Penanganan Pasca Kerusuhan Xinjiang: Anggota Kongres AS Kutuk, Indonesia Tidak Ingin Mencampuri

“Apa yang terjadi di Xinjiang adalah urusan dalam negeri China dan kita menghormati kedaulatannya dan tidak akan campur tangan masalah itu,” kata Dubes Sudrajat di Beijing, Minggu (12/7).
Pernyataan yang dikutip Antara ini dikemukakan menyusul terjadinya penangkapan besar-besaran pasca pertikaian berdarah-darah antara dua ras, Urumqi dan Han, didaerah China bagian barat laut itu, yang kita ketahui penduduk aslinya, Urumqi adalah pemeluk Islam, sedangkan Han merupakan ras pendatang di kota itu namun merupakan ras mayoritas Cina.

Menyimak berbagai pernyataaan maupun tuduhan pemerintah Cina yang mengaitkan para perusuh itu dengan berbagai kelompok teroris dari luar negeri, diantaranya Al-Qaeda. Pemerintah Cina telah berulang kali menyatakan akan menindak tegas mereka, bahkan ancaman hukum mati pun telah ditegaskan oleh Ketua Partai Komunis setempat.
Hal ini sangat menguatirkan beberapa pihak, diantaranya dua anggota Kongres Amerika, William Delahunt dan Dana Rohrabachar telah mengajukan rancangan resolusi kepada Kongres Amerika Serikat untuk mendesak lembaga tersebut dan pemerintahan Obama agar mengutuk tindakan Pemerintah Cina dalam menumpas aksi protes Muslim Uighur di propinsi Xinjiang yang bergejolak sejak minggu lalu itu.
Dalam konferensi pers bersama, Delahunt dari fraksi Demokrat mengatakan Muslim Uighur ditindas secara brutal di Tiongkok. Sementara Rohrabacher dari fraksi republik mengatakan pemerintah komunis Tiongkok secara keliru menggambarkan Uighurs sebagai teroris. Selain itu mereka juga mendesak Beijing agar tidak menjatuhkan hukuman mati kepada siapa saja yang terlibat dalam aksi protes itu

Bertolak belakan dari itu Dubes Indonesia di Cina, Sudrajat, mengatakan “Kita konsisten untuk tidak ikut-ikutan maupun campur tangan dalam setiap masalah yang terjadi di China. Kita hormati China sebagai negara yang berdaulat,”
selain itu Sudrajad juga menegaskan bahwa telah ada kesepakatan dari kedua negara bahwa kedua pihak sama-sama menghormati kedaulatan negara dan tidak campur tangan. “Termasuk juga soal Xinjiang, kita tidak ingin campur tangan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan