayyid Quthub. Beliau keluar masuk penjara dan
akhirnya dihukum gantung oleh penguasa dengan tuduhan ingin melakukan
kudeta.

Maka tidak sedikit pula, para penulis yang tidak mau mengambil resiko
harus dipenjara, namun tidak tahan menyuarakan hati nurani. Akhirnya
mereka memilih memakai nama pena yang jauh sekali dengan nama penanya.

Atau juga ada yang karena ingin aman dari penolakan keluarganya.
Misalnya Binti Syati', nama pena dari Aisyah Abdurrahman. Mufassirah
(ahli tafsir wanita) asal Mesir itu memakai nama pena, sebab tidak
ingin mendapatkan halangan dari bapaknya, ketika menulis sastra atau
esai-esai yang sangat berbeda dengan harapan orang tuanya.

3. Karena nama sama dengan penulis lain. Bagi Anda rajin membaca buku
tentang cinta atau aktif di milis kepenulisan, besar kemungkinan
kenal dengan nama ini: M. Shadiq Mustika. Tahukah Anda nama asal usul
nama pena ini? Pada dua buku pertama, beliau masih menggunakan nama
asli Muhammad Shodiq. Namun, belakangan beliau sadari, ternyata ada
dua orang penulis lain yang memakai nama yang sama. Sehingga beberapa
orang salah duga, buku yang ditulis oleh orang yang namanya sama
dengannya, mereka sangka beliau yang menulisnya. Untuk membedakan
dengan dua penulis lain itu, beliau memakai nama pena: M. Shodiq
Mustika. Tambahan nama Mustika ini singkatan dari Muhammad Shodiq bin
Tamsir bin Ismail bin Khusban bin Adam.

4. Karena tidak marketable. Seorang teman, sebut saja namanya, Asep
Surya. Dia menulis buku dengan tema keislaman, sesuai dengan
kuliahnya di Universitas Al-Azhar Mesir. Sudah beberapa buku yang dia
tulis, namun sulit diserap oleh pasar. Lalu, ketika dia menulis buku
tentang Do'a, dia ubah namanya menjadi Ibnu Utsaimin. Ternyata
bukunya laris manis.

Mengapa ketika dia memakai nama Ibnu Utsaimin bukunya menjadi laris?
Wallahu a'lam. Sebelum saya menjelaskan perbedaannya, saya ingin
bertanya kepada Anda, ketika membaca Asep Surya, apa yang terbetik di
benak Anda? Sebaliknya, ketika Anda membaca Ibnu Utsaimin, apa yang
muncul di otak Anda?

Nama pertama mengingatkan kita akan teman-temannya asal Sunda. Sebab,
orang Sunda banyak sekali memakai nama Asep. Sedangkan nama kedua,
mengingatkan kita kepada para nama ulama dan ilmuan besar dalam
Islam, diantaranya Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu
Jauzi, Ibnu Rusydi, dan Syaik Utsaimin.

Nah, demikian pula yang terjadi kepada para pembaca awam. Ketika ada
dua buku sejenis dengan tema yang sama, mereka lebih memilih buku
dengan nama orang Arab dibandingkan dengan nama orang Sunda. Sebab,
mental orang Indonesia, selain beranggapan bahwa buku yang ditulis
oleh orang luar negeri lebih bagus dibandingkan buku ditulis oleh
orang Indonesia, juga mereka memandang sesuatu yang berbau Arab atau
Timur Tengah lebih Islami dibandingkan dengan yang ada di Indonesia.
Jadi wajar buku teman kita itu laris manis, sebab para pembaca
mengira sang penulis berasal dari Timur Tengah. Dengan kata lain,
nama Ibnu Utsaimin lebih menjual dari nama aslinya Asep Surya.

5. Karena ingin melakukan personal branding. Sebenarnya alasan ini,
sangat erat dengan alasan sebelumnya. Hanya saja bedanya, kalau
sebelumnya ikut "trend pasar", sedangkan alasan ini ingin menciptakan
pasar sendiri, alias trend setter.

Di sini, satu hal yang harus kita fahami bahwa saat ini dunia menulis
dan perbukuan bukan semata-mata untuk menyuarakan kebenaran, sarana
berbagi, atau memperjuangkan idealisme semata, melainkan menjadi
sebuah industri atau bisnis. Oleh sebab itu kita perlu memahami
strategi pemasaran, merketing.

Berbicara tentang dunia marketing, kita akan melirik master pemasaran
di Indonesia, Hermawan Kertajaya. Lewat buku serialnya, beliau
memperkenalkan Sembilan Elemen Pemasaran. Saya tidak akan mengurai
sembilan elemen itu, melainkan hanya memberikan contoh tiga elemen
yang berkaitan dengan tema kita. Menurut beliau, dari sembilan elemen
itu, bisa kita kerucutkan pada tiga elemen ini: positioning,
differentiation, dan brand.

Dunia kepenulisan atau perbukuaan itu ibarat samudra. Di tengah
samudra itu ada beberapa benua, setidaknya ada dua benua besat, yaitu
benua fiksi dan benua non-fiksi. Di benua fiksi ada pulau novel,
pulau cerpen, pulau novelet, pulau cerbung, dan seterusnya. Sedangkan
di benua fiksi, (1) ada pulau faktual yang terbagi menjadi beberapa
daerah, ada daerah berita, ada daerah featuter, ada daerah laporan,
dst; (2) ada pulau opini terbadi menjadi beberapa wilayah: ada
wilayah opini, ada wilayah kolom, ada wilayah esai, ada wilayah
biografi, ada wilayah autobiografi, ada wilayah memoar, dst; dan (3)
pulau ilmiah, ada district ilmiah akademis (makalah, paper, skripsi,
tesis, disertasi, dan laporan penelitian) dan ada district ilmiah
pupuler (artikel ilmiah populer, dst) Dan setiap daerah, wilayah,
atau district ini, memiliki beberapa rumah: dari segi jenis kelamin,
ada rumah perempuan dan ada rumah laki-laki; dari segi umur: ada
rumah balita; rumah anak-anak,
rumah remaja, ada rumah dewasa, ada manula, dst.

Tentu saja kita tidak cukup waktu untuk memasuki semua rumah
tersebut. Begitu pula hal dalam dunia tulis menulis, tidak semua
jenis, bidang, dan sasaran pembaca buku, bisa kita tulis, melainkan
kita harus memilih salah satu atau beberapa saja. Misalnya, memilih
menjadi penulis jenis non-fiksi bidang keislaman. Bidang keislaman
ini masih banyak lagi cabangnya, ada tentang Al-Quran, Al-Hadis,
Fiqh, Sirah, Filsafat, Dakwah, dan seterusnya. Tema Al-Quran pun
masih banyak sekali ranting keilmuan yang bisa kita ambil sebagai
spesialisasi kita, misalnya tafsir, asbabun nuzul, qira'ah, i'rab,
tajwid, mufrodat, dst. Dari tafsir itu dibagi-bagi lagi, ada tafsir
maudhu'i (tematis) dan ada tafsir tahlily (tafsir analitis).
Selanjutnya, kita dihadapan dengan pilihan, siapa sasaran pembacanya,
untuk remaja atau dewasa. Misalnya memposikan diri sebagai penulis
tafsir maudhu'i untuk remaja.

Setelah kita memposisikan diri sebagai penulis tafsir tematis untuk
remaja, maka kita perlu melihat karya-karya para penulis tafsir
tematis untuk remaja yang lainnya. Kira-kira apa yang belum mereka
singgung, atau apa yang perlu kita tambahkan dalam karya kita
sehingga buku kita berbeda dengan mereka. Misalnya, bedanya buku kita
selain memakai bahasa remaja, juga ada gambar bahkan peta daerah-
daerah yang disebutkan dalam ayat-ayat yang kita tulis..

Jika positioning dan diffrentiation itu kita lakukan, maka akan
muncul brand, alias merek. Ketika kita orang mencari tafsir tematis
untuk remaja penuh dengan gambar dan peta, orang akan ingat kita.
Sebaliknya, ketika orang membaca nama kita, maka akan ingat dengan
buku-buku kita.

Itulah yang terjadi pada penulis-penulis best seller yang kita kenal.
Misalnya, Mohammad Faizil Adhim. Setiap saya ingat nama beliau, maka
saya akan ingat buku tentang pernikahan. Sebaliknya, ketika
membicarakan buku pernikahan, maka saya ingat nama beliau. Padahal,
buku yang tentang pernikahan yang saya baca, bukan hanya karya beliau
saja. Mengapa hal ini terjadi? Karena menurut saya, Mas Fauzil, telah
berhasil memposisikan dirinya sebagai penulis buku pernikahan untuk
para remaja, dengan gaya bahasa yang berbeda, dan beliau komitmen
menggarap tema ini.

Kembali dengan personal branding tadi, coba Anda perhatikan karya-
karya Mas Fauzil. Ketika menulis tema pernikahan, beliau memakai nama
Mohammad Fauzil Adhim, ketika menulis buku tentang anak beliau
memakai nama–kalau tidak salah– Abu Fikri, dan ketika menulis
buku tentang menulis "Dunia Kata" beliau memakai nama M. Fauzil
Adhim. Wallahu a'lam, apakah Mas Fauzil membedakan nama pena sesuai
dengan jenis dan tema karyanya itu personal branding atau tidak, yang
jelas bagi saya, itulah yang saya maksud dengan alasan membangun
merek diri.

6. Karena alasan negatif dan tidak bertanggung-jawab. Saya melihat hal ini di beberapa milis yang saya ikuti. Ada beberapa orang, sangat rajin memposting tulisan atau menanggapi tulisan orang lain. Namun sangat sayang, isi postingan itu –apalagi menjelang kampanye 2009 ini– sering menjelek-jelek kelompok, golongan, partai tertentu.
Mereka sangat bahagia bila melihat kekurangan kelompok, golongan, partai lain. Mereka sebarkan di milis-milis. Namun ketika dari kelompok yang mereka serang itu memposting hal-hal positif tentang mereka sebagai penyeimbang, mereka langsung menuding: ini kampanye terselubung!

Dan saya perhatikan, selain ID e-mail mereka tidak mencermin identitas mereka, juga nama mereka disamarkan, misalnya "Sang
Pembela", "Sang Pejuang", dan seterusnya. Menurut saya, itu termasuk nama pena. Mereka lakukan hal itu, agar mereka bebas untuk menulis apa saja tentang orang lain, meskipun itu sering melukai orang lain.
Mereka menyangka apa yang mereka lakukan itu tidak ada yang tahu, padahal Allah tidak pernah luput menyaksikannya dan malaikat pun senantiasa mencatat perbuatan mereka. Semoga kita terjauh dari alasan membuat nama pena dengan niat negatif dan tidak bertanggung-jawab ini.

Setelah kita menjawab pertanyaan, apa dan mengapa, ada satu pertanyaan lagi yang perlu kita perbincangkan, yaitu bagaimana cara kita membuat nama pena? Sebenarnya, tidak ada aturan tertentu cara kita membuat nama pena. Setiap orang bebas memilih caranya masing- masing. Adapun kiat-kiat atau tips berikut ini hanya sebatas saran sebagai bahan pertimbangan saja. Kalau memang bermanfaat, silahkan Anda pergunakan. Namun jika tidak berkenan, saya mohon maaf sudah menyita waktu Anda membacanya.

Baik, mari kita mulai cara menulis nama pena di bawah ini:

1. Buatlah nama pena yang bermakna positif dan mencerminkan idealisme Anda. Membuat nama pena, tidak jauh berbeda seperti kita memilih nama asli. Sebab nama, selain identitas –dalam pandangan Islam– sebagai
do'a dan panggilan di akhirat nanti. Sangat keliru pernyataan
Shakespear bahwa "apa arti sebuah nama". Nama sangat berarti,
sehingga Nabi Muhammad Saw sampai menggati nama sahabatnya, dari
bermakna negatif ke makna positif. Tentu saja banyak sekali nama
bermakna positif itu, baik itu kita ambil dari nama nasab
(keturunan): nama bapak, kakek, atau buyut, atau dinisbahkan kepada
anak: Abu Ahmad, marga, kampung halaman atau tempat tinggal (dalam
bahasa Arab hal ini disebut laqab atau kunyah), maupun nama baru
pilihan kita,

Selain bermakna positif, juga mengingatkan kita akan sebuah idealisme
yang akan kita perjuangkan. Menulis, bukan sekedar merangkai kata
berbunga-bunga dan penuh warna, melainkan memang ada sesuatu yang
harus kita sampaikan: berupa kebenaran, ilmu, informasi, atau berbagi
pengalaman. Sebagai muslim, tentu semuanya itu bermuara kepada
mardlatillah. Inilah yang membuat Kang Heri Hendrayana memakai nama
Gola Gong. Sewaktu ke Mesir, beliau sempat menjelaskan bahwa "GOL"
itu untuk mengenang saat tulisannya dimuat di majalah HAI, "A"
singkatan dari Allah untuk menginngatkan pesan ibunya bahwa menulis
harus untuk mencari ridla Allah, sedangkan "GONG" artinya terus
bergema sampai kapanpun.

2. Sesuaikan nama pena dengan jenis tulisan dan target pembaca.
Sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, bahwa salah satu strategi
agar buku kita diterima pembaca adalah kita harus memilih jenis
tulisan dan menentukan target pembaca.

Jika kita telah menentukan dua hal itu, maka kita akan lebih mudah
membuat nama pena. Sebab, antara satu jenis tulisan dengan jenis
tulisan lainnya, atau sasaran pembaca umur tertentu akan berbeda
dengan umur yang lainnya. Misalnya, bila kita memilih menjadi penulis
novel romantis maka buatlah nama pena yang romantis, bila novelnya
komedi, maka buat nama yang lucu, atau novel detektif, pilihlah nama
yang menunjukan sosok cerdas, dan seterusnya.

3. Usahakan nama pena singkat. John Griffith –ahli matematik–
mengatakan bahwa setiap manusia normal akan mampu mengingat satu
milyar, 1.000.000.000..000 (10 pangkat 11). Sedangkan Jonh von
Neumann –ahli teori informasi– menyebutkan bahwa kita mampu
mengingat sampai 280 kuintiliun bit, 280.000.000.000.000.000.000. bit
(280 diikuti dengan 18 nol). Setiap bit mewakili satuan terkecil
informasi, alias suku kata (lafadz), misalnya "a", "i", "ya", "oh",
"ih", dst. Luar biasa bukan, otak kita?

Meskipun daya tampung otak kita sangat dahsyat, namun tidak
menentukan baik atau tidaknya ingat kita. Yang menentukannya adalah
proses kita mempersepsi memori. Ada dua macam memori: (1) memori
ikonis (al-abshar) untuk informasi lewat visual/penglihatan; dan (2)
memori ekosis (as-sam'a) untuk informasi lewat audio/pendengaran.
Menurut para ahli komunikasi, apa yang kita lihat dan dengar sekilas
maksimal 7 bit. Lebih efektif lagi 3-4 bit saja.

Dengan demikian, ketika kita membuat nama pena kata dasar, efektifnya 3-4 dasar. Contohnya "Al-Hamasah" nama pena Helvy Tiana Rosa ketika awal menulis, diantaranya karyanya yang memakai nama tersebut adalah ;
Mc Alliester; dan Akira;. Atau Jonru nama pena Jonriah Ukur,
founder penulislepas.com. Atau Hernowo, penulis Mengikat Makna. Bisa
juga dua kata, seperti Arul Khan dan Syamsa Hawa. Ada yang bilang
maksimal 3 kata, misalnya Udo Yamin Majdi. (Hehehe, bukan narsis lho!)

Udo Yamin Majdi itu nama pena, bukan nama asli. Banyak yang tidak tahu, bahwa "Udo" itu tambahan dan bermakna "Kakak", seperti Aa di Sunda. Maka kurang tepat jika ada yang memanggil saya "Mang Udo",
"Abang Udo", "Mas Udo", "Kak Udo", "Ustadz Udo", dst. Cukuplah
panggil saya "Udo", itu udah sopan. Nama asli saya Yamin Efendi. Saya mencantumkan nama Udo itu ada dua alasan: (1) agar saya selalu ingat dengan visi saya untuk membangun kampung halaman; dan (2) agar tidak ada jarak atau akrab dengan siapa saja. Sedangkan Majdi nama bapak saya.

Makanya, pada awal-awal saya menekuni dunia kepenulisan, saya cantumkan nama panggilan, nama asli, dan nama bapak saya, sehingga dalam kumcer Bara Musa di Taman Terpasung (Pustaka Umat, 2002) dan
Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Lewat Al-Quran
(Qultum Media, 2007), saya mencantumkan nama Udo Yamin Efendi Majdi.

Saat ini, saya sendiri geleng kepala dan tertawa: kok bisa-bisanya
saya membuat nama pena seperti kereta api, panjaaang gitu lho! Namun
setelah saya survey kecil-kecilan kepada teman, ke pembaca, atau
penulis senior di Indonesia: dari keempat kata itu, mana yang paling
enak mereka dengar dan mudah mereka ingat? Ternyata rata-rata
menjawab "Udo Yamin". Berarti tinggal dua pilihan, apakah Efendi atau
Majdi? Setelah saya renungkan, agar saya ingat dengan ortu dan ingin
ambil berkah, maka saya cantumkan Majdi, maka jadilah Udo Yamin Majdi.

4. Enak didengar dan mudah diingat. Saat mendengar nama Asma Nadia,
apa yang Anda rasakan? Enak bukan? Ini salah satu contoh nama pena
yang enak didengar. Walaupun nama asli Mbak Asma juga enak kita
dengar, Asmarani Rosalba, namun bagi saya pribadi –ma'af ya Mbak
Asma– jauh lebih sulit untuk saya ingat dibandingkan dengan Asma
Nadia. Mengapa terdengar indah? Sebab, huruf akhirnya memakai huruf
hidup "a", jadi terdengar puitis.

5. Nama pena hendaknya mudah diucapkan dan marketable. Saya ambil
contoh Kinoysan, nama pena Ari Wulandari. Enak di telinga, dan
menjual, saya merekan sang penulis berasal dari Jepang, bukan orang
Indonesia. Bandingkan, misalnya nama pena ini Markham Arbeau. Memang
menjual, sebab gabungan dari dua penulis terkenal di Barat, namun
bagi lidah orang Melayu atau orang Indonesia, ini sulit untuk kita
ucapkan.

6. Sebaiknya memakai satu nama pena saja dan jangan sering berubah.
Ada seorang teman yang sangat produktif menulis. Dia mengaku bahwa
memiliki nama pena sangat banyak, sampai 15 nama pena. Secara bisnis
atau materi, bisa jadi ini lebih menguntungkan. Namun perlu kita
ingat, uang bukan segala-galanya. Ada hal lain yang lebih tinggi dari
uang, merasa "bermakna" antara sesama manusia. Bagaimana kita akan
bermakna dan merasa dekat dengan para pembaca, kalau kita seperti
bunglon, sehingga mereka sulit untuk mengidentifikasi diri kita.

Mas Ali Muakhir sempat cerita di MPnya, bahwa beliau merasa terharu,
ketika ada pembaca merasa bahagia bertemu dengan Mas Ali sebab ibu
itu sangat suka dengan karya-karya beliau. Nah, apakah mungkin kita
akan merasakan hal itu, jika nama yang kita cantumkan pada buku kita
selalu baru? Jadi, memilih satu nama pena, bukan untuk populeritas,
melainkan agar ada emosional connecting antara kita sebagai penulis
dengan para pembaca kita. Istilah dalam Islam, terbangun silaturahmi.
Bukankah silaturahmi ini bisa memanjangkan umur (bisa bermakna usia
kita dipanjangkan, bisa jika bermakna kita selalu dikenang seperti
permintaan nabi Ibrahim, waj'alli lisana shidqin fil akhirin [Ya
Allah, jadikah aku buah tutur yang baik bagi generasi setelahku) dan
diluaskan Allah rizki?
Masih banyak yang ingin saya sampaikan, namun sayang saya harus
mengakhiri diskusi kita ini. Semoga apa yang saya sampaikan,
bermanfa'at bagi Anda. Minimal menjadi inspirasi bagi Anda untuk
merenungi nama pena atau identitas yang selama ini Anda pergunakan
dalam menulis.

Satu hal yang penting perlu saya sampaikan sebelum kita berpisah:
nama pena ini bukan segala-galanya agar buku kita dibaca oleh banyak
orang. Ini hanya sebatas ikhtiar saja. Sedangkan buku kita best
seller atau tidak, itu sangat tergantung kesungguhan kita melahirkan
katya berkualitas dan keseriusan kita dalam berdo'a.

Demikian, mohon ma'af atas segala kekurangan, terutama jika Anda
merasa waktu terbuang percuma, gara-gara membaca tulisan yang terlalu
panjang ini. Tegur sapa, kritikan, saran, masukan, atau tanggapan
apapun dari Anda, sangat saya butuhkan, agar saya bisa memperbaiki
tulisan-tulisan berikutnya. Minimal, ceritakan pengalaman Anda ketika
memilih nama pena, baik itu alasannya maupun caranya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mesir, 28 Februari 2008

sumber tulisan, klik di sini

=======================================

WORD SMART CENTER adalah sebuah komunitas –online, offline, dan
onair– tempat belajar mengasah kecerdasan dalam berbahasa  baik
berbicara, mendengar, membaca, dan menulis dan bercita-cita membangun
Indonesia Cerdas; Indonesia Mandiri; dan Indonesia Kreatif.

Bagi siapa saja berminat belajar mengasah kecerdasan berbahasa dan
menjadi bagian dari pecinta buku, silahkan bergabung di milis
wordsmartcenter@yahoogroups.com, atau kirim e-mail ke
wordsmartcenter@…, nanti kami invite.

28 Februari 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , , ,

13 Komentar »

  1. Asslamu’alaikum………….salam kenal!

    Komentar oleh Om Shani | 2 Maret 2009 | Balas

  2. Udo, saya kira penulis yang baik dan bertanggung jawab adalah penulis yang lebih cenderung mempergunakan nama asli ketimbang nama samaran. Sebagai pembaca kita juga berhak mengetahui siapa sesungguhnya sipenulis sehingga bila ada hal-hal yang bisa menimbulkan suatu tindak akibat tulisan tsb maka klaim bisa kita ajukan. Demikian pendapat saya.

    Komentar oleh Togar | 7 Maret 2009 | Balas

  3. tulisan yang menarik. dulu sempat pula terpikir oleh saya untuk menggunakan nama pena. cuma, rasanya aneh, serasa bukan diri kita.

    nama pena sptnya identik untuk penulis2 buku fiksi. kalau non-fiksi gmn? kalau untuk nama saya, kira2 apa ya nama pena yang cocok dan ‘marketable’ :D

    via japri sj ya. terima kasih sebelumnya :)

    Komentar oleh Anonim | 25 November 2009 | Balas

  4. tulisan yang menarik. dulu sempat pula terpikir oleh saya untuk menggunakan nama pena. cuma, rasanya aneh, serasa bukan diri kita.

    nama pena sptnya identik untuk penulis2 buku fiksi. kalau non-fiksi gmn? kalau untuk nama saya, kira2 apa ya nama pena yang cocok dan ‘marketable’ :D

    via japri sj ya. terima kasih sebelumnya :)

    Komentar oleh eko | 25 November 2009 | Balas

  5. salam kenal dari si pena kecil

    Komentar oleh dedi sasmito | 9 Juli 2010 | Balas

  6. Kl gua sering di panggil nama pena, tapi kl keseringan tidak seperti diri kita..rasanya ga bagus..karena sudah di berikan nama dari orang tua..kl buat dunia maya entahlah..

    Komentar oleh Hendro Prayitno | 18 Juli 2011 | Balas

  7. Owh begittu ..
    Terimakasih, Sangatt Membantu Pemahaman saya..
    Dan Mohon do’anya, saya bercita.cita besar Untuk Menjadi seorang Penulis ^^

    Komentar oleh Simar An-Naizar | 10 Maret 2013 | Balas

  8. Terimakasih atas tulisannya. Uraiannya lengkap skali :) Saya ingin jadi penulis dan saya sedang memikirkan untuk membuat nama pena. Pertanyaan saya, apa membuat nama pena karena sekedar tidak ingin dikenal itu boleh? Toh yang penting ‘kan karyanya, bukan pembuatnya. Lalu, seandainya kina memakai nama pena, bagaimana perihal mengirim karya ke penerbit? Sekali lagi, terimakasih…

    Komentar oleh Anonim | 7 Oktober 2013 | Balas

  9. Assalamu’alaikum, salam kenal.
    Saya mulai dari tujuan saya menggunakan nama pena dulu ya. Saya menggunakan nama pena karena tidak ingin identitas saya diketahui. Soalnya zaman sekarang di internet itu banyak penjahit eh, penjahat maksudnya. Jadi kalau misalkan ada yang ingin berbuat sesuatu yang jahat pada saya, saya tak akan mudah untuk dicari. Apalagi nama pena saya Nur. Ada banyak orang yang bernama Nur di dunia ini, kan? Tentu saja mencari lokasi saya tinggal itu samasekali tak mudah. Oh ya, Nur itu sebenarnya nama tengah saya. Dan kedua, saya berterimakasih atas postingan ini. Postingan ini membantu saya mecari nama pena yang bagus dan mudah diucapkan. Misalnya, saya berhasil memperbaiki salah satu dari tiga nama pena saya. Jadi intinya, terimakasih karena sudah memposting kiriman ini, dan seseorang bisa saja mempunyai alasan bagus untuk mempunyai nama pena, seperti saya.

    Maaf kalau komen saya kepanjangan. :3

    Komentar oleh Nur Chan | 3 Mei 2014 | Balas

  10. Tulisan ini mencerahkan saya, dan membuat saya tau banyak tentang nama pena. saya akan mempertimbangkan lagi dalam pembuatan nama pena..

    Komentar oleh Nafarin Muhammad | 31 Mei 2014 | Balas

  11. saya malah takut buat nama pena nanti kalau pas kuliah masuk jalur bidik misi dan memperlihatkan sertifikat menulis dan disitu dicantumkan nama pena terus mereka gak percaya tuh sertifikat punya kita gimana?

    Komentar oleh vivi ariani (@viviariani_12) | 14 Juli 2015 | Balas

  12. Nama pena di buat sesuai porsi dan kebutuhan , bila ingin popularitas dalam membuat sebuah karya tulis cukup berikan nama yang hebat-hebat . Tapi jika menulis untuk tidak di kenal serta tidak mencari popularitas . berfikirlah sejenak bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian bukan untuk sebuah pelacuran saja.

    Komentar oleh Gelanggang Setya | 23 Februari 2016 | Balas

  13. Terimakasih atas penjelasan dan informasinya,sangat bermanfaat

    Komentar oleh Anonim | 16 September 2016 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: