Bencana Situ Gintung Ulah Manusia
(Kumpulan artikel seputar bencana Tanggul Situ Gintung, Ciputat, Tangerang)
Ahmad Munjin
INILAH.COM, Jakarta – Tanggul Situ Gintung di Ciputat, Tangerang, jebol. Air tumpah ke perumahan dan mencabut puluhan nyawa. Situ Gintung memberi pelajaran, manusia janganlah bermain-main dengan alam karena alam tak pernah salah. Mengapa alam menjadi jahat?
Aan Rukmana, dosen Jurusan Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina mengatakan alam pada dirinya adalah baik. Demikian pun Situ Gintung. Menurutnya, alam tidak pernah salah pada dirinya. Kesalahan alam terjadi dalam relasinya dengan sesuatu di luar dirinya, yaitu manusia.
Dalam kaitannya dengan manusia itulah, lanjut Aan, Situ Gintung menjadi jahat. Dengan demikian, konsep kejahatan Situ Gintung muncul dalam relasinya dengan manusia. Jebolnya tanggul, dari sudut pandang alam sendiri, sebenarnya baik, karena alam boleh jadi sedang melakukan peremajaan. Namun, dalam kaca mata manusia justru sebaliknya, jahat.
Kejahatan, menurut Aan, tidak memiliki eksistensi dan karena itu kejahatan menjadi tidak ada. Yang eksis adalah yang baik. Bencana alam, menurut Aan, adalah eksis. Namun, kebaikan itu menjadi jahat dalam relasinya dengan manusia. "Kalau manusia melihat konteks bencana Situ Gintung dari kaca mata dirinya (manusia) tentu itu menjadi kejahatan," paparnya.
Namun, kejahatan itu tidak mutlak, karena kejahatan itu terkait dengan manusia sendiri. Untuk itulah, Aan menekankan tentang pentingnya dimensi tanggung jawab manusia terhadap alam. "Bagaimanapun, manusia bertanggung jawab terhadap alam karena alam pada dirinya adalah baik," imbuhnya.
Tanggul Situ Gintung, menurut Aan, merupakan hasil dari usaha manusia. Dengan pembuatan tanggul itu manusia memanfaatkan air yang ada di dalamnya, baik untuk kepentingan wisata, irigasi dan lain-lain. Tetapi, usaha manusia itu tidak ditindaklanjuti dengan penjagaannya sebagai dimensi tanggung jawab manusia atas alam. "Penjagaan itu tidak dilakukan alias lalai," tegas Aan.
Karena mansia lalai atas dimensi tanggung jawabnya terhadap alam, manusia sendirilah yang menjadi korban. "Tapi itu bukan salah alam. Bagaimanapun juga alam menjadi jahat karena ulah manusia juga," pungkasnya. "Karena itu, janganlah bermain-main dengan alam."
Sedangkan penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung, disinyalir akibat usianya yang sudah tua. Pasalnya, tanggul yang berdekatan dengan kompleks perumahan Cirendeu Permai Tangerang itu, sudah ada sejak zaman Belanda.
Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane, Sutoyo Subandrio Pitoyo, ketika hujan berlangsung seharian pada Kamis (26/3), yakni dari pukul 16.00-21.00 WIB, warga setempat sudah memberitahu akan kondisi tanggul. Bahkan di sebelah hulu tanggul terjadi hujan es. "Kemudian terjadi kenaikan muka air yang cepat. Kemudian air terus naik sehingga tanggul tidak mampu mengalirkan air ke luar," ujarnya.
Selain itu, ujar Suroyo, di sisi lain tekanan terus-menerus terjadi sehingga menyebabkan gerusan. Kemudian bendungan pun longsor dan roboh. Urukan jenis apapun, bisa jebol jika terjadi limpasan. "Karena hujan deras sehingga bendungan yang dibuat pada zaman belanda tidak mampu menampung air," paparnya.
Luas danau Situ Gintung 21 hektar. Dapat dipastikan lebih dari satu juta debit air yang tumpah ke perumahan Cirendue. "Debit air selama hujan bertambah. Lama-kelamaan, danau ini tidak menahan debit air sehingga akhirnya jebol," ucapnya. Korban meninggal dunia hingga saat ini sudah mencapai 43 orang. [I4]
http://inilah.com/berita/politik/2009/03/27/93951/bencana-situ-gintung-ulah-manusia/
27/03/2009 – 17:43
Waspada, Situ Gintung Bisa Terulang
Budi Winoto
INILAH.COM, Jakarta – Pembangunan perumahan besar di dekat tanggul air, harus dihentikan. Jika tidak, tragedi Situ Gintung mungkin saja terjadi lagi. Apalagi banyak tanggul di Jabodetabek yang memiliki kontur serupa dengan Situ Gintung.
Situ Gintung tampaknya sudah lama tidak diperhatikan oleh Pemerintah Tangerang. Terbukti, rumah penduduk dibiarkan berdiri di sekitar situ dan berada di tanah negara.
Sejak zaman Belanda, tanggul itu belum pernah direnovasi. Perawatan yang dilakukan hanya pengerukan saja. Kepala Balai Besar Wilayah Cidurian dan Sungai Cisadane Provinsi Banten, Joko Suryanto, mengatakan pengerukan terakhir dilakukan pada 2008 oleh Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.
Warga sekitar pernah meminta agar tanggul itu diperbaiki sejak tiga tahun lalu. Hal itu dikarenakan Kali Pesanggrahan pernah meluap dan menyebabkan banjir di kawasan sekitar.
Situ Gintung yang memiliki luas 31 hektare dengan kedalaman 10 meter, didesain untuk sistem pelimpahan dan penampungan air hujan. Namun saat ini sudah menyempit. Kontur tanah di sekitar Situ Gintung juga sangat curam. Akibatnya, tanah mudah longsor jika diterjang air bah.
Situ itu, kata Djoko, tidak terjadi pedangkalan. Dugaan sementara, penyebab jebolnya tanggul, selain karena kondisi alam, juga disebabkan oleh keberadaan pemukiman.
Analis Kebijakan Publik Andrinof A Chaniago mengatakan bencana serupa mungkin saja terjadi di tempat lain, karena ada tekstur lahan yang seperti Situ Gintung. Misalnya saja di daerah sekitar Pamulang yang banyak terdapat tanggul yang dikepung oleh perumahan. Selain itu, puluhan situ di sekitar Jabotabek juga memiliki kemiripan.
Andrinof mengatakan untuk antisipasi peristiwa serupa, pembangunan perumahan di kawasan sekitar situ harus dilarang. Pasalnya pembangunan perumahan horizontal telah melebihi kapasitas penggunaan lahan.
"Semakin banyak penggunaan lahan untuk pertokoan dan perkantoran hingga penampungan air mengecil. Jika tiba-tiba muncul aliran air ke satu tempat dalam jumlah besar, ujungnya tanggul jebol karena daya dukungnya tidak mampu. Apalagi, jika tidak ada upaya pengerukan rutin. Juga, jika tanggul sudah miring," katanya.
Andrinof mengatakan peristiwa Situ Gitung bisa terjadi karena kelengahan warga setempat, juga karena kesalahan pemerintah daerah. Situ itu bisa jebol, karena tekanan yang dibuat oleh manusia sudah melebihi daya dukung lingkungan. Lahan di sekitar Situ Gintung yang berubah fungsi menjadi perumahan membuat daya dukung tidak memadai.
Andrinof menegaskan peristiwa Situ Gintung yang menelan puluhan korban jiwa bukan karena faktor alam. Tapi lebih bersifat teknis, terutama kebijakan. "Ada puluhan situ lain yang tidak dirawat serius secara rutin," tegasnya.
Padahal, menurutnya, sudah ada mekanisme antisipasi untuk daerah yang rawan bencana. Jika pihak yang bertangung jawab melaksanakannya dengan baik, maka jatuhnya korban Situ Gintung mungkin saja bisa dihindarkan.
Untuk wilayah seperti Situ Gintung, kata Andrinof, seharusnya ada petugas yang memantau secara rutin. Pemantauan itu harus dilakukan, karena sudah ada dana yang dianggarkan APBD Tangerang yang dialokasikan ke PU, Tata Kota, atau Pertamanan.
âœUntuk perawatan infrastruktur tanggul, seharusnya bukan lagi masalah dan tidak boleh ditunda jika menunjukkan akan timbul bencana. Kalau sifatnya mengancam kepentingan nyawa, sudah tidak ada keterbatasan dana dan harus diprioritaskan," katanya. [I4]
http://inilah.com/berita/politik/2009/03/27/93985/waspada-situ-gintung-bisa-terulang/
Turit berduka cita sedalam-dalamnya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran.
Tanggul Situ Gintung Jebol
Korban Tewas Jadi 58 Orang
Menkes Siti Fadillah meminta petugas medis mengutamakan korban selamat.
Pipiet Tri Noorastuti, Zaky Al-Yamani
VIVAnews – Korban tewas akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan terus bertambah. Jumlahnya mencapai 58 orang.
Demikian data Palang Merah Indonesia hingga pukul 15.00, Jumat 27 Maret 2009. "Sedangkan korban luka yang terdata mencapai 23 orang," kata Koordinator Informasi Palang Merah Indonesia, Agus Rama Dani, Jumat 27 Maret 2009.
Para korban tewas dievakuasi di sejumlah posko seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan. Para korban diletakkan di atas karpet menunggu identifikasi. Mayoritas korban adalah kaum perempuan, anak-anak, dan lanjut usia.
Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari, saat meninjau posko bencana, meminta para sukarelawan medis untuk mengutamakan pertolongan terhadap korban selamat. "Jangan sampai ada korban selamat yang sakit," kata Siti.
Jebolnya tanggul mengakibatkan banjir bandang di kawasan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan. Lebih dari satu juta meter kubik air menghantam pemukiman penduduk dalam hitungan menit.
Peristiwa yang berlangsung sangat cepat membuat mayoritas warga tak mampu menyelamatkan diri. Bahkan banyak warga yang masih terlelap saat banjir datang.
Akibatnya, ratusan rumah terendam. Puluhan di antaranya rusak parah. Sejumlah kendaraan seperti mobil juga terseret hingga puluhan meter. Ada mobil yang tersangkaut di pagar. Ada pula yang tersangkut di pohon.
VIVAnews
http://metro.vivanews.com/news/read/44244-korban_tewas_jadi_58_orang
Tanggul Situ Gintung Jebol
Korban Diberi Santunan Rp 5-30 Juta/KK dari APBN
Aprizal Rahmatullah – detikNews
Jakarta – Pemerintah memberikan santunan bagi korban jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang, Banten. Jumlah dana yang diberikan Rp 5-Rp 30 juta per kepala keluarga (KK).
"Untuk masyarakat yang terkena bencana diberikan bantuan untuk yang ringan Rp 5 juta, rusak sedang Rp 15 juta dan maksimal Rp 30 juta," ujar Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.
Atut mengatakan itu usai rapat yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla (JK), di Rumah Makan Situ Gintung, Tangerang, Banten, Jumat (27/3/2009).
Menurut Atut, pengklaiman dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan melalui lurah dan kepala desa terkait. Selain itu, Pemda Banten akan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Nasional (Bakornas).
Sedangkan untuk korban meninggal, lanjut Atut, akan diberikan bantuan. Apabila ada jenazah yang dikebumikan di luar provinsi, akan diberikan fasilitas berupa uang dan mobil ambulans.
Berapa total dana yang dikeluarkan? "Tergantung kebutuhan," kata Atut yang mengenakan baju safari hitam ini.
Atut menuturkan, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) akan dijadikan tempat relokasi para korban.
Atut menambahkan, Pemda Banten akan menangani masalah sosial, pangan dan kesehatan. "Untuk penanganan situ, itu pemerintah pusat," pungkasnya.
(nik/iy)
RS Fatmawati Persulit Prosedur Administrasi
"Tolong prosedurnya jangan dipersulit," kata keluarga korban.
Pipiet Tri Noorastuti, Sandy Adam Mahaputra
VIVAnews – Sejumlah keluarga korban tewas kecewa dengan tindakan Rumah Sakit Fatmawati. Mereka kecewa lantaran rumah sakit mempersulit prosedur administrasi.
"Kami diharuskan pakai surat pengantar pakai otopsi atau tidak. Saya kan tidak tahu," kata Lia, 34, salah satu keluarga korban tewas, kepada wartawan, Jumat 27 Maret 2009. "Tolong prosedurnya jangan dipersulit."
Mendengar keluhan itu, Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah, meminta rumah sakit yang menjadi rujukan para korban tak mempersulit prosedur. Ia meminta rumah sakit memberi pelayanan sebaik mungkin.
Tanggul Situ Gintung jebol sekitar pukul 05.00 pagi tadi. Ratusan rumah terendam. Puluhan di antaranya rata dengan tanah. Data Departemen Kesehatan menunjukkan, peristiwa ini merenggut sedikitnya 50 korban tewas.- VIVAnews
http://metro.vivanews.com/news/read/44182-rs_fatmawati_persulit_prosedur_administrasi
Tanggul Situ Gintung Jebol
Puluhan Mobil Terseret Arus, Nyungsep ke Atas Pagar Hingga 'Kawin'
Andi Saputra – detikNews
Avanza nyungsep ke atap (Andi/detikcom)
Petaka Tanggul Situ Gintung
Jakarta – Buntut tanggul Situ Gintung, Cireundeu jebol, air bah menyeret puluhan mobil hingga puluhan meter di kompleks Perumahan Cireundeu Permai. Beberapa di antaranya bahkan ada yang nyungsep ke atas pagar dan 'kawin' alias bertindihan.
Pantauan detikcom, seperti terlihat di Jalan Bukit Cireundeu Raya di kompleks itu, satu Isuzu Auto silver bernopol B 9855 OD milik Bernardus tereseret arus hingga 5 meter. Mobil tersebut terhenti karena menindih Isuzu Panther silver bernopol B 8454 polos. Roda belakang Izusu Auto itu tepat berada di kaca depan Izuzu Panther.
"Kalau ini tidak terlalu jauh, Mas. Tadi malah ada mobil punya bule, terseret dari ujung Cireundeu Raya hingga ke Jembatan Cireundeu, sekitar 100 meter karena terbawa arus sungai Pesanggrahan," kata Bernardus kepada detikcom di depan mobilnya.
Bahkan sekitar 100 meter dari lokasi dua mobil yang bertindihan ini, satu Toyota Avanza berwarna hitam terangkat hingga ke atap garasi. Mobil bernopol B 2304 IS itu belum dievakuasi.
"Pagi-pagi sekitar pukul 05.00 WIB, mobil itu terseret dan bertumbukan semua. Kami semua pasrah," kata Bernardus.
Bahkan pantauan detikcom, beberapa mobil nyunsep ke taman hingga tersangkut ke pohon. Pada saat kejadian air di rumah warga mencapai tinggi 1,5 meter hingga 2 meter. Tak sedikit pagar-pagar yang jebol. Selain pagar rumah warga, pagar jembatan kompleks sepanjang 20 meter juga jebol. Pipa PDAM pun patah hingga airnya muncrat ke jalan.
(nwk/iy)
Jumat, 27/03/2009 12:05 WIB
Tanggul Situ Gintung Jebol
Kadinkes: Korban Tewas 43 Orang, Kemungkinan Bertambah
Mega Putra Ratya – detikNews
Jakarta – Korban tewas akibat jebolnya tanggul Situng Gintung, Tangerang, Banten terus bertambah. Total korban tewas menjadi 43 orang dan kemungkinan akan terus bertambah.
"Ada 3 pos. Di Universitas Muhammdiyah Jakarta ada 25 orang, di Cireundeu ada 2 orang, dan di STIE KH Ahmad Dahlan ada 16 orang," kata Kepala Sub Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dr Dien Emawati di STIE KH Ahmad Dahlan, Jl Ciputat Raya, Tangerang, Banten, Jumat (27/3/2009).
Dien mengatakan, evakuasi korban sampai saat ini belum bisa ditentukan. Melihat kondisi benar-benar aman. "Untuk evakuasi semoga tidak hujan karena akan mempersulit pencarian," katanya.
Bantuan kesehatan yang diberikan ada 22 tim medis dari Provinsi DKI Jakarta, Rumah Sakit Pondok Indah, RSPP, RS Fatmawati, RS Duren Sawit, dan puskesman di sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.
"Obat-obatan sampai saat ini cukup kita membawa MP ASI dan biskuit kering untuk anak-anak yang menunggu atau para orangtua," imbuhnya.
Pantauan detikcom, 2 korban di STIE KH Ahmad Dahlan dengan nama Maman dan Soleh, sudah dibawa keluarganya ke rumah duka.
Ada 11 korban lagi yang masih berada di kampus. Banyak warga yang mendatangi kampus untuk memastikan kemungkinan keluarganya menjadi korban jebolnya tanggul.
Tanggul Jebol di Cireundeu
Air Meluap, Ciputat Raya Macet Total
Andi Saputra – detikNews
Jakarta – Jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, Banten menyebabkan air meluap ke jalan-jalan. Akibatnya, sejumlah daerah di Jakarta Selatan macet total.
Pantauan detikcom, Jumat (27/3/2009) pukul 08.00 WIB, genangan air semata kaki terdapat di Jl Ciputat Raya. Genangan dari luapan Kali Pesanggrahan ini menyebabkan arus lalu lintas Pasar Jumat menuju Kebayoran Lama macet total. Penumpukan kenadaraan terjadi di depan menara FedEx.
Arus lalu lintas arah Lebak Bulus menuju Cinere dan Lebak Bulus menuju Ciputat juga dilaporkan macet total. (lrn/ndr)
http://www.detiknews.com/read/2009/03/27/081157/1105622/10/air-meluap-ciputat-raya-macet-total
http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
Buku Sintong Menyodok Prabowo
Berhubung makin menariknya persoalan buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan dan
persoalan kasus Prabowo maka berikut di bawah ini disajikan dua tulisan yang
disiarkan oleh majalah Gatra dan Viva New. Dua tulisan yang agak panjang
ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm di bawah
judul « Buku Letjen Sintong Panjaitan yang membikin heboh ».
1.. Umar Said
= = =
Majalah Gatra 19 Maret 2009]
Buku Sintong Menyodok Prabowo
Setidaknya dua kali Prabowo Subianto kena sodokan keras lewat karya buku
tokoh penting di negeri ini. Yang pertama, lewat buku Detik-detik yang
Menentukan karya mantan Presiden B.J. Habibie, yang diluncurkan dua setengah
tahun silam. Habibie, antara lain, menceritakan kedatangan Prabowo ke Istana
Merdeka, 22 Mei 1998, memprotes pencopotannya sebagai Panglima Komando
Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Pada waktu itu, Habibie baru beberapa jam menjabat sebagai Presiden RI,
menggantikan Soeharto yang lengser. Habibie menulis, ia mencopot Prabowo
karena mendapat laporan dari Panglima ABRI (Pangab), Jenderal Wiranto,
tentang adanya pergerakan pasukan Kostrad dari luar kota menuju Jakarta
tanpa sepengetahuan Pangab.
Buku Habibie itu sontak membuat Prabowo geram. Lewat konferensi pers yang
digelar sepekan berselang, 29 September 2006, Prabowo membantah tudingan
bahwa ia ingin melakukan kudeta. Ia juga membantah bahwa "dirinya
marah-marah dan menyebut Habibie sebagai presiden naif".
Kini sodokan serupa datang lagi lewat biografi Letnan Jenderal
(purnawirawan) Sintong Panjaitan, berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para
Komando, yang diluncurkan di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu malam
pekan lalu. Bedanya, kali ini Prabowo bereaksi relatif kalem. Mungkin dia
sengaja sedikit jaim alias jaga image.
"Terserah orang mau bicara apa. Ini kan negara demokrasi, setiap orang
berhak menulis apa saja. Tapi dia tidak berhak mencemarkan nama baik orang
lain," kata calon presiden dari Partai Gerindra itu usai meluncurkan buku
Membangun Kembali Indonesia Raya di Jakarta, Kamis pekan lalu, atau sehari
setelah peluncuran buku Sintong.
Dalam buku biografi setebal 520 halaman yang ditulis wartawan senior Hendro
Subroto itu, Sintong memblejeti sekaligus menohok sosok Prabowo. Mulai
seputar upaya Prabowo mengejar posisi KSAD, pencopotan Prabowo dari jabatan
Pangkostrad, sampai penculikan sejumlah aktivis semasa Prabowo menjadi
Danjen Kopassus.
Sintong, 68 tahun, juga mengungkap cerita terpendam tentang upaya counter
coup d'etat ala Prabowo pada 1983. Pendeknya, Prabowo disebutkan beberapa
kali melawan perintah atasan, melanggar prosedur kemiliteran, dan melakukan
langkah-langkah yang bukan wewenangnya.
Toh, Prabowo tak terpancing. Ia menyatakan, pada saat ini rakyat sudah
pandai menilai secara objektif. "Saya penganut falsafah Jawa: sing becik
ketitik, sing olo ketoro. Artinya, yang baik akan ketahuan, dan yang buruk
juga akan terlihat," ucap Prabowo.
***
Sintong, mantan Pangdam IX/Udayana yang juga mantan penasihat Presiden
Habibie bidang hankam, mengisahkan dengan lugas apa yang dialami, didengar,
dan dilihatnya. Misalnya soal kedatangan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal
(Mayjen) Kivlan Zen, dan Danjen Kopassus, Mayjen Muchdi PR, ke kediaman
Presiden Habibie di Patra Kuningan, 22 Mei 1998.
Habibie meminta Sintong menemui dua pejabat militer itu. Ternyata Kivlan dan
Muchdi mendapat tugas dari Pangkostrad, Letnan Jenderal Prabowo, untuk
menyampaikan surat yang diteken Jenderal Besar (purnawirawan) A.H. Nasution
kepada Habibie. Surat itu sebenarnya ditulis tangan oleh Kivlan karena
Nasution sedang sakit. Nasution tinggal meneken.
Surat itu berisi saran agar KSAD Jenderal Subagyo HS diangkat menjadi
Pangab, sedangkan Pangab Jenderal Wiranto diangkat menjadi Menteri Hankam.
Adapun Prabowo diusulkan menjadi KSAD. Selain itu, juga disarankan agar
diadakan pemisahan antara jabatan Pangab dan Menteri Hankam.
Pada hari yang sama, Sintong mengisahkan, Wiranto melaporkan kepada Habibie
bahwa telah terjadi pergerakan pasukan Kostrad dari luar Jakarta menuju
Jakarta. Juga adanya konsentrasi pasukan di sekitar kediaman Habibie di
Patra Kuningan. Semua mobilisasi pasukan itu tanpa sepengetahuan Pangab
Wiranto.
Habibie memutuskan bahwa keberadaan pasukan di luar sepengetahuan Pangab itu
tak dapat dibiarkan karena akan mempengaruhi para komandan lainnya untuk
bertindak sendiri-sendiri dengan alasan apa saja, tanpa koordinasi lagi
dengan Pangab. Lantas Habibie memerintahkan, jabatan Pangkostrad harus
diserahterimakan hari itu juga, sebelum matahari terbenam. Prabowo diberi
jabatan sebagai Komandan Sesko ABRI.
Sintong mengaku tidak ikut campur dalam masalah pencopotan Prabowo itu.
Alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) 1963 ini malah merasa kaget. Prabowo
sendiri baru mengetahui dirinya dicopot dari jabatan Pangkostrad ketika
berkunjung ke kantor Fanny Habibie (adik kandung B.J. Habibie) di kantor
Otorita Batam pada 22 Mei itu, pukul 13.30.
Satu setengah jam kemudian, Prabowo meluncur ke Istana Negara dengan membawa
12 pengawal, mengendarai tiga mobil Landrover. Sintong mendapat laporan dari
ajudannya bahwa Prabowo langsung naik lift ke lantai IV, tempat Habibie
berkantor, tanpa diperiksa dan disterilkan. Sintong memerintahkan seorang
pengawal presiden berpakaian preman melucuti senjata Prabowo secara
baik-baik.
Ia lega, karena Prabowo bersedia menanggalkan kopelrim dengan pistolnya,
magasin peluru, dan sebilah pisau rimba. Prabowo pun diterima Presiden
Habibie, berbicara empat mata. Sintong tidak memaparkan apa isi pembicaraan
itu. Sedangkan dalam buku Detik-detik yang Menentukan, Habibie memaparkan
ucapan Prabowo yang bernada keras, memprotes pencopotannya sebagai
Pangkostrad.
"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya, Presiden
Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo dengan
nada tinggi. Lalu ada kalimat lebih ketus: ''Presiden apa Anda? Anda naif!"
kata Prabowo, seperti tertulis dalam buku biografi Habibie.
***
Selain kisah tentang penculikan aktivis, ada kisah lain lagi mengenai
Prabowo yang diungkap Sintong. Prabowo disebutkan pada 1983 sempat berupaya
melakukan counter kudeta dan hendak menculik sejumlah jenderal yang ia duga
akan melakukan kudeta. Pada waktu itu, Prabowo berpangkat kapten, menjabat
sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/Antiteror Kopassandha.
Detasemen 81 merupakan satuan yang dikehendaki L. Benny Moerdani dalam
menghadapi teroris. Ketika itu, Letjen Benny menjabat sebagai Asisten
Hankam/Kepala Intelstrat/Asintel Kopkamtib. Hubungan Detasemen 81 dengan
pihak intelijen hankam sangat dekat. Satuan elite ini dipasok informasi oleh
staf intelijen hankam, demikian pula sebaliknya.
Pada Maret 1983, menjelang Sidang Umum MPR, Komandan Detasemen 81/Antiteror,
Mayor Luhut Pandjaitan, dikejutkan oleh laporan anak buahnya bahwa Detasemen
81 sedang siaga atas perintah Kapten Prabowo. Mereka sudah membuat rencana
menculik Letjen Benny Moerdani dan beberapa perwira tinggi lainnya. Yaitu,
Letjen Sudharmono, Marsdya Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen Moerdiono.
Luhut mengaku tidak mengerti tentang rencana tersebut. "Kok, aneh. Ada soal
begini, saya sebagai komandan kok nggak tahu," katanya. Akhirnya Luhut
memberikan perintah tegas, "Nggak ada itu. Sekarang kalian semua kembali
siaga ke dalam. Tidak seorang pun anggota Den 81 yang keluar pintu tanpa
perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan."
Luhut segera memanggil Prabowo. Namun ia langsung ditarik Prabowo keluar
dari kantor. "Ini bahaya, Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap," kata
Prabowo. Pak Benny mau melakukan coup d'etat," Prabowo memberikan informasi
rahasia.
"Coup d'etat apa?" tanya Luhut.
"Pak Benny sudah memasukkan senjata…," kata Prabowo.
"Senjata untuk apa?" tanya Luhut lagi.
"Ada, Bang. Senjata dari anu mau dibawa ke sini untuk persiapan coup
d'etat," jawab Prabowo.
Luhut membenarkan bahwa Benny Moerdani memasukkan senjata, antara lain
AK-47, SKS, dan senjata antitank. Tetapi senjata itu adalah senjata dagangan
untuk Pakistan, yang selanjutnya akan disalurkan kepada pejuang Mujahiddin
Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Operasi intelijen oleh Benny Moerdani
ini dalam rangka mencari dana dan menunjukkan peran Indonesia dalam
perjuangan di Asia.
Luhut kemudian melaporkan hal itu kepada Kolonel Sintong Panjaitan, Komandan
Grup 3/Sandiyudha di Kariango, Makassar. Sintong dalam bukunya itu sampai
menyimpulkan bahwa counter-coup d'etat yang direncanakan Prabowo merupakan
rekayasa yang mirip dengan rekayasa ala Letkol Untung, Komandan Batalyon
1/Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa, ketika menculik sejumlah jenderal
Angkatan Darat pada 1965.
Atas saran Sintong, Luhut kemudian melapor kepada Wakil Danjen Kopassandha,
Brigjen Jasmin. Pada waktu itu, Danjen Kopassandha, Mayjen Yogie S.M., telah
menjadi Pangdam III/Siliwangi, tapi jabatan Danjen Kopassandha belum
diserahterimakan. Luhut dan Prabowo menghadap Jasmin.
Prabowo marah-marah karena Jasmin tidak percaya perihal rencana Benny
Moerdani melakukan coup d'etat. Luhut sampai menurunkan tangan Prabowo yang
menuding muka Jasmin. Setelah Luhut dan Prabowo keluar ruangan, Jasmin
memanggil Luhut kembali masuk ruangan.
"Hut, untung kamu ada di sini. Ada apa dengan Prabowo? Coba kamu amati.
Kayaknya dia sedang stres berat," ucap Jasmin.
Persoalan ini sampai juga ke Menhankam/Pangab, Jenderal M. Jusuf. Setelah
mendengar penjelasan sejumlah jenderal, Jusuf menyimpulkan, isu rencana coup
d'etat itu tidak ada dan persoalan dianggap selesai.
Namun Sintong sendiri percaya, kabar tentang kudeta 1983 itu berperan
menjatuhkan karier Benny Moerdani, yang diikuti tersingkirnya sejumlah
perwira yang dinilai sebagai orangnya Benny. Sintong dan Luhut merasa
termasuk di antaranya.
***
Sintong menegaskan, buku biografinya tidak bernuansa politis, tidak pula
bertujuan mencari popularitas. Menurut Sintong, buku itu dimaksudkan agar
kebenaran diungkapkan dan ditegakkan. "Buku ini sama sekali bukan merupakan
manipulasi politik untuk menghakimi atau menyalahkan seseorang atau pihak
tertentu," kata Sintong.
Ia juga menampik anggapan bahwa buku itu ada yang mensponsori untuk menjegal
langkah pihak tertentu, mengingat peluncurannya menjelang pemilu Toh, kesan
menjegal pihak tertentu tetap saja sulit dihilangkan. Apalagi, usai
peluncuran buku itu, Sintong kembali menegaskan bahwa Prabowo, juga Wiranto,
harus bertanggung jawab atas sejumlah kasus pada saat mereka menjabat.
Wiranto, yang kini calon presiden (capres) dari Partai Hanura, dinilainya
harus bertanggung jawab atas insiden kerusuhan Mei 1998. Dalam bukunya itu,
Sintong menganggap Wiranto gagal menangani kerusuhan. Sedangkan Prabowo,
capres dari Partai Gerindra yang popularitasnya tengah melesat, harus
bertanggung jawab atas kasus penculikan sejumlah aktivis.
Terlepas dari apakah keduanya terlibat langsung atau tidak dalam kasus itu,
sebagai pemimpin, menurut Sintong, mereka harus bertanggung jawab.
"Pertanggungjawaban mereka belum selesai," katanya. Soal pertanggungjawaban
ini, Prabowo mengatakan, "Terkait penculikan aktivis, saya sudah
mempertanggungjawabkan di Dewan Kehormatan Perwira," ujarnya.
Wiranto juga enggan berkomentar banyak. Ia menilai, buku Sintong hanya
melihat dari satu sisi, sehingga tidak mungkin mendapat kebenaran. "Saya
tidak akan mempermasalahkan buku Pak Sintong. Itu sekadar menambah khazanah
sejarah bangsa. Saya tidak mau capek-capek mengurusi hal itu," katanya.
Dalam pengamatan Soetojo Darsosentono, ahli komunikasi dari Universitas
Airlangga, Surabaya, selama ini banyak sejarah perjalanan bangsa ditulis
para pelaku sejarah. Karena bersifat pribadi, tentu ulasannya sesuai dengan
pengamatan dan penilaian mereka masing-masing.
Karena itu, mengenai kebenaran sejarah dalam buku Sintong, menurut Soetojo,
masih perlu kajian mendalam. "Buku itu merupakan sejarah pribadi Sintong.
Soal benar atau tidaknya, biar masyarakat yag menilai, sebab buku itu sudah
milik publik," Soetojo menegaskan.
Taufik Alwie, Cavin R. Manuputty, dan M. Nur Cholish Zaein
[Nasional, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 19 Maret 2009]
a.. * *
VIVAnews 20 Maret 2009
Mimpi besar Prabowonomics
Konsep ekonomi Prabowo mengundang kontroversi.
Ekonom berhaluan liberal meragukannya.
GAYANYA di panggung mirip-mirip Soekarno. Tangannya mengepal dan
diangkat-angkat. Orasinya tegas dan lugas. Sindirannya pun tajam. Meski
suara serak, calon presiden Prabowo Subianto tetap berusaha berteriak
lantang, meledak-ledak.
"Saudara-saudara, elit di Jakarta lupa. Negara kita punya kekayaan alam.
Kaya, kaya. Tetapi rakyat tidak mengalami perbaikan nasib. Sistem ekonomi
kapitalis saat ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Sebagian
besar tidak merasakannya. Orang tak punya uang tidak boleh hidup negeri ini.
Saya tahu isi hatimu. Kau inginkan pekerjaan yang baik dan halal. Kau ingin
beri makan istri dan anakmu. Betul Ingin sekolahkan anakmu. Betul Apa
Saudara mau jadi kacung terus Mau jadi bangsa miskin terus Mau anak-anak tak
sekolah
Saudara-saudara, mari buat perubahan besar. Perubahan untuk masa depan
anak-anakmu. Beri kesempatan pemimpin baru. Yang tak mampu minggir saja.
Kembali ke rumah, ajak saudara-saudara, teman-teman, semua, untuk perubahan"
Peluh membasahi baju mantan Komandan Pasukan Khusus yang tengah berkampanye
di Kota Padang tersebut. Di depan panggung, di bawah terik matahari, massa
berteriak, "Hidup Gerindra. Prabowo presiden! " Ribuan orang berseragam
merah putih tumpek blek di lapangan Cimpago yang berada di bibir pantai.
***
Perubahan sistem ekonomi adalah misi besar yang digadang-gadang sang Ketua
Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Prabowo beralasan
kapitalisme- liberal adalah sistem ekonomi yang salah sehingga harus
dirombak. Resesi ekonomi global adalah bukti kegagalan pasar bebas tanpa
kendali, sistem kapitalisme tanpa kendali, katanya di seminar yang digelar
Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, pada Rabu, 11 Maret 2009.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu sedang berada di atas
angin. Krisis keuangan dan resesi ekonomi global telah menimbulkan sorotan
tajam terhadap sistem kapitalis. Yang pedas dikritik bukan cuma kejatuhan
bursa saham Wall Street, simbol kapitalisme dunia. Di dalam negeri, kelompok
penentang kapitalisme- liberal semakin mendapat panggung.
Saat Prabowo meluncurkan buku "Membangun Kembali Indonesia Raya" pada Kamis
lalu, 12 Maret, suasana Hotel Dharmawangsa terasa marak. Sejumlah rektor,
profesor, elit partai dan wakil asosiasi binaan Prabowo hadir di ball- room
hotel yang disulap penuh nuansa merah itu. "Saya ingin mengubah vonis bahwa
negeri ini akan terus miskin" kata Prabowo.
Tepuk tangan membahana. Jenderal Prabowo yang dulu pernah dijauhi setelah
dinyatakan terlibat penculikan sejumlah aktivis pro-demokrasi, kini menjadi
magnet yang menyedot perhatian sementara kalangan.
Enam hari kemudian, 18 Maret, giliran kelompok Indonesia Bangkit meluncurkan
buku "Ekonomi Konstitusi" di Hotel Four Seasons, Jakarta. Di sini sejumlah
ekonom juga berkumpul. Terlihat ada Iman Sugema, Hendri Saparini, Revrisond
Baswir, Ichsanuddin Noorsy dan lainnya. Indonesia jangan pakai tim ekonomi
teh botol (teknokrat bodoh dan tolol), ujar Iman mengejek ekonom yang
berhaluan neoliberal mereka yang pro pasar bebas, rezim perdagangan tanpa
sekat negara, serta peran pemerintah yang minimal dalam sistem ekonomi.
Para ekonom ini dikenal menganut paham yang cenderung sosialis,
nasionalistis, dan menginginkan peran negara yang lebih besar sebagai
lokomotif perekonomian nasional.
Endang S Thohari dari Institute Garuda Nusantara kelompok-pemikir yang
didirikan Prabowo turut hadir di sana. Menurut Endang, mereka tengah bahu
membahu menggusur paham neoliberal. Berjuang bisa di mana saja, yang penting
tujuannya sama. Dibekingi Prabowo, upaya kelompok ini terus bergulir.
Prabowo menyatakan tak main-main dengan gagasan besarnya. Ia mengisahkan,
tekadnya menggebu setelah dia dipensiun paksa pada 1998. Saat itu ia banting
setir jadi pengusaha membantu adiknya, Hashim Djojohadikusumo, yang berkibar
sebagai pengusaha minyak di Kazakhstan.
Saat tinggal di Amman, Yordania, dia terperangah membaca sebuah laporan Van
Zorge, konsultan politik dan bisnis di Jakarta mengenai kekayaan Indonesia
yang menguap dari Bumi Pertiwi. Menurut taksirannya, dalam tempo 10 tahun
sejak 1997, tak kurang dari US$ 250 miliar devisa ekspor telah terbang ke
luar negeri.
Prabowo seperti mendapat amunisi kembali. Sejak 2003, dia sibuk berkeliling
mengkampanyekan dampak buruk sistem kapitalisme- liberal. Setahun kemudian
dia menulis buku berjudul "Kembalikan Indonesia" yang mengecam habis-habisan
sistem ekonomi liberal.
Putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu terus merangsek. Dia lalu
menghimpun para ekonom, ahli pertanian, pengusaha dan pakar industri. Selama
belasan bulan sejak 2007, Prabowo terlibat dalam berbagai diskusi intensif
dengan kalangan ini. Dia kerap mengundang Kwik Kian Gie, Sri Edi Swasono,
Bungaran Saragih (mantan menteri pertanian), Prasetyantoko (ekonom
Atmajaya), Hendri Saparini, dan lainnya.
Kwik dan Prasetyantoko mengaku memang sering diundang Prabowo. "Saya
beberapa kali datang ke rumahnya untuk diskusi dan memberi masukan" ujar
Kwik kepada VIVAnews, "Apa yang diiklankan Prabowo itu sama dengan pemikiran
saya"
Untuk menerjemahkan pandangannya, Prabowo dibantu Hashim, Rachmat Pambudy
(ekonom IPB), Endang S Thohari (doktor Prancis ahli pedesaan), Widya Purnama
(mantan Direktur Utama Pertamina), dan Rauf Purnama (mantan Direktur Utama
PT Asean Aceh Fertilizer). Mereka semua tergabung dalam Institut Garuda
Nusantara.
***
Konsep ekonomi ala Prabowo ini kini populer disebut Prabowonomics kemudian
dituangkan dalam buku "Membangun Kembali Indonesia Raya" setebal 209
halaman. Isinya mengelu-elukan konsep pembangunan ekonomi berbasis ketahanan
pangan, kedaulatan energi, serta industri nasional yang bernilai tambah.
Prabowo memimpikan perekonomian yang berlandaskan sumber daya domestik
seperti sumber alam, sumber daya manusia, dan sumber dana serta pasar
domestik yang besar, 230 juta penduduk Indonesia.
Di atas itu, Prabowo menjanjikan sejumlah program maha ambisius. Di bidang
pangan, dia berikrar akan membuka sawah dan kebun jagung masing-masing
sejuta hektare, membangun pabrik pupuk urea, menambah pasokan bahan bakar
gas, serta membangun infrastruktur desa.
Di bidang energi, dia berpromosi bakal mengganti bahan bakar minyak fosil
dengan sumber energi nabati. Belum habis, dia juga berjanji akan membuka 4,4
juta ha kebun aren untuk bahan baku produksi bio-etanol, membangun pabrik
bio-etanol berbahan baku singkong, serta mendirikan pembangkit tenaga panas
bumi.
Untuk sektor industri, dia bilang bakal menggeber industri makanan, tekstil,
sepatu, agroindustri, serta sumber alam yang bernilai tambah, seperti migas,
tambang, energi dan komoditas. "Kita jangan cuma ekspor buah coklat dan biji
sawit mentah-mentah, tetapi sudah dibuat pabrik bernilai tambah di sini"
kata Endang.
Tim Prabowo percaya sektor-sektor itu mampu menggenjot pertumbuhan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2008, sektor pertanian menyumbang
14,68 persen produk domestik bruto (PDB). Ini masih kalah dari sektor
industri pengolahan. Namun, jika agroindustri digabung, maka sektor
pertanian akan menjadi penyumbang terbesar kue ekonomi nasional.
Supaya program itu berjalan, Prabowo mengajukan sejumlah resep. Di antaranya
adalah mengerahkan BUMN sebagai lokomotif pembangunan di sektor-sektor yang
menyerap banyak tenaga kerja. Kebijakan fiskal dan moneter akan dipusatkan
ke sana. Pembayaran hutang luar negeri dijadwal ulang untuk menambah
persediaan dana untuk melumasi berbagai program raksasa itu. Selain itu, ini
dia, lahan kritis akan dibagi-bagikan ke petani.
"Pemerintah jangan cuma jadi wasit, tetapi harus turun tangan jadi lokomotif
ekonomi" kata Prabowo. Dia memberi contoh pemimpin China Deng Xiaoping yang
menjadikan lembaga pemerintah dan BUMN sebagai motor penggerak, sehingga
ekonomi mereka bertumbuh di atas 10 persen.
Dengan berbagai konsep ini, tim Prabowo hakulyakin pada 2011 ekonomi
nasional bakal tumbuh 8-9 persen. Tak cuma itu, dua tahun kemudian mereka
bermimpi angka pertumbuhan akan melesat ke level di atas 10 persen. Jika itu
terjadi, begitu mereka bermimpi, saat Republik berulang tahun ke-100 pada
2045, pendapatan per kapita Indonesia akan mencapai, jangan kaget, US$ 60
ribu atau Rp 720 juta per tahun.
***
Bagi kubu ekonom pro-Prabowo, ambisi itu mereka nilai realistis. Hendri
Saparini, Iman Sugema, Dradjad Wibowo, Kwik Kian Gie, dan Revrisond Baswir,
menilai Prabowonomics bisa dilaksanakan asal ada perubahan paradigma
ekonomi.
"Argentina yang penduduknya lebih sedikit bisa tumbuh 8 persen" kata
Dradjad. Meski juga mengaku bersepakat, Revrisond toh buru-buru
mengingatkan, Yang penting, jangan cuma jadi jargon kampanye saja.
Tanggapan berbeda datang dari kubu ekonom neo-liberal. Mereka mengritik
program Prabowo bak mimpi di siang bolong. Para ekonom jebolan Universitas
Indonesia, seperti Muhammad Ikhsan, Chatib Basri, Adrian Panggabean, serta
Purbaya Yudhi Sadewa dari Danareksa, meragukan target pertumbuhan ekonomi 10
persen itu. Terlalu ambisius, kata Ikhsan. Adrian dan Chatib mempertanyakan
bagaimana angka itu dihitung.
Yudhi juga mewanti-wanti rencana Prabowo merestrukturisasi utang luar
negeri. Jika dilakukan, menurutnya itu akan jadi pertaruhan besar bagi
Indonesia. Resikonya besar. Pasar modal, obligasi dan kurs rupiah akan
hancur, kata Kepala Ekonom Danareksa Research Institute ini. Jadi, kalau tak
bayar utang, ekonomi Indonesia akan hancur.
Untuk sementara ini, Prabowonomics masihlah sebatas mimpi yang dianggap
menjanjikan oleh sementara kalangan, dan dikecam sebagai ilusi oleh sejumlah
pihak yang lain. Buktinya masih harus ditunggu. Itu pun jika purnawirawan
jenderal berbintang tiga ini berhasil menang pemilu. Maka tak ada yang lebih
tepat ketika Prabowo, masih dengan suara serak, merayu para pemilih di Kota
Padang, "Agar konsep ini jalan, perlu kehendak politik. Karena itu, saya
minta mandat dari rakyat"
VIVAnews (Heri Susanto, Elly Setyo Rini, Nur Farida Ahniar, Umi Kalsum)
Dua Desa Terancam Musnah. Stop Tambang Pasir Besi di Pesisir Seluma
Siaran Pers JATAM – WALHI – KIARA – WALHI Bengkulu
Dua Desa Terancam Musnah. Stop Tambang Pasir Besi di Pesisir Seluma
Desa Penago Baru dan Rawa Indah, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma,
Propinsi Bengkulu terancam musnah, akibat pengerukan pasir besi
besar-besaran yang dilakukan PT. Famiaterdio sejak tahun 2005 silam.
Perusahaan ini merupakan kontraktor pertambangan Fine Wealthy Ltd. asal
Hongkong yang mendapatkan Kuasa Pertambangan (KP) dari Bupati Seluma No
35 Tahun 2005 seluas 3.645 ha, yang berada di tiga Blok pertambangan,
masing-masing; Blok I (450 ha) yang berada di kawasan padat huni, Blok
II (143 ha) di Sempadan Pantai, dan Blok III (3.250 ha).
Akibatnya kawasan pantai yang dahulunya rimbun dengan hijau hutan bakau,
seluas 10 ha, dan merupakan kawasan Cagar Alam Pasar Talo, kini nyaris
ludes. Sepanjang garis pantai, dalam tiga tahun terakhir terancam abrasi
akut. Angin besar kerap menerpa pemukiman penduduk yang hanya berjarak
50 m dari bibir pantai. Mayoritas masyarakat yang semula menggantungkan
hidupnya dari hasil laut kini gigit jari.
Perempuan pesisir yang sebelumnya memiliki tradisi mencari Kerang di
bibir pantai, tak lagi dapat menjalankan aktivitasnya. Kerang-kerang
laut banyak ditemui di pasir pantai, sejak kehadiran perusahaan tak
kelihatan lagi, akibat rusaknya kawasan pesisir.
Warga yang tinggal di sekitar operasi pengerukan, sejak 2006 sudah mulai
merasakan perubahan rasa air tanah menjadi keasin-asinan. Di wilayah
daratan warga yang saban hari menggantungkan hidupnya dari hasil sawah
kerap gagal panen. Sekitar 100 ha lahan basah sekitar mengalami
kesulitan irigasi, akibat pembendungan Sungai Tebat Batang yang
dialirkan untuk kebutuhan pertambangan.
Pembangunan bendungan itu bahkan telah merendam 5 ha kebun Kelapa Sawit
warga. Sementara limbah pertambangan terus mengancam kesehatan mereka.
Tak hanya itu, proses pengerukan pasir besi ini turut memicu konflik
horizontal antar warga yang mayoritas menolak tambang, dan warga lain
yang mendukung pertambangan, dengan sejumlah uang imbalan.
Bila pertambangan ini tak segera dihentikan, dalam jangka panjang dua
desa di atas dipastikan akan tenggelam, akibat dari daya rusak
pertambangan yang mengepung dari berbagai penjuru.
Kekhawatiran itu memicu reaksi dan sejumlah demosntrasi yang kerap
dilakukan warga sekitar. Berulang-ulang sejak 20 Agustus 2008, lebih
dari 800 warga mendatangi kantor DPRD Provinsi Bengkulu menuntut
penghentian proses pertambangan. Pada tanggal 23 Desember 2008 seribu
lebih warga kembali melakukan aksi penolakan, dengan mendatangi Kantor
Bupati Seluma, meminta Bupati memperhatikan keselamatan 2500 jiwa warga
yang terancam proses pertambangan. Pada tanggal 28-30 Januari 2009,
lebih dari 2000 warga kembali mendatangi kantor Bupati, dan bahkan
melakukan pendudukan selama 3 hari. Alih-alih memenuhi tuntutan warga,
Bupati Seluma bahkan membiarkan kantor pemda nyaris tanpa aktivitas saat
pendudukan warga terjadi, dengan tanpa merubah prinsipnya, tak bersedia
menemui warga.
"Kami sudah sering melakukan aksi. Bahkan demonstrasi terakhir yang kami
lakukan, malah ditanggapi sinis oleh Bupati. Dia bilang, walaupun rakyat
menangis darah. Pertambangan tak akan pernah dihentikan", ungkap Andi
Wijaya, Rawa Indah, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma.
Menurut Andi demonstrasi besar-besaran tidak saja dipicu oleh rusaknya
fisiologis sekitar dan keterancaman jiwa warga, tetapi proses perijinan
yang dikantongi perusahaan dirasa sangat ganjil.
Fakta ini setidaknya dapat dilihat sejak pemberian KP yang nyaris tak
dilakukan melalui pengkajian terjaminnya layanan alam sekitar. KP
perusahaan berada di wilayah yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai
kawasan Cagar Alam, Pemukiman penduduk, daerah kelola nelayan
tradiosional, dan kawasan Peruntukan pariwisata, sebagaimana yang
ditegaskan dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Provinsi Bengkulu. Bahkan proses eksploitasi pasir 2005-2006
(blok 1) dilakukan jauh hari sebelum dokumen Amdal disahkan Komisi Amdal
Propinsi, eksploitasi di awal sampai pertengahan 2008 yang merusak
sempadan pantai juga belum melalui proses pengkajian AMDAL.
"Sekalipun PT. Fmiaterdio Nagar tak pernah melaporan perkembangan
pertambangan dan pementauan lingkugan pada badan Lingkungan Hidup, ESDM
dan Pemerintah daerah Seluma, namun proses pertambangan terus berjalan.
Pemerintah seoalah hanya menunggu Royalti sebesar Rp. 250.juta pertahun,
dengan terus bersikap abai pada 2500 nasib warganya" ungkapnya.
Menanggapi daya rusak proses penambangan pasir besi pesisir Seluma
Bengkulu, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Siti Maemunah
mengaku prihatin atas daya rusak dan ketidaksanggupan pemerintah dalam
menjaga kelestarian kawasan pesisir.
"Masalah yang diakibatkan perusahaan sangat banyak, seharusnya Bupati
berani menghentikan kegiatan pertambangan dan memaksa perusahan
melakukan reklamasi", ungkap Siti Maimunah, Koordinator JATAM.
"Sebagai kawasan pasang surut yang memiliki kemiringan rendah seharusnya
tidak layak untuk ditambang. Fakta ini semakin menegaskan, bahwa rakyat
sekitar lebih peduli pada keberlanjutan fisiologi pesisir, dibanding
pemerintah Indonesia yang dua bulan mendatang bakal menjadi tuan rumah
konferensi Kelautan Dunia di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei 2009",
ujar Riza Damanik, Sekjen KIARA.[ ]
Kontak Media : Luluk Uliyah 0815 9480 246
Google Chrome Paling Tahan Serangan Hacker
Chrome menjadi browser yang paling tahan dari serangan hacker tahun ini. Setidaknya itulah hasil Pwn2Own, sebuah kompetisi yang menguji pakar keamanan jaringan untuk dapat menembus sistem keamanan pada tanggal 16-20 Maret dalam kegiatan CanSecWest Security Conference di Vancouver, Kanada.
Pada kompetisi tahun ini, Charlie Miller yang juga pemenang perlombaan tahun lalu berhasil membobol sistem keamanan Safari hanya dalam waktu 10 detik saja. Diakui oleh analis keamanan di Independent Security Evaluators ini, bahwa sebenarnya ia sudah menemukan celah pada sistem Safari sejak tahun lalu.
Walau melalui proses yang cukup sulit, si penyerang dapat langsung menyerang keamanan hanya dengan menunggu saat si pengguna komputer meng-klik suatu link pada url jahat. Pada kompetisi itu juga, IE8 dan Safari dapat ditembus sistem keamanannya. Firefox dan IE8 juga tembus dalam waktu 12 jam.
Sedangkan untuk Chrome, para peserta sebenarnya sudah mampu menemukan sebuah bug pada sistem keamanannya. Namun, bug tersebut tidak dapat dieksploitasi lebih lanjut karena browser tersebut memiliki feature Sandbox. Ditambah pula adanya kerjasama dengan sistem operasi untuk memberikan perlindungan terbaik.
Kemenangan Chrome cukup mengejutkan karena browser tersebut baru diluncurkan pada paruh terakhir tahun lalu. Portofolio Google Chrome juga bertambah setelah mendapatkan animo besar sehingga tercatat sebagai software paling banyak didownload dalam 24 jam dan langsung merebut pangsa pasar 1 persen.
Pwn2Own tahun ini, kompetisi dibagi menjadi dua kelas teknologi, yaitu web browser dan mobile phone. Kompetisi ini disponsori oleh TippingPoint, sebuah perusahaan keamanan jaringan. Web browser yang diperlombakan pada kompetisi tahun ini adalah Internet Explorer 8, Firefox, Chrome, dan Safari. Sedangkan untuk mobile phone yang dipertandingkan adalah Blackberry, Android, iPhone, Nokia/Symbian, dan Windows Mobile.
Hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, yaitu 5000 dollar AS per bug pada web browser, dan 10.000 dollar AS per bug pada mobile phone. Peserta juga dapat membawa pulang laptop yang digunakan untuk menjebol sistem keamanan secara gratis, yakni Sony Vaio atau Macbook asalkan peserta tersebut menjadi orang pertama yang dapat menunjukkan bug.
Para peserta juga diharuskan untuk menandatangani perjanjian, yang menyatakan bahwa mereka tidak boleh menyebarluaskan bug yang mereka temukan. Dengan perlombaan ini, diharapkan para developer web mampu mengetahui bug apa saya yang ada pada web browser mereka dan segera menambah celah yang ada.
Kliping: kompas.com
Mal praktek? Orgtua, hati-hati !
GudepJakartaPusat001_002@yahoogroups.com, “Amin, Kemal” wrote:
Ini kisah nyata, baik jika disebarluaskan, untuk pelajaran bagi kita semua dalam
menangani kesehatan.
Sabtu, 14 Maret 2009, YURIKE WINATA, pelajar 3 IPS SMA Tarqi Pulor, pergi ke
dokter keluarga karena gatal-gatal dipaha.
Gatal seperti biduran kecil-2 isi air.
Dokter wanita itu langsung bilang ini karena kebanyakan protein, mesti disuntik.
Ibu Enny – ibunda Yurike – minta obat luar saja, salep atau apapun.
Dokter bilang harus suntik. Ibu Enny masih mengingatkan bahwa Yurike itu ada
alergi asma.
Dokter bilang tetap harus suntik. Ibu Enny mengira akan disuntik di paha,
ternyata dibilang harus di vena tangan kiri.
Ibu Enny minta pindah ruangan agar lebih konsen melakukannya, jangan diruang
praktek yang saat itu ramai.
Tindakan menyuntik di vena tangan kiri dilakukan disebuah ruangan facial,
disebelah ruang prakter dokter.
Reaksinya … Yurike langsung kambuh asma.
Dokter (disertai ibu Enny) melarikan Yurike ke RS Puri (disamping kantor Walikota
Jakarta Barat).
Sampai disana, pertolongan pertama yang dilakukan adalah shock jantung dengan alat
listrik …. (aneh gak ???)
Reaksinya … pembuluh darah di otak pecah & gelembung-2 (katanya seperti kasus
Sukma Ayu alm).
Yurike comma, masuk ICU, pakai alat bantu pernafasan.
Saat itu jantung, paru-paru, semua masih berfungsi baik.
Minggu, 15 Maret 2009, dokter menyatakan sudah tidak ada harapan.
Senin, 16 Maret 2009, tubuh Yurike mulai membengkak.
Selasa, 17 Maret 2009 jam 12:30, Yurike meninggal dunia …
Yurike akan dimakamkan di TPU Joglo besok pagi, Kamis 19 Maret 2009.
Dengan iringan Marching Band Tarakanita yang bermain lengkap, dan ratusan murid
SMA Tarqi, PL, dll.
Walaupun keluarga Yurike sudah pasrah tidak menuntut dokter, tetapi saya merasa
sangat miris.
Yurike adalah sahabat terbaik bungsu saya, walaupun hanya sempat 2 tahun bersama.
Dalam 2 tahun ini, saya melihat Yurike sebagai pribadi yang sangat baik didalam
segala hal.
Pedih, pedih sekali rasanya hati ini … Apalagi melihat bungsuku yang tidak
henti menangis sudah 3 hari …
Andai ada teman-teman yang bisa membantu, mohon penjelasan singkat secara medis
apa penyebab kepergian Yurike (selain karena misteri Allah), mohon email ke
donda@… untuk saya teruskan ke teman-2 lain.
Dengan maksud prevensi agar tidak ada kejadian buruk seperti diatas lagi …
menimpa anak-anak kita (amit-2).
Di rumah kami (yang bodo-2 ini) ada Ventolin spray milik Yurike, untuk jaga-2 jika
dia kambuh Asma, tapi kenapa dokter (yang mestinya pinter-pinter) kasih shock
jantung ?
Pernyataan Pers Bersama : Segera Ratifikasi Konvensi Migran 1990
Pernyataan Pers Bersama
Buruh Migran, Masyarakat Sipil dan Pemerhati Buruh Migran Indonesia:
Segera Ratifikasi Konvensi Migran 1990
(Konvensi Internasional mengenai Perlindungan
Hak-Hak semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya)
Jakarta, 12 Maret 2009
Sedikitnya penduduk Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai 6
juta jiwa dengan tujuan pengiriman ke negara-negara Timur Tengah, Asia
Pasifik, seperti Hongkong, Taiwan dan juga negara tetangga, misalnya
Malaysia, Brunei, dan Singapura. Lebih dari 80 persen dari mereka adalah
perempuan. Data terkini memaparkan bahwa pada tahun 2008, pemerintah
Indonesia mengirim 748.000 buruh migran, atau naik 7,5% dari jumlah tahun
2007 sebesar 696.746 orang. Banyak pula buruh migran Indonesia (BMI) yang
bekerja di luar negeri yang tidak berdokumen. Pada tahun 2007, di Arab
Saudi saja jumlahnya mencapai 40.000. Kontribusi BMI terhadap devisa
merupakan kedua terbesar setelah Migas yaitu Rp. 35 triliun (2006); Rp. 44
triliun (2007); Rp. 86 triliun (2008); dan ditargetkan Rp. 125 triliun
(2009). Pengiriman BMI ke luar negeri telah mengurangi tingkat
pengangguran yang disebabkan keterbatasan kesempatan kerja di dalam
negeri.
Situasi Pelanggaran Hak-hak BMI: Refleksi Minimnya perlindungan
Dibalik pencapaian angka-angka tersebut diatas, BMI masih terus mengalami
berbagai pelanggaran atas hak-haknya. Hal itu terjadi sejak mereka
berangkat dari kampung halaman, saat di tempat kerja, hingga tahap
kepulangan .
Sebelum keberangkatan buruh migran banyak yang mengalami penipuan,
pemalsuan dokumen, jeratan utang, perkosaan, menjadi korban trafiking,
tidak mendapat informasi yang cukup, kerap dipekerjakan secara ilegal dan
tanpa bayaran oleh pemilik PJTKI, penyekapan/ pengisolasian, harus
menjalani tes wajib HIV dan kontrak Kerja yang tidak sesuai. Di tempat
kerja BMI rentan terhadap berbagai tindakan kekerasan (fisik maupun
seksual), pemotongan gaji illegal, pemutusan kontrak secara sepihak,
pembatasan masa tinggal di negeri penerima, eksploitasi, passports
dipegang majikan, larangan untuk berkomunikasi dan berorganisasi, gaji
tidak dibayar, tidak mendapat hari libur, melakukan 2 pekerjaan atau
lebih, dan kerja tidak sesuai kontrak. Sedangkan pada saat kepulangan
mereka sering mengalami eksploitasi, kekerasan dan pungutan-pungutan liar
di Terminal Khusus Kedatangan BMI (Terminal "III"/kini terminal "IV
Selapajang ") serta selama di perjalanan pulang ke kampung halaman.
Situasi di atas menunjukan bahwa perlindungan BMI masih jauh dari memadai.
Berbagai kebijakan yang ada, termasuk UU No. 39 tahun 2004 mengenai
Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri (PPTKILN) tidak efektif
melindungi hak-hak BMI karena lebih mengatur aspek pelaksanaan penempatan
BMI daripada perlindungannya dan bahkan memicu terjadinya berbagai
pelanggaran HAM terhadap BMI.
Urgensi Ratifikasi Konvensi Migran 1990
Dalam pandangan kami, berbagai situasi pelanggaran hak BMI antara lain
disebabkan karena Indonesia belum meratifikasi Konvensi Migran 1990
sehingga belum ada kewajiban hukum bagi pemerintah untuk memenuhi hak-hak
buruh migran sebagaimana tercantum dalam konvensi tersebut. Konvensi
Migran 1990 telah ditandantangani oleh pemerintah Indonesia pada 22
September 2004. Penandatanganan ini seharusnya segera ditindaklanjuti
dengan meratifikasi agar nilai-nilai dalam konvensi ini menjadi instrumen
hukum di tingkat nasional. Ada empat alasan pentingnya meratifikasi
Konvensi tersebut, yaitu:
Pertama, dari sisi substansi:
a) Konvensi Migran 1990 memandang buruh migran tidak hanya sebagai buruh
atau entitas ekonomi semata, tetapi juga sebagai mahluk sosial yang
mempunyai keluarga dan hak-haknya sebagai manusia secara utuh.
b) Definisi dan kategori yang terdapat dalam konvensi ini menyediakan
standar perlakuan standar perlakuan internasional melalui eelaborasi
pekerja migran dan anggota keluarganya.
c) Dasar-dasar mengenai HAM diterapkan pada seluruh kategori buruh migran
baik yang bekerja secara legal maupun yang berada dalam situasi irregular.
d) Konvensi ini menciptakan standar minimum bagi perlindungan buruh migran
dan anggota keluarganya yang bersifat universal dan diketahui oleh
masyarakat internasional. Konvensi ini juga dapat digunakan sebagai alat
untuk mendorong negara-negara yang belum memiliki standar mengenai hal ini
agar dapat melaksanakannya.
e) Pemenuhan hak buruh migrant yang dijamin konvensi ini antara lain; Hak
atas informasi mengenai seluruh persyaratan bekerja ke luar negeri, Hak
atas informasi yang diberikan oleh negara tujuan bekerja mengenai
persyaratan dan hak-hak buruh migran, Hak bermobilitas dan hak bertempat
tinggal, Hak untuk membentuk perkumpulan atau perserikatan,Hak untuk
memilih dan dipilih dalam pemilu negara asal, hak untuk turut serta dalam
pengambilan keputusan politik, Hak yang sama untuk mengakses institusi
layanan publik, pendidikan, perumahan, kesehatan dan partisipasi dalam
aktivitas kebudayaan, Hak untuk menikmati perlakuan yang sama dalam hukum
perburuhan untuk perlindungan dari pemecatan, memperoleh tunjangan
pengangguran, aktivitas penanggulangan pengangguran dan akses untuk
pekerjaan alternatif jika terjadi PHK. Konvensi juga memastikan terpenuhi
hak bagi keluarga buruh migran kecuali hak yang berkaitan tentang kerja
(pengupahan).
f) Konvensi memastikan negara melayani masalah-masalah migrasi
internasional dengan pendekatan rights base approach melalui kerjasama
bilateral maupun multilateral, penyediaan informasi dan fasilitasi layanan
konsuler dan diplomatik. Memastikan bahwa institusi yang berwenang dalam
perekrutan buruh migran mengacu pada operasional migrasi yang rights base
approach. Memastikan jika ada proses pemulangan/deportasi berlangsung
dalam koridor penegakan HAM.
Kedua, dari sisi mekanisme:a) Konvensi Migran 1990 akan menjadi acuan
perbaikan peraturan perundang-undangan terkait buruh migran dengan
berbasiskan standar HAM internasional yang terdapat dalam konvensi, b)
Pemerintah Indonesia akan memiliki posisi tawar yang kuat untuk
bekerjasama dengan pemerintah negara tujuan BMI dengan standar HAM
internasional.
Ketiga, dari sisi agenda nasional, rekomendasi Internasional, dan janji
pemerintah RI di forum Internasional, yaitu:
a) TAP MPR No. V/2002 yang mengamanatkan Pemerintah RI meratifikasi
Konvensi Migran 1990.
b) Agenda meratifikasi Konvensi Migran 1990 dalam RAN HAM 1998-2003 dan
2004-2009. Berdasarkan RAN HAM 2004-2009, Konvensi Migran diagendakan akan
diratifikasi pada tahun 2005.
c) Agenda meratifikasi Konvensi migran 1990 telah masuk dalam Daftar RUU
Prolegnas 2005-2009.
d) Rekomendasi umum CEDAW No. 26 on Women Migrant Workers poin 29 (Tahun
2008) : "Negara Pihak didorong untuk meratifikasi semua intrumen
internasional yang relevan dengan perlindungan HAM perempuan pekerja
migran, khususnya Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak Seluruh
Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya".
e) Rekomendasi Pelapor Khusus PBB bagi Pekerja Migran tahun 2006
(A/HRC/4/24/Add.3) poin 66: "Pemerintah harus meningkatkan usahanya untuk
segera meratifikasi Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak
Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya".
f) Concluding Comment CEDAW tahun 2007 (Point 44) : "Komite mendesak
Pemerintah Indonesia untuk meratifikasi traktat yang belum diratifikasi
Indonesia sebagai Negara Pihak, yaitu Konvensi mengenai Perlindungan Hak
Semua Tenaga Kerja Migran dan Anggota Keluarganya".
Keempat, dari aspek kedaulatan negara: Bahwa kedaulatan negara di ukur
dari kemampuan negara untuk menegakan norma-norma HAM. Ratifikasi Konvensi
Migran 1990 merupakan langkah negara untuk menjadi bagian dalam sebuah
mekanisme pemajuan dan perlindungan HAM . Artinya, ratifikasi Konvensi
Migran 1990 yang dilakukan secara demokratis merupakan penerapan prinsip
kedaulatan rakyat dan bukan proses kehilangan kedaulatan negara.
Tuntutan Politik
Berdasarkan situasi tersebut, kami buruh migrant, masyarakat sipil dan
pemerhati buruh migrant Indonesia menuntut:
1) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menugaskan Departemen Tenaga Kerja
dan Transmigrasi untuk segera meratifikasi Konvensi Migran 1990 sebagai
upaya nyata dalam melindungi dan menegakan hak-hak buruh migran Indonesia.
2) Agar pemerintah (legislatif dan eksekutif) konsisten dengan agenda
prolegnas periode 2005-2009, dengan meratifikasi Konvensi Migran 1990
selambat-lambatnya akhir periode tersebut (bulan Oktober 2009).
3) Pemerintah, masyarakat sipil dan pemerhati buruh migran Indonesia
segera membentuk dan mengaktifkan working group untuk melakukan upaya
konkrit bersama dalam mengupayakan ratifikasi konvensi Migran 1990.
Masyarakat Sipil dan Pemerhati Buruh Migran Indonesia
Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) Jakarta, Asosiasi Serikat Pekerja
(ASPEK) Indonesia, ASEAN People Center, CEDAW Working Group Initiative
(CWGI), Gerakan Perempuan untuk Perlindungan Buruh Migran (GPPBM), HRWG,
INDIES, INFID, Institute for Migrant Workers (IWORK), Jaringan Kerja
Prolegnas Pro Perempuan (JKP3), Kopbumi, LBH Jakarta, LBH APIK – Jakarta,
Migrant Care, PBHI Jakarta, Pena Bambu, Serikat Buruh Migran Indonesia
(SBMI), Solidaritas Buruh Migran Karawang (SBMK), Solidaritas Buruh Migran
Cianjur (SBMC), Solidaritas Buruh Migran Indonesia Jawa Timur – Region
Madura,
Sekretariat Nasional Solidaritas Perempuan, Solidaritas Perempuan
Bojonegoro, Solidaritas Perempuan Palembang, Solidaritas Perempuan Palu,
Solidaritas Perempuan Makassar, Solidaritas Perempuan Jabotabek, Trade
Union Rights Center (TURC), Women Crisis Center-Dian Mutiara Malang, ILO
Jakarta Office, UNIFEM, Yayasan Mitra Indonesia
Kontak person :
Thaufiek Zulbahary (Solidaritas Perempuan) : 0812-1934205
Retno Dewi (ATKI) : 0817-820952
Megawati Soekarnoputeri, Pemimpin Berkepribadian Kuat
Bagi yang baca artikel di bawah ini bisa mendapatkan informasi perjalanan politik dari megawati soekarnoputeri.
salam, heri latief
amsterdam
Megawati Soekarnoputeri
Pemimpin Berkepribadian Kuat
Majalah
Forbes Edisi 4 September 2004 menempatkannya perempuan kedelapan
terkuat dunia. Dia pemimpin berkelas dunia. Seorang pendiam
berkepribadian emas. Presiden RI ke-5 ini teguh memegang prinsip,
konsisten dan visioner. Dia seorang pejuang sekaligus simbol dan
inspirasi reformasi. Perjuangannya menegakkan demokrasi (ketika
demokrasi terpasung) telah memicu keberanian tokoh-tokoh lainnya ikut
dalam gerbong reformasi, yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh dan
pahlawan reformasi. Jika jujur, harus diakui bahwa tanpa putri pertama
Bung Karno, ini reformasi di negeri ini belum tentu terjadi.
Pengakuan
dunia bahwa Megawati Soekarnoputri seorang pemimpin berkelas dunia,
tercermin dari posisinya sebagai salah seorang perempuan terkuat dunia.
Sebagaimana dipublikasikan Majalah Forbes edisi 6 September 2004, Calon
Presiden yang didukung Koalisi Kebangsaan (PDI-P, Partai Golkar, PPP
dan PDS) pada Pemilu Presiden putaran kedua 20 September 2004, ini
berada di posisi kedelapan dari 100 wanita terkuat dunia.
Dia
sejajar dengan perempuan pemimpin berkelas dunia lainnya, seperti Sonia
Gandhi (India) urutan ketiga, Presiden Filipina Gloria Arroyo (9),
Perdana Menteri Banglades Begum Khaleda Zia (14), Presiden Sri Lanka
Chandrika Kumaratunga (44), pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi
(45) dan Mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher (21).
Pengakuan
ini menggambarkan realitas perjuangan dan kepemimpinan Megawati sangat
kuat di mata dunia. Dia pemimpin berkelas dunia. Pengakuan dunia ini,
jika mau jujur, sepatutnya mencelikkan mata, akal budi, hati dan nurani
setiap orang (baik kawan maupun lawan politik) di dalam negeri, untuk
melihat dan mengakui gerak perjuangan dan kepemimpinan Presiden
Republik Indonesia kelima ini. Terutama sejak ia berani terjun ke dunia
politik saat hak-hak politik di negeri ini terkekang.
Tanpa
bermaksud berorientasi menyalahkan masa-masa lalu bangsa ini, Megawati
yang pendiam (tak banyak bicara) itu adalah tokoh perempuan pemberani
meretas jalan demokrasi dan reformasi saat tokoh-tokoh lainnya (laki
atau perempuan) seperti tak punya nyali berhadapan dengan Pak Harto,
penguasa Orde Baru selama 32 tahun.
Realitas empirik
membuktikan, Megawati yang memiliki kharisma sebagai putri pertama
Proklamator Bung Karno, adalah tokoh pemberani yang paling berpengaruh
melawan tindakan tidak demokratis dari pemerintah yang cenderung
otoriter ketika itu. Saat tokoh-tokoh nasional (termasuk yang kemudian
menjadi tokoh dan pahlawan reformasi) masih membungkuk-bungkuk di
hadapan Pak Harto, Megawati dengan caranya sendiri, tanpa banyak
bicara, secara konsisten telah berani melawan tanpa kekerasan. Dia
menempuh jalan demokrasi dan hukum.
Saat tokoh yang lain
masih membeo atau diam pasif tak berani, Megawati yang dikekang tampil
berani menghadapi berbagai tantangan dan risiko memasuki gelanggang
politik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya. Dia all out dengan
keyakinan untuk menegakkan demokrasi dan reformasi di NKRI ini, tanpa
kekerasan dan tanpa balas dendam. (Sikap tanpa balas dendamnya telah
pula kemudian disalahartikan banyak politisi dan pengamat sebagai
kelemahan untuk merongrong kepemimpinannya).
Cobalah kita
sejenak menoleh ke belakang. Siapa-siapa tokoh yang berani melawan Pak
Harto sebelum Megawati memukul genderang perlawanan terbuka pada
Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993? Hanya sedikit tokoh yang
berani bertindak dan bersuara melawan kehendak pemerintah ketika itu.
Barulah
setelah Megawati mengadakan perlawanan terbuka terhadap kekuasaan yang
represif, nyali tokoh-tokoh lainnya mulai bangkit. Sebagian pada
mulanya ikut menambangi, mensupport dan membela perjuangan (perlawanan)
Megawati. Dia telah menjadi simbol dan inspirasi perlawanan terhadap
kekuasaan yang cenderung otoriter ketika itu. Bukan hanya politisi yang
mulai terinspirasi dan terpicu keberaniannya ketika itu, tetapi juga
para pengamat yang sebelumnya bungkam atau malah memuja-muji, juga para
pengacara dan mahasiswa.
Mereka
yang satu garis perjuangan atau tidak dengan Megawati, terinspirasi
untuk bangkit bersama. Mereka berkumpul dan berani berorasi menumpahkan
segala kemarahan terhadap penguasa yang represif di Kantor DPP PDI
Jalan Diponegoro, Jakarta. Keberanian yang dibayar mahal, karena kantor
itu diserang aparat dan orang-orang tertentu atas kehendak penguasa.
Peristiwa tahun 1996 itu, kemudian dikenal dengan sebutan Kudatuli
(Kasus 27 Juli).
Peristiwa itu, tak menyurutkan perlawanan
Megawati. Dia sangat sadar bahwa dibutuhkan seorang pemimpin sebagai
simbol perlawanan untuk menegakkan demokrasi, keadilan dan
kesejahteraan rakyat di negeri ini. Jika dia surut, gerbong perlawanan
yang sudah makin membesar di belakangnya itu pun akan berhenti. Jika
gerbong perlawanan itu berhenti, maka reformasi pun tidak akan terjadi.
Maka dia pun terus berjuang dengan caranya yang tidak banyak bicara,
tapi terus melangkah maju ke medan tempur sesengit apa pun dan
menghadapi risiko apa pun itu. Dia kuat bahkan sungguh kuat. Dia
perempuan keibuan berjiwa emas dan berhati baja.
Kongres Surabaya
Sebagai
suatu gambaran betapa teguh dan kuatnya Megawati dalam menghadapi
tekanan penguasa ketika itu, tercermin dari cuplikan perjuangannya pada
Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya, Desember 1993. Ketika itu,
pemerintah menghendaki Budi Hardjono menjadi Ketua Umum DPP PDI
menggantikan "si anak yang mulai nakal" Surjadi. Tapi, Megawati yang
telah membunyikan genderang menyatakan kesediaan memimpin PDI membuat
niat pemerintah mendudukkan boneka di tampuk pimpinan PDI menghadapi
perlawanan. Si putri pendiam Megawati mendapat dukungan penuh dari
hampir semua cabang dalam pemandangan umum. Resminya, juridis
formalnya, hanya tinggal menunggu sidang pemilihan ketua umum.
Melihat
dukungan mutlak kepada Megawati itu, pemerintah melalui Menteri Dalam
Negeri yang berperan sebagai pembina politik dalam negeri bersama
Kasospol ABRI dan segenap jajaran Kakan Sospol daerah tingkat I dan II
seluruh Indonesia yang juga "mengawal" para peserta kongres ke
Surabaya, melakukan manuver mengulur-ulur waktu sidang pemilihan ketua
umum sampai masa izin kongres berakhir pukul 24.
Suasana di
arena kongres ketika itu, sangat tertekan. Aparat keamanan dengan
berbagai perlengkapannya sudah lalu lalang dan berjaga-jaga, layaknya
siaga mengepung musuh negara. Malam pukul 20.00 saat peserta kongres
makin tertekan dan sebagian besar sudah meninggalkan arena kongres,
Megawati tetap bertahan di tempat siap mengikuti setiap detik
perkembangan. Ketika itu tersiar isu akan terjadi kerusuhan akibat
ricuhnya kongres.
Tak
lama, seorang aparat dengan naik panser menemui Megawati. Dengan
bersikap siap dan sigap sebagai seorang prajurit, aparat berpakaian
tempur itu menyampaikan pesan atasan kepada Megawati agar keluar dari
arena kongres dengan naik panser demi keamanan. Sejenak Megawati
menatap aparat itu, lalu dengan suara tegas mempersilahkan keluar
sebentar. Aparat itu menurut berdisiplin.
`Setelah itu, Megawati
menitikkan air mata. Dia menangisi nasib bangsanya. Dia tahu bahwa hal
itu hanya taktik busuk penguasa yang tanpa sungkan mengebiri demokrasi.
Lalu, setelah menghapus air mata, dia meminta si aparat suruhan itu
masuk kembali. Dengan berwibawa, tak terkesan baru menitikkan air mata,
dia menyatakan sikapnya dengan tegas bahwa apa pun yang terjadi tak
akan meninggalkan arena kongres sampai akhir. "Laporkan kepada
atasanmu," katanya tegas layaknya panglima tertinggi.
Kenapa
dia menolak "perlindungan" aparat itu? Sebab dia pemberani tanpa
kekerasan. Dia siap menanggung segala risiko tanpa melawannya dengan
kekerasan. Dia menyadari jika meninggalkan arena kongres maka sekali
lagi lonceng kematian demokrasi akan berdentang. Bisa saja penguasa
akan melakukan sesuatu untuk menyulut kemarahan massa untuk menciptakan
kerusuhan yang akan dijadikan sebagai alasan pembunuhan terhadap
demokrasi. Selain itu, dia sadar, jika menuruti "perlindungan" yang
ditawarkan aparat, dia akan diteriakkan meninggalkan kongres yang akan
dijadikan alasan gagalnya kongres.
Sekitar pukul 22.00, dua jam
sebelum masa izin kongres berakhir, Megawati bangkit melakukan sesuatu
yang tak terduga oleh siapa pun, baik petinggi partai yang loyal
kepadanya, maupun yang berlawanan dengannya terutama pemerintah. Dia
melakukan konfrensi pers. Saat itu, dia mengeluarkan pernyataan politik
yang menegaskan bahwa secara de facto dia telah terpilih menjadi Ketua
Umum PDI periode 1993-1998. Kemudian secara de jure akan ditetapkan
dalam suatu Munas atau sejenisnya di Jakarta dalam waktu dekat. Kepada
semua peserta kongres dan para simpatisan dihimbau untuk pulang ke
tempat masing-masing dalam suasana damai, tertib dan tenteram.
Pemerintah
dan para lawan politiknya terperangah, tak menduga pernyataan politik
yang demikian penting dan brilian itu. Tidak ada lagi alasan merekayasa
sesuatu untuk dijadikan kambing hitam kerusuhan akibat ricuh dan
molornya jadwal kongres itu.
Itulah genderang perlawanan terbuka
dari Megawati. Genderang itu tidak hanya disambut oleh kader dan
simpatisan PDI Mega, tetapi disambut berbagai lapisan, lintas agama,
lintas golongan dan lintas partai (termasuk kader Golkar yang progresif
dan ingin menegakkan demokrasi secara sungguh-sungguh).
Kemudian,
Munas PDI di Jakarta tahun 1994 pun terselenggara dan mengukuhkan
Megawati sebagai Ketua Umum PDI 1993-1998. Pemerintah yang dipimpin
seorang jenderal dan ketika itu menggunakan Golkar sebagai alat politik
(perpanjangan tangan militer di arena politik) dan terkenal demikian
"apik" membentengi kekuasaannya dengan berbagai cara, tampak merasa
kecolongan.
Tampak
tak menduga si putri pendiam itu akan membunyikan genderang perlawanan.
Sehingga kepemimpinan Megawati terus ditekan dan dirongrong. Sampai
akhirnya pemerintah berhasil memfasilitasi penyelenggaraan Kongres Luar
Biasa PDI di Medan Juni 1996 yang menobatkan kembali Surjadi sebagai
Ketua Umum PDI. Namun PDI pimpinan Megawati tak mengakui
penyelenggaraan Kongres Luar Biasa di Medan itu. Sehingga timbul
kepengurusan ganda PDI di pusat sampai ke daerah.
DPP PDI Mega
berkantor di Jalan Diponegoro 57, Menteng, Jakarta Pusat, kantor resmi
DPP PDI. Sementara DPP PDI Surjadi atas dukungan pemerintah berupaya
merebut kantor tersebut. Maka berduyun-duyunlah orang dari berbagai
aliran dan golongan berorasi di kantor itu. Tidak hanya kader dan
sipatisan PDI Mega tetapi dari berbagai golongan yang sebelumnya merasa
tertekan dan kemudian terpicu keberaniannya melakukan perlawanan
terbuka kepada penguasa yang represif.
Lalu,
terjadilah Kasus 27 Juli 1996 yang kemudian dikenal dengan sebutan
Kudatuli. Perebutan kantor DPP PDI yang memakan banyak korban dan
dikira penguasa akan memadamkan keberanian perlawanan Megawati,
ternyata malah menyalakan keberanian sebagian besar rakyat, tokoh dan
mahasiswa untuk mengadakan perlawanan bersama.
Bangkitlah
mahasiswa berdemonstrasi. Hampir seluruh kampus di Indonesia melakukan
demonstrasi. Sampai Pemilu 1997, mahasiswa terus demo di dalam kampus.
Karena ketika itu, mahasiswa dilarang demonstrasi di luar kampus.
Setelah Pemilu 1997, makin banyak pula tokoh yang berani tampil
menyuarakan reformasi. Sebagian mereka kemudian digelari sebagai
pahlawan reformasi yang bersama mahasiswa memaksa Presiden Soeharto
meletakkan jabatan.
Apalagi
setelah Presiden Soeharto lengser bertaburanlah tokoh-tokoh reformis,
termasuk dari kalangan militer yang menjadi tulang punggung kekuasaan
Orde Baru yang militeristik. Bahkan sebagian jenderal yang memegang
jabatan penting ketika itu, kemudian menyebut diri sebagai pemimpin
menuju perubahan. Mereka menyebut diri reformis tulen dan bahkan dengan
lantangnya menyebut Megawati dan tokoh reformis sipil lainnya sebagai
reformis abu-abu dan reformis palsu.
Mereka mengklaim bahwa
pemerintahan sipil di bawah pemerintahan Habibie, Abdurrahman Wahid dan
Megawati sangat lemah maka dibutuhkan pemimpin dari jajaran militer.
Mereka tampak sudah terlatih melakukan rekayasa, ucapan dan tindakan
populis untuk mempengaruhi opini publik demi berkuasanya kembali
orang-orang militer di negeri ini.
Beratnya beban "sampah"
(krisis multidimensional) warisan penguasa militeristik masa lalu,
telah membuat gerak pemerintahan sipil tak mudah bergerak cepat. Hal
ini pula diteriakkan para tokoh rekayasa populis untuk mempengaruhi
opini publik bahwa seolah pemerintahan sipil tidak mungkin membawa
bangsa ini melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih aman, adil
dan sejahtera.
Namun,
berhasilnya pasangan Mega-Hasyim masuk putaran kedua Pemilihan Presiden
20 September 2004 nanti, telah melahirkan kesadaran bahwa masih sangat
banyak orang yang tidak mau terkecoh oleh agitasi, tutur kata yang
kedengarannya manis-manis, rekayasa populis, untuk mengembalikan
dominasi militer di negeri ini. Rupanya mereka pun secara jernih
melihat bahwa pemerintahan sipil adalah pilihan terbaik untuk mencegah
bangsa ini kembali ke masa lalu, sekaligus membawa bangsa ini menuju
zona demokrasi, damai dan sejahtera.
Pemimpin Berkarakter
Jika
makin didalami, Megawati adalah seorang pemimpin berkepribadian kuat.
Tak mudah dipengaruhi oleh siapa pun jika tidak sesuai dengan nurani
dan visinya tentang cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Baginya visi dan misi para pemimpin bangsa ini tak bisa lain
dari visi dan misi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Perubahan
visi dan misi yang berbeda dengan Pembukaan UUD 1945 justru harus
dicegah.
Dengan
prinsip itu, Megawati tak mau didikte oleh kekuatan mana pun, baik dari
dalam negeri apalagi dari luar negeri. Dia dengan lantang menolak
tindakan balas dendam Amerika Serikat menyerang Afganistan dan Irak,
kendati dia setuju untuk melawan terorisme global.
Dia bertekad
ingin membangun hubungan bilateral maupun multilateral dengan
bangsa-bangsa di dunia dalam kesetaraan. Hubungan internasional,
baginya, adalah mutlak tetapi harus dalam kerangka kepentingan nasional
masing-masing dalam kesetaraan. Maka tak heran bila kepemimpinannya
yang berkarakter kuat tak disukai negara-negara maju, termasuk Amerika
Serikat di bawah kepemimpinan Bush, yang secara kasat mata tampak
membutuhkan pemimpin boneka di negara lain, seperti di Afganistan dan
Irak. Sehingga tak heran bila negara maju itu mengorbitkan bahkan
mungkin saja mendanai calon pemimpin alternatif yang kemungkinan lebih
mudah dikendalikan.
Di
dalam negeri, keutuhan NKRI, bagi Megawati merupakan prinsip yang harus
dipertahankan para pemimpin bangsa. Dia tidak ingin ada air mata dan
satu nyawa pun di negeri ini yang hilang. Sebagaimana terjadi di Aceh,
dia ingin tak ada air mata di negeri serambi Mekkah itu. Maka dia pun
mengawali penyelesaian Aceh dengan jalan diplomasi damai. Namun, ketika
jalan damai itu menemui jalan buntu, dia pun memberlakukan darurat
militer. Keputusan yang sesungguhnya sangat berat baginya, tetapi harus
ditempuh demi keutuhan NKRI. Itu suatu keputusan seorang perempuan yang
kuat.
Kepemimpinnya yang berkarakter kuat dan visioner, terlihat
juga dari "ketegaannya" menolak grasi para terpidana mati kasus
narkoba. Dia mengaku sebagai seorang ibu, hatinya menangis ketika
mengambil keputusan menolak grasi itu. Tapi demi masa depan anak-anak
bangsa, dia harus mengambil keputusan yang secara nurani kemanusiaan
sesungguhnya tak dikehendakinya.
Selain
itu, kepemimpinnya yang berkarakter kuat, terlihat juga dari beberapa
keputusannya yang sangat tidak populis. Keputusan mengenai kenaikan
harga BBM, misalnya, yang mengikuti standar harga dunia. Beberapa tokoh
dan pengamat yang mengandalkan kebijakan populis menentang kebijakan
itu yang kemudian ditambangi demonstrasi beberapa kelompok mahasiswa.
Megawati
tampak sangat menyadari ketidakpopuleran keputusan soal kenaikan BBM,
yang berdampak langsung pada kenaikan harga barang dan jasa lainnya,
itu. Tetapi dia kuat dan bersikukuh mengambil keputusan itu untuk
membangun kemandirian bangsa ini secara komparatif dan kompetitif
dengan bangsa-bangsa di dunia. Baginya, ssudah saatnya subsidi diakhiri
dengan mengandalkan pinjaman (utang) luar negeri. Keputusan yang nyaris
tak pernah diambil pemerintah sebelumnya, sehingga bangsa ini sulit
melepaskan diri dari ketergantungan pada utang luar negeri.
Dia
juga seorang yang jujur dan tulus. Antara lain terlihat ketika kampanye
Pemilu Legislatif berlangsung, PT Telkom mengumumkan kenaikan tarif.
Suatu tindakan naif dari kacamata politik, apalagi dari kacamata pihak
yang menabukan kata kenaikan tarif dan menggantinya dengan kata
penyesuaian. Tapi dia membiarkan jadual kenaikan itu bergulir apa
adanya tanpa harus dipolitisir, misalnya menundanya sampai Pemilu
selesai. Jika dipandang dari sudut pemimpin yang piawai merekayasa,
tentu ini tindakan yang salah.
Dia juga seorang pemimpin yang
berdedikasi dan memiliki loyalitas tinggi kepada komitmen yang telah
disepakati. Lihat saja Kabinet Gotong-Royong yang pelangi dan dibentuk
atas komitmen bersama lintas partai. Kendati telah nyata-nyata ada di
antara menterinya telah menunjukkan sikap mendukung Capres lain, bahkan
mungkin ada yang telah mengkhianati kepercayaannya, dia tetap memegang
komitmen mempertahankan kabinet pelanginya. Padahal sebagai presiden
yang menggenggam hak prerogatif untuk itu, bisa saja dia dengan mudah
mengganti menteri-menteri tersebut. Hanya pemimpin berkepribadian kuat
yang mampu bersikap seperti itu terhadap orang (menteri) yang bisa saja
merongrong kepemimpinannya.
Bukan
itu saja! Salah satu keputusannya yang kontroversial dan mengejutkan
banyak pihak adalah restunya kepada Sutiyoso untuk terpilih kembali
menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pada proses pencalonan, Megawati ditekan
oleh berbagai pihak agar jangan merestui Sutiyoso yang menjabat Pangdam
Jaya saat terjadinya Kasus 27 Juli 1996. Demonstrasi kader dan
simpatisan PDI-P marak. Tapi ketika pemilihan berlangsung, demonstrasi
simpatisan PDI-P itu berhenti. Mengejutkan para lawan politiknya.
Sayang keputusan merestui Sutiyoso ini harus dibayar mahal, sebab
Sutiyoso tak tampak berpihak kepada wong cilik. Namun dari kasus ini,
sebagai seorang pemimpin, Megawati telah menampakkan sosoknya yang kuat
dengan kepribadiannya sendiri.
Dengan
intensitas kontroversi yang hampir sama, adalah desakan publik agar dia
mengganti Jaksa Agung. Namun, dia seperti tidak terpengaruh dengan
masih mempertahankannya. Jika ingin mengambil tindakan populis saja,
seorang pemimpin sudah akan mengganti Jaksa Agung itu. Namun, tampaknya
Megawati melihat bahwa saat ini Jaksa Agung itu bukan satu-satunya
titik lemah penegakan hukum di negeri ini. Menurutnya, banyak kasus
korupsi yang telah dilimpahkan kejaksaan ke pengadilan, ternyata di
pengadilan divonis bebas.
Bukti lain kepemimpinnya yang
berkarakter kuat adalah kerelaannya menerima keputusan politik SU-MPR
2001 yang memenangkan KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden dan
keikhlasannya menerima jabatan Wakil Presiden, kendati PDIP sebagai
pemenang Pemilu. Hanya saja duet "bersaudara" ini tak bertahan lama
akibat keteledoran Gus Dur yang tampak terlalu meremehkannya.
Bukan
saja Gus Dur yang pernah terkesan meremehkan kemampuan kepemimpinan
Megawati. Beberapa politisi dan pengamat juga seringkali menganggapnya
lemah dan tak punya visi. Padahal jika dicermati secara jujur, dia
seorang pemimpin yang kuat, yang berani mengatakan ya atau tidak pada
waktunya. Visioner, konsisten dan tidak mencla-mencle.
Hanya
saja, sifat pendiamnya, yang selain merupakan kekuatan juga menjadi
kelemahan. Karena terkesan kurang berkomunikasi dengan rakyat. Sehingga
lawan-lawan politiknya memanfaatkan sifat pendiam itu sebagai pertanda
kelemahan dan ketidakmampuan.
Maka, jika Megawati belakangan ini
meningkatkan komunikasi kepada publik adalah suatu bukti pula bahwa dia
seorang pemimpin berjiwa besar. Jiwa besarnya, kesabarannya, yang
selalu diam tatkala dicaci-maki, makin bercahaya saat dia menyadari
kelemahan diamnya, selain merupakan kekuatannya.
Kesetaraan Jender
Megawati
adalah sebuah bukti sejarah di mana perempuan mampu memimpin sebuah
negeri. Dia memang bukan satu-satunya perempuan Indonesia yang tampil
sebagai pemimpin. Pada abad ke-14 Tribuana Tungga Dewi adalah peletak
dasar zaman keemasan Majapahit. Sultanah Saifatuddin Syah di Aceh pada
abad ke-16-17, merupakan sultan perempuan pertama di negeri beragama
Islam itu yang mampu memegang tampuk pemerintahan hingga 35 tahun.
Kini,
Megawati diakui dunia sebagai pemimpin perempuan yang kuat dalam ukuran
berskala dunia. Bangsa Indonesia, tidak hanya perempuan, patut
berbangga. Megawati menunjukkan bahwa perempuan pun berhak dan mampu
memimpin suatu negara. Meski isu jender kadang terangkat ke permukaan
seiring pencalonannya sebagai presiden, dia menjawab dengan berupaya
membuktikan kepemimpinannya mengangkat harkat dan martabat rakyat
Indonesia, termasuk kaum perempuan.
Seperti
pernah dikemukakannya di dalam seminar nasional âœKepemimpinan Wanita
Pada Millenium III" di Universitas Gadjah Mada tahun 1999: "Gerakan
penyadaran dan pencerahan akan hak-hak kaum wanita tidak hanya melulu
ditujukan kepada masyarakat kaum wanita saja, tetapi lebih jauh lagi
justru upaya untuk melakukan pencerahan lebih diintensifkan dan
diperlebar ke dalam wilayah kehidupan kaum laki-laki.
Menurut,
Megawati, kaum perempuan harus dengan penuh arif dan bijak membantu
kaum laki-laki agar mereka dapat bebas dan terbatas dari pola pikir
lama yang hanya menempatkan kaum lelaki pada suatu tingkat peradaban
yang memprihatinkan. â"Dalam melakukan hal ini tidak perlu dijalankan
dengan cara-cara yang berdampak melecehkan dan merendahkan martabat
kaum laki-laki," katanya.
Megawati menawarkan suatu strategi
yang meletakkan dan memosisikan wanita sebagai ibu bangsa, sebagai ibu
masyarakat dan sebagai ibu sejati. Dengan pijakan strategi ini,
menurutnya, maka tidak ada alasan bagi kaum wanita untuk melakukan
tuntutan-tuntutan yang hanya akan menimbulkan reaksi penolakan dari
kaum laki-laki yang masih cenderung berpikir dan berpaling ke belakang.
Megawati
juga menganjurkan agar perempuan lebih percaya diri, karena perempuan
yang percaya diri tidak pernah gentar untuk bersaing dan menyaingi kaum
laki-laki dalam konteks persaingan yang sehat. Sedangkan pria yang
percaya diri tidak akan pernah merasa khawatir bila bersaing dan
tersaingi oleh seorang wanita.
Keberhasilan Megawati, menurut
Rika Saraswati, staf Fakultas Hukum dan anggota Pusat Studi Wanita
Unika Soegijapranata Semarang, tidak semata-mata berada di pundaknya,
tetapi dipengaruhi juga oleh kinerja orang-orang di sekitarnya, kaum
perempuan dan kaum laki-laki.
Pilpres Putaran Kedua
Sebelum
Pilpres (Pemilu Presiden) putaran pertama, 5 Juli 2004, tidak sedikit
pengamat politik yang meragukan pasangan Capres-Cawapres Megawati
Soekarnoputri dan KH Hasyim Muzadi (Mega-Hasyim) lolos ke putaran
kedua. Tapi prakiraan para pengamat itu terbantah. Mega-Hasyim meraih
26,65 persen suara, berada di urutan kedua. Urutan pertama diraih
pasangan Susilo BY-Jusuf Kalla (keduanya dibesarkan dalam Kabinet
Gotong-Royong) dengan 33,5 persen suara.
Posisi
Susilo BY dan Jusuf Kalla, yang di atas angin sebagai urutan teratas
telah membuat Susilo BY terkesan meremehkan mesin politik partai-partai
besar. Berbeda dengan Mega-Hasyim yang dianggap berbagai pihak sebagai
underdog membuka pintu komunikasi politik lebar-lebar dengan
partai-partai politik, sehingga melahirkan Koalisi Kebangsaan.
Perihal
koalisi ini, Megawati mendasarinya pada prinsip bahwa pemerintahan yang
akan datang telah diamanatkan oleh perubahan yang dilakukan dalam
konstitusi UUD 1945 melalui amandemen yakni, suatu pemerintahan yang
mekanisme antara eksekutif, legislatif dan yudikatif diharapkan
mempunyai suatu kemapanan, suatu keseimbangan, sehingga dengan demikian
suatu pemerintahan yang solid bisa berjalan dengan baik.
Megawati
mengungkap bahwa dirinya seringkali berdiskusi dengan Wakil Presiden
Hamzah Haz yang juga Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
âœPak Hamzah, aneh juga kalau ada orang yang bilang bahwa partai (sistem
partai politik) tidak diperlukan, karena yang diperlukan itu dukungan
rakyat," kata Megawati tanpa menyebut nama siapa yang dimaksud.
"Bapak
bisa endak bayangkan kalau saya dipilih oleh rakyat saja, lalu rakyat
suatu saat merasa dukungannya itu tidak diperlukan, lalu mereka
lepaskan dukungannya, kan saya tinggal sendirian. Tetapi, kalau saya
didukung oleh aspirasi rakyat yang dikumpulkan melalui partai-partai
politik, maka, tentunya yang akan menjadi suatu tanggungjawab dan
kewajiban dari partai politik itu adalah bagaimana mereka akan
memberikan dukungannya dan bagaimana mereka akan menyurutkan
dukungannya. Rasanya di seluruh dunia ini, entah saya salah baca apa
tidak, tetapi rasanya sistem pemerintahan itu tetap melalui partai
politik," ungkap Megawati tentang percakapannya dengan Hamzah Haz.
Dalam
hal ini, Megawati memberi pencerahan politik kepada publik. Banyak
pihak menangkap makna pernyataan itu. Antara lain, bahwa orang yang
ingin meraih dukungan rakyat tanpa melalui mekanisme sistem partai
politik suatu saat akan menjalankan kekuasaannya sendirian tanpa
mekanisme yang demokratis, sebab tidak mungkin mengumpulkan rakyat
setiap saat mengambil keputusan.
Tapi kalau seseorang didukung
rakyat melalui mekanisme dan sistem kepartaian, dia akan menjalankan
kekuasaan dalam sistem yang demokratis melalui partai politik, sehingga
dia tidak menjalankan kekuasaan sendirian alias diktator dan otoriter.
Kebersediaannya membagi kekuasaan, menunjukkan
dirinya tidak berpotensi menjadi seorang diktator yang otoriter. Dia
seorang pemimpin yang kuat dengan kepercayaan membagi kewenangan kepada
orang lain baik sebagai mitra maupun sebagai pembantu (menteri).
Kendati dia telah pernah dikhianati oleh dua-tiga orang menteri
(pembantunya), dia tampak tetap pada pendirian untuk mempercayai orang
lain.
Koalisi Kebangsaan dalam kaitan pembagian kekuasaan adalah
wujud dari kemampuan mempercayai orang lain. Ini menunjukkan
kepribadian yang kuat dan tidak selalu mencurigai orang lainnya.
Berbeda dengan orang yang berkepribadian labil dan tak segan
mengkhianati kepercayaan orang lain, dia akan cenderung sangat sulit
mempercayai orang lain dan cenderung menggenggam kekuasaan di tangannya
sendiri.
Bermodalkan Koalisi Kebangsaan yang akan mengggalang
dukungan rakyat sampai ke akar rumput, pasangan Mega-Hasyim ini
diperkirakan akan memenangkan Pemilu Presiden putaran kedua, 20
September 2004. Kemenangan Mega-Hasyim sekaligus akan membuktikan bahwa
mesin politik partai benar-benar telah menjadi sistem penyaluran
aspirasi rakyat secara efektif dan demokratis.
Derap perubahan
Perihal
masalah pembaruan Indonesia, Megawati sangat yakin bahwa semua
menyadari bahwa betapa luasnya lingkup pembaruan yang dicita-citakan
itu. "Secara substansi, kita mengelola perubahan yang menyangkut segi
kelembagaan dan prosedur dalam keseluruhan tatanan. Sekarang kita
ibarat telah berada di tengah derap perubahan ke arah pembaruan itu.
Kita gembira, karena betapa pun kecilnya, kita telah memulai langkah
yang besar," papar Megawati.
Bagai bola salju, lanjutnya, aura
pembaruan atau reformasi tersebut terus menggelinding dan meluas.
Memang harus diakui, acapkali kita sendiri tertegun dengan banyaknya
akibat sampingan yang timbul dan tidak jarang menimbulkan masalah baru
yang bahkan tidak kalah rumit dampaknya. "Berbagai kesulitan yang
saat-saat ini kita hadapi bahkan lebih banyak berkaitan dengan masalah
baru itu," ujar Megawati.
Semula,
papar Megawati, dikatakan bahwa semua itu sekadar eforia yang harus
dipahami dan disikapi dengan sabar. Tetapi, ketika waktu terus berlalu,
semua kian merasakan berlangsungnya banyak hal yang dianggap kurang
menguntungkan. "Di tengah berbagai persoalan dalam gerak perubahan itu
sendiri, kita juga harus mengelola ekses-ekses yang mengikutinya. Di
antaranya dan yang selama ini sering kita rasakan adalah makin kurang
imbangannya sikap dan perilaku kita bila dibandingkan dengan tujuan,
langkah perubahan, dan pembaruan yang dihasilkan," ujarnya.
"Kita
sering kecewa bahwa langkah perubahan tidak kita laksanakan dalam
bentuk dan dengan cara sebagaimana kita harapkan. Begitu pula ketika
dalam rangka pembaruan kita mendambakan kehidupan ke arah yang lebih
demokratis dan mandiri, yang hadir adalah faham tentang kebebasan yang
seolah tanpa batas, dan menyulut pertikaian yang nyaris
memorakporandakan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. Kita juga
menghadapi kegetiran baru karena tampilnya keadaan yang kadangkala
dirasa lebih mundur dibandingkan kondisi umum yang pernah kita miliki
di masa sebelum era ini," kata Megawati.
Megawati
menyadari masih belum cukup waktu untuk melakukan perbaikan dan
perubahan berarti di bidang politik dan hukum. Warisan persoalan yang
mengakar dari masa lampau akhirnya malah tampak menjerat langkah
sendiri. Ketenangan penampilannya sebagai pemimpin tidak selalu
menjamin ketenangan di dada masyarakat.
Dia menyadari bahwa
banyak pihak yang tidak puas terhadap kinerjanya, yang menurut sebagian
orang lambat. "Waktu permulaan, ah… Presiden Megawati itu orangnya
lambat, tidak mau cepat memutuskan. Tidak mau ngomong. Ya, biar saja.
Yang penting, ke depannya lebih berguna, daripada buru-buru,
cepat-cepat," katanya dalam suatu acara. Megawati pun optimis, bila
rakyat mempercayainya memimpin bangsa ini lima tahun ke depan, akan
melanjutkan pemulihan ekonomi yang sudah tercapai dengan tingkat
pertumbuhan yang lebih tinggi. â–ºti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/megawati/biografi/02.shtml
Membangun Kembali Indonesia Raya; 8 Program Aksi Untuk Kemakmuran Rakyat
Prabowo Subianto wrote:
Saudara-Saudara FPK yang saya banggakan,
Jika mendapatkan lampu hijau dari Saudara Agus Hamonangan, Moderator, saya ingin mempost-kan 8 program yang saya tawarkan dan mulai iklankan hari ini. Mengingat Saudara semua di sini tajam wawasan, dalam, mengritisi usulan program ini. Saya ingin mendengar komentar-komentar Saudara di sini.
Jika tak keberatan juga di-CC-kan di: tinyurl.com/prabowo, di forum diskusi akan sangat bermanfaat.
Membangun Kembali Indonesia Raya
8 Program Aksi Untuk Kemakmuran Rakyat
1. Menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri
- Mengalihkan dana pembayaran utang luar negeri sebagai modal untuk membiayai program pendidikan, kesehatan, pangan dan energi, yang murah serta ramah lingkungan.
2. Menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan.
- Menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan ujung tombak kebangkitan ekonomi.
- Menghentikan penjualan aset negara yang strategis atau yang menguasai hajat hidup orang banyak.
- Meninjau kembali semua kontrak pemerintah yang merugikan kepentingan nasional.
- Mewajibkan eksportir nasional yang menikmati fasilitas kredit dari negara untuk menyimpang dana hasil ekspornya di bank dalam negeri.
- Membangun industri pengolahan untuk memperoleh nilai tambah.
3. Melaksanakan ekonomi kerakyatan
- Mencetak 2 juta Ha lahan baru untuk meningkatkan produksi beras, jagung, kedelai, tebu yang dapat memperkerjakan 12 juta orang.
- Mencetak 4 juta Ha lahan untuk aren (bahan baku bio etanol) yang dapat mempekerjakan 24 juta orang.
- Membangun pabrik pupuk ureak dan NPK dengan total kapasitas 4 juta ton.
- Memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil.
- Membangun sarana transportasi massal.
- Modernisasi pasar tradisional untuk pedagang kecil.
- Meningkatkan pendapatan per kapita dari USD 2.000 menuju USD 4.000
4. Delapan program desa
- Listrik desa.
- Bank dan lembaga keuangan desa.
- Koperasi desa, lumbung desa, pasar desa.
- Air bersih desa.
- Klinik desa.
- Pendidikan desa.
- Infrastruktur pedesaan dan daerah pesisir.
- Rumah sehat pedesaan.
5. Memperkuat sektor usaha kecil
- Prioritas penyaluran kredit perbankan kepada petani, nelayan dan pedagang kecil.
- Melarang penyaluran kredit bank pemerintah untuk pembangunan perumahan dan apartemen mewah, mall, serta proyek-proyek mewah lainnya.
- Melindungi pedagang pasar tradisional dengan melarang pembangunan pasar swalayan berskala besar yang tidak sesuai undang-undang.
- Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh migran (TKI).
6. Kemandirian energi
- Membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air (10.000 MW).
- Menyediakan sumber energi dengan mendirikan kilang-kilang minyal, pabrik bio etanol dan pabrik DME (pengganti LPG).
- Membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren – dengan sistim tanam tumpangsari – untuk produksi bahan bakar etanol, sebagai pengganti BBM impor. Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan sekitar 56 juta mt etanol/tahun).
7. Pendidikan dan kesehatan
- Mencabut undang-undang bahan hukum pendidikan.
- Pencabut pajak buku pelajaran dan menghentikan model penggantian buku pelajaran setiap tahun.
- Melaksanakan kembali program KB (Keluarga Berencana).
- Meningkatkan peran PKK, Posyandu dan Puskesmas.
- Menempatkan sarjana dan dokter baru melalui program pemerintah terutama di kantong-kantong kemiskinan.
- Menggerakkan revolusi putih dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin.
8. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup
- Melakukan penghijauan kembali 59 juta Ha hutan yang rusak serta konservasi aneka ragam hayati dan hutan lindung.
- Mengamankan dan merehabilitasi daerah aliran sungai.
- Mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan.
- Melindungi flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa.
Haluan baru. Pemimpin baru. Terobosan baru.
Terima kasih saya,
Prabowo Subianto
Ketua Dewan Pembina
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
Jiwa Baru, Mulut Baru
Oleh Samuel Mulia
1. Sumber dari segala sumber kehidupan adalah keadaan jiwa yang dari
dalam. Itu menurut pengalaman saya. Kalau bagian dalam saya rusak,
busuk karena sejuta alasan, maka hasil yang dikeluarkan lewat mulut
tentu sama sejuta banyaknya. Banyak busuk dan rusaknya. Maka, kalau
ada seseorang atau siapa pun dia punya mulut seperti tak pernah
disekolahkan, yaaa… karena yang bagian dalamnya juga tak pernah ikut
ke sekolah.
Makanya, saya ini bergelar tinggi, tetapi perilaku kayak anak enggak
sekolahan. Mungkin bisa diibaratkan begini. Buah mangga enak, ranum,
dan manis tak akan dihasilkan dari pohon yang busuk dan tidak sehat.
Demikian juga sebaliknya. Maka, marilah kita bebenah dari dalam
dahulu. Maksud saya, “kerusakan” jiwa itu harus dihayati, kemudian
cari solusinya. Dan yang paling utama, setelah itu mengambil keputusan
untuk mau menjadi manusia baru. Jiwa baru, mulut baru.
2. Kalau Anda enggak mau, enggak apa-apa juga. Tetapi, ingat saja
kalimat ini. Kuno memang. Basi, mungkin. “Apa yang Anda tabur, itu
yang Anda tuai.”
Saya dahulu tak percaya itu. Ternyata ada akibatnya. Suatu hari saya
butuh pertolongan, enggak ada yang bisa menolong. Selamat, masih ada
yang mau menolong. Yang menolong ditanya temannya, “Kok lo bisa sih
bergaul dan nolongin setan itu.”
Teman saya yang menolong bilang begini, “Kalau sama Samuel itu kita
yang mesti tebal muka. Padahal yang badak dia.”
Saya hanya mau memberi tahu, masih ada yang mau menolong saya saat
itu. Jangan berpikir akan selalu ada yang akan membantu.
3. Kalau Anda tak mau dikata-katai, yaaa… jangan mengata-ngatai. Itu
sudah kita ketahui bersama, tetapi mengapa masih saja terjadi? Saya
enggak tahu, coba Anda evaluasi. Mumpung hari ini adalah hari
istirahat. “Istirahat yaa… istirahat. Kok lo suruh mikir, sih. Ntar aja.”
Itu Anda tahu siapa yang berkicau. Itu juga sejujurnya saya. Saya tak
pernah punya waktu untuk mengevaluasi mengapa saya bermulut jahat,
tetapi saya selalu punya waktu untuk mengevaluasi tabiat orang lain.
4. Coba sebutkan nama binatang yang paling sering keluar dari mulut
Anda saat lagi kesal.
5. Coba sebutkan lima kata dasar yang sering meluncur mudah dari mulut
Anda saat Anda sedang naik pitam.
a. Dasar… (menyebut nama daerah); b. Dasar… (menyebut nama suku); c.
Dasar o..k u…g; d. Dasar g……; e. Dasar orang Indonesia.
Bagi mereka yang mengumpat dalam bahasa asing dan daerah, yaa…
evaluasi sendiri saja. Saya soalnya bodoh dalam bahasa.
Sesuatu yang Indah
Oleh Samuel Mulia
Tepat satu minggu lalu, saya menelepon seorang teman yang sedang
menjalani kemoterapi karena kanker. Melalui temannya, yang juga teman
saya, ia mengatakan tak mau dijenguk.
Duh… buat saya, SMS macam itu sangat menyenangkan. Menjenguk
merepotkan buat saya karena saya ini egois. Jadi, dengan ia tak mau
dijenguk, saya seperti mendapat durian runtuh. Tak perlu report-repot
bawa ini dan atau bawa itu. Masuk ke rumah sakit yang selain
menakutkan, juga mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu.
Sangat depresif.
Maka, saya heran kalau di rumah sakit ada ruang VIP atau VVIP. Toh,
buat saya, ya itu tetap rumah sakit yang mematahkan semangat hidup.
Saya pernah di tempat semacam itu. Sudah harganya mahal, tetapi tetap
menakutkan. Meski ada pendingin ruangan, sofa yang besar dan empuk, TV
layar datar dengan segala saluran acara dunia, bunga indah di vas, dan
makanan sedikit lebih canggih dari kelas di bawahnya, tetapi toh
menunya jauh dari kata enak, nikmat, dan lezat. Itu semua tetap tak
menyemangati saya yang sakit.
Yang merontokkan
Hal yang saya butuhkan bukan apa yang indah di luar, tetapi dukungan
moril menghadapi keadaan bernama sakit. Jadi, bagaimana moril di dalam
dihibur dengan kenyamanan yang berasal dari luar? Itu baru satu
persoalan dari luar. Masih ada persoalan lain dari luar lagi, yaitu
mendengar kalimat yang keluar dari mulut seorang dokter.
Tak jarang kalimatnya makin menekan mental yang sedang dalam proses
menerima keadaan tidak sehat itu. Itu belum memikirkan dokter yang
ketus, kalau ditanya diam seperti patung, muka judes, dan tak
bersahabat. Saya kadang heran bagaimana ada orang melayani seperti itu?
"Dokter kan manusia juga, bukan cuma rocker. Memang lo bisa?" kata
nurani saya.
Perkataan yang tidak membangun itu datang dari seorang dokter yang
menangani teman saya tadi. Ia memutuskan untuk memangkas habis rambut
teman saya. Saya tanya, mengapa? Ia menjelaskan, itu prosedur untuk
masuk ke ruang steril. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Dokternya
juga bilang, enggak papa-lah digundulin, toh nanti juga rontok dan
gundul."
Saya marah mendengar penjelasan itu. Bagaimana ada dokter memilih
kalimat yang tidak menyemangati? Membuat mental pasien makin melorot
di tengah ia sedang mencoba menerima hidupnya juga tak menentu?
Mengapa perkataan itu tidak membangun meski sang dokter tahu
kemungkinan hidupnya kecil secara medis? Mengapa ia memilih kalimat
yang berefek seperti melihat botol setengah habis dan bukan memilih
kalimat seperti melihat botol setengah penuh?
Apalagi kondisi teman saya itu secara laboratoris sangat buruk, tetapi
kondisi fisiknya seperti orang sehat walafiat. Rambutnya rontok saja
tidak, makan lahap. Mengapa seseorang lebih memilih perkataan yang
bukan indah, yang "kotor" dan yang kotor, yang tidak menyemangati,
yang menekan mental?
Setelah bercakap-cakap dengan teman saya itu, saya duduk terdiam.
Duduk di sofa menghadap jendela. Jakarta mendung tiba-tiba setelah
panas terik pada pagi hari. Setelah emosi berkurang, saya tersenyum
sendiri. Saya tadinya berpikir mau mengusulkan supaya dokter-dokter
itu juga perlu dididik kalau bicara. Diajarkan tata krama
berkomunikasi, yaaah… macam ikut latihan public speaking. Tetapi, baru
saja niat itu tebersit, eh… nurani saya mulai beraksi, "Kenapa kok
enggak lo saja yang latihan mulut dulu?"
Yang membangun
Waduh… celaka tiga belas. Tersindir lagi, yahhh… harus diakui, mulut
saya juga senangnya menekan banyak orang, membuat orang keder, membuat
orang sakit hati, dan membuat orang menangis. Yang paling payah,
membuat orang jadi terancam, tidak percaya diri, merasa bodoh, dan
merasa direndahkan. Mulut saya seperti petugas investigasi di film CSI.
Kalau dapat bukti sidik jari di TKP langsung berkata dengan nada
ancaman, "Anda adalah tersangka utama." Padahal, belum mendengar
cerita si tersangka dan melihat hasil di laboratorium kriminal yang
canggih itu. Kadang hasilnya juga keliru. Tetapi, katanya mengeluarkan
kalimat menekan dan menuduh itu teknik. Saya enggak tahu teknik apaan,
lha wong saya bukan petugas macam CSI.
Jadi, saya berpikir membuat dunia sebagai tempat yang menyenangkan,
mungkin bukan soal lingkungan hidup semata, juga bukan hanya soal
stabilitas politik dan ekonomi, tetapi juga memiliki manusia yang
mulutnya membangun, yang menyemangati Apalagi kalau seperti saya ini,
kuli tinta. Seyogianya saya harus menulis tetap berdasarkan fakta dan
berimbang, tetapi dengan suatu bungkus indah.
Pelajaran itu saya dapati saat menanti acara peragaan busana seorang
teman lama dua minggu lalu. Saya bertanya bagaimana kondisi bisnis
pakaian jadinya sekarang? Apakah terimbas atau tenang-tenang saja.
Ia tak menjawab secara langsung. Begini ia berkomentar, "Kita itu dulu
jaya secara ekonomi dan itu membuat kita keblinger. Seperti seorang
yang tidak mengontrol asupan makanannya. Semua dimakan, tanpa diet
benar. Maka, krisis ekonomi itu seperti melihat si keblinger sedang
panik melihat hasil pemeriksaan kesehatannya."
Ia melanjutkan, "Ternyata hasilnya banyak merahnya. Kolesterol buruk,
asam urat tinggi, gula darah juga, apalagi SGOT dan SGPT yang aduhai
tingginya. Maka, si keblinger memutuskan kembali pada kehidupan yang
sehat. Krisis itu justru berfungsi sebagai diet yang benar, yang
harusnya memang dilakoni demikian, bukan berlebihan dan menjadi bumerang.
"Jadi, sekarang adalah masa kita menuju kepada kondisi yang mula-mula,
yang benar, yang sehat, yang bukan keblinger. So, apa yang mesti
ditakuti? Lha wong kita menuju mau sehat, kok."
Saya cuma menganggut-anggut. Kalau saya kuli tinta soal bisnis,
mungkin saya seyogianya menulis kondisi ekonomi yang buruk itu, dari
sesuatu yang membangun dan kemudian dikomunikasikan demikian juga.
Terus saya berpikir, bagaimana kalau ada orang yang mengumpat. Mungkin
saya harus membalas dalam hati saja, "Tuhan, ampunilah dia karena tak
tahu bedanya manusia dari anjing. Lha wong saya ini kakinya dua, kok."
Nurani saya kemudian ikut-ikutan, seperti biasa. "Lah… gonggongan lo
itu dah plek-plek sama. Makanya lo dianjingin."
Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
Pertemuan Badan Pengurus YLBHI dengan Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial
*SIARAN PERS*
*Nomor 025/SP/YLBHI/III/2009*
Pertemuan Badan Pengurus YLBHI dengan Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial
Pada hari Selasa, 10 Maret 2009, telah diadakan pertemuan antara Wakil Ketua
Mahkamah Agung (MA) bidang non-yudisial Ahmad Kamil dengan Badan Pengurus
Yayasan LBH Indonesia (YLBHI). Pertemuan diadakan di ruang kerja Wakil Ketua
MA di Gedung MA, Jakarta, dan dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus YLBHI Patra
M. Zen, Wakil Ketua (internal) YLBHI Tabrani Abby, Direktur Riset YLBHI
Zainal Abidin, Direktur Publikasi dan Pendidikan Publik YLBHI Agustinus Edy
Kristianto, dan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Cicut Sutiarso.
Inti pembahasan antara kedua belah pihak itu adalah mengenai upaya-upaya
untuk memperluas akses keadilan bagi masyarakat miskin. Secara lebih
spesifik, mengenai bantuan hukum cuma-cuma bagi golongan masyarakat kurang
mampu. Wakil Ketua MA bidang non-yudisial Ahmad Kamil mengungkapkan pada
tahun ini MA membuka diri selebar-lebarnya bagi pihak-pihak luar MA untuk
memberikan masukan bagi kemajuan lembaga peradilan tertinggi tersebut.
Khusus mengenai akses keadilan bagi masyarakat miskin, Ahmad Kamil mengakui
hal itu juga menjadi fokus perhatian pimpinan MA saat ini.
Soal kerjasama antara MA dan YLBHI, Patra M. Zen mengakui pada masa-masa
sebelumnya sudah terjalin kerjasama antara kedua lembaga. Sebagai lembaga
yang telah 38 tahun berkecimpung dalam pemberian bantuan hukum bagi orang
miskin, Patra mengatakan bantuan hukum bagi orang miskin menjadi sektor yang
penting bagi MA untuk menumbuhkan kepercayaan publik terhadap lembaga
peradilan tertinggi itu.
MA sendiri telah mengembangkan inisiatif untuk memperluas akses keadilan
bagi masyarakat miskin dengan program bantuan hukum bagi golongan masyarakat
kurang mampu. Praktek pemberian bantuan hukum cuma-cuma bagi golongan
masyarakat kurang mampu telah berlangsung sejak dekade 1980-an di setiap
Pengadilan Negeri. Pada tahun 2004, MA menerbitkan buku berjudul *“Bantuan
Hukum Bagi Golongan Masyarakat Kurang Mampu” *yang di dalamnya memberikan
panduan bagi masyarakat yang tidak mampu untuk mendapatkan bantuan hukum
melalui Pengadilan Negeri dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Menurut Ahmad Kamil, merupakan suatu pemikiran yang bagus, untuk terus
membuka kesempatan bagi orang miskin mendapatkan haknya atas keadilan. Pada
tahun ini, MA memiliki anggaran untuk meningkatkan pelayanan dalam sektor
tersebut, yang dimasukkan dalam pos penegakan hukum dan hak asasi manusia.
Telah ada satuan kerja di setiap pengadilan untuk mengakselerasi program
tersebut. Akselerasi program itu juga akan dilakukan di MA.
Sebagai informasi, Daftar Isian Proyek Anggaran (DIPA) MA tahun ini sebesar
Rp 5,47 triliun.
*Jakarta, 10 Maret 2009*
*Badan Pengurus*
* *
* *
*Agustinus Edy Kristianto*
*Direktur Publikasi dan Pendidikan Publik*
Agustinus Edy Kristianto
Direktur Publikasi dan Pendidikan Publik
Badan Pengurus
Yayasan LBH Indonesia
Jalan Diponegoro No. 74 Jakarta 10320
INDONESIA
Telepon: (+62 21)392 98 40
Faks. (+62-21) 392 98 40 / 319 30 140
Ponsel (+62) 856 9161 4625
agustinus.kristianto@…
www.ylbhi.or.id
Intelejen dan Islam Radikal
Heri Latief
"menengok ke belakang mengintip ke depan"
bagaimana pendapat pembaca setelah membaca artikel yg ditulis "he-man" yg moderator milis wanita muslimah ini?
artikel lama yg ceritanya sampai sekarang masih hot!
salam, hl
Sun Dec 25, 2005 12:46 pm
Intelejen dan Islam Radikal
oleh : He-Man*
Setelah Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan padakondisi
ideologi Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih dianggap
sebagai sebuah ancaman besar bagi rezim Karena itulah rezim orba
kemudian mengeluarkan kebijakan ideologis untuk menanganinya. Kebijakan
ideologis dan politis pada masa awal orba yang di tempuh adalah
menghancurkan kaum komunis, menekan kaum nasionalis, dan mencegah
naiknya kekuatan islam.
Setelah kekuatan komunis ditumpas habis, maka kekuatan kaum nasionalis seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno menyingkirkan
Hardi yang kritis pada pemerintah. Motor utama untuk melaksanakan
kebijakan ideologis orba ini diserahkan kepada aparat intelejen
Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan nasionalis. Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam.
Kebijakan terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan
kebijakan terhadap kelompok komunis dan nasionalis. Walaupun tergabung
dalam Nasakom tapi kelompok Islam memiliki peran dan jasa besar dalam
menghancurkan kekuatan komunis dan meruntuhkan rezim Soekarno selain
karena kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut
agama Islam.
Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk
menghadapi kekuatan islam ini. Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam
maka pemerintah harus memiliki alasan dulu untuk menekankannya.Dan
kemudian intelejen sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk
melaksanakan ini kemudian memilih untuk menggunakan tangan kaum radikal
Islam.
Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya
menjadi sangat mudah dikendalikan. Psikologi kaum radikal adalah
psikologi orang marah, seperti yang diketahui orang marah sangat
kehilangan daya nalar kritis dan akal sehatnya, sehingga bila mereka
liar akan sangat tidak terkontrol sebaliknya juga mereka menjadi sangat
mudah dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya sebagai pion yang
sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan penyuruhnya
sekaligus bisa dikorbankan dengan sangat mudah.
Dan inilah yang disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian
merekrut para mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam
Siliwangi. Aksinya ini ditolak oleh Kepala Bakin pada masa itu Jenderal
Sutopo Juwono juga petinggi Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany
(yang kemudian akhirnya di dubeskan), akan tetapi Ali Moertopo tetap
pada pendiriannya dengan tetap membawa para mantan DI/TII ini ke
Jakarta.
Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari
Kartosuwiryo yaitu Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki, juga
Adah Djaelani Tirtapraja (Ma'had Al Zaitun), Rahmat Basuki (tersangka
pengeboman BCA), Amir Fatah, H Ismail Pranoto (Komando Jihad), Danu
Muhammad Hasan, Helmy Aminuddin (Gerakan Tarbiyah) dll.
Tebar, Pancing dan Jaring
Karena tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali Moertopo
pun membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan Opsus. Mereka
kemudian mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang sangat besar
sehingga menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa itu
terutama dari kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka
dengan susah payah bahkan bertaruh dengan nyawa.
Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka protes-protes itu berhasil diredam. Sejumlah perwira yang menentang proyek itu pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan.
Ali Moertopo kemudian membina mereka dengan pelatihan-pelatihan
intelejen, seperti pembentukan jaringan, teknik perekrutan anggota,
penyamaran, pembuatan propaganda, operasi cuci otak, teknik teror dan
intimidasi dan lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa kelompok
radikal sangat ahli dalam melakukan ini semua).
Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk
menerapkan ilmunya. Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi, pemboman
BCA, penyerbuan kantor polisi di Cicendo, Wolya, Lampung, Borobudur
dll, dimana semua peristiwa ini dilakukan oleh para mantan DI/TII
binaan opsus.
Dan aparat pun menangkapi mereka lagi bahkan sebagiannya juga
dikorbankan dan dibunuh. Tapi setelah tertangkap mereka kemudian
dilepas lagi untuk melakukan aksi-aksi lainnya. Berkat
peristiwa-peristiwa itu pemerintah mendapat legimitasi untuk menekan
kelompok-kelompok Islam. Sejumlah aktivis masjid di Bandung ditangkapi
bahkan organisasi remaja masjid di masjid Istiqamah yang pada waktu itu
menjadi "Mekkah" nya aktivis muda islam pun dibubarkan dengan tuduhan
terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya yang dilakukan oleh jamaah Imron
yang diprovokasi oleh Najamuddin seorang anggota intelejen binaan Bakin
dari Batalyon Artileri Medan, sejumlah kyai NU di Jawa Timur ditangkapi
bahkan dilenyapkan dengan tuduhan terlibat Komando Jihad yang
dikomandani oleh Haji Ismail Pranoto binaan Opsus. Keterlibatan
intelejen dalam kasus-kasus tersebut semakin kentara ketika dalam kasus
persidangan Danu Mohammad Hassan misalnya, ia mengaku sebagai orang
Bakin. "Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin." (Lihat
Tempo, 24 Desember 1983). Belakangan Danu mati secara misterius, tak
lebih dari 24 jam setelah ia keluar penjara, dan konon ia mati diracun
Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah
kelompok melakukan perlawanan yang dengan segera ditumpas dengan kejam
oleh militer. Peristiwa-peristiwa ini kemudian menjadi legimitasi bagi
aparat untuk melakukan sensor dan pengawasan yang ketat pada aktivitas
dakwah. Para da'i harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua
kegiatan dakwah harus dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan
mencegah penyebaran paham radikal. Lalu pemerintah pun menetapkan
kebijakan asas tunggal Pancasila dengan alasan untuk menekan penyebaran
ideologi-ideologi yang menyimpang.
Sejumlah kelompok Islam yang menentang kebijakanini pun segera
dibekukan, HMI kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO
yang menolak asas tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII), BKPRMI dan
beberapa ormas islam lain dibubarkan. Pemerintah juga mendirikan
sejumlah organisasi islam baru pendukung asas tunggal yang rata-rata
dibawah binaan Golkar. Dengan demikian semua kekuatan oposisi
pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan dengan metode
tebar, pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.
Strategi Pecah Belah dan Kuasai
Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi
kekuatan Islam pun berubah. Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali
Moertopo mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah
instabilitas. Strategi yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih
soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.
Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan
kepemudaan islam mulai marak. Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh
pesat di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian
kalangan aktivis muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi
dakwah kultural dan berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal
saja organisasi remaja masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim
jemput bola pada remaja-remaja bermasalah seperti anggota gank motor,
pecandu narkoba dll
Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu
point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah
memastikan semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada
dalam cengkraman dan kendali pemerintah. Bukan saja organisasi
keagamaan atau politik tapi juga organisasi profesi seperti IDI atau
organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah kendali pemerintah
dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau tidak mendapat 'restu'
dari pemerintah.
Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis
taklim yang tumbuh pada masa itu tidak demikian. Organisasi-organisasi
itu bersifat independen dengan struktur organisasi yang cair. Akan
tetapi pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa.
Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera
dikontrol. Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua
organisasi dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan
formal dimana kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi
tersebut. Dan pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan
memfasilitasinya dengan menempatkan organisasi-organisasi tersebut
untuk berkantor di masjid negara Istiqlal. Akan tetapi eksperimen ini
gagal, para aktivis yang berusaha menjaga jarak dengan pemerintah
menolak mengikuti gagasan tersebut.
Akan tetap intelejen kemudian memiliki pemikiran lain. Kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut harus dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rezim, bagi kalangan intelejen bila tidak mampu menundukkan
sebuah kekuatan/kelompok maka kekuatan/kelompok itu harus disusupi
kemudian dimanfaatkan akan tetapi mereka harus dikebiri terlebih dahulu
kekuatan untuk melumpuhkan potensi ancamannya. Kekuatan utama dari
gerakan Islam pada dasarnya bukanlah pada banyaknya jumlah anggota
mereka melainkan pada kedekatan mereka pada ummat dan ukhuwah mereka
dengan kekuatan Islam yang lain. Dan dua aspek penting inilah yang
menjadi target intelejen untuk dilumpuhkan. Kebijakan 'massa
mengambang' adalah doktrin utama ideologi orba untuk mencegah sebuah
kelompok terlalu dekat dengan masyarakat, semua kelompok harus berada
dalam 'kotaknya' masing-masing.
Dan Bakin pun menugaskan Soeripto sebagai Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986-2000 dengan misi
utama membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di kalangan
remaja masjid dan gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan
pengawasan intelejen. Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini
merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia
dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957.
Ia kemudian bergabung oleh Kodam Siliwangi sebagai kader militer
Sukarela pada tahun 1967 dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto
kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono,
Soerono dan Wahono), dan secara struktur dibawah komando Yoga Sugama di
Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono. Sempat menduduki jabatan
sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi
Strategis/Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk
normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981. Saat ini Soeripto
memegang jabatan di DPP Partai Keadilan Sejahtera dan menjadi anggota
DPR-RI asal partai ini dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan dengan
nomor urut 1. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy
Aminuddin putra dari Danu Muhammad Hasan.
Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII
sebelum akhirnya ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan ditahan
tanpa pengadilan di Rumah Tahanan Militer di Cimanggis dan dibebaskan
antara tahun 1983-1984. Pada masa itu ada rumus utama untuk menentukan
aktivis binaan intelejen yaitu semua anggota ekstrim kanan yang
dipenjarakan dan dibebaskan antara tahun 1970-1988 atau di masa
kekuasaan Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua jendral yang paling anti
Islam dan gerakan Islam sudah pasti telah menjadi suruhan intel untuk
menghancurkan gerakan Islam.
Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang saat ini menjabat sebagai
Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di bawah
binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari
mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara
organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh
Sa'id Hawwa pimpinan khwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985.
Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah dukungan Bakin di bawah
komando Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun
1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang
diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul, Al Islam dan
Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi
bacaan wajib para kader inti gerakan.Helmy Aminuddin sendiri kemudian
menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.
Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran
ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian
juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal
ini melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang
sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena
mendapat subsidi. Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun
tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah
padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan
buku-buku terbitan GIP pada masa itu dijual dengan mulai harga 600-5500
rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong
pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku
sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam
yang lain.
Tujuan utama pembentukan kelompok ini oleh intelejen adalah
menghancurkan dan melumpuhkan semua kelompok dakwah pemuda dan remaja
masjid yang tidak berada dalam kontrol pemerintah lalu menyatukan
semuanya dalam satu kelompok besar yang bisa dikendalikan aparat
intelejen.Selain itu juga jama'ah tarbiyah juga diberi peran untuk
memutus mata rantai hubungan kelompok-kelompok aktivis masjid dengan
masyarakat juga dengan ormas islam lain.
Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil
alihan khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah tarbiyah seperti
mobilisasi massa, black propaganda, penculikan aktivis, teror dan
intimidasi dll seperti yang pernah terjadi di masjid Salman ITB pada
tahun 1994 dimana kader-kader binaan intelejen yang dikenal dengan
julukan "gerobak" singkatan dari Gerombolan Batak melakukan aksi
pengambilalihan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian
langsung melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman. Seluruh
aktivis yang tidak mengikuti kelompok mereka disingkirkan. Semua
aktivitas dakwah yang berhubungan dengan masyarakat luas dihentikan
demikian juga semua bentuk hubungan dengan organisasi dakwah lain
dibekukan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk pembinaan internal
demi mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid.
Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan dengan indoktrinisasi.
Semua aktivitas yang melibatkan partisipasi masyarakat luar dihentikan.
Pembinaan pada kalangan luar masjid seperti kalangan remaja akhirnya
menjadi hanya lembar sejarah lama. Hubungan silaturahmi dengan
organisasi dakwah lain yang tidak 'sefikrah' dihentikan total.
Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing
bagi masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian.
Isu masalah jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya
menggusur isu mengenai kenakalan remaja, isu jilbab menjadi agenda yang
menjadi prioritas utama mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.
Dalam hal hubungan dengan organisasi dakwah lain pun sontak mencapai
titik terendah. Kajian jamaah tarbiyah yang disebarkan kepada
anggotanya mengenai kelompok dakwah lain diarahkan untuk memberi citra
negatif yang dipenuhi prasangka dan kecurigaan serta paham kebencian.
Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan
aktivis masjid pun dilumpuhkan total. Dengan dilumpuhkannya kekuatan
utama kelompok dakwah masjid ini maka aktivis dakwah masjid tidak lagi
dianggap sebagai ancaman, maka tindakan represi terhadap kelompok ini
pun dilonggarkan. Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka
intelejen pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada
mereka. Itulah sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah tidak pernah
mendapat gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar
paham radikal. Dengan dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal
maka peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh gabungan massa dari
berbagai ormas pemuda dan remaja islam seperti pada waktu penolakan RUU
Perkawinan pun tidak perlu dikuatirkan lagi.
Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal
islam lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk
mengawasi dan mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup
memegang kepalanya saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh.
Paham eksklusif kelompok radikal menjadi penentu sukses penggunaan
metode "pecah belah dan kuasai" kelompok-kelompok Islam
dan memotong 'sayap' mereka sehingga tidak bisa lagi 'terbang' sehingga
aktivis islam bagi pemerintah hanyalah sekelompok unggas saja.
Akan tetapi ada misi lain dari pembentukan kelompok radikal ini oleh
intelejen. Yaitu sebagai media yang akan menyediakan "korban" dalam
jumlah yang cukup besar. Operasi intelejen adalah operasi rahasia yang
memerlukan bukan saja pengorbanan waktu, materi dan pikiran tapi juga
nyawa. Para kader intelejen selalu merupakan kader terbaik di
kesatuannya karena operasi intelejen hanya bisa dirancang dan
dilaksanakan oleh personel-personel yang memiliki bukan saja kualitas
teknik terbaik tapi juga bisa bersikap dan berpikir secara taktis dan
strategis. Oleh karena itu terlalu mahal kalau harus mengorbankan
kadernya sendiri. Maka intelejen pun selalu berusaha merekrut
orang-orang di luar kalangannya untuk melakukan "pekerjaan kotor"
mereka juga untuk "mencucikan baju kotor" mereka. Kalangan yang secara
tradisional dimanfaatkan intelejen diantaranya para advonturir dan para
tahanan dengan imbalan dan janji-janji tertentu. Inilah yang dilakukan
sebelumnya pada para tahanan DI/TII yang diberi kebebasan, dana,
pelatihan dan janji (yang seringkali bahkan selalu palsu) untuk
mendukung perjuangan politik mereka.
Akan tetapi cara ini kemudian dianggap terlalu mahal dan "korban" yang tersedia terlalu sedikit sehingga dalam beberapa tahun saja atau
beberapa kali operasi, orang yang dikorbankan menjadi tidak cukup. Dan
berdasarkan pengalaman dalam sejumlah operasi intelejen dan kontra
intelejen ke tubuh kelompok Islam maka ditemukan sesuatu hal yang
menarik yaitu betapa bodohnya orang fanatik.
Dan orang fanatik pun menjadi korban yang paling sempurna untuk sebuah operasi intelejen. Para advonturir rata-rata selalu mencari keuntungan
dalam menjalankan tugas dan mereka lebih dibutuhkan agar tetap hidup
sebagai boneka atau tameng, sementara para mantan tahanan politik
seringkali kadang bertindak diluar kontrol karena memiliki agenda
tersendiri.
Syarat utama seorang pelaksana tugas lapangan intelejen adalah pertama mereka harus tau sesedikit mungkin bahkan lebih baik tidak tau sama
sekali, yang kedua mereka bisa bahkan secara sukarela mau untuk
dikorbankan nyawanya tanpa imbalan apapun. Karena bila ada sesuatu yang
terjadi maka pihak intelejen bisa mencuci tangan dan sekaligus memiliki
kambing hitam, bahkan seringkali dibutuhkan orang atau kelompok yang
perlu dikorbankan nyawanya untuk menaikkan citra. Dan kaum fanatik
menjadi kandidat paling sempurna. Mereka tidak dianggap terlalu
berharga, terlalu bodoh dan tidak terlalu banyak bertanya, dan selalu
rela mengorbankan diri dan nyawanya demi tujuan suci kelompoknya (yang
bisa dengan mudah dibelokkan intelejen).
Atas alasan inilah pihak intelejen memfasilitasi dan mensponsori
pembentukan kelompok radikal Islam ini dengan memafaatkan para mantan
tahanan DI/TII yang merasa mereka memanfaatkan intelejen untuk
mendukung cita-cita mereka. Para anggota level bawah kelompok radikal
Islam ini dibuat untuk tidak banyak tau bahkan tidak tau apa-apa
tentang apa dan bagaimana keadaan di atas mereka. Sampai artikel ini
dibuat saya berani jamin hanya sangat sedikit anggota jama'ah tarbiyah
bahkan yang sudah belasan tahun bergabung sekalipun yang tau bahwa
Helmy Aminuddin adalah mursyid 'aam gerakan mereka dari tahun
1991-1998, apalagi untuk tau latar belakangnya.
Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan
serta merta ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya. Yang
ia tau hanya bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya
dan berusaha mengapai tujuan kelompok dengan semua cara. Dan yang lebih
menarik lagi adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara massal
dan cepat dengan hasil yang maksimal.
Sehingga tidak heran kelompok radikal Islam Indonesia akhirnya memiliki
ciri khas yang lain dari kelompok radikal islam di negara-negara lain
terutama dalam hal hubungan mereka dengan militer dan intelejen.
Kelompok-kelompok radikal islam timur tengah misalnya selalu berada
dalam posisi vis a vis dengan militer dan intelejen. Sementara kelompok
radikal Islam Indonesia justru sebaliknya, mereka justru bermesraan
dengan militer dan intelejen.
Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS
sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan
pemihakan pada kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan
jelas siapa sebenarnya mereka. Tapi sungguh disayangkan para pion ini
tidak pernah sadar bahwa dirinya cuma pion.
* Penulis adalah mantan Sekretaris II Badan Komunikasi Pemuda
Remaja Masjid Indonesia Wilayah Jawa Barat (2000-2003) dan
moderator mailing list wanita-muslimah@yahoogroups.com
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/
Prabowo bukanlah “Bung Karno kecil”
Catatan A. Umar Said
Menjelang makin dekatnya penyelenggaraan pemilihan legislatif dan presiden
yang akan datang, kiranya menarik bagi kita untuk sama-sama menyimak kembali
isi berita Gatra 7 Februari 2009, yang ringkasannya berbunyi antara lain
seperti berikut :
« Tepuk riuh ratusan pendukung dan simpatisan sontak bergema memenuhi ruang
Balai Sarbini, Semanggi, kala mantan politisi senior PDI Perjuangan tampil
di depan podium pada HUT pertama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra),
Jum`at (6/2) malam.
Permadi, yang baru tiga hari bergabung dengan Gerindra, secara khusus
didaulat untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, pada para kader,
pendukung dan simpatisan partai berlambang kepala garuda emas itu. "Saya
bergabung dengan Gerindra, karena sosok Prabowo-nya," katanya,
Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto, di mata Permadi, adalah Bung
Karno kecil karena visi dan misi partai yang bangunnya sangat berbau
Soekarnois, seperti slogan `kembali ke UUD 1945`, `Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika`, belum lagi `Berdikari` alias berdiri di atas kaki sendiri.
"Saya yakin, dengan kemampuan dan pengetahuannya, Prabowo pada masa datang
dapat melebihi pesona Megawati Soekarnoputri," ujarnya mantap, yang lantas
disambut teriakan yang meriah oleh kader, pendukung, dan simpatisan Gerindra
(kutipan dari Gatra selesai).
Seandainya diucapkan oleh sembarangan orang, penyebutan bahwa Prabowo
adalah "Bung Karno kecil" akan bisa dianggap remeh atau ditanggapi sebagai
angin lalu saja Tetapi karena ini diungkapkan oleh Permadi, mantan "tokoh"
PDI Perjuangan dan anggota DPR, yang juga Sukarnois yang biasanya lantang
suaranya, dan juga sebagai seorang paranormal (tukang peramal) yang cukup
dikenal, maka masalahya menjadi lain.
Apalagi ungkapan ini dikumandangkan menjelang pemilu 2009, antara lain dalam
HUT partai Gerindra, yang bisa menimbulkan effek tertentu dalam opini umum.
Mengingat pentingnya penyebutan Prabowo sebagai "Bung Karno kecil", dan
kemungkinan dampaknya yang menyesatkan bagi banyak orang, maka tulisan ini
mencoba mengajak para pembaca untuk bersama-sama menelaahnya.
Penghinaan kepada Bung Karno
Tanpa bermaksud menghina atau merendahkan penilaian Permadi bahwa Prabowo
adalah "Bung Karno kecil" (pendapat begitu itu adalah haknya sepenuhnya !),
dalam tulisan ini disajikan berbagai pendekatan terhadap masalah ini,
karena banyak sekali hal-hal yang perlu dipersoalkan,
atau patut difikirkan bersama.
Penyebutan Prabowo sebagai « Bung Karno kecil" merupakan penghinaan kepada
Bung Karno, pemimpin besar bangsa Indonesia yang sampai sekarang belum ada
tandingannya. Sebab, ditinjau dari banyak segi, seluruh sejarah hidup
revolusioner Bung Karno bertentangan sama sekali atau bertolak belakang
dengan sejarah hidup Prabowo. Bisa diibaratkan dengan bumi dan langit.
Kalau Prabowo adalah "Bung Karno kecil" maka ini berarti bahwa ia
betul-betul harus mengerti atau menjiwai gagasan-gagasan besar dan
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno yang tercermin dalam karya-karya
agungnya, umpamanya : Indonesia Menggugat, Lahirnya Pancasila, Dibawah
Bendera Revolusi, Revolusi Belum Selesai dan banyak karya bersejarah
lainnya.
Artinya, kalau Prabowo memang "Bung Karno kecil" maka ia tentunya menerima
sepenuhnya atau menyetujui Pancasila (versi asli Bung Karno), Berdikari,
Manipol-Usdek, Tavip, Nasakom dan ajaran-ajaran Bung Karno lainnya. Tetapi
apakah Prabowo sungguh-sungguh menerima sepenuhnya atau betul-betul
menyetujui seluruhnya ajaran-ajaran dan gagasan-gagasan revolusioner Bung
Karno adalah satu soal yang sekarang ini masih belum jelas, sehingga
mengatakan bahwa Prabowo adalah "Bung Karno kecil" merupakan ungkapan yang
bisa dianggap gegabah atau sembarangan.
Tidak gampang menjadi "Bung Karno kecil"
Memang, dalam pidatonya di HUT partai GERINDRA, Prabowo sudah
menyebut-nyebut Bung Karno, bahkan mengutip pidato Bung Karno, yang antara
lain berbunyi sebagai berikut :
"Proklamator kita , Bung Karno, pernah meramalkan hal ini terjadi.
Bahwa kita terperangkap dalam suatu era neo-kolonialisme dan
Neo-imperialisme. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang beliau
miliki, pada saat ini kita harus mengakui, pandangan beliau jauh
kedepan dan terbukti bahwa kita memang sedang dalam keadaan terjajah
secara ekonomi
"Saya mengutip apa yang pernah disampaikan Proklamator kita pada sebuah
kongres di tahun 1932; "Beri aku seribu orang dan dengan mereka aku
akan menggerakkan gunung Semeru, tapi berilah aku sepuluh pemuda yang
membara cintanya kepada tanah air dan aku akan mengguncang dunia…"
Di samping itu, dalam pidatonya itu, Prabowo sudah mengutarakan
pandangan-pandangan yang patriotik, yang nasionalis, yang pro rakyat kecil,
yang anti-neoliberal, yang anti dominasi modal asing, yang sepintas lalu
terdengar mirip-mirip dan bisa disamakan dengan pidato-pidato Bung Karno.
Namun, kiranya kita tidak bisa dengan gampang-gampangan menamakan Prabowo
sebagai "Bung Karno kecil" hanyalah karena ia sudah mengutip pidato-pidato
Bung Karno atau bicara galak tentang neo-kolonialisme dan neo-imperialisme.
Kalau begitu, maka setiap "tokoh" yang berani dan rajin mengutip Bung Karno
atau bicara lantang menentang imperialisme lalu bisa dinamakan "Bung Karno
kecil" ?.
Rejim Suharto adalah musuh besar Bung Karno
Memang, adalah suatu hal menarik untuk sama-sama kita perhatikan bahwa
Prabowo, yang dulunya Letnan Jenderal TNI-AD, dan lama menjadi pimpinan
Kopassus dan Komandan KOSTRAD — satuan-satuan militer yang merupakan
tulang punggung utama kekuasaan Suharto – sudah mengangkat Bung Karno dalam
pidato-pidatonya. Terlepas dari segala pertimbangan atau latar belakang
sebenarnya mengapa ia menyebut-nyebut Bung Karno, yang bisa memberikan
kesan bahwa ia menghargai pemimpin besar bangsa kita ini, ucapannya yang
begitu itu adalah suatu perkembangan yang perlu mendapat perhatian kita
semua.
Sebab, apakah sikapnya mengenai Bung Karno itu betul-betul datang dari
lubuk hatinya yang tulus dan juga lahir dari kesadaran politiknya yang dalam
, dan apakah sebaliknya hanya sebagai lamis bibir dan salah satu siasat
saja dalam rangka meraih simpati sebagian opini publik, ini masih merupakan
tanda tanya yang besar. Ini mengingat bahwa ia sampai kira-kira sepuluh
tahun yang lalu, masih menjadi satu dengan rejim militernya Suharto, yang
dalam hakekatnya adalah musuh besar Bung Karno.,dan bahkan, pengkhianat
besar Bung Karno.
Di samping itu perlulah kiranya kita ingat juga bahwa Prabowo sudah pensiun
dari jabatan kemiliterannya, dan ia bicara sebegitu baik tentang Bung Karno
itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum partai GERINDRA. Namun, mengingat
sejarah kemiliterannya yang sangat menonjol di kalangan TNI (terutama AD)
di masa lalu dan kemungkinan masih adanya pengaruh tertentu sekarang ini di
kalangan militer (yang masih aktif maupun yang sudah pensiun) maka sikapnya
mengenai Bung Karno (kalau benar-benar tulus dan tidak palsu !!!) merupakan
hal yang baru dalam masalah hubungan TNI (AD) dengan Bung Karno.
Fenomena yang demikian ini menunjukkan bahwa sekarang ini, sebagian dari
kalangan pendukung Orde Baru, (baik dari kalangan sipil maupun militer)
makin sadar akan kebenaran berbagai gagasan-gagasan Bung Karno mengenai
masalah-masalah bangsa. Kalau (sekali lagi : kalau !) berbagai ungkapan
Prabowo mengenai Bung Karno itu memang betul-betul merupakan kesedaran
politik, maka akan bisa mempunyai arti yang tidak kecil. Sebab, bisa
merupakan dorongan akan adanya perubahan sikap kalangan militer terhadap
Bung Karno. Kita melihat dengan jelas bahwa selama di bawah pimpinan
Suharto (dan juga sampai sekarang) militer (terutama TNI AD) sudah
dijadikan musuh besar Bung Karno, berikut golongan kiri pendukungnya
(termasuk PKI).
Tidak mengenal ajaran-ajaran Bung Karno
Dari segi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kejahatan atau dosa besar
Suharto (beserta jenderal-jenderal pendukungnya) adalah digiringnya dan
dirubahnya TNI menjadi penentang politik dan ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno. Selama 32 tahun Orde Baru (dan diteruskan sampai sekarang) boleh
dikatakan bahwa TNI dibikin tidak mengenal sama sekali, bahkan membenci Bung
Karno beserta ajaran-ajaran atau gagasan-gagasan revolusionernya. Dengan
digiringnya TNI ke dalam wilayah politik anti-Sukarno, maka TNI menjadi
terpisah dari tradisi revolusioner rakyat Indonesia, dan akhirnya hanya
menjadi alat penggebuk rejim militer yang reaksioner dan pro-imperialis,
yang dipakai untuk membunuhi dan memenjarakan jutaan bangsanya sendiri
secara sewenang-wenang dan bahkan secara biadab.
Suharto beserta jenderal-jenderal pendukungnya telah merusak TNI dan
menjadikannya sebagai kekuatan yang menentang Bung Karno beserta segala
ajaran-ajaran revolusionernya. Padahal adalah jelas sekali bahwa menentang
Bung Karno beserta ajaran-ajaran revolusionernya berarti menentang atau
mengkhianati perjuangan rakyat Indonesia. Bung Karno adalah pengejawantahan
perjuangan revolusioner rakyat Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur,
masyarakat sosialisme à la Indonesia. Sampai sekarang tidak ada pemimpin
Indonesia yang mempunyai pendirian yang seteguh Bung Karno mengenai hal ini,
dan yang visinya sejauh dan seterang yang telah digelarnya selama puluhan
tahun.
Karenanya, dilihat dari berbagai segi, penyebutan Prabowo sebagai "Bung
Karno kecil" adalah sesuatu yang sama sekali tidak benar, hanya karena ia
telah kelihatan menghargai atau menghormati Bung Karno. Sekali lagi, kalau
(harap diperhatikan di sini, kalau !!!) sikapnya itu betul-betul timbul
karena kesedaran politik dan hati yang tulus, memang merupakan perkembangan
yang menarik dan penting, Walaupun begitu, sampai menyebut-nyebutnya
sebagai "Bung Karno kecil" adalah ungkapan yang kebablasan, adalah penamaan
yang kelewatan atau keterlaluan, dan ……..yang bisa menyesatkan banyak
orang.
Bung Karno belum ada tandingannya
Sebab, pemimpin besar rakyat Indonesia, Bung Karno, – yang sampai sekarang
keagungan berbagai fikiran-fikirannya mengenai bangsa belum ada tandingannya
! – tidaklah bisa sama sekali dengan gampang-gampangan .disamakan atau
disejajarkan dengan "tokoh-tokoh" Indonesia lainnya, apalagi dengan
"tokoh-tokoh" semasa Orde Baru ( dan juga sesudahnya). Dibandingkan dengan
kebesaran sejarah hidup revolusioner Bung Karno maka nampaklah dengan
jelas sekali betapa kecilnya, atau betapa kerdilnya, sosok-sosok para tokoh
itu semuanya, termasuk Prabowo.
Kalau kita teliti kembali sejarah perjuangan bangsa kita dengan seksama,
maka nyatalah bahwa Bung Karno adalah satu-satunya di antara para pemimpin
yang paling dicintai oleh sebagian terbesar rakyat kita yang terdiri dari
berbagai suku, agama, asal ras atau bangsa, dan disegani atau dihormati oleh
banyak pemimpin dan rakyat di Asia, Afrika, Amerika Latin yang berjuang
melawan imperialisme dan kolonialisme.
Bung Karno sudah menjadi tokoh besar rakyat Indonesia, ketika masih
muda-belia mengucapkan pidato pembelaannya di depan pengadilan kolonial
Belanda (ingat: Indonesia Menggugat) dan mendirikan Partai Nasional
Indonesia dan kemudian dibuang ke Endeh dan Bengkulu oleh pemerintahan
kolonial (perlu sekali dicatat bahwa Suharto pada waktu itu adalah serdadu
kolonial KNIL)
Berkat besarnya peran dan sumbangannya dalam gerakan untuk mencapai
kemerdekaan bangsa yang kelihatan melebihi dari pada peran dan sumbangan
para tokoh lainnya maka secara mutlak ia dipilih (bersama Bung Hatta) untuk
menjadi proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tokoh besar secara nasional dan juga internasional
Selama sekitar 20 tahun memimpin rakyat sebagai presiden (antara 1945-1965),
Bung Karno telah membikin negara dan rakyat Indonesia menjadi terkenal,
dihormati atau disegani oleh banyak rakyat di dunia, berkat sikap
politiknya yang revolusioner, anti-kolonialisme dan anti-imperialsime, yang
sudah disandangnya sejak usia mahasiswa. Karenanya, Bung Karno menjadi
simbul terbesar dalam perjuangan bangsa Indonesia, di samping menjadi tokoh
raksasa bagi rakyat-rakyat negeri lain yang sedang melakukan perjuangan.
Dengan kalimat lain, Bung Karno adalah sekaligus besar secara nasional dan
juga besar secara internasional. Dilihat dari sudut ini, maka jelas
sekalilah betapa besar bedanya antara sosok Bung Karno dengan Suharto atau
pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya.
Kebesaran Bung Karno kelihatan bukan hanya sebagai proklamator kemerdekaan
bangsa saja, tetapi juga sebagai promotor Konferensi Asia-Afrika di Bandung
(tahun 1955), juga sebagai tokoh penting dalam Gerakan Non-blok (bersama
Tito), juga sebagai promotor berbagai pertemuan Asia-Afrika, juga sebagai
tokoh yang membikin kagetnya banyak kalangan di dunia dengan keluarnya
Indonesia dari PBB dan seruan "Go to hell with your aid" yang ditujukan
terutama kepada AS. Kebesaran Bung Karno di panggung internasional juga
nampak ketika ia mengucapkan pidatonya yang bersejarah di depan sidang umum
PBB tahun 1960 ("To build the World Anew") yang mendapat sambutan luar biasa
hangatnya dari hadlirin.
Patutlah kiranya selalu sama-sama kita ingat bahwa dalam sejarah bangsa
kita, Bung Karno adalah tokoh raksasa politik di skala internasional, yang
kalibernya sejajar atau setara bahkan ada juga yang melebihi tokoh-tokoh
dunia seperti (antara lain): Gamal Abdul Nasser (Mesir), Josip Bros Tito
(Yugoslavia), Jawaharlal Nehru (India), Bandaranaike (Srilanka), Ho Chi Minh
(Vietnam), Mao Tse Tung dan Zhou Enlai (Tiongkok), Fidel Castro (Kuba).
Tidak ada tokoh Indonesia lainnya (sampai sekarang) yang mempunyai sosok
atau stature sebesar dan setinggi Bung Karno (artinya, Prabowo juga tidak).
Sayangnya, Bung Karno, pemimpin rakyat yang besar dan agung inilah yang
sudah dikhianati oleh Suharto beserta jenderal-jenderal dan pendukungnya.
Kejahatan dan dosa besar ini patut dicatat dan selalu diingat oleh kita
semua, dan juga oleh anak-cucu kita!
Paris, 9 Maret 2009
Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm








