Nistakah Freelance Jurnalis???
Farida Indriastuti
Ketika saya memutuskan menjadi
freelance jurnalis, tentu bukan keputusan mudah. Apalagi di Indonesia, freelance jurnalis kerap dipandang
sebelah mata. Maklumlah, wartawan yang bekerja tanpa surat kabar, identik
dengan istilah “bodrek” atau “amplop”.
Riwayat saya menulis, sejak
mahasiswa (jurusan jurnalistik), pada 1995. Saya juga bekerja: foto jurnalistik dan copywriter. Sekalipun freelance
jurnalis, saya bekerja profesional. Semangat saya tumbuh, tatkala saya baca
artikel bahwa “freelance jurnalis, juga bekerja
profesional dengan reputasi baik” seperti, Robert Fisk, David Gilligan, Yvonne
Ridley dan lainnya.
Sebab itulah, saya “berani” memilih sebagai freelance
jurnalis, dan bekerja sesuai kaidah jurnalistik.
Saya menulis; resensi, features, dan narrative
writing (in depth reporting). Belakangan, saya belajar investigatif reporting.
Saya mengirimkan karya di kantor
berita, media cetak, media online:
The Great Reporter
News Service (UK),The Cheers (USA),
Readers Digest, AdnKronos International Press Agency (Italy), Kyoto Review Journal (Japan), Astaga.com, Inside Indonesia, Koran Tempo,
Bentara Kompas, Bisnis Indonesia, Analisa, B+ Magazine, Djakarta Citylife
Magazine, U Magazine, Majalah SWA, Majalah Pantau, Overseis Korean Television
Network (Korea) dan banyak lagi.
Selama mengirimkan karya, tak pernah ada masalah
dengan media. Sebaliknya, saya pun tak pernah merugikan media yang
bersangkutan. Saya berusaha menjaga hubungan baik. Beda ceritanya, tatkala saya
mengirimkan resensi di Koran Jakarta.
Resensi pertama, buku “The Unbearable Lightness of Being” (karya Milan Kundera) di muat pada
25 April 2009. Kebetulan saya simpan kliping korannya. Resensi kedua, buku “Pokok-Pokok Permasalahan Bangsa” (karya
Prof. Dr. Sri Soemantri SH, dkk) di muat pada Mei 2009. Saya tak tahu, bila resensi
ke 2 di muat pada Mei 2009. Saya diberitahu Sdr. Debi, Sekretaris Redaksi Koran
Jakarta.
Di sela-sela kesibukan –editing naskah– di Ray Bachtiar Studio (RBS), saya iseng menelpon kantor
Koran Jakarta. Oleh bagian operator telpon
disambungkan ke Sdr. Debi. Saya tanya, “Mbak, bila saya nulis di Koran Jakarta,
adakah honornya? Debi menjawab, “Ya ada” Berarti saya berhak menerima honor itu. Saya tanya
lagi, soal resensi yang dimuat pada 25 April 2009 (bukan resensi yang dimuat
Mei 2009). Debi menjawab, “Sudah dibayar”
Tentu, saya berterima kasih.
Telpon saya tutup. Esoknya, saat perjalanan ke RBS, saya melewati ATM . Saya mampir,
coba cek ATM. Ternyata tak ada bukti transfer dari Koran Jakarta. Sesungguhnya,
saya tak enak hati untuk menelpon (ulang) Koran Jakarta.
Beberapa teman menyarankan, “Tanyain
aja, gak apa-apa! Gak dosa kok!” Baru
kali ini saya menanyakan ulang via telpon, tujuannya untuk memastikan masuk – tidaknya
uang. Sebab, rekening saya sempat error,
tak bisa digunakan untuk transfer. Minggu
lalu, nomor rekening diganti oleh Bank.
Setelah saya telpon bank,
ternyata rekening tak bermasalah, juga atmnya. Lalu saya telpon Sdr. Debi,
Sekretaris Redaksi Koran Jakarta. Dia mengatakan, “Anda maunya apa?” Saya
bilang, “Mbak, ternyata belum masuk uangnya”. “Bisakah saya ambil?” kata saya.
Dijawab Debi, “Nanti sore
sudah bisa cair, nanti saya telpon balik aja!”.
Dalam beberapa hari tak ada
kabar, apalagi menelpon balik saya. Untuk ketiga kalinya saya telpon, tapi
operator yang menerima dan disambungkan ke Sdr. Debi. Gagang telpon masih menempel
di telinga saya. Tak disangka, saya mendengar percakapan operator telpon dengan
Sdr. Debi.
Operator : “Mbak, ada telpon dari Farida”
Sdr. Debi : “Oh, dia penulis, bilang aja gak ada. Tutup
aja!
Lantas, telpon ditutup tanpa
salam (sepatah katapun). Saya masih memegang telpon. Jelas saya mendengar percakapan itu! Bahkan hingga kini, tak pernah
ada kabar, seperti yang dijanjikan Sdr. Debi, Sekretaris Redaksi Koran Jakarta.
Padahal, saya menelpon
dengan bahasa yang santun, baik-baik pula! Protes saya, begitu tak bernilainya
profesi sebagai penulis/freelance jurnalis? Saya hanya menanyakan hak saya,
tanpa ada maksud buruk. Saya tak pernah merugikan Koran Jakarta secara material,
maupun mencemarkan nama-baiknya [pun] Koran Jakarta sebagai institusi media. Bukankah,
Koran Jakarta berslogan menyuarakan kebenaran? Untuk siapakah itu?
Saya berpikir, berkah Tuhan
seluas Samudera– meskipun, saya “hanya” freelance jurnalis. Seperti malam
ini, ada permintaan tulisan dari Patricio N. Abinales, Editor in Chief, Kyoto
Review Journal, dan semoga mereka membayar honor saya. Semoga hari baik akan salalu
menanti.








