Dimensi Ruhiyah Manusia

Akhir-akhir ini kita sering dengar kata sihir, arwah maupun yang sejenisnya, apa maksudnya sih?
Baiknya coba kita simak yang satu ini;


Oleh Sulistiyo – Koordinator

Yasmin Learning Center
“Manusia itu secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil
yang hinggap di pohon-pohon.
Tetapi dalam diri yang kecil itu terdapat ‘arsy Tuhan,
yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit”. (Jalaludin Rumi).
Manusia adalah ‘bayang-bayang’ Tuhan. Karena manusia adalah makhluk yang paling sanggup menyerupai Tuhan, punya ruh, memiliki ‘arsy Tuhan. Dalam al-Qur’an disebutkan, setelah secara fisik alam raya dan manusia tercipta kemudian Allah berfirman, wa nafakhtu fiihi min ruuhi, kemudian Aku tiupkan ruh-Ku dalam diri manusia’. (QS. Al-Hijr: 29). Lewat ruh inilah kemudian manusia mampu menangkap dan menyerap sifat-sifat Tuhan. Karena itu makhluk Tuhan yang paling mendekati sifat-sifat Tuhan adalah manusia (Komarudin Hidayat, Manusia Modern Mendamba Allah. Insan Kamil sebagai Makhluk Multidimensi).
Ruh mengantar pada ilahi, jasad membawa pada keduniawi-an. Dunya objek yang dekat dan pendek. Manusia sering terseret oleh maknet dunia. Lihat, bukankah kadang engkau memperhatikan orang-orang yang telah menjadikan objek selain Allah itu lebih menarik, sehingga memalingkannya dari Allah. (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Dalam al-Qur’an ada istilah jasmani, nafsani dan ruhani. Dalam ilmu jiwa ruh tidak ada. Dalam Islam ada ruh. Al-Qur’an menyebutkan ‘kullu nafsin dza-iqotul maut’ (QS. Al-Imron 185) semua jiwa akan mengalami mati, bukan kullu ruhin. Nafsani adalah daya-daya hidup. Manusia memiliki jiwa nabati sebagaimana tumbuhan, jiwa hewani seperti binatang. Dalam jiwa insani inilah terletak intelektualitas, moralitas, dan rasa seni. Ruhani adalah yang mengendalikan, memberikan visi dan nilai-nilai bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani dan insani.
Pengobatan/ kedokteran modern meyakini bahwa orang sakit banyak dipengaruhi oleh psikis/ mind. Kalau mind dan psikis sehat, insya Allah jiwa sehat. Tapi ada pendapat baru tentang adanya metamind. Sesuatu yang menggerakkan mind di luar dirinya. Dalam Islam sesuatu itu dikaitkan dengan Tuhan.
Ruh kita adalah ‘arsy Tuhan. Jangkauannya lebih luas dari bumi. Jadi kalau kita mencintai dunia berarti kita memenjarakan ruh kita di sangkar yang kecil. Mana mungkin burung elang itu bisa bahagia di dalam sangkar yang kecil. Bebaskan ruh kita dari sangkar dunia.
Ruhani seperti komputer tanpa batas, potensinya dahsyat, namun banyak orang hanya menggunakan program wordstar 40 atau 486 saja. Bagaimana bisa maksimal? Allah Swt membekali kita dengan ruh, potensi yang luar biasa. Tetapi begitu banyak manusia yang hanya memanfaatkan potensi tersebut sekedarnya saja, atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali.
Ruh seperti tubuh juga berada dalam berbagai keadaan. Sayyidina Ali kw mengatakan, sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan: sehat, sakit, mati, hidup, tidur dan bangun. Demikian pula ruh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya, sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya dan bangunya adalah penjagaannya’.
Seperti tubuh, ruh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutkan makanan. Ia menyebutkan rezeki. Setiap yang hidup perlu rejeki, dan rejeki arwah ialah cahaya-cahaya ilahiyah dan ilmu-ilmu rabbaniyah’. (Mafatihul Ghaib: 545).
Mandikan ruh dengan makanan ruhani, proses penyucian batin seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi kemaksiatan (Jalaludin Rahmat, Dunia dalam Eskatokogi Islam).
Bentuk Ruh
Seperti tubuh, ruh juga memiliki bentuk dan bau yang berbeda, busuk atau harum. Kalau tubuh manusia ada yang mirip binatang, ruh betul betul banyak yang berbentuk binatang, seperti babi atau kera. “Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah thagut? mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. Al-Maidah: 60).
Menurut Imam Ghazali manusia memiliki dua dimensi khalq dan khulq, bentuk lahir dan bentuk batin. Bentuk lahir manusia terlihat ada yang cantik, ganteng, ada juga sebagian yang kurang menarik. Di balik bentuk lahir (khalq) tersebut tersimpan bentuk bathin manusia. Itulah bentuk ruh (khulq). Menurut ayat tadi bentuk ruh tersebut dapat berupa babi, kera, anjing dan lain sebagainya, tergantung kualitas akhlaknya. Karena itu, pada hari akhirat nanti manusia dibangkitkan dalam bentuk ruhnya, dalam perwujudan amal dan akhlaknya.
Ya Allah, indahkanlah akhlak kami,
lembutkan perangai kami dan hiasilah ruh kami
dengan keindahan dan kelembutan asma-asma-Mu.
Sumber: Yasmin
Balapan.mp3

Getuk.mp3
Jamu.mp3
Sopo.mp3

Tinggalkan Balasan