Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

Intelejen dan Islam Radikal

Heri Latief
"menengok ke belakang mengintip ke depan"

bagaimana pendapat pembaca setelah membaca artikel yg ditulis "he-man" yg moderator milis wanita muslimah ini?

artikel lama yg ceritanya sampai sekarang masih hot!

salam, hl

Sun Dec 25, 2005 12:46 pm

Intelejen dan Islam Radikal

oleh : He-Man*

Setelah Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan padakondisi
ideologi Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih dianggap
sebagai sebuah ancaman besar bagi rezim Karena itulah rezim orba
kemudian mengeluarkan kebijakan ideologis untuk menanganinya. Kebijakan
ideologis dan politis pada masa awal orba yang di tempuh adalah
menghancurkan kaum komunis, menekan kaum nasionalis, dan mencegah
naiknya kekuatan islam.

Setelah kekuatan komunis ditumpas habis, maka kekuatan kaum nasionalis seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno menyingkirkan
Hardi yang kritis pada pemerintah. Motor utama untuk melaksanakan
kebijakan ideologis orba ini diserahkan kepada aparat intelejen

Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan nasionalis. Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam.
Kebijakan terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan
kebijakan terhadap kelompok komunis dan nasionalis. Walaupun tergabung
dalam Nasakom tapi kelompok Islam memiliki peran dan jasa besar dalam
menghancurkan kekuatan komunis dan meruntuhkan rezim Soekarno selain
karena kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut
agama Islam.

Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk
menghadapi kekuatan islam ini. Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam
maka pemerintah harus memiliki alasan dulu untuk menekankannya.Dan
kemudian intelejen sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk
melaksanakan ini kemudian memilih untuk menggunakan tangan kaum radikal
Islam.

Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya
menjadi sangat mudah dikendalikan. Psikologi kaum radikal adalah
psikologi orang marah, seperti yang diketahui orang marah sangat
kehilangan daya nalar kritis dan akal sehatnya, sehingga bila mereka
liar akan sangat tidak terkontrol sebaliknya juga mereka menjadi sangat
mudah dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya sebagai pion yang
sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan penyuruhnya
sekaligus bisa dikorbankan dengan sangat mudah.

Dan inilah yang disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian
merekrut para mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam
Siliwangi. Aksinya ini ditolak oleh Kepala Bakin pada masa itu Jenderal
Sutopo Juwono juga petinggi Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany
(yang kemudian akhirnya di dubeskan), akan tetapi Ali Moertopo tetap
pada pendiriannya dengan tetap membawa para mantan DI/TII ini ke
Jakarta.

Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari
Kartosuwiryo yaitu Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki, juga
Adah Djaelani Tirtapraja (Ma'had Al Zaitun), Rahmat Basuki (tersangka
pengeboman BCA), Amir Fatah, H Ismail Pranoto (Komando Jihad), Danu
Muhammad Hasan, Helmy Aminuddin (Gerakan Tarbiyah) dll.

Tebar, Pancing dan Jaring

Karena tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali Moertopo
pun membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan Opsus. Mereka
kemudian mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang sangat besar
sehingga menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa itu
terutama dari kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka
dengan susah payah bahkan bertaruh dengan nyawa.

Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka protes-protes itu berhasil diredam. Sejumlah perwira yang menentang proyek itu pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan.

Ali Moertopo kemudian membina mereka dengan pelatihan-pelatihan
intelejen, seperti pembentukan jaringan, teknik perekrutan anggota,
penyamaran, pembuatan propaganda, operasi cuci otak, teknik teror dan
intimidasi dan lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa kelompok
radikal sangat ahli dalam melakukan ini semua).

Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk
menerapkan ilmunya. Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi, pemboman
BCA, penyerbuan kantor polisi di Cicendo, Wolya, Lampung, Borobudur
dll, dimana semua peristiwa ini dilakukan oleh para mantan DI/TII
binaan opsus.

Dan aparat pun menangkapi mereka lagi bahkan sebagiannya juga
dikorbankan dan dibunuh. Tapi setelah tertangkap mereka kemudian
dilepas lagi untuk melakukan aksi-aksi lainnya. Berkat
peristiwa-peristiwa itu pemerintah mendapat legimitasi untuk menekan
kelompok-kelompok Islam. Sejumlah aktivis masjid di Bandung ditangkapi
bahkan organisasi remaja masjid di masjid Istiqamah yang pada waktu itu
menjadi "Mekkah" nya aktivis muda islam pun dibubarkan dengan tuduhan
terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya yang dilakukan oleh jamaah Imron
yang diprovokasi oleh Najamuddin seorang anggota intelejen binaan Bakin
dari Batalyon Artileri Medan, sejumlah kyai NU di Jawa Timur ditangkapi
bahkan dilenyapkan dengan tuduhan terlibat Komando Jihad yang
dikomandani oleh Haji Ismail Pranoto binaan Opsus. Keterlibatan
intelejen dalam kasus-kasus tersebut semakin kentara ketika dalam kasus
persidangan Danu Mohammad Hassan misalnya, ia mengaku sebagai orang
Bakin. "Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin." (Lihat
Tempo, 24 Desember 1983). Belakangan Danu mati secara misterius, tak
lebih dari 24 jam setelah ia keluar penjara, dan konon ia mati diracun

Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah
kelompok melakukan perlawanan yang dengan segera ditumpas dengan kejam
oleh militer. Peristiwa-peristiwa ini kemudian menjadi legimitasi bagi
aparat untuk melakukan sensor dan pengawasan yang ketat pada aktivitas
dakwah. Para da'i harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua
kegiatan dakwah harus dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan
mencegah penyebaran paham radikal. Lalu pemerintah pun menetapkan
kebijakan asas tunggal Pancasila dengan alasan untuk menekan penyebaran
ideologi-ideologi yang menyimpang.

Sejumlah kelompok Islam yang menentang kebijakanini pun segera
dibekukan, HMI kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO
yang menolak asas tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII), BKPRMI dan
beberapa ormas islam lain dibubarkan. Pemerintah juga mendirikan
sejumlah organisasi islam baru pendukung asas tunggal yang rata-rata
dibawah binaan Golkar. Dengan demikian semua kekuatan oposisi
pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan dengan metode
tebar, pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.

Strategi Pecah Belah dan Kuasai

Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi
kekuatan Islam pun berubah. Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali
Moertopo mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah
instabilitas. Strategi yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih
soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan

kepemudaan islam mulai marak. Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh
pesat di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian
kalangan aktivis muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi
dakwah kultural dan berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal
saja organisasi remaja masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim
jemput bola pada remaja-remaja bermasalah seperti anggota gank motor,
pecandu narkoba dll

Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu
point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah
memastikan semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada
dalam cengkraman dan kendali pemerintah. Bukan saja organisasi
keagamaan atau politik tapi juga organisasi profesi seperti IDI atau
organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah kendali pemerintah
dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau tidak mendapat 'restu'
dari pemerintah.

Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis
taklim yang tumbuh pada masa itu tidak demikian. Organisasi-organisasi
itu bersifat independen dengan struktur organisasi yang cair. Akan
tetapi pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa.

Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera
dikontrol. Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua
organisasi dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan
formal dimana kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi
tersebut. Dan pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan
memfasilitasinya dengan menempatkan organisasi-organisasi tersebut
untuk berkantor di masjid negara Istiqlal. Akan tetapi eksperimen ini
gagal, para aktivis yang berusaha menjaga jarak dengan pemerintah
menolak mengikuti gagasan tersebut.

Akan tetap intelejen kemudian memiliki pemikiran lain. Kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut harus dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rezim, bagi kalangan intelejen bila tidak mampu menundukkan
sebuah kekuatan/kelompok maka kekuatan/kelompok itu harus disusupi
kemudian dimanfaatkan akan tetapi mereka harus dikebiri terlebih dahulu
kekuatan untuk melumpuhkan potensi ancamannya. Kekuatan utama dari
gerakan Islam pada dasarnya bukanlah pada banyaknya jumlah anggota
mereka melainkan pada kedekatan mereka pada ummat dan ukhuwah mereka
dengan kekuatan Islam yang lain. Dan dua aspek penting inilah yang
menjadi target intelejen untuk dilumpuhkan. Kebijakan 'massa
mengambang' adalah doktrin utama ideologi orba untuk mencegah sebuah
kelompok terlalu dekat dengan masyarakat, semua kelompok harus berada
dalam 'kotaknya' masing-masing.

Dan Bakin pun menugaskan Soeripto sebagai Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986-2000 dengan misi
utama membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di kalangan
remaja masjid dan gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan
pengawasan intelejen. Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini
merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia

dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957.
Ia kemudian bergabung oleh Kodam Siliwangi sebagai kader militer
Sukarela pada tahun 1967 dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto
kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono,
Soerono dan Wahono), dan secara struktur dibawah komando Yoga Sugama di
Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono. Sempat menduduki jabatan
sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi
Strategis/Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk
normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981. Saat ini Soeripto
memegang jabatan di DPP Partai Keadilan Sejahtera dan menjadi anggota
DPR-RI asal partai ini dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan dengan
nomor urut 1. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy
Aminuddin putra dari Danu Muhammad Hasan.

Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII
sebelum akhirnya ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan ditahan
tanpa pengadilan di Rumah Tahanan Militer di Cimanggis dan dibebaskan
antara tahun 1983-1984. Pada masa itu ada rumus utama untuk menentukan
aktivis binaan intelejen yaitu semua anggota ekstrim kanan yang
dipenjarakan dan dibebaskan antara tahun 1970-1988 atau di masa
kekuasaan Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua jendral yang paling anti
Islam dan gerakan Islam sudah pasti telah menjadi suruhan intel untuk
menghancurkan gerakan Islam.

Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang saat ini menjabat sebagai
Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di bawah
binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari
mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara
organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh
Sa'id Hawwa pimpinan khwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985.
Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah dukungan Bakin di bawah
komando Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun
1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang
diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul, Al Islam dan
Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi

bacaan wajib para kader inti gerakan.Helmy Aminuddin sendiri kemudian

menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.

Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran
ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian
juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal
ini melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang
sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena
mendapat subsidi. Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun
tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah
padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan
buku-buku terbitan GIP pada masa itu dijual dengan mulai harga 600-5500
rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong
pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku
sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam
yang lain.

Tujuan utama pembentukan kelompok ini oleh intelejen adalah
menghancurkan dan melumpuhkan semua kelompok dakwah pemuda dan remaja
masjid yang tidak berada dalam kontrol pemerintah lalu menyatukan
semuanya dalam satu kelompok besar yang bisa dikendalikan aparat
intelejen.Selain itu juga jama'ah tarbiyah juga diberi peran untuk
memutus mata rantai hubungan kelompok-kelompok aktivis masjid dengan
masyarakat juga dengan ormas islam lain.

Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil
alihan khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah tarbiyah seperti
mobilisasi massa, black propaganda, penculikan aktivis, teror dan
intimidasi dll seperti yang pernah terjadi di masjid Salman ITB pada
tahun 1994 dimana kader-kader binaan intelejen yang dikenal dengan
julukan "gerobak" singkatan dari Gerombolan Batak melakukan aksi
pengambilalihan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.

Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian
langsung melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman. Seluruh
aktivis yang tidak mengikuti kelompok mereka disingkirkan. Semua
aktivitas dakwah yang berhubungan dengan masyarakat luas dihentikan
demikian juga semua bentuk hubungan dengan organisasi dakwah lain
dibekukan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk pembinaan internal
demi mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid.

Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan dengan indoktrinisasi.

Semua aktivitas yang melibatkan partisipasi masyarakat luar dihentikan.
Pembinaan pada kalangan luar masjid seperti kalangan remaja akhirnya
menjadi hanya lembar sejarah lama. Hubungan silaturahmi dengan
organisasi dakwah lain yang tidak 'sefikrah' dihentikan total.

Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing
bagi masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian.
Isu masalah jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya
menggusur isu mengenai kenakalan remaja, isu jilbab menjadi agenda yang
menjadi prioritas utama mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.

Dalam hal hubungan dengan organisasi dakwah lain pun sontak mencapai
titik terendah. Kajian jamaah tarbiyah yang disebarkan kepada
anggotanya mengenai kelompok dakwah lain diarahkan untuk memberi citra
negatif yang dipenuhi prasangka dan kecurigaan serta paham kebencian.

Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan
aktivis masjid pun dilumpuhkan total. Dengan dilumpuhkannya kekuatan
utama kelompok dakwah masjid ini maka aktivis dakwah masjid tidak lagi
dianggap sebagai ancaman, maka tindakan represi terhadap kelompok ini
pun dilonggarkan. Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka
intelejen pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada
mereka. Itulah sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah tidak pernah
mendapat gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar
paham radikal. Dengan dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal
maka peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh gabungan massa dari
berbagai ormas pemuda dan remaja islam seperti pada waktu penolakan RUU
Perkawinan pun tidak perlu dikuatirkan lagi.

Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal
islam lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk
mengawasi dan mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup
memegang kepalanya saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh.
Paham eksklusif kelompok radikal menjadi penentu sukses penggunaan
metode "pecah belah dan kuasai" kelompok-kelompok Islam

dan memotong 'sayap' mereka sehingga tidak bisa lagi 'terbang' sehingga
aktivis islam bagi pemerintah hanyalah sekelompok unggas saja.

Akan tetapi ada misi lain dari pembentukan kelompok radikal ini oleh
intelejen. Yaitu sebagai media yang akan menyediakan "korban" dalam
jumlah yang cukup besar. Operasi intelejen adalah operasi rahasia yang
memerlukan bukan saja pengorbanan waktu, materi dan pikiran tapi juga
nyawa. Para kader intelejen selalu merupakan kader terbaik di
kesatuannya karena operasi intelejen hanya bisa dirancang dan
dilaksanakan oleh personel-personel yang memiliki bukan saja kualitas
teknik terbaik tapi juga bisa bersikap dan berpikir secara taktis dan
strategis. Oleh karena itu terlalu mahal kalau harus mengorbankan
kadernya sendiri. Maka intelejen pun selalu berusaha merekrut
orang-orang di luar kalangannya untuk melakukan "pekerjaan kotor"
mereka juga untuk "mencucikan baju kotor" mereka. Kalangan yang secara
tradisional dimanfaatkan intelejen diantaranya para advonturir dan para
tahanan dengan imbalan dan janji-janji tertentu. Inilah yang dilakukan
sebelumnya pada para tahanan DI/TII yang diberi kebebasan, dana,
pelatihan dan janji (yang seringkali bahkan selalu palsu) untuk
mendukung perjuangan politik mereka.

Akan tetapi cara ini kemudian dianggap terlalu mahal dan "korban" yang tersedia terlalu sedikit sehingga dalam beberapa tahun saja atau
beberapa kali operasi, orang yang dikorbankan menjadi tidak cukup. Dan
berdasarkan pengalaman dalam sejumlah operasi intelejen dan kontra
intelejen ke tubuh kelompok Islam maka ditemukan sesuatu hal yang
menarik yaitu betapa bodohnya orang fanatik.

Dan orang fanatik pun menjadi korban yang paling sempurna untuk sebuah operasi intelejen. Para advonturir rata-rata selalu mencari keuntungan
dalam menjalankan tugas dan mereka lebih dibutuhkan agar tetap hidup
sebagai boneka atau tameng, sementara para mantan tahanan politik
seringkali kadang bertindak diluar kontrol karena memiliki agenda
tersendiri.

Syarat utama seorang pelaksana tugas lapangan intelejen adalah pertama mereka harus tau sesedikit mungkin bahkan lebih baik tidak tau sama
sekali, yang kedua mereka bisa bahkan secara sukarela mau untuk
dikorbankan nyawanya tanpa imbalan apapun. Karena bila ada sesuatu yang
terjadi maka pihak intelejen bisa mencuci tangan dan sekaligus memiliki
kambing hitam, bahkan seringkali dibutuhkan orang atau kelompok yang
perlu dikorbankan nyawanya untuk menaikkan citra. Dan kaum fanatik
menjadi kandidat paling sempurna. Mereka tidak dianggap terlalu
berharga, terlalu bodoh dan tidak terlalu banyak bertanya, dan selalu
rela mengorbankan diri dan nyawanya demi tujuan suci kelompoknya (yang
bisa dengan mudah dibelokkan intelejen).

Atas alasan inilah pihak intelejen memfasilitasi dan mensponsori
pembentukan kelompok radikal Islam ini dengan memafaatkan para mantan
tahanan DI/TII yang merasa mereka memanfaatkan intelejen untuk
mendukung cita-cita mereka. Para anggota level bawah kelompok radikal
Islam ini dibuat untuk tidak banyak tau bahkan tidak tau apa-apa
tentang apa dan bagaimana keadaan di atas mereka. Sampai artikel ini
dibuat saya berani jamin hanya sangat sedikit anggota jama'ah tarbiyah
bahkan yang sudah belasan tahun bergabung sekalipun yang tau bahwa
Helmy Aminuddin adalah mursyid 'aam gerakan mereka dari tahun
1991-1998, apalagi untuk tau latar belakangnya.

Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan
serta merta ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya. Yang
ia tau hanya bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya
dan berusaha mengapai tujuan kelompok dengan semua cara. Dan yang lebih
menarik lagi adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara massal
dan cepat dengan hasil yang maksimal.

Sehingga tidak heran kelompok radikal Islam Indonesia akhirnya memiliki
ciri khas yang lain dari kelompok radikal islam di negara-negara lain
terutama dalam hal hubungan mereka dengan militer dan intelejen.
Kelompok-kelompok radikal islam timur tengah misalnya selalu berada
dalam posisi vis a vis dengan militer dan intelejen. Sementara kelompok
radikal Islam Indonesia justru sebaliknya, mereka justru bermesraan
dengan militer dan intelejen.

Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS
sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan
pemihakan pada kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan
jelas siapa sebenarnya mereka. Tapi sungguh disayangkan para pion ini
tidak pernah sadar bahwa dirinya cuma pion.

* Penulis adalah mantan Sekretaris II Badan Komunikasi Pemuda

Remaja Masjid Indonesia Wilayah Jawa Barat (2000-2003) dan

moderator mailing list wanita-muslimah@yahoogroups.com

http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/

9 Maret 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Prabowo bukanlah “Bung Karno kecil”

Catatan A. Umar Said

Menjelang makin dekatnya penyelenggaraan pemilihan legislatif dan presiden
yang akan datang, kiranya menarik bagi kita untuk sama-sama menyimak kembali
isi berita Gatra 7 Februari 2009, yang ringkasannya berbunyi antara lain
seperti berikut :

« Tepuk riuh ratusan pendukung dan simpatisan sontak bergema memenuhi ruang
Balai Sarbini, Semanggi, kala mantan politisi senior PDI Perjuangan tampil
di depan podium pada HUT pertama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra),
Jum`at (6/2) malam.

Permadi, yang baru tiga hari bergabung dengan Gerindra, secara khusus
didaulat untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, pada para kader,
pendukung dan simpatisan partai berlambang kepala garuda emas itu. "Saya
bergabung dengan Gerindra, karena sosok Prabowo-nya," katanya,

Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto, di mata Permadi, adalah Bung
Karno kecil karena visi dan misi partai yang bangunnya sangat berbau
Soekarnois, seperti slogan `kembali ke UUD 1945`, `Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika`, belum lagi `Berdikari` alias berdiri di atas kaki sendiri.

"Saya yakin, dengan kemampuan dan pengetahuannya, Prabowo pada masa datang
dapat melebihi pesona Megawati Soekarnoputri," ujarnya mantap, yang lantas
disambut teriakan yang meriah oleh kader, pendukung, dan simpatisan Gerindra
(kutipan dari Gatra selesai).

Seandainya diucapkan oleh sembarangan orang, penyebutan bahwa Prabowo
adalah "Bung Karno kecil" akan bisa dianggap remeh atau ditanggapi sebagai
angin lalu saja Tetapi karena ini diungkapkan oleh Permadi, mantan "tokoh"
PDI Perjuangan dan anggota DPR, yang juga Sukarnois yang biasanya lantang
suaranya, dan juga sebagai seorang paranormal (tukang peramal) yang cukup
dikenal, maka masalahya menjadi lain.

Apalagi ungkapan ini dikumandangkan menjelang pemilu 2009, antara lain dalam
HUT partai Gerindra, yang bisa menimbulkan effek tertentu dalam opini umum.
Mengingat pentingnya penyebutan Prabowo sebagai "Bung Karno kecil", dan
kemungkinan dampaknya yang menyesatkan bagi banyak orang, maka tulisan ini
mencoba mengajak para pembaca untuk bersama-sama menelaahnya.

Penghinaan kepada Bung Karno

Tanpa bermaksud menghina atau merendahkan penilaian Permadi bahwa Prabowo
adalah "Bung Karno kecil" (pendapat begitu itu adalah haknya sepenuhnya !),
dalam tulisan ini disajikan berbagai pendekatan terhadap masalah ini,
karena banyak sekali hal-hal yang perlu dipersoalkan,
atau patut difikirkan bersama.

Penyebutan Prabowo sebagai « Bung Karno kecil" merupakan penghinaan kepada
Bung Karno, pemimpin besar bangsa Indonesia yang sampai sekarang belum ada
tandingannya. Sebab, ditinjau dari banyak segi, seluruh sejarah hidup
revolusioner Bung Karno bertentangan sama sekali atau bertolak belakang
dengan sejarah hidup Prabowo. Bisa diibaratkan dengan bumi dan langit.

Kalau Prabowo adalah "Bung Karno kecil" maka ini berarti bahwa ia
betul-betul harus mengerti atau menjiwai gagasan-gagasan besar dan
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno yang tercermin dalam karya-karya
agungnya, umpamanya : Indonesia Menggugat, Lahirnya Pancasila, Dibawah
Bendera Revolusi, Revolusi Belum Selesai dan banyak karya bersejarah
lainnya.

Artinya, kalau Prabowo memang "Bung Karno kecil" maka ia tentunya menerima
sepenuhnya atau menyetujui Pancasila (versi asli Bung Karno), Berdikari,
Manipol-Usdek, Tavip, Nasakom dan ajaran-ajaran Bung Karno lainnya. Tetapi
apakah Prabowo sungguh-sungguh menerima sepenuhnya atau betul-betul
menyetujui seluruhnya ajaran-ajaran dan gagasan-gagasan revolusioner Bung
Karno adalah satu soal yang sekarang ini masih belum jelas, sehingga
mengatakan bahwa Prabowo adalah "Bung Karno kecil" merupakan ungkapan yang
bisa dianggap gegabah atau sembarangan.

Tidak gampang menjadi "Bung Karno kecil"

Memang, dalam pidatonya di HUT partai GERINDRA, Prabowo sudah
menyebut-nyebut Bung Karno, bahkan mengutip pidato Bung Karno, yang antara
lain berbunyi sebagai berikut :

"Proklamator kita , Bung Karno, pernah meramalkan hal ini terjadi.

Bahwa kita terperangkap dalam suatu era neo-kolonialisme dan

Neo-imperialisme. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang beliau

miliki, pada saat ini kita harus mengakui, pandangan beliau jauh

kedepan dan terbukti bahwa kita memang sedang dalam keadaan terjajah

secara ekonomi

"Saya mengutip apa yang pernah disampaikan Proklamator kita pada sebuah

kongres di tahun 1932; "Beri aku seribu orang dan dengan mereka aku

akan menggerakkan gunung Semeru, tapi berilah aku sepuluh pemuda yang

membara cintanya kepada tanah air dan aku akan mengguncang dunia…"

Di samping itu, dalam pidatonya itu, Prabowo sudah mengutarakan
pandangan-pandangan yang patriotik, yang nasionalis, yang pro rakyat kecil,
yang anti-neoliberal, yang anti dominasi modal asing, yang sepintas lalu
terdengar mirip-mirip dan bisa disamakan dengan pidato-pidato Bung Karno.
Namun, kiranya kita tidak bisa dengan gampang-gampangan menamakan Prabowo
sebagai "Bung Karno kecil" hanyalah karena ia sudah mengutip pidato-pidato
Bung Karno atau bicara galak tentang neo-kolonialisme dan neo-imperialisme.
Kalau begitu, maka setiap "tokoh" yang berani dan rajin mengutip Bung Karno
atau bicara lantang menentang imperialisme lalu bisa dinamakan "Bung Karno
kecil" ?.

Rejim Suharto adalah musuh besar Bung Karno

Memang, adalah suatu hal menarik untuk sama-sama kita perhatikan bahwa
Prabowo, yang dulunya Letnan Jenderal TNI-AD, dan lama menjadi pimpinan
Kopassus dan Komandan KOSTRAD — satuan-satuan militer yang merupakan
tulang punggung utama kekuasaan Suharto – sudah mengangkat Bung Karno dalam
pidato-pidatonya. Terlepas dari segala pertimbangan atau latar belakang
sebenarnya mengapa ia menyebut-nyebut Bung Karno, yang bisa memberikan
kesan bahwa ia menghargai pemimpin besar bangsa kita ini, ucapannya yang
begitu itu adalah suatu perkembangan yang perlu mendapat perhatian kita
semua.

Sebab, apakah sikapnya mengenai Bung Karno itu betul-betul datang dari
lubuk hatinya yang tulus dan juga lahir dari kesadaran politiknya yang dalam
, dan apakah sebaliknya hanya sebagai lamis bibir dan salah satu siasat
saja dalam rangka meraih simpati sebagian opini publik, ini masih merupakan
tanda tanya yang besar. Ini mengingat bahwa ia sampai kira-kira sepuluh
tahun yang lalu, masih menjadi satu dengan rejim militernya Suharto, yang
dalam hakekatnya adalah musuh besar Bung Karno.,dan bahkan, pengkhianat
besar Bung Karno.

Di samping itu perlulah kiranya kita ingat juga bahwa Prabowo sudah pensiun
dari jabatan kemiliterannya, dan ia bicara sebegitu baik tentang Bung Karno
itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum partai GERINDRA. Namun, mengingat
sejarah kemiliterannya yang sangat menonjol di kalangan TNI (terutama AD)
di masa lalu dan kemungkinan masih adanya pengaruh tertentu sekarang ini di
kalangan militer (yang masih aktif maupun yang sudah pensiun) maka sikapnya
mengenai Bung Karno (kalau benar-benar tulus dan tidak palsu !!!) merupakan
hal yang baru dalam masalah hubungan TNI (AD) dengan Bung Karno.

Fenomena yang demikian ini menunjukkan bahwa sekarang ini, sebagian dari
kalangan pendukung Orde Baru, (baik dari kalangan sipil maupun militer)
makin sadar akan kebenaran berbagai gagasan-gagasan Bung Karno mengenai
masalah-masalah bangsa. Kalau (sekali lagi : kalau !) berbagai ungkapan
Prabowo mengenai Bung Karno itu memang betul-betul merupakan kesedaran
politik, maka akan bisa mempunyai arti yang tidak kecil. Sebab, bisa
merupakan dorongan akan adanya perubahan sikap kalangan militer terhadap
Bung Karno. Kita melihat dengan jelas bahwa selama di bawah pimpinan
Suharto (dan juga sampai sekarang) militer (terutama TNI AD) sudah
dijadikan musuh besar Bung Karno, berikut golongan kiri pendukungnya
(termasuk PKI).

Tidak mengenal ajaran-ajaran Bung Karno

Dari segi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kejahatan atau dosa besar
Suharto (beserta jenderal-jenderal pendukungnya) adalah digiringnya dan
dirubahnya TNI menjadi penentang politik dan ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno. Selama 32 tahun Orde Baru (dan diteruskan sampai sekarang) boleh
dikatakan bahwa TNI dibikin tidak mengenal sama sekali, bahkan membenci Bung
Karno beserta ajaran-ajaran atau gagasan-gagasan revolusionernya. Dengan
digiringnya TNI ke dalam wilayah politik anti-Sukarno, maka TNI menjadi
terpisah dari tradisi revolusioner rakyat Indonesia, dan akhirnya hanya
menjadi alat penggebuk rejim militer yang reaksioner dan pro-imperialis,
yang dipakai untuk membunuhi dan memenjarakan jutaan bangsanya sendiri
secara sewenang-wenang dan bahkan secara biadab.

Suharto beserta jenderal-jenderal pendukungnya telah merusak TNI dan
menjadikannya sebagai kekuatan yang menentang Bung Karno beserta segala
ajaran-ajaran revolusionernya. Padahal adalah jelas sekali bahwa menentang
Bung Karno beserta ajaran-ajaran revolusionernya berarti menentang atau
mengkhianati perjuangan rakyat Indonesia. Bung Karno adalah pengejawantahan
perjuangan revolusioner rakyat Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur,
masyarakat sosialisme à la Indonesia. Sampai sekarang tidak ada pemimpin
Indonesia yang mempunyai pendirian yang seteguh Bung Karno mengenai hal ini,
dan yang visinya sejauh dan seterang yang telah digelarnya selama puluhan
tahun.

Karenanya, dilihat dari berbagai segi, penyebutan Prabowo sebagai "Bung
Karno kecil" adalah sesuatu yang sama sekali tidak benar, hanya karena ia
telah kelihatan menghargai atau menghormati Bung Karno. Sekali lagi, kalau
(harap diperhatikan di sini, kalau !!!) sikapnya itu betul-betul timbul
karena kesedaran politik dan hati yang tulus, memang merupakan perkembangan
yang menarik dan penting, Walaupun begitu, sampai menyebut-nyebutnya
sebagai "Bung Karno kecil" adalah ungkapan yang kebablasan, adalah penamaan
yang kelewatan atau keterlaluan, dan ……..yang bisa menyesatkan banyak
orang.

Bung Karno belum ada tandingannya

Sebab, pemimpin besar rakyat Indonesia, Bung Karno, – yang sampai sekarang
keagungan berbagai fikiran-fikirannya mengenai bangsa belum ada tandingannya
! – tidaklah bisa sama sekali dengan gampang-gampangan .disamakan atau
disejajarkan dengan "tokoh-tokoh" Indonesia lainnya, apalagi dengan
"tokoh-tokoh" semasa Orde Baru ( dan juga sesudahnya). Dibandingkan dengan
kebesaran sejarah hidup revolusioner Bung Karno maka nampaklah dengan
jelas sekali betapa kecilnya, atau betapa kerdilnya, sosok-sosok para tokoh
itu semuanya, termasuk Prabowo.

Kalau kita teliti kembali sejarah perjuangan bangsa kita dengan seksama,
maka nyatalah bahwa Bung Karno adalah satu-satunya di antara para pemimpin
yang paling dicintai oleh sebagian terbesar rakyat kita yang terdiri dari
berbagai suku, agama, asal ras atau bangsa, dan disegani atau dihormati oleh
banyak pemimpin dan rakyat di Asia, Afrika, Amerika Latin yang berjuang
melawan imperialisme dan kolonialisme.

Bung Karno sudah menjadi tokoh besar rakyat Indonesia, ketika masih
muda-belia mengucapkan pidato pembelaannya di depan pengadilan kolonial
Belanda (ingat: Indonesia Menggugat) dan mendirikan Partai Nasional
Indonesia dan kemudian dibuang ke Endeh dan Bengkulu oleh pemerintahan
kolonial (perlu sekali dicatat bahwa Suharto pada waktu itu adalah serdadu
kolonial KNIL)

Berkat besarnya peran dan sumbangannya dalam gerakan untuk mencapai
kemerdekaan bangsa yang kelihatan melebihi dari pada peran dan sumbangan
para tokoh lainnya maka secara mutlak ia dipilih (bersama Bung Hatta) untuk
menjadi proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tokoh besar secara nasional dan juga internasional

Selama sekitar 20 tahun memimpin rakyat sebagai presiden (antara 1945-1965),
Bung Karno telah membikin negara dan rakyat Indonesia menjadi terkenal,
dihormati atau disegani oleh banyak rakyat di dunia, berkat sikap
politiknya yang revolusioner, anti-kolonialisme dan anti-imperialsime, yang
sudah disandangnya sejak usia mahasiswa. Karenanya, Bung Karno menjadi
simbul terbesar dalam perjuangan bangsa Indonesia, di samping menjadi tokoh
raksasa bagi rakyat-rakyat negeri lain yang sedang melakukan perjuangan.
Dengan kalimat lain, Bung Karno adalah sekaligus besar secara nasional dan
juga besar secara internasional. Dilihat dari sudut ini, maka jelas
sekalilah betapa besar bedanya antara sosok Bung Karno dengan Suharto atau
pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya.

Kebesaran Bung Karno kelihatan bukan hanya sebagai proklamator kemerdekaan
bangsa saja, tetapi juga sebagai promotor Konferensi Asia-Afrika di Bandung
(tahun 1955), juga sebagai tokoh penting dalam Gerakan Non-blok (bersama
Tito), juga sebagai promotor berbagai pertemuan Asia-Afrika, juga sebagai
tokoh yang membikin kagetnya banyak kalangan di dunia dengan keluarnya
Indonesia dari PBB dan seruan "Go to hell with your aid" yang ditujukan
terutama kepada AS. Kebesaran Bung Karno di panggung internasional juga
nampak ketika ia mengucapkan pidatonya yang bersejarah di depan sidang umum
PBB tahun 1960 ("To build the World Anew") yang mendapat sambutan luar biasa
hangatnya dari hadlirin.

Patutlah kiranya selalu sama-sama kita ingat bahwa dalam sejarah bangsa
kita, Bung Karno adalah tokoh raksasa politik di skala internasional, yang
kalibernya sejajar atau setara bahkan ada juga yang melebihi tokoh-tokoh
dunia seperti (antara lain): Gamal Abdul Nasser (Mesir), Josip Bros Tito
(Yugoslavia), Jawaharlal Nehru (India), Bandaranaike (Srilanka), Ho Chi Minh
(Vietnam), Mao Tse Tung dan Zhou Enlai (Tiongkok), Fidel Castro (Kuba).
Tidak ada tokoh Indonesia lainnya (sampai sekarang) yang mempunyai sosok
atau stature sebesar dan setinggi Bung Karno (artinya, Prabowo juga tidak).

Sayangnya, Bung Karno, pemimpin rakyat yang besar dan agung inilah yang
sudah dikhianati oleh Suharto beserta jenderal-jenderal dan pendukungnya.
Kejahatan dan dosa besar ini patut dicatat dan selalu diingat oleh kita
semua, dan juga oleh anak-cucu kita!

Paris, 9 Maret 2009

Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm

9 Maret 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.