Berkampanye, Caleg DPR Pusat Memabukan Masyrakak Dengan Miras
Saat ini saya tengah berada di Desa Ikan Tuanbes, Kecamatan Io Kufeu, kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ada hal menarik ketika saya tiba di desa yang terpencil ini (saya butuh 4 jam dari Atambua untuk tiba disini) beberapa anggota masyarakat telah menceritakan kepada saya bahwa beberapa hari yang lalu di kecamatan mereka ini telah kedatangan salah satu caleg DPR Pusat dari salah satu partai besar.
“Kami pesta dari sore sampai pagi” kata salah satu warga disini “Dia beli kasih kami babi, laru (sejenis miras kadar alkohol rendah dari pohon enau) dan sopi (miras setempat yang secara tradisi telah difermentasikan dari bahan utama air nira-mengandung kadar alkohol tingi). Kami mabuk sampai pagi!”, lanjut lainnya dengan bangga.
Saya belum bisa mengkonfirmasikan ini pada aparat camat maupun desa setempat, termasuk caleg tersebut.
Desa ini termasuk desa tertinggal, dan terisolasi. Penduduknya tergantung dari pertanian tradisional, dengan makanan sehari-hari adalah jagung. Sepanjang tahun desa ini selalu mengalami kematian anak-anak oleh diare akibat kesulitan memperoleh layanan kesehatan. Walaupun ada Polindes, namun petugasnya sering berulah, memaksakan masyrakat untuk membayar walaupun tercatat sebagai peserta askeskin maupun meninggalkan tugas hingga berminggu-minggu, bahkan bulan!
Beberapa hari yang lalu masyrakat dihebohkan dengan kedatangan beberapa paramedis lalu memberi suntikan pada hampir semua warga desa. Kehebohan itu terjadi karena setelah disuntik hampir semua warga mengalami pusing-pusing lalu tidur ditempat layanan. Bahkan ada yang mengalami kelumpuhan beberapa hari, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Facebook Gagalkan Upaya Bunuh Diri
LONDON, KOMPAS.com – Seorang remaja pria Inggris yang mencoba bunuh diri akhirnya tertolong setelah seorang sahabatnya di situs jejaring sosial Facebook menginformasikan hal itu ke polisi.
Remaja berusia 16 tahun dari Inggris itu sempat berbincang ke salah satu sahabat online-nya, yang menetap di Maryland, AS. Kepada seorang sahabat wanita di AS, remaja ini menyampaikan keinginannya bunuh diri.
Wanita AS ini kemudian menyampaikan rencana bunuh diri sahabatnya ke ibunya yang kemudian meneruskan informasi itu dengan melibatkan kontak Gedung Putih, Kedutaan Besar Inggris serta satuan kepolisian Inggris dan AS.
Polisi Inggris akhirnya dapat melacak keberadaan remaja itu di sebuah rumah di Oxford. Remaja ini sempat overdosis obat bius sebelum akhirnya berhasil diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit.
Remaja Inggris tersebut menulis pesan di Facebook: “Aku akan pergi untuk melakukan sesuatu yang menurutku akan diketahui oleh setiap orang nantinya.” Pesan ini dipostingnya tepat sebelum 23.30 Rabu (1/4) malam.
Sahabatnya yang khawatir setelah mengetahui pesan itu segera menyampaikan hal itu ke ibunya. Sang ibu tak membuang waktu lebih lama dengan mengontak polisi di AS yang kemudian membentuk komunikasi dan kerja sama dengan polisi Inggris.
Sahabat Facebook dari AS itu hanya dapat menyediakan informasi ke polisi tentang nama teman di Inggris itu dan sekolahnya Oxfordshire. Namun, polisi kemudian berhasil memfokuskan pencarian pada 8 alamat rumah di Oxfordshire.
Polisi kemudian melakukan penggeledahan ke setiap rumah yang ditargetkan dan berhasil menemukan remaja itu pada rumah ke-4 yang dituju dan berada tepat di luar Oxford. Saat ditemukan, remaja ini berada dalam kondisi hampir tak sadarkan diri akibat overdosis obat bius.
JIM
Sumber : The Daily Mail
Kliping: kompas.com
Bayi Tabung DPT (Daftar Pemilih Tiouan)
Oleh Adhie M Massardi
PRIMADONA pemilu 2009 ternyata bukan partai, juga bukan caleg, melainkan DPT (daftar pemilih tetap) dan Herman S Sumawiredja, jenderal polisi bintang dua. Lho. kok polisi, bukannya politisi? Memang bukan politisi. Tapi polisi dan politisi sekarang kan nyaris tak ada bedanya. Paling tidak, itu yang dirasakan Irjen Herman. Soalnya, konon gara-gara mau menindak Ketua KPUD Jatim, yang “patut dapat diduga” menyulap DPT pada pilgub Jatim, sehingga kandidat dukungan partainya Presiden menang, jabatannya sebagai Kapolda Jawa Timur langsung dicopot Kapolri.
Petinggi Polri, ternyata juga seperti bos partai politik zaman Orba bila me-recall anggota DPRnya yang tidak sejalan, membantah keras Mabes intervensi urusan demokrasi. “Itu hanya pergantian antar-waktu biasa, PAW yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya!” Kita hanya bisa ketawa mendengar alasan klise parpol yang begini. Ketawa kita jadi lebih keras karena alasan model begini masih juga dipakai, oleh Mabes Polri lagi. Padahal zaman sudah kian transparan. Informasi apa pun gampang diakses. Termasuk info siapa yang bisa menembus mesin DPT, dan menggelembungkan angkanya.
Makanya, masuk akal bila bos sejumlah parpol, seperti Jusuf Kalla, Prabowo, Megawati, dan beberapa lainnya yang tak perlu disebut namanya, langsung meradang melihat modus operandi yang canggih di Jatim itu. Apalagi setelah terbukti di banyak tempat ternyata juga muncul DPT fiktif itu. Angka penggelembungannya berkisar antara 20 hingga 30 persen.
Jadi kalau total DPT nasional 171.265.442 sesuai Perppu No 1/2009, maka jumlah pemilih yang dikategorikan “pemilih siluman” itu sekurang-kurangnya 42,8 juta, setara dengan 25 persen. Artinya, bila pemilih siluman itu di-pool di satu partai, tanpa harus kerja keras dan cukup tiduran di rumah, parpol perekayasa DPT siluman itu sudah bisa dipastikan bakal lahir sebagai pemenang pemilu 2009.
Jadi bila ini dibiarkan, maka pemilu 2009 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di muka bumi, akan melahirkan “bayi tabung”. Kok bayi tabung? Lho, bayi tabung itu kan bayi yang “proses pembuahannya” tidak melalui mekanisme biologis biasa. Sperma dan indung telur disatukan di dalam tabung di laboratorium. Setelah itu baru dikirim ke dinding rahim.
Dalam pemilu, yang disebut rahim itu ya KPU. Jadi kalau KPU-nya penyakitan, apalagi kalau tidak jujur dan ada kankernya, dijamin bayi yang dilahirkannya bakal mengalami “cacat bawaan”. Itu yang terjadi pada pemilu 2004 lalu. Akibatnya sedang kita rasakan sekarang. Ada yang kerjanya bohong melulu, ada yang korupsi melulu, dan tidak sedikit yang bisu dan tuli bila menyangkut urusan perut rakyat.
Proses “pembuahan in vitro” dalam pemilu 2009 ini, menurut pengamatan ahli geneologi politik kita, biasanya dimulai dengan merekayasa hasil survei, kemudian dipublikasikan ke publik dengan amat gencarnya, tanpa alasan jelas apa urgensinya hasil survei itu diiklankan segala. Misalnya, menurut survei, Partai A dapat 10 persen, Partai B 15 persen, Partai C 20 persen, dan Partai D 25 persen, lalu dinobatkan sebagai pemenang pemilu, sebab sisanya diperebutkan oleh partai E, F, G, H, dst. Padahal pemilunya saja belum kejadian. Dalam ilmu tanaman, gaya begini disebut “planting”, tapi yang ditanam informasi sesat soal hasil survei itu.
Kalau DPT bisa disebut “sperma” demokrasi, maka surat suara adalah “indung telurnya”. Tapi dengan teknologi manipulasi yang canggih, “sperma siluman” itu dikawinkan dengan “indung telur fiktif”. Maksudnya, kertas suara dicontreng di luar TPS lalu ditanam di rahim KPU. Maka dengan “planting information” itu, membuat kita terlena. Percaya kalau Partai D sungguh-sungguh meraih suara 25 persen..
Pertanyaannya, apakah akan kita diamkan proses pemilu yang tidak wajar ini? Artinya kita membantu proses lahirnya anak siluman dalam rumah demokrasi kita. Kalau kita beragama dan bermoral, tentu akan menghentikan proses “bayi tabung” demokrasi yang ajaib dan palsu ini.








