Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Buku Sintong Menyodok Prabowo

Berhubung makin menariknya persoalan buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan dan
persoalan kasus Prabowo maka berikut di bawah ini disajikan dua tulisan yang
disiarkan oleh majalah Gatra dan Viva New. Dua tulisan yang agak panjang
ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm di bawah
judul « Buku Letjen Sintong Panjaitan yang membikin heboh ».

1.. Umar Said

= = =

Majalah Gatra 19 Maret 2009]

Buku Sintong Menyodok Prabowo

Setidaknya dua kali Prabowo Subianto kena sodokan keras lewat karya buku
tokoh penting di negeri ini. Yang pertama, lewat buku Detik-detik yang
Menentukan karya mantan Presiden B.J. Habibie, yang diluncurkan dua setengah
tahun silam. Habibie, antara lain, menceritakan kedatangan Prabowo ke Istana
Merdeka, 22 Mei 1998, memprotes pencopotannya sebagai Panglima Komando
Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Pada waktu itu, Habibie baru beberapa jam menjabat sebagai Presiden RI,
menggantikan Soeharto yang lengser. Habibie menulis, ia mencopot Prabowo
karena mendapat laporan dari Panglima ABRI (Pangab), Jenderal Wiranto,
tentang adanya pergerakan pasukan Kostrad dari luar kota menuju Jakarta
tanpa sepengetahuan Pangab.

Buku Habibie itu sontak membuat Prabowo geram. Lewat konferensi pers yang
digelar sepekan berselang, 29 September 2006, Prabowo membantah tudingan
bahwa ia ingin melakukan kudeta. Ia juga membantah bahwa "dirinya
marah-marah dan menyebut Habibie sebagai presiden naif".

Kini sodokan serupa datang lagi lewat biografi Letnan Jenderal
(purnawirawan) Sintong Panjaitan, berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para
Komando, yang diluncurkan di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu malam
pekan lalu. Bedanya, kali ini Prabowo bereaksi relatif kalem. Mungkin dia
sengaja sedikit jaim alias jaga image.

"Terserah orang mau bicara apa. Ini kan negara demokrasi, setiap orang
berhak menulis apa saja. Tapi dia tidak berhak mencemarkan nama baik orang
lain," kata calon presiden dari Partai Gerindra itu usai meluncurkan buku
Membangun Kembali Indonesia Raya di Jakarta, Kamis pekan lalu, atau sehari
setelah peluncuran buku Sintong.

Dalam buku biografi setebal 520 halaman yang ditulis wartawan senior Hendro
Subroto itu, Sintong memblejeti sekaligus menohok sosok Prabowo. Mulai
seputar upaya Prabowo mengejar posisi KSAD, pencopotan Prabowo dari jabatan
Pangkostrad, sampai penculikan sejumlah aktivis semasa Prabowo menjadi
Danjen Kopassus.

Sintong, 68 tahun, juga mengungkap cerita terpendam tentang upaya counter
coup d'etat ala Prabowo pada 1983. Pendeknya, Prabowo disebutkan beberapa
kali melawan perintah atasan, melanggar prosedur kemiliteran, dan melakukan
langkah-langkah yang bukan wewenangnya.

Toh, Prabowo tak terpancing. Ia menyatakan, pada saat ini rakyat sudah
pandai menilai secara objektif. "Saya penganut falsafah Jawa: sing becik
ketitik, sing olo ketoro. Artinya, yang baik akan ketahuan, dan yang buruk
juga akan terlihat," ucap Prabowo.

***

Sintong, mantan Pangdam IX/Udayana yang juga mantan penasihat Presiden
Habibie bidang hankam, mengisahkan dengan lugas apa yang dialami, didengar,
dan dilihatnya. Misalnya soal kedatangan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal
(Mayjen) Kivlan Zen, dan Danjen Kopassus, Mayjen Muchdi PR, ke kediaman
Presiden Habibie di Patra Kuningan, 22 Mei 1998.

Habibie meminta Sintong menemui dua pejabat militer itu. Ternyata Kivlan dan
Muchdi mendapat tugas dari Pangkostrad, Letnan Jenderal Prabowo, untuk
menyampaikan surat yang diteken Jenderal Besar (purnawirawan) A.H. Nasution
kepada Habibie. Surat itu sebenarnya ditulis tangan oleh Kivlan karena
Nasution sedang sakit. Nasution tinggal meneken.

Surat itu berisi saran agar KSAD Jenderal Subagyo HS diangkat menjadi
Pangab, sedangkan Pangab Jenderal Wiranto diangkat menjadi Menteri Hankam.
Adapun Prabowo diusulkan menjadi KSAD. Selain itu, juga disarankan agar
diadakan pemisahan antara jabatan Pangab dan Menteri Hankam.

Pada hari yang sama, Sintong mengisahkan, Wiranto melaporkan kepada Habibie
bahwa telah terjadi pergerakan pasukan Kostrad dari luar Jakarta menuju
Jakarta. Juga adanya konsentrasi pasukan di sekitar kediaman Habibie di
Patra Kuningan. Semua mobilisasi pasukan itu tanpa sepengetahuan Pangab
Wiranto.

Habibie memutuskan bahwa keberadaan pasukan di luar sepengetahuan Pangab itu
tak dapat dibiarkan karena akan mempengaruhi para komandan lainnya untuk
bertindak sendiri-sendiri dengan alasan apa saja, tanpa koordinasi lagi
dengan Pangab. Lantas Habibie memerintahkan, jabatan Pangkostrad harus
diserahterimakan hari itu juga, sebelum matahari terbenam. Prabowo diberi
jabatan sebagai Komandan Sesko ABRI.

Sintong mengaku tidak ikut campur dalam masalah pencopotan Prabowo itu.
Alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) 1963 ini malah merasa kaget. Prabowo
sendiri baru mengetahui dirinya dicopot dari jabatan Pangkostrad ketika
berkunjung ke kantor Fanny Habibie (adik kandung B.J. Habibie) di kantor
Otorita Batam pada 22 Mei itu, pukul 13.30.

Satu setengah jam kemudian, Prabowo meluncur ke Istana Negara dengan membawa
12 pengawal, mengendarai tiga mobil Landrover. Sintong mendapat laporan dari
ajudannya bahwa Prabowo langsung naik lift ke lantai IV, tempat Habibie
berkantor, tanpa diperiksa dan disterilkan. Sintong memerintahkan seorang
pengawal presiden berpakaian preman melucuti senjata Prabowo secara
baik-baik.

Ia lega, karena Prabowo bersedia menanggalkan kopelrim dengan pistolnya,
magasin peluru, dan sebilah pisau rimba. Prabowo pun diterima Presiden
Habibie, berbicara empat mata. Sintong tidak memaparkan apa isi pembicaraan
itu. Sedangkan dalam buku Detik-detik yang Menentukan, Habibie memaparkan
ucapan Prabowo yang bernada keras, memprotes pencopotannya sebagai
Pangkostrad.

"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya, Presiden
Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo dengan
nada tinggi. Lalu ada kalimat lebih ketus: ''Presiden apa Anda? Anda naif!"
kata Prabowo, seperti tertulis dalam buku biografi Habibie.

***

Selain kisah tentang penculikan aktivis, ada kisah lain lagi mengenai
Prabowo yang diungkap Sintong. Prabowo disebutkan pada 1983 sempat berupaya
melakukan counter kudeta dan hendak menculik sejumlah jenderal yang ia duga
akan melakukan kudeta. Pada waktu itu, Prabowo berpangkat kapten, menjabat
sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/Antiteror Kopassandha.

Detasemen 81 merupakan satuan yang dikehendaki L. Benny Moerdani dalam
menghadapi teroris. Ketika itu, Letjen Benny menjabat sebagai Asisten
Hankam/Kepala Intelstrat/Asintel Kopkamtib. Hubungan Detasemen 81 dengan
pihak intelijen hankam sangat dekat. Satuan elite ini dipasok informasi oleh
staf intelijen hankam, demikian pula sebaliknya.

Pada Maret 1983, menjelang Sidang Umum MPR, Komandan Detasemen 81/Antiteror,
Mayor Luhut Pandjaitan, dikejutkan oleh laporan anak buahnya bahwa Detasemen
81 sedang siaga atas perintah Kapten Prabowo. Mereka sudah membuat rencana
menculik Letjen Benny Moerdani dan beberapa perwira tinggi lainnya. Yaitu,
Letjen Sudharmono, Marsdya Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen Moerdiono.

Luhut mengaku tidak mengerti tentang rencana tersebut. "Kok, aneh. Ada soal
begini, saya sebagai komandan kok nggak tahu," katanya. Akhirnya Luhut
memberikan perintah tegas, "Nggak ada itu. Sekarang kalian semua kembali
siaga ke dalam. Tidak seorang pun anggota Den 81 yang keluar pintu tanpa
perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan."

Luhut segera memanggil Prabowo. Namun ia langsung ditarik Prabowo keluar
dari kantor. "Ini bahaya, Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap," kata
Prabowo. Pak Benny mau melakukan coup d'etat," Prabowo memberikan informasi
rahasia.

"Coup d'etat apa?" tanya Luhut.

"Pak Benny sudah memasukkan senjata…," kata Prabowo.

"Senjata untuk apa?" tanya Luhut lagi.

"Ada, Bang. Senjata dari anu mau dibawa ke sini untuk persiapan coup
d'etat," jawab Prabowo.

Luhut membenarkan bahwa Benny Moerdani memasukkan senjata, antara lain
AK-47, SKS, dan senjata antitank. Tetapi senjata itu adalah senjata dagangan
untuk Pakistan, yang selanjutnya akan disalurkan kepada pejuang Mujahiddin
Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Operasi intelijen oleh Benny Moerdani
ini dalam rangka mencari dana dan menunjukkan peran Indonesia dalam
perjuangan di Asia.

Luhut kemudian melaporkan hal itu kepada Kolonel Sintong Panjaitan, Komandan
Grup 3/Sandiyudha di Kariango, Makassar. Sintong dalam bukunya itu sampai
menyimpulkan bahwa counter-coup d'etat yang direncanakan Prabowo merupakan
rekayasa yang mirip dengan rekayasa ala Letkol Untung, Komandan Batalyon
1/Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa, ketika menculik sejumlah jenderal
Angkatan Darat pada 1965.

Atas saran Sintong, Luhut kemudian melapor kepada Wakil Danjen Kopassandha,
Brigjen Jasmin. Pada waktu itu, Danjen Kopassandha, Mayjen Yogie S.M., telah
menjadi Pangdam III/Siliwangi, tapi jabatan Danjen Kopassandha belum
diserahterimakan. Luhut dan Prabowo menghadap Jasmin.

Prabowo marah-marah karena Jasmin tidak percaya perihal rencana Benny
Moerdani melakukan coup d'etat. Luhut sampai menurunkan tangan Prabowo yang
menuding muka Jasmin. Setelah Luhut dan Prabowo keluar ruangan, Jasmin
memanggil Luhut kembali masuk ruangan.

"Hut, untung kamu ada di sini. Ada apa dengan Prabowo? Coba kamu amati.
Kayaknya dia sedang stres berat," ucap Jasmin.

Persoalan ini sampai juga ke Menhankam/Pangab, Jenderal M. Jusuf. Setelah
mendengar penjelasan sejumlah jenderal, Jusuf menyimpulkan, isu rencana coup
d'etat itu tidak ada dan persoalan dianggap selesai.

Namun Sintong sendiri percaya, kabar tentang kudeta 1983 itu berperan
menjatuhkan karier Benny Moerdani, yang diikuti tersingkirnya sejumlah
perwira yang dinilai sebagai orangnya Benny. Sintong dan Luhut merasa
termasuk di antaranya.

***

Sintong menegaskan, buku biografinya tidak bernuansa politis, tidak pula
bertujuan mencari popularitas. Menurut Sintong, buku itu dimaksudkan agar
kebenaran diungkapkan dan ditegakkan. "Buku ini sama sekali bukan merupakan
manipulasi politik untuk menghakimi atau menyalahkan seseorang atau pihak
tertentu," kata Sintong.

Ia juga menampik anggapan bahwa buku itu ada yang mensponsori untuk menjegal
langkah pihak tertentu, mengingat peluncurannya menjelang pemilu Toh, kesan
menjegal pihak tertentu tetap saja sulit dihilangkan. Apalagi, usai
peluncuran buku itu, Sintong kembali menegaskan bahwa Prabowo, juga Wiranto,
harus bertanggung jawab atas sejumlah kasus pada saat mereka menjabat.

Wiranto, yang kini calon presiden (capres) dari Partai Hanura, dinilainya
harus bertanggung jawab atas insiden kerusuhan Mei 1998. Dalam bukunya itu,
Sintong menganggap Wiranto gagal menangani kerusuhan. Sedangkan Prabowo,
capres dari Partai Gerindra yang popularitasnya tengah melesat, harus
bertanggung jawab atas kasus penculikan sejumlah aktivis.

Terlepas dari apakah keduanya terlibat langsung atau tidak dalam kasus itu,
sebagai pemimpin, menurut Sintong, mereka harus bertanggung jawab.
"Pertanggungjawaban mereka belum selesai," katanya. Soal pertanggungjawaban
ini, Prabowo mengatakan, "Terkait penculikan aktivis, saya sudah
mempertanggungjawabkan di Dewan Kehormatan Perwira," ujarnya.

Wiranto juga enggan berkomentar banyak. Ia menilai, buku Sintong hanya
melihat dari satu sisi, sehingga tidak mungkin mendapat kebenaran. "Saya
tidak akan mempermasalahkan buku Pak Sintong. Itu sekadar menambah khazanah
sejarah bangsa. Saya tidak mau capek-capek mengurusi hal itu," katanya.

Dalam pengamatan Soetojo Darsosentono, ahli komunikasi dari Universitas
Airlangga, Surabaya, selama ini banyak sejarah perjalanan bangsa ditulis
para pelaku sejarah. Karena bersifat pribadi, tentu ulasannya sesuai dengan
pengamatan dan penilaian mereka masing-masing.

Karena itu, mengenai kebenaran sejarah dalam buku Sintong, menurut Soetojo,
masih perlu kajian mendalam. "Buku itu merupakan sejarah pribadi Sintong.
Soal benar atau tidaknya, biar masyarakat yag menilai, sebab buku itu sudah
milik publik," Soetojo menegaskan.

Taufik Alwie, Cavin R. Manuputty, dan M. Nur Cholish Zaein

[Nasional, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 19 Maret 2009]

a.. * *

VIVAnews 20 Maret 2009

Mimpi besar Prabowonomics

Konsep ekonomi Prabowo mengundang kontroversi.

Ekonom berhaluan liberal meragukannya.

GAYANYA di panggung mirip-mirip Soekarno. Tangannya mengepal dan
diangkat-angkat. Orasinya tegas dan lugas. Sindirannya pun tajam. Meski
suara serak, calon presiden Prabowo Subianto tetap berusaha berteriak
lantang, meledak-ledak.

"Saudara-saudara, elit di Jakarta lupa. Negara kita punya kekayaan alam.
Kaya, kaya. Tetapi rakyat tidak mengalami perbaikan nasib. Sistem ekonomi
kapitalis saat ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Sebagian
besar tidak merasakannya. Orang tak punya uang tidak boleh hidup negeri ini.

Saya tahu isi hatimu. Kau inginkan pekerjaan yang baik dan halal. Kau ingin
beri makan istri dan anakmu. Betul Ingin sekolahkan anakmu. Betul Apa
Saudara mau jadi kacung terus Mau jadi bangsa miskin terus Mau anak-anak tak
sekolah

Saudara-saudara, mari buat perubahan besar. Perubahan untuk masa depan
anak-anakmu. Beri kesempatan pemimpin baru. Yang tak mampu minggir saja.
Kembali ke rumah, ajak saudara-saudara, teman-teman, semua, untuk perubahan"

Peluh membasahi baju mantan Komandan Pasukan Khusus yang tengah berkampanye
di Kota Padang tersebut. Di depan panggung, di bawah terik matahari, massa
berteriak, "Hidup Gerindra. Prabowo presiden! " Ribuan orang berseragam
merah putih tumpek blek di lapangan Cimpago yang berada di bibir pantai.

***

Perubahan sistem ekonomi adalah misi besar yang digadang-gadang sang Ketua
Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Prabowo beralasan
kapitalisme- liberal adalah sistem ekonomi yang salah sehingga harus
dirombak. Resesi ekonomi global adalah bukti kegagalan pasar bebas tanpa
kendali, sistem kapitalisme tanpa kendali, katanya di seminar yang digelar
Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, pada Rabu, 11 Maret 2009.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu sedang berada di atas
angin. Krisis keuangan dan resesi ekonomi global telah menimbulkan sorotan
tajam terhadap sistem kapitalis. Yang pedas dikritik bukan cuma kejatuhan
bursa saham Wall Street, simbol kapitalisme dunia. Di dalam negeri, kelompok
penentang kapitalisme- liberal semakin mendapat panggung.

Saat Prabowo meluncurkan buku "Membangun Kembali Indonesia Raya" pada Kamis
lalu, 12 Maret, suasana Hotel Dharmawangsa terasa marak. Sejumlah rektor,
profesor, elit partai dan wakil asosiasi binaan Prabowo hadir di ball- room
hotel yang disulap penuh nuansa merah itu. "Saya ingin mengubah vonis bahwa
negeri ini akan terus miskin" kata Prabowo.

Tepuk tangan membahana. Jenderal Prabowo yang dulu pernah dijauhi setelah
dinyatakan terlibat penculikan sejumlah aktivis pro-demokrasi, kini menjadi
magnet yang menyedot perhatian sementara kalangan.

Enam hari kemudian, 18 Maret, giliran kelompok Indonesia Bangkit meluncurkan
buku "Ekonomi Konstitusi" di Hotel Four Seasons, Jakarta. Di sini sejumlah
ekonom juga berkumpul. Terlihat ada Iman Sugema, Hendri Saparini, Revrisond
Baswir, Ichsanuddin Noorsy dan lainnya. Indonesia jangan pakai tim ekonomi
teh botol (teknokrat bodoh dan tolol), ujar Iman mengejek ekonom yang
berhaluan neoliberal mereka yang pro pasar bebas, rezim perdagangan tanpa
sekat negara, serta peran pemerintah yang minimal dalam sistem ekonomi.

Para ekonom ini dikenal menganut paham yang cenderung sosialis,
nasionalistis, dan menginginkan peran negara yang lebih besar sebagai
lokomotif perekonomian nasional.

Endang S Thohari dari Institute Garuda Nusantara kelompok-pemikir yang
didirikan Prabowo turut hadir di sana. Menurut Endang, mereka tengah bahu
membahu menggusur paham neoliberal. Berjuang bisa di mana saja, yang penting
tujuannya sama. Dibekingi Prabowo, upaya kelompok ini terus bergulir.

Prabowo menyatakan tak main-main dengan gagasan besarnya. Ia mengisahkan,
tekadnya menggebu setelah dia dipensiun paksa pada 1998. Saat itu ia banting
setir jadi pengusaha membantu adiknya, Hashim Djojohadikusumo, yang berkibar
sebagai pengusaha minyak di Kazakhstan.

Saat tinggal di Amman, Yordania, dia terperangah membaca sebuah laporan Van
Zorge, konsultan politik dan bisnis di Jakarta mengenai kekayaan Indonesia
yang menguap dari Bumi Pertiwi. Menurut taksirannya, dalam tempo 10 tahun
sejak 1997, tak kurang dari US$ 250 miliar devisa ekspor telah terbang ke
luar negeri.

Prabowo seperti mendapat amunisi kembali. Sejak 2003, dia sibuk berkeliling
mengkampanyekan dampak buruk sistem kapitalisme- liberal. Setahun kemudian
dia menulis buku berjudul "Kembalikan Indonesia" yang mengecam habis-habisan
sistem ekonomi liberal.

Putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu terus merangsek. Dia lalu
menghimpun para ekonom, ahli pertanian, pengusaha dan pakar industri. Selama
belasan bulan sejak 2007, Prabowo terlibat dalam berbagai diskusi intensif
dengan kalangan ini. Dia kerap mengundang Kwik Kian Gie, Sri Edi Swasono,
Bungaran Saragih (mantan menteri pertanian), Prasetyantoko (ekonom
Atmajaya), Hendri Saparini, dan lainnya.

Kwik dan Prasetyantoko mengaku memang sering diundang Prabowo. "Saya
beberapa kali datang ke rumahnya untuk diskusi dan memberi masukan" ujar
Kwik kepada VIVAnews, "Apa yang diiklankan Prabowo itu sama dengan pemikiran
saya"

Untuk menerjemahkan pandangannya, Prabowo dibantu Hashim, Rachmat Pambudy
(ekonom IPB), Endang S Thohari (doktor Prancis ahli pedesaan), Widya Purnama
(mantan Direktur Utama Pertamina), dan Rauf Purnama (mantan Direktur Utama
PT Asean Aceh Fertilizer). Mereka semua tergabung dalam Institut Garuda
Nusantara.

***

Konsep ekonomi ala Prabowo ini kini populer disebut Prabowonomics kemudian
dituangkan dalam buku "Membangun Kembali Indonesia Raya" setebal 209
halaman. Isinya mengelu-elukan konsep pembangunan ekonomi berbasis ketahanan
pangan, kedaulatan energi, serta industri nasional yang bernilai tambah.
Prabowo memimpikan perekonomian yang berlandaskan sumber daya domestik
seperti sumber alam, sumber daya manusia, dan sumber dana serta pasar
domestik yang besar, 230 juta penduduk Indonesia.

Di atas itu, Prabowo menjanjikan sejumlah program maha ambisius. Di bidang
pangan, dia berikrar akan membuka sawah dan kebun jagung masing-masing
sejuta hektare, membangun pabrik pupuk urea, menambah pasokan bahan bakar
gas, serta membangun infrastruktur desa.

Di bidang energi, dia berpromosi bakal mengganti bahan bakar minyak fosil
dengan sumber energi nabati. Belum habis, dia juga berjanji akan membuka 4,4
juta ha kebun aren untuk bahan baku produksi bio-etanol, membangun pabrik
bio-etanol berbahan baku singkong, serta mendirikan pembangkit tenaga panas
bumi.

Untuk sektor industri, dia bilang bakal menggeber industri makanan, tekstil,
sepatu, agroindustri, serta sumber alam yang bernilai tambah, seperti migas,
tambang, energi dan komoditas. "Kita jangan cuma ekspor buah coklat dan biji
sawit mentah-mentah, tetapi sudah dibuat pabrik bernilai tambah di sini"
kata Endang.

Tim Prabowo percaya sektor-sektor itu mampu menggenjot pertumbuhan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2008, sektor pertanian menyumbang
14,68 persen produk domestik bruto (PDB). Ini masih kalah dari sektor
industri pengolahan. Namun, jika agroindustri digabung, maka sektor
pertanian akan menjadi penyumbang terbesar kue ekonomi nasional.

Supaya program itu berjalan, Prabowo mengajukan sejumlah resep. Di antaranya
adalah mengerahkan BUMN sebagai lokomotif pembangunan di sektor-sektor yang
menyerap banyak tenaga kerja. Kebijakan fiskal dan moneter akan dipusatkan
ke sana. Pembayaran hutang luar negeri dijadwal ulang untuk menambah
persediaan dana untuk melumasi berbagai program raksasa itu. Selain itu, ini
dia, lahan kritis akan dibagi-bagikan ke petani.

"Pemerintah jangan cuma jadi wasit, tetapi harus turun tangan jadi lokomotif
ekonomi" kata Prabowo. Dia memberi contoh pemimpin China Deng Xiaoping yang
menjadikan lembaga pemerintah dan BUMN sebagai motor penggerak, sehingga
ekonomi mereka bertumbuh di atas 10 persen.

Dengan berbagai konsep ini, tim Prabowo hakulyakin pada 2011 ekonomi
nasional bakal tumbuh 8-9 persen. Tak cuma itu, dua tahun kemudian mereka
bermimpi angka pertumbuhan akan melesat ke level di atas 10 persen. Jika itu
terjadi, begitu mereka bermimpi, saat Republik berulang tahun ke-100 pada
2045, pendapatan per kapita Indonesia akan mencapai, jangan kaget, US$ 60
ribu atau Rp 720 juta per tahun.

***

Bagi kubu ekonom pro-Prabowo, ambisi itu mereka nilai realistis. Hendri
Saparini, Iman Sugema, Dradjad Wibowo, Kwik Kian Gie, dan Revrisond Baswir,
menilai Prabowonomics bisa dilaksanakan asal ada perubahan paradigma
ekonomi.

"Argentina yang penduduknya lebih sedikit bisa tumbuh 8 persen" kata
Dradjad. Meski juga mengaku bersepakat, Revrisond toh buru-buru
mengingatkan, Yang penting, jangan cuma jadi jargon kampanye saja.

Tanggapan berbeda datang dari kubu ekonom neo-liberal. Mereka mengritik
program Prabowo bak mimpi di siang bolong. Para ekonom jebolan Universitas
Indonesia, seperti Muhammad Ikhsan, Chatib Basri, Adrian Panggabean, serta
Purbaya Yudhi Sadewa dari Danareksa, meragukan target pertumbuhan ekonomi 10
persen itu. Terlalu ambisius, kata Ikhsan. Adrian dan Chatib mempertanyakan
bagaimana angka itu dihitung.

Yudhi juga mewanti-wanti rencana Prabowo merestrukturisasi utang luar
negeri. Jika dilakukan, menurutnya itu akan jadi pertaruhan besar bagi
Indonesia. Resikonya besar. Pasar modal, obligasi dan kurs rupiah akan
hancur, kata Kepala Ekonom Danareksa Research Institute ini. Jadi, kalau tak
bayar utang, ekonomi Indonesia akan hancur.

Untuk sementara ini, Prabowonomics masihlah sebatas mimpi yang dianggap
menjanjikan oleh sementara kalangan, dan dikecam sebagai ilusi oleh sejumlah
pihak yang lain. Buktinya masih harus ditunggu. Itu pun jika purnawirawan
jenderal berbintang tiga ini berhasil menang pemilu. Maka tak ada yang lebih
tepat ketika Prabowo, masih dengan suara serak, merayu para pemilih di Kota
Padang, "Agar konsep ini jalan, perlu kehendak politik. Karena itu, saya
minta mandat dari rakyat"
VIVAnews (Heri Susanto, Elly Setyo Rini, Nur Farida Ahniar, Umi Kalsum)

26 Maret 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. Hidup prabowo sang gajah mada.

    Komentar oleh Anonymous | 3 April 2009 | Balas

  2. salam kenal

    Komentar oleh admin bukerin | 20 Juni 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: