Jiwa Baru, Mulut Baru
Oleh Samuel Mulia
1. Sumber dari segala sumber kehidupan adalah keadaan jiwa yang dari
dalam. Itu menurut pengalaman saya. Kalau bagian dalam saya rusak,
busuk karena sejuta alasan, maka hasil yang dikeluarkan lewat mulut
tentu sama sejuta banyaknya. Banyak busuk dan rusaknya. Maka, kalau
ada seseorang atau siapa pun dia punya mulut seperti tak pernah
disekolahkan, yaaa… karena yang bagian dalamnya juga tak pernah ikut
ke sekolah.
Makanya, saya ini bergelar tinggi, tetapi perilaku kayak anak enggak
sekolahan. Mungkin bisa diibaratkan begini. Buah mangga enak, ranum,
dan manis tak akan dihasilkan dari pohon yang busuk dan tidak sehat.
Demikian juga sebaliknya. Maka, marilah kita bebenah dari dalam
dahulu. Maksud saya, “kerusakan” jiwa itu harus dihayati, kemudian
cari solusinya. Dan yang paling utama, setelah itu mengambil keputusan
untuk mau menjadi manusia baru. Jiwa baru, mulut baru.
2. Kalau Anda enggak mau, enggak apa-apa juga. Tetapi, ingat saja
kalimat ini. Kuno memang. Basi, mungkin. “Apa yang Anda tabur, itu
yang Anda tuai.”
Saya dahulu tak percaya itu. Ternyata ada akibatnya. Suatu hari saya
butuh pertolongan, enggak ada yang bisa menolong. Selamat, masih ada
yang mau menolong. Yang menolong ditanya temannya, “Kok lo bisa sih
bergaul dan nolongin setan itu.”
Teman saya yang menolong bilang begini, “Kalau sama Samuel itu kita
yang mesti tebal muka. Padahal yang badak dia.”
Saya hanya mau memberi tahu, masih ada yang mau menolong saya saat
itu. Jangan berpikir akan selalu ada yang akan membantu.
3. Kalau Anda tak mau dikata-katai, yaaa… jangan mengata-ngatai. Itu
sudah kita ketahui bersama, tetapi mengapa masih saja terjadi? Saya
enggak tahu, coba Anda evaluasi. Mumpung hari ini adalah hari
istirahat. “Istirahat yaa… istirahat. Kok lo suruh mikir, sih. Ntar aja.”
Itu Anda tahu siapa yang berkicau. Itu juga sejujurnya saya. Saya tak
pernah punya waktu untuk mengevaluasi mengapa saya bermulut jahat,
tetapi saya selalu punya waktu untuk mengevaluasi tabiat orang lain.
4. Coba sebutkan nama binatang yang paling sering keluar dari mulut
Anda saat lagi kesal.
5. Coba sebutkan lima kata dasar yang sering meluncur mudah dari mulut
Anda saat Anda sedang naik pitam.
a. Dasar… (menyebut nama daerah); b. Dasar… (menyebut nama suku); c.
Dasar o..k u…g; d. Dasar g……; e. Dasar orang Indonesia.
Bagi mereka yang mengumpat dalam bahasa asing dan daerah, yaa…
evaluasi sendiri saja. Saya soalnya bodoh dalam bahasa.
Sesuatu yang Indah
Oleh Samuel Mulia
Tepat satu minggu lalu, saya menelepon seorang teman yang sedang
menjalani kemoterapi karena kanker. Melalui temannya, yang juga teman
saya, ia mengatakan tak mau dijenguk.
Duh… buat saya, SMS macam itu sangat menyenangkan. Menjenguk
merepotkan buat saya karena saya ini egois. Jadi, dengan ia tak mau
dijenguk, saya seperti mendapat durian runtuh. Tak perlu report-repot
bawa ini dan atau bawa itu. Masuk ke rumah sakit yang selain
menakutkan, juga mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu.
Sangat depresif.
Maka, saya heran kalau di rumah sakit ada ruang VIP atau VVIP. Toh,
buat saya, ya itu tetap rumah sakit yang mematahkan semangat hidup.
Saya pernah di tempat semacam itu. Sudah harganya mahal, tetapi tetap
menakutkan. Meski ada pendingin ruangan, sofa yang besar dan empuk, TV
layar datar dengan segala saluran acara dunia, bunga indah di vas, dan
makanan sedikit lebih canggih dari kelas di bawahnya, tetapi toh
menunya jauh dari kata enak, nikmat, dan lezat. Itu semua tetap tak
menyemangati saya yang sakit.
Yang merontokkan
Hal yang saya butuhkan bukan apa yang indah di luar, tetapi dukungan
moril menghadapi keadaan bernama sakit. Jadi, bagaimana moril di dalam
dihibur dengan kenyamanan yang berasal dari luar? Itu baru satu
persoalan dari luar. Masih ada persoalan lain dari luar lagi, yaitu
mendengar kalimat yang keluar dari mulut seorang dokter.
Tak jarang kalimatnya makin menekan mental yang sedang dalam proses
menerima keadaan tidak sehat itu. Itu belum memikirkan dokter yang
ketus, kalau ditanya diam seperti patung, muka judes, dan tak
bersahabat. Saya kadang heran bagaimana ada orang melayani seperti itu?
"Dokter kan manusia juga, bukan cuma rocker. Memang lo bisa?" kata
nurani saya.
Perkataan yang tidak membangun itu datang dari seorang dokter yang
menangani teman saya tadi. Ia memutuskan untuk memangkas habis rambut
teman saya. Saya tanya, mengapa? Ia menjelaskan, itu prosedur untuk
masuk ke ruang steril. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Dokternya
juga bilang, enggak papa-lah digundulin, toh nanti juga rontok dan
gundul."
Saya marah mendengar penjelasan itu. Bagaimana ada dokter memilih
kalimat yang tidak menyemangati? Membuat mental pasien makin melorot
di tengah ia sedang mencoba menerima hidupnya juga tak menentu?
Mengapa perkataan itu tidak membangun meski sang dokter tahu
kemungkinan hidupnya kecil secara medis? Mengapa ia memilih kalimat
yang berefek seperti melihat botol setengah habis dan bukan memilih
kalimat seperti melihat botol setengah penuh?
Apalagi kondisi teman saya itu secara laboratoris sangat buruk, tetapi
kondisi fisiknya seperti orang sehat walafiat. Rambutnya rontok saja
tidak, makan lahap. Mengapa seseorang lebih memilih perkataan yang
bukan indah, yang "kotor" dan yang kotor, yang tidak menyemangati,
yang menekan mental?
Setelah bercakap-cakap dengan teman saya itu, saya duduk terdiam.
Duduk di sofa menghadap jendela. Jakarta mendung tiba-tiba setelah
panas terik pada pagi hari. Setelah emosi berkurang, saya tersenyum
sendiri. Saya tadinya berpikir mau mengusulkan supaya dokter-dokter
itu juga perlu dididik kalau bicara. Diajarkan tata krama
berkomunikasi, yaaah… macam ikut latihan public speaking. Tetapi, baru
saja niat itu tebersit, eh… nurani saya mulai beraksi, "Kenapa kok
enggak lo saja yang latihan mulut dulu?"
Yang membangun
Waduh… celaka tiga belas. Tersindir lagi, yahhh… harus diakui, mulut
saya juga senangnya menekan banyak orang, membuat orang keder, membuat
orang sakit hati, dan membuat orang menangis. Yang paling payah,
membuat orang jadi terancam, tidak percaya diri, merasa bodoh, dan
merasa direndahkan. Mulut saya seperti petugas investigasi di film CSI.
Kalau dapat bukti sidik jari di TKP langsung berkata dengan nada
ancaman, "Anda adalah tersangka utama." Padahal, belum mendengar
cerita si tersangka dan melihat hasil di laboratorium kriminal yang
canggih itu. Kadang hasilnya juga keliru. Tetapi, katanya mengeluarkan
kalimat menekan dan menuduh itu teknik. Saya enggak tahu teknik apaan,
lha wong saya bukan petugas macam CSI.
Jadi, saya berpikir membuat dunia sebagai tempat yang menyenangkan,
mungkin bukan soal lingkungan hidup semata, juga bukan hanya soal
stabilitas politik dan ekonomi, tetapi juga memiliki manusia yang
mulutnya membangun, yang menyemangati Apalagi kalau seperti saya ini,
kuli tinta. Seyogianya saya harus menulis tetap berdasarkan fakta dan
berimbang, tetapi dengan suatu bungkus indah.
Pelajaran itu saya dapati saat menanti acara peragaan busana seorang
teman lama dua minggu lalu. Saya bertanya bagaimana kondisi bisnis
pakaian jadinya sekarang? Apakah terimbas atau tenang-tenang saja.
Ia tak menjawab secara langsung. Begini ia berkomentar, "Kita itu dulu
jaya secara ekonomi dan itu membuat kita keblinger. Seperti seorang
yang tidak mengontrol asupan makanannya. Semua dimakan, tanpa diet
benar. Maka, krisis ekonomi itu seperti melihat si keblinger sedang
panik melihat hasil pemeriksaan kesehatannya."
Ia melanjutkan, "Ternyata hasilnya banyak merahnya. Kolesterol buruk,
asam urat tinggi, gula darah juga, apalagi SGOT dan SGPT yang aduhai
tingginya. Maka, si keblinger memutuskan kembali pada kehidupan yang
sehat. Krisis itu justru berfungsi sebagai diet yang benar, yang
harusnya memang dilakoni demikian, bukan berlebihan dan menjadi bumerang.
"Jadi, sekarang adalah masa kita menuju kepada kondisi yang mula-mula,
yang benar, yang sehat, yang bukan keblinger. So, apa yang mesti
ditakuti? Lha wong kita menuju mau sehat, kok."
Saya cuma menganggut-anggut. Kalau saya kuli tinta soal bisnis,
mungkin saya seyogianya menulis kondisi ekonomi yang buruk itu, dari
sesuatu yang membangun dan kemudian dikomunikasikan demikian juga.
Terus saya berpikir, bagaimana kalau ada orang yang mengumpat. Mungkin
saya harus membalas dalam hati saja, "Tuhan, ampunilah dia karena tak
tahu bedanya manusia dari anjing. Lha wong saya ini kakinya dua, kok."
Nurani saya kemudian ikut-ikutan, seperti biasa. "Lah… gonggongan lo
itu dah plek-plek sama. Makanya lo dianjingin."
Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup








