Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

6 Alasan dan Cara Membuat Nama Pena

Oleh: Udo Yamin Majdi

Nama Pena. Ini salah satu tema yang sering ditanyakan oleh teman-
teman, baik dalam Pelatihan Jurnalistik, Sekolah Menulis SMART, milis wordsmartcenter@yahoogroups.com, blog www//
http:udoyamin.multiply.com, maupun lewat e-mail pribadi saya, udoyamin_majdi@… Oleh sebab itu, ketika saya kembali mengasuh acara
Sekolah Menulis On-Air di radio Community Jerman stasiun 2 Cairo, tema tersebut menjadi tema perdana dari sembilan pertemuan, setiap hari Kamis pukul 19:00 waktu Cairo, kecuali minggu ke-3 acara BOLPEN (Bincang Online Kepenulisan) bekerjasama antara Word Smart Center, FLP Jerman, dan Radio Comunnity.

Saya sempat menanyakan kepada beberapa orang: Anda kenal Etty Hadiwati Arief dan Heri Hedrayana Haris? Mereka hampir semuanya geleng kepala. Tidak tahu. Namun ketika saya tanyakan: apakah kenal dengan Pipiet Senja dan Gola Gong? Mereka pun menjawab, "Ya jelas kenal dong!" Setelah saya jelaskan, bahwa dua nama pertama, itu adalah nama asli dari dua penulis tersebut. Nah, dua nama di akhir, itu kita kenal dengan nama diri atau nama asli, sedangkan dua nama akhir, kita sebut nama pena.

Kita memang lebih mudah menunjukan nama pena dibandingkan dengan mendefinisikannya. Apalagi, nama pena ini, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ketiga belum termaktub. Begitu pun di wikipedia berbahasa Indonesia, belum ada. Yang ada pada wikipedia berbahasa Melayu. Di sana disebutkan bahwa nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis yang bukan nama aslinya karena alasan tertentu. Kalau demikian, nama pena versi Bahasa Melayu semakna dengan "nama samaran" dalam KBBI.

Terlepas, apakah kita setuju atau tidak dengan definisi di atas, yang jelas, setidaknya membantu kita untuk memahami makna nama pena.
Walaupun, terus terang, secara pribadi, saya tidak sependapat bahwa nama pena itu harus berbeda sama sekali dengan nama asli. Sebab, dalam kenyataan, saya sering menjumpai nama pena itu tetap mempertahankan nama aslinya atau hanya sebatas singkatan dari nama asli.

Misalnya, Mohamad Fahri memakai nama pena Fahri Asiza, Hamka nama pena dari nama asli singkatan Haji Abdul Malik Amrullah, atau gabungan dari singkatan dan nama asli, misalnya Muhammad Ainun Nadjib menjadi Emha Ainun Nadjib. Menurut saya, nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis ketika mempublikasikan karyanya kepada khalayak ramai, baik itu nama samaran, nama singkatan, maupun gabungan dari keduanya.

Mengapa para penulis memakai nama pena? Lagi-lagi, tidak mudah
menjawabnya, sebab setiap orang punya alasan masing-masing. Di sini
kita hanya mendiskusikan tujuh alasan seseorang memakai nama pena
berikut ini:

1. Karena kurang percaya diri. Rasa kurang pede ini, bisa berkaitan
langsung dengan nama aslinya, karyanya, maupun dengan spesialisasi
ilmunya. Teman saya, memakai nama pena sebab nama asli terkesan
kampungan dan menunjukan suku tertentu. Ada lagi memakai nama pena,
sebab merasa tulisannya belum begitu baik dan ia memposting tulisan
di berbagai milis dengan nama pena berbeda-beda semata-mata ingin
memperoleh masukan dari banyak orang tanpa mereka mengetahui siapa
penulisnya. Ada juga teman saya yang kuliah di Universitas Al-Azhar
jurusan Tafsir memakai nama pena sebab antara spesialisasi ilmu yang
pelajari jauh berbeda dengan novel dan cerpen yang ia tulisi.

2. Karena ingin menjaga keamanan diri. Tidak sedikit penulis yang
harus meringkuk di balik jeruji besi, bahkan harus menyerahkan
nyawanya di tiang gantungan gara-gara dari sebuah tulisan. Misalnya
apa yang terjadi pada Sayyid Quthub. Beliau keluar masuk penjara dan
akhirnya dihukum gantung oleh penguasa dengan tuduhan ingin melakukan
kudeta.

Maka tidak sedikit pula, para penulis yang tidak mau mengambil resiko
harus dipenjara, namun tidak tahan menyuarakan hati nurani. Akhirnya
mereka memilih memakai nama pena yang jauh sekali dengan nama penanya.

Atau juga ada yang karena ingin aman dari penolakan keluarganya.
Misalnya Binti Syati', nama pena dari Aisyah Abdurrahman. Mufassirah
(ahli tafsir wanita) asal Mesir itu memakai nama pena, sebab tidak
ingin mendapatkan halangan dari bapaknya, ketika menulis sastra atau
esai-esai yang sangat berbeda dengan harapan orang tuanya.

3. Karena nama sama dengan penulis lain. Bagi Anda rajin membaca buku
tentang cinta atau aktif di milis kepenulisan, besar kemungkinan
kenal dengan nama ini: M. Shadiq Mustika. Tahukah Anda nama asal usul
nama pena ini? Pada dua buku pertama, beliau masih menggunakan nama
asli Muhammad Shodiq. Namun, belakangan beliau sadari, ternyata ada
dua orang penulis lain yang memakai nama yang sama. Sehingga beberapa
orang salah duga, buku yang ditulis oleh orang yang namanya sama
dengannya, mereka sangka beliau yang menulisnya. Untuk membedakan
dengan dua penulis lain itu, beliau memakai nama pena: M. Shodiq
Mustika. Tambahan nama Mustika ini singkatan dari Muhammad Shodiq bin
Tamsir bin Ismail bin Khusban bin Adam.

4. Karena tidak marketable. Seorang teman, sebut saja namanya, Asep
Surya. Dia menulis buku dengan tema keislaman, sesuai dengan
kuliahnya di Universitas Al-Azhar Mesir. Sudah beberapa buku yang dia
tulis, namun sulit diserap oleh pasar. Lalu, ketika dia menulis buku
tentang Do'a, dia ubah namanya menjadi Ibnu Utsaimin. Ternyata
bukunya laris manis.

Mengapa ketika dia memakai nama Ibnu Utsaimin bukunya menjadi laris?
Wallahu a'lam. Sebelum saya menjelaskan perbedaannya, saya ingin
bertanya kepada Anda, ketika membaca Asep Surya, apa yang terbetik di
benak Anda? Sebaliknya, ketika Anda membaca Ibnu Utsaimin, apa yang
muncul di otak Anda?

Nama pertama mengingatkan kita akan teman-temannya asal Sunda. Sebab,
orang Sunda banyak sekali memakai nama Asep. Sedangkan nama kedua,
mengingatkan kita kepada para nama ulama dan ilmuan besar dalam
Islam, diantaranya Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu
Jauzi, Ibnu Rusydi, dan Syaik Utsaimin.

Nah, demikian pula yang terjadi kepada para pembaca awam. Ketika ada
dua buku sejenis dengan tema yang sama, mereka lebih memilih buku
dengan nama orang Arab dibandingkan dengan nama orang Sunda. Sebab,
mental orang Indonesia, selain beranggapan bahwa buku yang ditulis
oleh orang luar negeri lebih bagus dibandingkan buku ditulis oleh
orang Indonesia, juga mereka memandang sesuatu yang berbau Arab atau
Timur Tengah lebih Islami dibandingkan dengan yang ada di Indonesia.
Jadi wajar buku teman kita itu laris manis, sebab para pembaca
mengira sang penulis berasal dari Timur Tengah. Dengan kata lain,
nama Ibnu Utsaimin lebih menjual dari nama aslinya Asep Surya.

5. Karena ingin melakukan personal branding. Sebenarnya alasan ini,
sangat erat dengan alasan sebelumnya. Hanya saja bedanya, kalau
sebelumnya ikut "trend pasar", sedangkan alasan ini ingin menciptakan
pasar sendiri, alias trend setter.

Di sini, satu hal yang harus kita fahami bahwa saat ini dunia menulis
dan perbukuan bukan semata-mata untuk menyuarakan kebenaran, sarana
berbagi, atau memperjuangkan idealisme semata, melainkan menjadi
sebuah industri atau bisnis. Oleh sebab itu kita perlu memahami
strategi pemasaran, merketing.

Berbicara tentang dunia marketing, kita akan melirik master pemasaran
di Indonesia, Hermawan Kertajaya. Lewat buku serialnya, beliau
memperkenalkan Sembilan Elemen Pemasaran. Saya tidak akan mengurai
sembilan elemen itu, melainkan hanya memberikan contoh tiga elemen
yang berkaitan dengan tema kita. Menurut beliau, dari sembilan elemen
itu, bisa kita kerucutkan pada tiga elemen ini: positioning,
differentiation, dan brand.

Dunia kepenulisan atau perbukuaan itu ibarat samudra. Di tengah
samudra itu ada beberapa benua, setidaknya ada dua benua besat, yaitu
benua fiksi dan benua non-fiksi. Di benua fiksi ada pulau novel,
pulau cerpen, pulau novelet, pulau cerbung, dan seterusnya. Sedangkan
di benua fiksi, (1) ada pulau faktual yang terbagi menjadi beberapa
daerah, ada daerah berita, ada daerah featuter, ada daerah laporan,
dst; (2) ada pulau opini terbadi menjadi beberapa wilayah: ada
wilayah opini, ada wilayah kolom, ada wilayah esai, ada wilayah
biografi, ada wilayah autobiografi, ada wilayah memoar, dst; dan (3)
pulau ilmiah, ada district ilmiah akademis (makalah, paper, skripsi,
tesis, disertasi, dan laporan penelitian) dan ada district ilmiah
pupuler (artikel ilmiah populer, dst) Dan setiap daerah, wilayah,
atau district ini, memiliki beberapa rumah: dari segi jenis kelamin,
ada rumah perempuan dan ada rumah laki-laki; dari segi umur: ada
rumah balita; rumah anak-anak,
rumah remaja, ada rumah dewasa, ada manula, dst.

Tentu saja kita tidak cukup waktu untuk memasuki semua rumah
tersebut. Begitu pula hal dalam dunia tulis menulis, tidak semua
jenis, bidang, dan sasaran pembaca buku, bisa kita tulis, melainkan
kita harus memilih salah satu atau beberapa saja. Misalnya, memilih
menjadi penulis jenis non-fiksi bidang keislaman. Bidang keislaman
ini masih banyak lagi cabangnya, ada tentang Al-Quran, Al-Hadis,
Fiqh, Sirah, Filsafat, Dakwah, dan seterusnya. Tema Al-Quran pun
masih banyak sekali ranting keilmuan yang bisa kita ambil sebagai
spesialisasi kita, misalnya tafsir, asbabun nuzul, qira'ah, i'rab,
tajwid, mufrodat, dst. Dari tafsir itu dibagi-bagi lagi, ada tafsir
maudhu'i (tematis) dan ada tafsir tahlily (tafsir analitis).
Selanjutnya, kita dihadapan dengan pilihan, siapa sasaran pembacanya,
untuk remaja atau dewasa. Misalnya memposikan diri sebagai penulis
tafsir maudhu'i untuk remaja.

Setelah kita memposisikan diri sebagai penulis tafsir tematis untuk
remaja, maka kita perlu melihat karya-karya para penulis tafsir
tematis untuk remaja yang lainnya. Kira-kira apa yang belum mereka
singgung, atau apa yang perlu kita tambahkan dalam karya kita
sehingga buku kita berbeda dengan mereka. Misalnya, bedanya buku kita
selain memakai bahasa remaja, juga ada gambar bahkan peta daerah-
daerah yang disebutkan dalam ayat-ayat yang kita tulis..

Jika positioning dan diffrentiation itu kita lakukan, maka akan
muncul brand, alias merek. Ketika kita orang mencari tafsir tematis
untuk remaja penuh dengan gambar dan peta, orang akan ingat kita.
Sebaliknya, ketika orang membaca nama kita, maka akan ingat dengan
buku-buku kita.

Itulah yang terjadi pada penulis-penulis best seller yang kita kenal.
Misalnya, Mohammad Faizil Adhim. Setiap saya ingat nama beliau, maka
saya akan ingat buku tentang pernikahan. Sebaliknya, ketika
membicarakan buku pernikahan, maka saya ingat nama beliau. Padahal,
buku yang tentang pernikahan yang saya baca, bukan hanya karya beliau
saja. Mengapa hal ini terjadi? Karena menurut saya, Mas Fauzil, telah
berhasil memposisikan dirinya sebagai penulis buku pernikahan untuk
para remaja, dengan gaya bahasa yang berbeda, dan beliau komitmen
menggarap tema ini.

Kembali dengan personal branding tadi, coba Anda perhatikan karya-
karya Mas Fauzil. Ketika menulis tema pernikahan, beliau memakai nama
Mohammad Fauzil Adhim, ketika menulis buku tentang anak beliau
memakai nama–kalau tidak salah– Abu Fikri, dan ketika menulis
buku tentang menulis "Dunia Kata" beliau memakai nama M. Fauzil
Adhim. Wallahu a'lam, apakah Mas Fauzil membedakan nama pena sesuai
dengan jenis dan tema karyanya itu personal branding atau tidak, yang
jelas bagi saya, itulah yang saya maksud dengan alasan membangun
merek diri.

6. Karena alasan negatif dan tidak bertanggung-jawab. Saya melihat hal ini di beberapa milis yang saya ikuti. Ada beberapa orang, sangat rajin memposting tulisan atau menanggapi tulisan orang lain. Namun sangat sayang, isi postingan itu –apalagi menjelang kampanye 2009 ini– sering menjelek-jelek kelompok, golongan, partai tertentu.
Mereka sangat bahagia bila melihat kekurangan kelompok, golongan, partai lain. Mereka sebarkan di milis-milis. Namun ketika dari kelompok yang mereka serang itu memposting hal-hal positif tentang mereka sebagai penyeimbang, mereka langsung menuding: ini kampanye terselubung!

Dan saya perhatikan, selain ID e-mail mereka tidak mencermin identitas mereka, juga nama mereka disamarkan, misalnya "Sang
Pembela", "Sang Pejuang", dan seterusnya. Menurut saya, itu termasuk nama pena. Mereka lakukan hal itu, agar mereka bebas untuk menulis apa saja tentang orang lain, meskipun itu sering melukai orang lain.
Mereka menyangka apa yang mereka lakukan itu tidak ada yang tahu, padahal Allah tidak pernah luput menyaksikannya dan malaikat pun senantiasa mencatat perbuatan mereka. Semoga kita terjauh dari alasan membuat nama pena dengan niat negatif dan tidak bertanggung-jawab ini.

Setelah kita menjawab pertanyaan, apa dan mengapa, ada satu pertanyaan lagi yang perlu kita perbincangkan, yaitu bagaimana cara kita membuat nama pena? Sebenarnya, tidak ada aturan tertentu cara kita membuat nama pena. Setiap orang bebas memilih caranya masing- masing. Adapun kiat-kiat atau tips berikut ini hanya sebatas saran sebagai bahan pertimbangan saja. Kalau memang bermanfaat, silahkan Anda pergunakan. Namun jika tidak berkenan, saya mohon maaf sudah menyita waktu Anda membacanya.

Baik, mari kita mulai cara menulis nama pena di bawah ini:

1. Buatlah nama pena yang bermakna positif dan mencerminkan idealisme Anda. Membuat nama pena, tidak jauh berbeda seperti kita memilih nama asli. Sebab nama, selain identitas –dalam pandangan Islam– sebagai
do'a dan panggilan di akhirat nanti. Sangat keliru pernyataan
Shakespear bahwa "apa arti sebuah nama". Nama sangat berarti,
sehingga Nabi Muhammad Saw sampai menggati nama sahabatnya, dari
bermakna negatif ke makna positif. Tentu saja banyak sekali nama
bermakna positif itu, baik itu kita ambil dari nama nasab
(keturunan): nama bapak, kakek, atau buyut, atau dinisbahkan kepada
anak: Abu Ahmad, marga, kampung halaman atau tempat tinggal (dalam
bahasa Arab hal ini disebut laqab atau kunyah), maupun nama baru
pilihan kita,

Selain bermakna positif, juga mengingatkan kita akan sebuah idealisme
yang akan kita perjuangkan. Menulis, bukan sekedar merangkai kata
berbunga-bunga dan penuh warna, melainkan memang ada sesuatu yang
harus kita sampaikan: berupa kebenaran, ilmu, informasi, atau berbagi
pengalaman. Sebagai muslim, tentu semuanya itu bermuara kepada
mardlatillah. Inilah yang membuat Kang Heri Hendrayana memakai nama
Gola Gong. Sewaktu ke Mesir, beliau sempat menjelaskan bahwa "GOL"
itu untuk mengenang saat tulisannya dimuat di majalah HAI, "A"
singkatan dari Allah untuk menginngatkan pesan ibunya bahwa menulis
harus untuk mencari ridla Allah, sedangkan "GONG" artinya terus
bergema sampai kapanpun.

2. Sesuaikan nama pena dengan jenis tulisan dan target pembaca.
Sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, bahwa salah satu strategi
agar buku kita diterima pembaca adalah kita harus memilih jenis
tulisan dan menentukan target pembaca.

Jika kita telah menentukan dua hal itu, maka kita akan lebih mudah
membuat nama pena. Sebab, antara satu jenis tulisan dengan jenis
tulisan lainnya, atau sasaran pembaca umur tertentu akan berbeda
dengan umur yang lainnya. Misalnya, bila kita memilih menjadi penulis
novel romantis maka buatlah nama pena yang romantis, bila novelnya
komedi, maka buat nama yang lucu, atau novel detektif, pilihlah nama
yang menunjukan sosok cerdas, dan seterusnya.

3. Usahakan nama pena singkat. John Griffith –ahli matematik–
mengatakan bahwa setiap manusia normal akan mampu mengingat satu
milyar, 1.000.000.000..000 (10 pangkat 11). Sedangkan Jonh von
Neumann –ahli teori informasi– menyebutkan bahwa kita mampu
mengingat sampai 280 kuintiliun bit, 280.000.000.000.000.000.000. bit
(280 diikuti dengan 18 nol). Setiap bit mewakili satuan terkecil
informasi, alias suku kata (lafadz), misalnya "a", "i", "ya", "oh",
"ih", dst. Luar biasa bukan, otak kita?

Meskipun daya tampung otak kita sangat dahsyat, namun tidak
menentukan baik atau tidaknya ingat kita. Yang menentukannya adalah
proses kita mempersepsi memori. Ada dua macam memori: (1) memori
ikonis (al-abshar) untuk informasi lewat visual/penglihatan; dan (2)
memori ekosis (as-sam'a) untuk informasi lewat audio/pendengaran.
Menurut para ahli komunikasi, apa yang kita lihat dan dengar sekilas
maksimal 7 bit. Lebih efektif lagi 3-4 bit saja.

Dengan demikian, ketika kita membuat nama pena kata dasar, efektifnya 3-4 dasar. Contohnya "Al-Hamasah" nama pena Helvy Tiana Rosa ketika awal menulis, diantaranya karyanya yang memakai nama tersebut adalah ;
Mc Alliester; dan Akira;. Atau Jonru nama pena Jonriah Ukur,
founder penulislepas.com. Atau Hernowo, penulis Mengikat Makna. Bisa
juga dua kata, seperti Arul Khan dan Syamsa Hawa. Ada yang bilang
maksimal 3 kata, misalnya Udo Yamin Majdi. (Hehehe, bukan narsis lho!)

Udo Yamin Majdi itu nama pena, bukan nama asli. Banyak yang tidak tahu, bahwa "Udo" itu tambahan dan bermakna "Kakak", seperti Aa di Sunda. Maka kurang tepat jika ada yang memanggil saya "Mang Udo",
"Abang Udo", "Mas Udo", "Kak Udo", "Ustadz Udo", dst. Cukuplah
panggil saya "Udo", itu udah sopan. Nama asli saya Yamin Efendi. Saya mencantumkan nama Udo itu ada dua alasan: (1) agar saya selalu ingat dengan visi saya untuk membangun kampung halaman; dan (2) agar tidak ada jarak atau akrab dengan siapa saja. Sedangkan Majdi nama bapak saya.

Makanya, pada awal-awal saya menekuni dunia kepenulisan, saya cantumkan nama panggilan, nama asli, dan nama bapak saya, sehingga dalam kumcer Bara Musa di Taman Terpasung (Pustaka Umat, 2002) dan
Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Lewat Al-Quran
(Qultum Media, 2007), saya mencantumkan nama Udo Yamin Efendi Majdi.

Saat ini, saya sendiri geleng kepala dan tertawa: kok bisa-bisanya
saya membuat nama pena seperti kereta api, panjaaang gitu lho! Namun
setelah saya survey kecil-kecilan kepada teman, ke pembaca, atau
penulis senior di Indonesia: dari keempat kata itu, mana yang paling
enak mereka dengar dan mudah mereka ingat? Ternyata rata-rata
menjawab "Udo Yamin". Berarti tinggal dua pilihan, apakah Efendi atau
Majdi? Setelah saya renungkan, agar saya ingat dengan ortu dan ingin
ambil berkah, maka saya cantumkan Majdi, maka jadilah Udo Yamin Majdi.

4. Enak didengar dan mudah diingat. Saat mendengar nama Asma Nadia,
apa yang Anda rasakan? Enak bukan? Ini salah satu contoh nama pena
yang enak didengar. Walaupun nama asli Mbak Asma juga enak kita
dengar, Asmarani Rosalba, namun bagi saya pribadi –ma'af ya Mbak
Asma– jauh lebih sulit untuk saya ingat dibandingkan dengan Asma
Nadia. Mengapa terdengar indah? Sebab, huruf akhirnya memakai huruf
hidup "a", jadi terdengar puitis.

5. Nama pena hendaknya mudah diucapkan dan marketable. Saya ambil
contoh Kinoysan, nama pena Ari Wulandari. Enak di telinga, dan
menjual, saya merekan sang penulis berasal dari Jepang, bukan orang
Indonesia. Bandingkan, misalnya nama pena ini Markham Arbeau. Memang
menjual, sebab gabungan dari dua penulis terkenal di Barat, namun
bagi lidah orang Melayu atau orang Indonesia, ini sulit untuk kita
ucapkan.

6. Sebaiknya memakai satu nama pena saja dan jangan sering berubah.
Ada seorang teman yang sangat produktif menulis. Dia mengaku bahwa
memiliki nama pena sangat banyak, sampai 15 nama pena. Secara bisnis
atau materi, bisa jadi ini lebih menguntungkan. Namun perlu kita
ingat, uang bukan segala-galanya. Ada hal lain yang lebih tinggi dari
uang, merasa "bermakna" antara sesama manusia. Bagaimana kita akan
bermakna dan merasa dekat dengan para pembaca, kalau kita seperti
bunglon, sehingga mereka sulit untuk mengidentifikasi diri kita.

Mas Ali Muakhir sempat cerita di MPnya, bahwa beliau merasa terharu,
ketika ada pembaca merasa bahagia bertemu dengan Mas Ali sebab ibu
itu sangat suka dengan karya-karya beliau. Nah, apakah mungkin kita
akan merasakan hal itu, jika nama yang kita cantumkan pada buku kita
selalu baru? Jadi, memilih satu nama pena, bukan untuk populeritas,
melainkan agar ada emosional connecting antara kita sebagai penulis
dengan para pembaca kita. Istilah dalam Islam, terbangun silaturahmi.
Bukankah silaturahmi ini bisa memanjangkan umur (bisa bermakna usia
kita dipanjangkan, bisa jika bermakna kita selalu dikenang seperti
permintaan nabi Ibrahim, waj'alli lisana shidqin fil akhirin [Ya
Allah, jadikah aku buah tutur yang baik bagi generasi setelahku) dan
diluaskan Allah rizki?
Masih banyak yang ingin saya sampaikan, namun sayang saya harus
mengakhiri diskusi kita ini. Semoga apa yang saya sampaikan,
bermanfa'at bagi Anda. Minimal menjadi inspirasi bagi Anda untuk
merenungi nama pena atau identitas yang selama ini Anda pergunakan
dalam menulis.

Satu hal yang penting perlu saya sampaikan sebelum kita berpisah:
nama pena ini bukan segala-galanya agar buku kita dibaca oleh banyak
orang. Ini hanya sebatas ikhtiar saja. Sedangkan buku kita best
seller atau tidak, itu sangat tergantung kesungguhan kita melahirkan
katya berkualitas dan keseriusan kita dalam berdo'a.

Demikian, mohon ma'af atas segala kekurangan, terutama jika Anda
merasa waktu terbuang percuma, gara-gara membaca tulisan yang terlalu
panjang ini. Tegur sapa, kritikan, saran, masukan, atau tanggapan
apapun dari Anda, sangat saya butuhkan, agar saya bisa memperbaiki
tulisan-tulisan berikutnya. Minimal, ceritakan pengalaman Anda ketika
memilih nama pena, baik itu alasannya maupun caranya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mesir, 28 Februari 2008

sumber tulisan, klik di sini

=======================================

WORD SMART CENTER adalah sebuah komunitas –online, offline, dan
onair– tempat belajar mengasah kecerdasan dalam berbahasa  baik
berbicara, mendengar, membaca, dan menulis dan bercita-cita membangun
Indonesia Cerdas; Indonesia Mandiri; dan Indonesia Kreatif.

Bagi siapa saja berminat belajar mengasah kecerdasan berbahasa dan
menjadi bagian dari pecinta buku, silahkan bergabung di milis
wordsmartcenter@yahoogroups.com, atau kirim e-mail ke
wordsmartcenter@…, nanti kami invite.

28 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , | 6 Komentar

KISAH BUKU HEBOH YANG DIPESAN DARI INGGRIS

Oleh : Diena Ulfaty
Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan seorang penulis *best seller* yang mengalami "kegagalan" di toko buku. Penulis tersebut komplain mengenai kompetisi penjualan buku di toko buku yang disisipi oleh beberapa kecurangan yang dilakukan oleh distributor. Sang penulis menceritakan tentang susahnya pembaca mencari bukunya karena letaknya sering dipindah-pindah oleh distributor saingannya, dan bahkan seolah-olah sengaja disembunyikan supaya pembaca kesulitan mendapatkannya. Namun karena keseriusan sang penulis untuk terus mempromosikan bukunya melalui radio, televisi, seminar, dll., maka kendala tersebut dapat diatasi. Terbukti buku yang "disembunyikan" tadi menduduki peringkat *best seller*. Sungguh prestasi yang luar biasa untuk seorang penulis yang mengalami perlakuan kurang adil tersebut..

Perjalanan saya juga tak kalah peliknya, meski tak sama dengan kisah penulis yang saya ceritakan di atas. Setelah buku saya yang berjudul *Inspiring Stories for Kids* tersebar di TB. Gramedia, banyak pembaca yang komplain tak menemukan buku saya tersebut di katalog Gramedia. Awalnya saya tidak menyangka hal seperti ini terjadi pada saya karena saya sudah cukup senang dengan datangnya beberapa pemesan buku melalui *e-mail* pribadi saya. Bahkan kegembiraan saya meluap-luap ketika di pagi hari yang cerah saya memperoleh kiriman uang dari seorang kepala rumah tangga yang tinggal di Inggris untuk pemesanan satu eksemplar buku *Inspiring Stories for Kids* untuk anaknya. Betapa terharunya saya dengan ketulusan bapak itu karena telah menjadikan buku *Inspiring Stories for Kids* yang berisi 20 kisah teladan tentang kepahlawanan, kesabaran, kejujuran, dan cinta, sebagai kado istimewa untuk anaknya yang terpisah ribuan kilometer darinya.

Namun perasaan senang saya tersebut segera lenyap ketika saya mendapat telpon dari beberapa pembaca yang gagal menemukan buku saya di TB. Gramedia.

"Saya sudah mencarinya," kata mereka, "tapi di katalog nggak ada."

"Masa' sih?," kata saya tidak percaya. "Tapi apa telah dicek di bagian buku anak?"

"Belum sih. Tapi bagaimana saya yakin buku itu ada kalau di katalognya aja nggak ada?"

Jawaban dari pembaca tersebut membuat saya termenung cukup lama.
Ditambah lagi saya belum mendapat laporan penjualan buku tersebut dari distributor, sementara komplain dari pembaca kian menjadi-jadi. Tak hanya daerah Jakarta saja yang komplain tetapi dari kota Malang juga mengajukan komplain yang sama – buku *Inspiring Stories for Kids* tidak ditemukan di katalog TB. Gramedia. Saya mengajukan komplain ke Agromedia mengenai masalah itu, tapi jawaban tak kunjung saya peroleh. Dalam hati, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin TB. Gramedia melakukan kelalaian fatal semacam ini yang tentu saja akan mempengaruhi angka penjualan buku saya. Karena beberapa di antara pembaca merasa keberatan jika memesan buku ke saya sebab biaya transfer akan dibebankan kepada mereka. Bagi beberapa orang dengan uang saku pas- pasan lebih memilih untuk bersusah payah mencari buku favoritnya dibanding harus mengeluarkan uang 8000,- sampai 10.000,- untuk ongkos kirim. Waktu itu saya nyaris putus asa dan berfikir kalau buku saya akan sulit menembus angka penjualan lebih dari 100 eksemplar per bulannya. Saya bertanya-tanya, apa kira-kira ada pembaca yang mau bersusah payah mencari buku saya setelah tidak menemukannya di katalog. Ditambah lagi promosi yang saya lakukan hanya melalui media *on-line* dengan jangkauan pembaca yang terbatas.

Namun keanehan pun terjadi, di bulan Februari yang mendung saya dikejutkan oleh kedatangan kurir pembawa berita dari Agromedia. Hasil penjualan buku saya selama bulan Januari 2009 mencapai lebih dari 100 eksemplar.
Sebuah angka yang mengejutkan bagi saya, itu artinya dalam waktu satu bulan ada lebih dari 100 pembaca yang benar-benar mencari buku saya setelah tidak menemukannya di katalog Gramedia. Pun bisa disimpulkan bahwa terdapat lebih dari 100 pembaca yang dengan susah payah menemukan buku saya lalu membelinya. Saya benar-benar terharu dengan sikap pembaca yang "rela berkorban" agar memperoleh buku *Inspiring Stories for Kids*. Saya ucapkan< terima kasih kepada para pembaca atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Semoga Allah memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada mereka.

Akhirnya masalah saya mulai mencair pada malam minggu pertengahan Februari.
Setelah komplain saya ditanggapi oleh pihak Agromedia, buku saya mulai nongol di katalog Gramedia. Tapi ternyata masalahnya nggak selesai sampai di sini. Ketika mengeceknya, terdapat kesalahan penulisan judul dan nama penulisnya. Saya sedih sekali, namun saya juga menganggap bahwa itu kesalahan manusiawi. Kejadian inilah yang membuat saya menulis artikel ini – hal yang saya anggap sebagai kesalahan wajar yang merugikan. Kesalahan tersebut antara lain :

- Petugas pencatat katalog menuliskan judul *Inspiring
Stories for
Kids* dengan Inpiring Stories for Kids (terdapat kesalahan pada penulisan kata *Inspiring* (kurang huruf "s")). Artinya, jika para pembaca mencari buku berjudul *Inspiring Stories for Kids* maka mereka tidak akan menemukannya di katalog karena database telah salah mengidentifikasikan buku tersebut.

- Petugas pencatat katalog juga salah mengetikkan nama penulisnya.
Nama Diena Ulfaty diketik dengan Diana Ulfaty. Artinya jika pembaca mencari di katalog nama Diena Ulfaty, database tidak akan mengenalinya kecuali jika pembaca mengetikkan nama Diana Ulfaty (bukan Diena Ulfaty).

Namun beruntungnya nama penerbit (Nano Publishing) tidak mengalami kesalahan sama sekali, sehingga ketika pembaca mencari buku saya berdasarkan nama penerbit, maka mereka bisa dengan sukses menemukannya. Saya sedikit lega menemukan fakta terakhir ini meski saya masih tetap berharap TB. Gramedia mau memperbaiki kesalahannya itu.

Meski saya mengalami banyak hal yang "merugikan" saya, namun pengalaman tersebut membuat saya tahu arti pentingnya buku saya bagi para pembaca.
Betapa tidak? Dengan kesulitan semacam itu (tidak masuknya buku saya ke dalam katalog Gramedia), ternyata tidak menyurutkan tekad lebih dari 100 pembaca (dalam kurun 1 bulan) untuk mencari buku saya dan berhasil menemukannya. Beberapa di antara mereka memutuskan untuk memesan setelah berputar-putar di Gramedia namun tak kunjung menemukannya juga. Sikap mereka yang berkorban waktu untuk mencari buku saya tersebut benar-benar membuat saya terharu. Ditambah lagi pemesan buku yang datang dari manca negara, sikap mereka menunjukkan betapa berartinya buku saya bagi mereka.
Seorang bapak yang berasal dari Inggris bahkan sampai memohon kepada saya agar dibantu mengurusi masalah pembayarannya, karena beliau benar-benar ingin mendapatkan buku saya namun kesulitan melakukan transaksinya.
Perbedaan negara membuat urusan bayar membayar menjadi agak sulit atau jika dipermudah akan terkena beban biaya transfer yang cukup besar (jauh lebih besar dibanding dengan harga buku itu sendiri). Dalam bahasanya beliau seolah mengatakan, "*tell me! What am I suppose to do get your book cause I
really
need it. I'll do anything for it. So, please help me!*"

Saya percaya bahwa setiap kejadian ada hikmahnya, dan sesuatu yang
menurut
saya buruk belum tentu menurut Allah buruk. Pengalaman ini membuat
saya
belajar untuk bersabar karena setiap keberhasilan seringkali menuntut
kesabaran seseorang seperti kisah penulis *best seller* yang saya
ceritakan
di awal tulisan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Saya tunggu komentarnya di blog saya http://dienaulfaty.wordpress.com

Regards,

Diena Ulfaty

Penulis buku *Inspiring Stories for Kids*

Kisah – Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran, dan
Cinta

http://dienaulfaty.wordpress.com

26 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Komentar

Siaran Pers UU ITE

Ihwal Penting dan Lemahnya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Eklektronika (UU ITE), dan dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat.

TIM Kuasa Hukum Pemantau Kebebesan Pers, Jaringan Jurnalis Presstalk, Masyarakat Peduli Internet Sehat, Indocontent, selanjutnya menyebut diri TIM PEDULI KEPASTIAN HUKUM ICT (selanjutnya disingkat TIM saja) beralamat di Gd. Manggala Wanabakti, Ruang 212, Wing B, menyampaikan kepada publik:

Setelah melakukan verifikasi kepada Kadin Indonesia, termasuk ke komunitas online, seperti APWKOMITEL – - jaringan warnet seluruh Indonesia — UU ITE sangat dibutuhkan bagi kepastian transaksi elektronika, dengan berkembangnya perdagangan dunia maya, penggunaaan tanda-tangan digital, pembayaran mikro di dunia digital dan TIM sangat mendukung perihal ini.

Penggabungan payung makro, tanpa merinci ihwal penyalah-gunaan pemakaian komputer (Computer Offensive), yang murni kejahatan, seperti carding, cracking, spamming, pencurian data melalui pemakaian flash disk, penggandaan keping cakram data dan teknis lainnya, tidak mendapatkan muara nyata dalam UU ITE tersebut, dan perihal ini, jelas-jelas tindakan pidana, yang seharusnya mendapatkan porsi rinci.

UU ITE telah merambah ranah privat, publik, dengan muatan khusus di pasal 27, ayat 1 hingga ayat 3, dengan hukuman sangat tinggi dan denda besar mencapai miliaran; telah berimplikasi membawa kegelisahan, ketakutan, dan momok bagi publik. Akibat UU ITE pasal 27 tersebut sudah mulai ditangkapi warnet yang tidak terbukti menyelenggarakan konten pornogafi, penangkapan orang yang menyampaikan fakta buruknya layanan kesehatan rumah sakit melalui milis, penginterogasian hingga ”menembak” tersangka jurnalis dan citizen reporter, yang kesemuanya dapat mengacu ke kaedah hukum di KUHP, plus di banyak negara sesungguhnya masuk ke ranah perdata.

Akibat butir 3 di atas, UU ITE bukan memberikan kepastian hukum, akan tetapi telah menjadi momok menakut-nakuti dunia online. Dimana saat ini, di setiap milis dan komunitas online, kreatifitas seakan direm untuk menyampaikan opini. Dunia online yang dapat mengasah dirinya, mendewasakan komunitas, seakan berhadapan dengan sebuah tembok buntu kemunduran.

TIM menmghimbau kalangan ICT Indonesia,Kadin Indonesisa, asosiasi dunia usaha, komunitas online mengkriti UU ITE itu, khususnya kerancuan kata menstransmisikan dan sejenis dalam UU ITE tersebut, dan menghimbau kalangan Ombudsman global mengawasi UU ITE ini, yang terindikasi bertentangan piagam PBB khususnya pasal 19. TIM mendukung penuh segenap upaya judicial rewiew terhadap UU ITE khususnya pasal 27 tersebut.

Demikian siaran pers ini kami sampaikan, agar dapat menjadi perhatian bagi komunitas ICT Indonesia khususnya dan masyarakat umumnya.

Jakarta 23 Februari 2009,
Atas nama TIM,
Narliswandi Piliang

23 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Hillary: Relasi RI-AS Diperluas

Jakarta, Kompas – Ke depan, relasi RI-AS akan diperluas hingga ke
segala lapisan, terutama ke lapisan tingkat bawah. Pertemuan dan
relasi tidak akan lagi sebatas di tingkat elite, seperti tingkat
pemimpin dan menteri. Hal ini menjadi program Pemerintah AS dalam
berhubungan dengan Indonesia.

Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Jakarta,
Kamis (19/2), dalam wawancara dengan wartawan Indonesia di kediaman
Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron Hume.

Hillary mengatakan hal itu menjawab persepsi bahwa setelah sekian lama
memiliki hubungan baik dengan Indonesia, AS terpaku pada hubungan di
tingkat elite. Hubungan ini tidak banyak bermanfaat bagi rakyat dari
akar rumput, juga tak memberi banyak manfaat soal pemberantasan
korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan lainnya.

"Saya kira ini adalah satu hal yang penting," kata Hillary yang
mengatakan siap menerima masukan-masukan. "Ke depan akan lebih banyak
kontak yang tidak lagi sebatas di tataran elite, sebagaimana Anda
utarakan,†kata Hillary yang akan melanjutkan kunjungan ke Korea
Selatan, kemudian ke China.

"Terus terang, inilah yang akan ditawarkan Pemerintah AS di bawah
pemerintahan Presiden Obama bersama saya dalam konteks relasi
internasional. Asia dan Asia Tenggara itu penting. Kita tidak hanya
akan terpaku pada hubungan dengan China yang pengaruhnya membesar,"
kata Hillary seraya menambahkan, perluasan hubungan RI-AS sudah dia
bahas juga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

AS tidak lagi mempertahankan hubungan yang fokus di satu arah, yakni
trans-Atlantik (AS-Eropa). "Dalam rangka ini, dengan Indonesia akan
banyak program pertukaran, termasuk pertukaran mahasiswa dan kerja
sama universitas," kata Hillary.

Akan ada banyak lagi kerja sama di bidang lain yang bertujuan
mendorong pembangunan di segala bidang di Indonesia. Pembangunan dan
perkembangan Indonesia tidak saja penting dalam hubungan kedua negara.

Kemajuan Indonesia sebagai salah satu negara Muslim yang begitu
terbuka, di sisi lain akan bisa dijadikan sebagai model bagi negara
lain. "Walau demokrasi di Indonesia masih tergolong baru, sudah banyak
pencapaian yang didapat," kata Hillary.

"Di sini, kesempatan bagi wanita, misalnya, begitu terbuka di segala
bidang. Ini sebuah pencapaian yang bagus, sementara di negara lain
kemajuan yang didapat belum seperti Indonesia," kata Hillary yang
senang melihat bahwa dalam setiap pertemuannya, ia selalu melihat
keberadaan tokoh-tokoh wanita.

Hillary juga menjawab pertanyaan, bagaimana politisi AS yang pernah
bersaing, bahkan bertarung keras, di saat pemilu, kemudian malah bisa
bekerja sama, bukan terus bertikai. "Kami memiliki demokrasi yang
lebih maju. Dengan demokrasi seperti itu, kami menyadari, setelah
pertarungan usai, kita harus melangkah maju, termasuk bekerja sama
dengan para pesaing," kata Hillary.

Kemitraan komprehensif

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengatakan pentingnya kemitraan
komprehensif antara Indonesia dan AS. Presiden juga meminta AS lebih
mendorong penyelesaian konflik antara Palestina dan Israel.

Pesan itu disampaikan Presiden Yudhoyono ketika menerima Menlu AS
Hillary Clinton di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis.

"Presiden Yudhoyono menyebutkan, pertemuan dengan Hillary Clinton
sebagai pertemuan yang wonderful dan produktif," ujar Juru Bicara
Kepresidenan Dino Patti Djalal seusai pertemuan Presiden dan Hillary.

Gagasan kemitraan ini digulirkan Presiden Yudhoyono pada kunjungannya
ke AS, November 2008. "Setelah itu konsep ini menggelinding. Sudah ada
pembahasan di tingkat departemen dan ada semacam makalah yang
disampaikan kedua belah pihak. Isinya mencoba merinci apa saja elemen
dari kemitraan komprehensif ini," ujar Dino.

Dino menegaskan, kemitraan yang akan dibangun tak hanya akan berkaitan
dengan satu dimensi kerja sama, tetapi juga mencakup berbagai aspek,
seperti ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kesehatan.

Palestina merdeka

Sejumlah isu regional dan internasional juga dibahas Presiden
Yudhoyono dengan Hillary. Presiden, antara lain, menekankan perlunya
mempercepat upaya untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan
berdaulat.

"Posisi Indonesia mendukung solusi dua negara, Palestina dan Israel,
dapat hidup berdampingan dalam kondisi damai. Target berdirinya negara
Palestina merdeka ini tahun lalu, tetapi, karena berbagai hal, tidak
tercapai. Presiden tentu kecewa. AS perlu memberi perhatian besar
terhadap upaya penyelesaian konflik ini," ujar Dino.

Presiden Yudhoyono menyebutkan, saat ini terbuka momentum untuk
menghidupkan kembali perundingan Palestina-Israel. Momentum
perundingan, antara lain, muncul dengan adanya pemilihan umum yang
akan digelar di Israel, pemerintahan baru di AS, serta gencatan
senjata di Gaza meski gencatan ini masih rapuh.

Menurut Dino, Hillary menekankan bahwa Pemerintah AS saat ini merasa
perlu mendengarkan lebih banyak masukan dari dunia internasional. "Hal
ini tecermin sekali dalam pembicaraan Hillary dengan Presiden
Yudhoyono," ujarnya.

Dalam pertemuan dengan Hillary, Presiden Yudhoyono kembali mengundang
Presiden AS Barack Obama untuk berkunjung ke Indonesia. (mon/nel/DAY)

Kliping : kompas.com

20 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Kunjungan Menlu As di Petejo Utara

Menlu AS di Petejo Utara

Ini adalah foto kegiatan Menlu Hillary Clinton saat mengunjungi salah satu proyek bantuan rakyat Amerika Serikat melalui USAID, di Kelurahan Petejo Utara, Jakarta Pusat.
Bantuan senilai Rp. 360 juta ini ditujukan, terutama, bagi masyarakat kelas bawah yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari, yakni mandi-cuci-kakus (MCK). MCK ini agak unik, tidak seperti MCK biasa yang tinjanya langsung dibuang ke pembuangan tapi tinjanya justru dimanfaatkan, didaur ulang menjadi bio gas yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk kompor gas. Selanjutnya, sisanya limbahnya langsung dibuang ke sungai, sehingga MCK Plus-plus ini oleh masyarakat setempat dikenal juga sebagai WC helikopter.

Sumber: kompas.com

20 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Megawati “Ikat” Caleg PDI-P dengan Kontrak Politik

JAKARTA, KAMIS – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
mendeklarasikan kontrak politik yang mengikat para caleg PDI
Perjuangan. Kontrak politik, yang dinamakannya "Kontrak Politik untuk
Perubahan itu", dideklarasikan hari Kamis (19/2), di Mega Institute,
Jakarta Pusat.

Dalam kontrak politik itu, Mega mengatakan, mengklausulkan larangan
untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilu legislatif, jika target
perubahan gagal dicapai.

"Jika target perubahan gagal dicapai, sesuai kontrak politik, anggota
PDI Perjuangan yang terpilih sebagai anggota DPR 2009-2014 dilarang
mencalonkan diri kembali pada pemilu legislatif DPR 2014," demikian
Megawati membacakan kontrak politiknya.

Selanjutnya, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung membacakan tiga isu
perubahan yang dijanjikan, yaitu sembako murah, menciptakan jutaan
lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Semua calon
legislatif dari Aceh sampai Papua diminta menaati kontrak politik
ini," kata Anung.

Saat ditanya mengapa sanksi larangan harus menunggu lima tahun ke
depan, Mega mengatakan, kinerja kader PDI Perjuangan di DPR dipantau
sesuai dengan aturan partai. Sebab, dalam kontrak politik tak
disebutkan rentang waktu untuk mengukur kegagalan.

Perwakilan caleg DPR PDI Perjuangan akan menandatangani kontrak
politik, disaksikan Megawati.

Inggried Dwi Wedhaswary

Kliping : kompas.com

19 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Q & A dan Kemiskinan

by Fauzan S.

Seseorang berkata kepada juru cerita itu, "Ceritakanlah padaku
tentang kemiskinan…."
Lalu sang juru cerita berkisah tentang kuis Who Wants To Be A
Millionaire.

Ungkapan "pengalaman adalah guru yang paling berharga" nyata betul
dalam novel Q & A karangan Vikas Swarup. Ram Mohammad Thomas adalah
nama yang ganjil karena campuran nama dari tiga agama: Hindu, Islam
dan
Kristen. Hidupnya memang penuh warna dan liku-liku. Sejak bayi sudah
yatim piatu dan hidup di sebuah panti karena ibu yang tak pernah
dikenalnya meninggalkannya di pintu sebuah gereja. Lalu hidupnya pun
mengalami banyak pengalaman berharga sejak dia diasuh oleh seorang
Pastur bernama Romo Timothy, lalu hidup bersama seorang sahabat dekat,
Salim, dari satu lingkungan kumuh ke lingkungan kumuh lainnya.
Membunuh
perampok di kereta ekspres, jatuh cinta kepada pelacur, bekerja
sebagai
bartender, menggagalkan sebuah perampokan di rumah majikannya, tinggal
dengan seorang bintang film yang pamornya sudah pudar, bekerja sebagai
pramu-wisata di Taj Mahal.

Pengalaman-pengalaman sepanjang sembilan belas tahun itulah yang
memungkinkan Ram Mohammad Thomas, yang di film Slumdog Billionaire
bernama Jamal Malik, menjawab 12 bahkan 13 pertanyaan yang diajukan
dalam sebuah kuis yang mirip kuis Who Wants to be a Millionaire dan
memenangkan satu miliar Rupee. Namun pihak penyelengara kuis W3B (Who
Will Win a Billion) tidak senang atas kemenangan Ram, mereka memaksa
Ram menandatangani pernyataan bahwa dirinya berlaku curang dalam kuis
itu. Di tengah penyiksaan agar Ram mengaku, muncullah bidadari
penyelamat, seorang pengacara perempuan yang mencoba mendampingi kasus
Ram.

Lantas pengacara tersebut meminta Ram menceritakan segala hal tentang
kasus tersebut. Apakah Ram memang menyewa seseorang yag memberinya
kode
untuk jawaban-jawaban tersebut? Apakah Ram menjawab sekenanya dan
hanya
beruntung saja? Ternyata Ram menjawab bahwa dia memang beruntung.
Namun
bukan beruntung karena menjawab sekenanya, melainkan beruntung bahwa
pertanyaan yang diajukan itu semuanya dia ketahui jawabannya. Dan
jawaban-jawaban pertanyaan itu didapat melalui serangkaian pengalaman
yang telah dia lewati sepanjang sebelas tahun hidupnya. Pertanyaan
tentang pemukul kritet yang berhasil memukul sekian pukulan bisa
dijawab karena sobatnya pernah tinggal bersama pembunuh bayaran yang
gila olahraga kriket. Jawaban tentang penemu pistol diperoleh saat dia
terpaksa membunuh seorang perampok yang telah menggasak duitnya
sebanyak 50 ribu Ruppe. Pertanyaan tentang sejarah Taj Mahal juga dia
tahu karena pernah menjadi pramu wisata selama dua tahun . Pertanyaan
tentang aktris yang pernah memenangi pernghargaan juga dengan mudah
dia
jawab lantaran Ram pernah menjadi pembantu aktris tersebut.

Seluruh lembar hidup yang dia lewati dari lingkungan kumuh ke
lingkungan kumuh lainnya, dengan berbagai pekerjaan kelas rendah ke
pekerjaan keals rendah lainnya membuahkan sebuah pengalaman yang kaya
warna. Dalam novel tersebut Ram pun berkata, "Bagi orang sepertiku,
otak tak dibutuhkan. Hanya tangan dan kaki yang diperlukan untuk
memperoleh sejumlah hal". Vikas memaparkan sebuah gambaran kemiskinan
di salah satu sudut India, mulai dari Mumbai, Agra, Delhi dan kota
lain. Yang ternyata tidak begitu berbeda jauh dengan Indonesia dan
Jakarta. Di kisah itu ada juga potongan cerita tentang seorang mafia
anak-anak jalanan yang membuat sejumlah anak menjadi cacat agar bisa
menjadi pengemis yang menghasilkan banyak uang. Seorang anak yang
memiliki suara merdu dibuat buta lalu dilepas di gerbong-gerbong
kereta
untuk menangguk belas kasihan orang-orang.

Kuis semacam Who Wants To Be a Millionaire memang membuat air liur
siapa saja menetes karena gambaran uang yang begitu besar menumbuhkan
berbagai impian. Terlebih rakyat miskin yang bahkan memegang uang
seratus ribu rupiah saja belum pernah. Wajah kemiskinan yang
disandingkan dengan tayangan kuis yang nilai hadiahnya berjuta-juta
itu
tergolong ironis. Vikas dan sutradara Danny Boyle kemudian mengemas
kondisi ironis itu dengan pas. Lewat novel Q & A kita diperhadapkan
pada sebuah gambaran kemiskinan yang cukup detail lengkap dengan darah
dan air mata. Sedangkan dalam Slumdog Billionaire, kita disuguhkan
kisah
cinta yang harus terkatung-katung sekian lama lantaran kemiskinan
memisahkan dua hati yang terpaut itu yang akhirnya disatukan kembali
melalui kuis Who Wants to be A Millionaire yang di India disebut Kaun
Banega Crorepati.

Tentu saja tidak akan pernah ada kuis Who Wants To Be a Slumdog.
Siapa Ingin Menjadi Miskin.

18 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Hillary dan Hubungan RI-AS

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton hari Rabu (18/2) ini
dijadwalkan tiba di Jakarta untuk lawatan singkat hingga Kamis esok.

Meski singkat, kita yakin ada banyak makna dari lawatan ini. Bahkan
lebih dari sekadar makna, lawatan Menlu AS ini kiranya juga
mendatangkan manfaat bagi kedua negara.

Pertama-tama harus kita katakan, tamu kita kali ini adalah sosok yang
istimewa. Selain dikenal sebagai sosok cerdas, Hillary adalah mantan
Ibu Negara AS, dan tahun silam adalah salah satu calon presiden
tangguh yang, kalau saja tidak muncul fenomena Barack Obama, boleh
jadi juga bisa menjadi Presiden AS.

Sebagai menlu, Hillary jelas merupakan salah satu pilar utama dalam
pemerintahan Obama, yang "oleh berbagai kalangan di duniaâ" diharapkan
bisa membawa perbaikan. Oleh Presiden Obama diyakini ia mendapat tugas
untuk tidak saja memperbaiki citra AS yang selama beberapa tahun
terakhir terpuruk, tetapi juga untuk meningkatkan hubungan AS dengan
banyak negara di dunia.

Pilihan untuk melawat ke Asia lebih dulu, dan bukannya Eropa,
menyiratkan adanya pergeseran prioritas di pemerintahan AS. Tidak
sedikit kalangan yang ingin melihat, pemerintahan Obama juga tidak
lagi terpaku pada perang melawan terorisme.

Dimasukkannya Indonesia dalam lawatan pertama, selain ke Jepang, Korea
Selatan, dan China, ini diyakini terkait dengan keinginan AS untuk
meningkatkan hubungan dengan negara-negara Muslim. Indonesia sebagai
negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia jelas diakui potensinya
oleh AS. Terpulang kepada Indonesia sendiri, seberapa besar antusiasme
kita untuk ambil peranan sebagai komunikator antara AS dan
negara-negara Islam.

Ketika hingga sekarang persoalan Palestina belum terselesaikan,
peluang Indonesia untuk berkontribusi bagi upaya penyelesaian konflik
ini terbuka lebar. Namun jelas, semua upaya diplomasi hanya akan
berpeluang efektif kalau kita terbuka dan berkolaborasi dengan AS.

Pada sisi lain, kita juga melihat, AS punya kepentingan sendiri untuk
menguatkan kembali pengaruh dan peranannya di kawasan ini. Tentu ini
terkait dengan semakin kuatnya pengaruh China dalam beberapa tahun
terakhir. Hillary tentu akan mendapatkan penjelasan soal China ke
depan saat berada di Beijing nanti.

Menjadi keinginan kita, harapan yang tumbuh seiring dengan naiknya
pemerintahan Obama bisa berbuah dalam wujud terciptanya saling
pengertian baru antara AS dan bangsa-bangsa Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia, AS masih bisa
berperan banyak untuk membantu mengurai kekusutan ekonomi yang kini
merebak di dunia.

Lawatan Hillary kita harapkan juga membuka peluang bagi Indonesia
untuk memberikan kontribusi di panggung internasional dan mendapatkan
mitra berpengaruh untuk membantu meredam krisis ekonomi saat ini.

Kliping : tajuk kompas.com

18 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Ponari, dukun (?) di era fesbuk

By Budi Dharma

Selama sepekan
belakangan ini, wajah utama program berita tv tak lain soal gambar
kerumunan
orang yang tengah antre di sebuah desa. Bukan soal BLT, kelangkaan
minyak
tanah, apalagi nyari gas elpiji. Rata2 mereka yang antre tuch
terkesima dengan
rumor kehebatan Ponari, si dukun cilik yang justru tenar gara2
diliput terus
media massa. Dukun ? Bukankah itu profesi yang sering dikonotasikan
dengan
musyrik ? Tapi tampaknya suara pemuka agama kalah bunyi dalam
menyikapi
keirasionalitasan masyarakat saat ini. Bagaimana mungkin hanya
sekedar air yang
dicelupkan dengan perantaraan batu bisa diklaim menyembuhkan banyak
penyakit ?

Di tengah
keramaian tersebut secara tak langsung sebenarnya menampar muka
pemerintah
dalam hal pelayanan kesehatan bagi rakyat. Bukannya petugas puskesmas
atau
pejabat kelurahan membuka pos pendaftaran kartu askeskin, eh malah
aparat
keamanan yang didatangkan. Lha gimana sich, orang pengen sembuh, tapi
yang
disodorkan malah petugas hukum. Nggak nyambung.

Jangan percaya
mistik, begitu kata MetroTV. Tokh pekerjaan sebagai paranormal dengan
leluasanya beriklan di media massa, bahkan beberapa diantaranya
menjadi
"selebritis infotainment". Beberapa tempat "alam gaib"
seperti di Gunung Kawi
bukannya ditutup dengan alasan musyrik tadi, eh malah dibiarkan
dengan alasan
sebagai lumbung pendapatan asli daerah.

Wah, seandainya
serial "The X-files" masih ada, mungkin kisah Ponari ini bisa
jadi bahan cerita
yang bagus. Benarkah karena kesamber petir bisa menghasilkan efek
mujizat yang
tak terjelaskan dunia medis ? Terus sugesti apa yang menyebabkan
orang2 jadi
kalap dengan mengambil tanah maupun air di sekitar rumah Ponari yang
gubuk itu
? Btw, selama ini kok orang yang mengaku sembuh karena praktek
"pengobatan"
seperti itu tidak ada yang bersaksi di depan publik atau ini semata
omong
kosong doank ?

Kliping : Forum Pembaca Kompas

17 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Gubernur Boleh Langsung!

Oleh Adhie M Massardi

BELOK kiri boleh langsung! Ini bunyi rambu lalu lintas yang dipasang
di banyak perempatan di seluruh Indonesia di zaman Orba. Ahli bahasa
Indonesia Yus Badudu (almarhum) yang dikenal kritis, karena sering
juga mengeritik cara berbahasa para pejabat negara, termasuk Presiden
Soeharto yang hobi mengubah akhiran "kan" menjadi "ken", kemudian
meluruskan kalimat di rambu lalu lintas itu.
Kata Yus Badudu, sekitar 20 tahun lalu, kalimat yang benar dan efektif
untuk rambu itu adalah: "Belok kiri langsung". Bila pembenarannya
"yang belok kiri boleh langsung", menjadi terlalu bertele-tele.
Padahal agar mudah dipahami, rambu harus sederhana. Koreksian ini
kemudian memang menjadi acuan instansi pembuat rambu lalu-lintas,
DLLAJR
Tapi pasti bukan gara-gara petunjuk "jalan ke kiri lebih cepat" karena
tidak dihambat, bila di zaman 'kegelapan" itu, anak-anak muda di
kampus-kampus,seperti Budiman Sudjatmiko dkk, memilih "jalan kiri".
Juga bukan ekses rambu itu bila sekarang banyak orang mau serba
langsung. Langsung kaya, langsung presiden, langsung gubernur,
langsung bupati, langsung wali kota, langsung anggota DPR, langsung…!
Baru ketika "jalan gubernur" mandeg di Jawa Timur hingga
berbulan-bulan dan menghabiskan uang jajan begitu besar, kita
terperanjat. Cuma bagi Mendagri Mardiyanto yang di masa lalu pernah
menjadi anggota ABRI – kekuatan utama penopang rezim Orba – cara
memecahkan kebuntuan itu mudah saja. Bikin rambu baru: Gubernur tidak
langsung. Seperti di masa kegelapan demokrasi itu!
Maksudnya, untuk gubernur mending ditunjuk presiden saja. Murah
meriah. Tidak ruwet. Gubernur kan kepanjangan tangan pemerintah,
begitu alasannya. Lho, memangnya bupati, walikota, camat, kepala desa,
bukan kepanjangan tangan pemerintah? Kalau bukan kepanjangan tangan
pemerintah, lalu kepanjangan tangan siapa?
Padahal kita tahu, yang bikin jalan menuju bupati macet, jalan ke wali
kota crowded, jalan masuk legislatif stagnan, bukan gara-gara rambunya
yang salah. Tapi akibat jalannya berlubang-lubang, becek, banyak
preman pengutip uang semaunya. Tidak sedikit juga bergajulan yang
menebar "ranjau paku" hingga bikin ban kempes sehingga dia harus
berhenti di tengah jalan.
Makanya, kata para sopir taksi yang pernah saya ajak ngobrol, kalau
jalannya diperbaiki, rambu-rambunya dikontrol dengan benar oleh
petugas yang andal dan kredibel, dan hanya yang punya SIM (surat ijin
menjadi) legislatif, bupati, wali kota, gubernur, presiden, yang boleh
lewat situ, niscaya semua akan lancar dan bermanfaat karena memang
bermartabat.
Jadi bukan menutup jalan itu, lalu memerintahkan kita untuk balik
arah, kembali ke zaman kegelapan!
Demokrasi memang butuh proses. Dan kita tidak boleh meningalkan
demokrasi hanya karena prosesnya yang menyakitkan. Bukankah kita
sekarang bisa berjalan, bisa berlari, karena ketika balita dulu, saat
belajar berjalan, juga jatuh bangun dengan lutut berdarah-darah?
Bayangkan bila orangtua kita dulu menyetop proses berjalan kita hanya
karena anak kesayangannya tidak ingin terluka?
Saya sepakat dengan karib saya Wimar Witoelar. Demokrasi itu ibarat
mesin pompa air. Pada mulanya, yang keluar memang lumpur, lalu air
campur lumpur. Setelah itu baru air jernih. Di tempat-tempat tertentu,
ada yang airnya bisa langsung diminum karena mengandung mineral.
Benar, dalam menempuh jalan demokrasi, kita memang terlalu
tergesa-gesa. Bayangkan, hanya dengan modal pengalaman "milih langsung
pemimpin tingkat kelurahan", kita pakai untuk memilih presiden
langsung. Setelah itu baru milih langsung bupati, wali kota, gubernur.
Jadi jangan kaget bila semua yang terpilih sekarang ini masih
berlumuran lumpur. Munculnya "kuala lumpur" di Sidoarjo, bisa jadi,
untuk menandai semua itu.

Kliping : Forum Pembaca Kompas

17 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Mitos Kesaktian Dan Kesembuhan Instan

Fenomena_tabib_cilik

Muliana (40) merayu polisi di ujung pintu masuk Dusun Kedungsari,
Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (12/2). Ia
bertanya mengapa pengunjung luar desa dilarang masuk dusun tempat
tinggal tabib cilik M Ponari.

Pengusaha salon di Jombang yang sejak empat tahun lalu terkena asam
urat itu menuturkan, ia telah tiga kali datang, tapi selalu gagal
menemui Ponari. Muliana berharap kesembuhan dari Ponari karena sudah
bosan berobat ke dokter. “Sekali ke dokter spesialis habis Rp
100.000.
Itu seperti duit terbuang karena saya tidak kunjung sembuh,”
ujarnya.

Selain Muliana, ada Jatmiko (32) dan Marodi (32). Buruh tani yang
datang dari Tuban sejak pagi hari itu mengeluh sakit sendi dan tulang.

“Saya sakit di punggung. Kata dokter, kecapekan. Lima kali berobat
enggak sembuh. Teman saya sakit di paha,” kata Jatmiko menunjuk
Marodi.

Menurut Jatmiko, biaya dokter Rp 50.000-Rp 100.000 tiap kali datang.
Padahal, penghasilan lelaki beranak satu itu hanya Rp 25.000 per hari.

Jatmiko mengaku belum tahu kalau lokasi praktik Ponari ditutup sejak
Selasa lalu. Hal serupa dikatakan Marsih (40) dan Tri (32), pedagang
di Pasar Ploso, Jombang.

Ribuan calon pasien masih memadati dusun Ponari. Mereka berharap
praktik pengobatan Ponari dibuka kembali.

Sebagian dari mereka bahkan bertindak di luar akal sehat. Mereka
mengambil air sumur milik tetangga Ponari dan tanah di sekitar rumah
Ponari. Mereka percaya air dan tanah itu berkhasiat menyembuhkan.

Hal itu diyakini Ano Setiawan (34) yang datang bersama istrinya dari
Madiun untuk mencari kesembuhan bagi anak mereka. Lulusan SMA yang
menjadi buruh dengan penghasilan Rp 25.000 per hari itu sudah di
lokasi tersebut sejak Minggu, tetapi Ponari belum bisa ditemui. “Ya,
saya ambil air dan tanahnya saja. Pokoknya saya yakin,” kata Ano
sambil memotong daun pisang untuk membungkus tanah.

Suwaji (49) dari Bojonegoro juga memutuskan membawa air dari sumur
tetangga Ponari. “Saya sudah ke sini enam kali. Lima kali sebelumnya
saya dapat air dari Ponari dan keluarga saya sembuh. Sekarang saya
dimintai tolong juragan saya,” ujarnya.

Wahyudi (45), tetangga Ponari yang air sumurnya diminta ribuan calon
pasien, mengaku tak tahu mengapa banyak orang percaya khasiat air
sumurnya. Wahyudi yang bekerja sebagai buruh tani itu mengaku tidak
bisa berbuat banyak sekalipun hal tersebut mengganggu aktivitas
keluarganya.

Orang-orang itu mengaku tidak punya akses pada program Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Purwanto (35), pegawai Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yang
ikut mengantre bersama kerabatnya, Sutar (48), mengatakan tidak tahu
cara mengakses Jamkesmas.

Calon pasien lain, Istiqomah (54), pedagang ikan laut di Pasar Batu,
Kota Batu, mengaku enggan mengurus Jamkesmas karena terlalu berbelit.
“Kalau sama Ponari, langsung datang, (bayar) seikhlasnya dan insya
Allah sembuh. Saya ke dokter berkali-kali dan sudah habis banyak uang,
tetapi belum sembuh,” kata Istiqomah.

Latar belakang pasien dan calon pasien Ponari tidak hanya kalangan
masyarakat yang kurang mampu atau kesulitan menjangkau pelayanan
kesehatan yang berkualitas.

Padahal, orangtua Ponari, Kamsen (30) dan Mukaromah (28), bersepakat
agar anak mereka menghentikan praktik pengobatan. Kesepakatan itu
diputuskan pihak keluarga, pimpinan daerah, guru sekolah, dan petugas
kesehatan di Kantor Kecamatan Megaluh. Penyebabnya, Ponari jatuh
sakit. Ponari juga ingin kembali sekolah. Apalagi masyarakat sekitar
rumah mereka terganggu akibat banyak orang datang.

Namun, hingga Jumat, Ponari yang duduk di kelas III SD Negeri 1
Balongsari, Megaluh, belum masuk sekolah. Mukhlison, kerabat Ponari
yang membantu mengatur calon pasien, mengatakan, untuk sementara
Ponari belajar di rumah dibimbing seorang gurunya.

Budaya lama

Dalam pandangan guru besar sosiologi kebudayaan Universitas Darul Ulum
Jombang, Prof Dr Tadjoer Ridjal, fenomena sedemikian percayanya calon
pasien Ponari disebabkan unsur sugesti yang tidak bisa disediakan dari
layanan kesehatan medis. Hal itu tak lepas dari minimnya akses layanan
kesehatan yang berkualitas dan terjangkau.

Terus membanjirnya ribuan calon pasien Ponari, bahkan setelah
pengobatan dihentikan, menurut Tadjoer, dapat ditelisik dari pemahaman
sebagian masyarakat Jawa soal kekuatan yang tidak didapatkan dari
prestasi, melainkan lewat proses penyerapan, bisa lewat keturunan atau
titisan, bisa pula lewat proses penaklukan.

“Fenomena Ponari ini cocok dengan konsep titisan. Seperti kisah Ki
Ageng Sela yang dalam kepercayaan Jawa bisa menangkap petir,” kata
Tadjoer.

Ia menyimpulkan, apa yang terjadi dalam kasus Ponari adalah bangkitnya
mitos warisan budaya lama dalam kultur Jawa kuno soal kesaktian.

Banyak orang bertahan menunggu giliran berobat pada Ponari, walau
banyak orang menganggap hal itu tak masuk akal dan secara resmi
pengobatan sudah ditutup. Agaknya, hal itu akibat kepercayaan terhadap
kesaktian, lama dan mahalnya pengobatan secara medis, serta keengganan
mengurus akses pengobatan gratis dari pemerintah.

Kliping: kompas com

14 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Laut Sawu, NTT, Mei Ini Menjadi Wilayah Konservasi Ikan Paus

bluewhale.

Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur, pada bulan Mei mendatang rencananya akan dideklarasikan sebagai kawasan konservasi nasional untuk perlindungan mamalia laut, terutama Paus. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Konservasi dan Taman Laut Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau kecil Departemen Kalaulan dan Perikanan, Agus Dermawan pada Kamis (12/2), saat mengikuti seminar nasional Moluska II, di Bogor.
Dijelaskan bahwa rencana tersebut saat ini tengah dibahas, menyusul diterbitkannya UU No. 27 tahun 2007 tetang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Menyinggung tentang alasan penetapan laut Sawu serta pengelolaannya, Agus Dermawan mengatakan bahwa laut Sawu yang luasnya mencapai 4.5 juta hektar itu merupakan wilayah migrasi setidaknya 14 jenis ikan paus, termasuk ikan paus biru (Balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (Physeter macrosephalus), yang saat ini merupakan jenis ikan paus yang sudah sangat langka.
Sedangkan pengelolaannya ditangani bersama antara pemerintah pusat serta daerah.
Deklarasi itu rencananya dilakukan saat pelaksanaan Word Ocean Conference and Coral Triangle Initiative Summit di Manado, Sulawesi Utara, pada Mei Ini.

14 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Di Kupang: Tak Punya Uang, Terpaksa Harus Menggendong Jenazah Anaknya Sejauh 5 Km. Dari Rumah Sakit

Alamak…Amanut Terpaksa Gendong Jenazah Anaknya

MASIH ingat kasus pemulung mendorong-dorong jenazah anaknya yang
terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu? Kasus serupa kini terjadi di
Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (13/2) sore kemarin.

Ceritanya bermula ketika Sipri Amanut (2) sakit diare sejak Minggu
(8/2) lalu. Karena tak ada biaya, ibunya, Ny Yacobus Amanut (37) tak
segera membawa anaknya itu ke rumah sakit.

Sampai dengan hari Kamis (12/2), kondisi Sipri makin memburuk. Maka,
Ny Amanut akhirnya membawa Sipri ke RSUD WZ Yohannes Kupang. Meski
sempat mendapat perawatan, nyawa Sipri tetap tak tertolong. Jumat
(13/2) dini hari, Sipri akhirnya meninggal.

Seperti layaknya pasien meninggal di rumah sakit, jenazah Sipro
kemudian disemayamkan di ruang jenazah, meskipun tidak mendapatkan
perawatan semestinya.

Sekitar pukul 15.00, Amanut minta ambulans mengantar jenazah anaknya
ke rumah duka di Kelurahan Liliba yang berjarak 5 kilometer dari rumah
sakit. Untuk jasa pengantaran jenazah itu ia harus membayar Rp
300.000.

Kepada petugas, Amanut mengatakan tak punya uang, dan petugas pun
berlalu. Ditunggu-tunggu sampai satu jam, Amanut tak mendapat
kepastian soal ambulans. Maka, Amanut pun menggendong sendiri jenazah
anaknya menuju rumahnya.

Sekitar 500 meter keluar dari RSUD, sebuah mobil pikap yang baru
pulang dari mengantar bahan bangunan berpapasan dengannya. Si sopir
baik hati turun dan menanyakan apa yang terjadi. Atas nama rasa
kemanusiaan, sopir itu akhirnya mengantarkan Amanut dan jenazah
anaknya pulang.

Ketika berita mengenaskan itu dikonfirmasi ke Kepala Seksi Pelayanan
RSUD Kupang dr Frangki Touw, ia mengaku belum mengatahui kejadian itu.
Menurut dia, kalau kalau ada kartu Jamkesmas dari orangtua maka
pasien, termasuk jenazah pasien, dilayani seperti biasa.

Kalau pun keluarga tidak punya kartu Jamkesmas, sebenarnya keluarga
pasien bisa mengurus surat keterangan miskin dari kelurahan atau RT
setempat sebelum masuk rumah sakit.

“Kalau tidak ada surat keterangan atau kartu miskin sama sekali,
(memang) agak sulit,” katanya.

Mengenai layanan ambulans, Frangki menyatakan sudah banyak jenazah
dari keluarga miskin diantar cuma-cuma. Syaratnya, ada surat
keterangan.

Pertanyaannya, apakah hanya karena tidak ada surat keterangan miskin
atau jamkesmas itu maka seorang ibu harus menggendong jenazah anaknya
sendiri dari rumah sakit?

Kornelis Kewa Ama Khayam

kliping : kompas.com

13 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Tahun 2050 Jakarta Tenggelam

Direktur Eksekutif WALHI Jakarta, Selamet Daroyni
mengatakan, 90 persen dari luas Jakarta diperkirakan akan terendam
banjir pada tahun 2050. Menurutnya, sikap pemerintah yang
mengedepankan pembangunan berbasis konversi lahan adalah salah satu
penyebab dari tidak pernah tuntasnya bencana banjir.

“Pada 2050 Jakarta bagian utara, seperti Bandara Soekarno Hatta,
tenggelam. Mungkin bisa lebih cepat,” terangnya di kantor pusat WALHI,
Jumat (13/2). Ia menyatakan, situasi yang terlihat jelas dari banjir
Jakarta adalah alih fungsi kawasan tangkapan atau resapan air,
pemberian IMB tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis, serta
buruknya sistem drainase dan sungai.

Selain itu, faktor alam berupa curah hujan yang cukup tinggi dalam 25
tahun terakhir, kerusakan lingkungan, dan juga banjir kiriman turut
menjadi penyebabnya. Curah hujan di Jakarta mencapai dua miliar meter
kubik per tahun. Namun, yang terserap hanya 26,6 persen atau 532 juta
meter kubik, sementara sisanya 73,4 persen atau 1.468 juta meter kubik
menggelontor ke laut.

Secara detail dari semua faktor banjir Jakarta alih fungsi adalah yang
paling dominan. Dari luas lahan di Jakarta sebesar 661,52 kilometer
persegi hanya 9,6 persen ruang terbuka hijau. Padahal dari target yang
direncanakan mencapai 13,6 persen pada pemerintahan Sutiyoso.

Agar bencana banjir berkurang, Selamet menyarankan agar pemerintah
segera menerapkan beberapa hal. Sikap itu di antaranya kaji ulang
seluruh kawasan Jakarta berbasis ekologis, menjamin hak masyarakat
untuk andil dalam penataan kota, dan menaikkan ruang terbuka hijau.

“Jadi jawabannya benar-benar keberanian Pemprov DKI untuk merestorasi
kawasan ekologi publik, dan memang menjamin hak masyarakat untuk
memberikan hak jawab dan tanya masyarakat dalam perencanaan kota,”
tegasnya.

Sumber: kompas com

13 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | 2 Komentar

3 Kebiasaan Utama Presenter Andal

Presenter TV merupakan pekerjaan yang menjanjikan popularitas,
kepuasan
kerja dan peluang jaringan yang amat luas. Pekerjaan presenter TV
tidak
hanya menyampaikan informasi tetapi mereka juga harus mampu
meng”entertain”
pemirsanya. Selain itu presenter TV sekarang bukan hanya terlibat
dalam
memandu acara, mengenalkan dan menginterview bintang tamu tapi lebih
dari
itu mereka juga dituntut memiliki keahlian pada saat merencanakan,
meneliti,
dan menulis script yang mereka bawakan sebelum disiarkan. Kompleksitas
keahlian yang harus dimiliki seorang presenter TV dimulai dengan 3
habit
utama seorang presenter :

1. Berlatihlah sebanyak mungkin,

Jangan pernah merasa puas dengan performa yang anda miliki sekarang.
Berlatihlah menulis script anda sendiri dan berlatihlah didepan
cermin.
Tidak ada salahnya anda mengajak teman anda untuk diinterview juga
didepan
cermin. Jika anda merasa telah mahir tidak ada salahnya anda
memberikan
keahlian anda secara gratis kepada lembaga sosial yang membutuhkan
anda
untuk presentasi secara gratis. Anggap saja anda telah dibayar dengan
kesempatan yang penting buat anda. Ingat “practice makes perfect”

2. Bekerja keras dan jangan pernah menyerah

Pekerjaan menjadi presenter TV melibatkan emosi dan perasaan bukan
hanya
pada saat membawakan acara tetapi sebelum running acara dan evaluasi
setelah
acara dibawakan. Seringkali presenter TV harus mengurangi waktu tidur
mereka
untuk melihat berbagai jenis acara sebagai inspirasi ataupun
benchmarking
buat acara mereka.

3. Ciptakan image anda sendiri

Jangan pernah meniru orang lain, jadilah diri anda sendiri pada saat
membawakan suatu acara. Pencitraan ini amat penting bagi seorang TV
presenter.

Selamat mencoba menjadi TV presenter, Good Luck

IBSC TV Presenter mulai 7 Januari 09 pindah ke

Jln Pengadengan Timur Raya no 4 Jakarta Selatan 12770

T 021.9373 3943 / 0856 8607709
www.ibsctvpresenter.com

9 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Komentar

Dugaan Korupsi Buku DAK dari Kertas Daur Ulang

SAMPANG – Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang terus
melanjutkan penyidikan kasus dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK)
2007 di lingkungan Kandepag dan dinas pendidikan (disdik). Hasil
terbaru, kertas buku DAK diketahui kertas daur ulang.

Kepala Kejari Sampang Deddy Suwardy Surachman melalui Kasi Pidsus
Akhmad
Misjoto manyatakan semakin yakin bahwa ada indikasi kuat buku DAK
tidak
sesuai spesifikasi. Sebab, kertas yang digunakan untuk pembuatan buku
DAK adalah kertas hasil recycle atau daur ulang.

“Seharusnya, kertas yang digunakan adalah kertas HVS. Sebab,
penggunaan
kertas HVS ini sudah ditegaskan dalam petunjuk teknis (juknis) buku
DAK.
Jadi, ini sudah melenceng dari ketentuan yang ada,” ujarnya.

Menurut dia, penggunaan kertas daur ulang untuk buku DAK ini terungkap
dalam pemeriksaan ahli dari PT Leces Probolinggo. “Saat diperiksa tim
penyidik pada 16 Januari lalu, Ir Moh. Nugroho Basuki selaku manager
pengendalian mutu PT Leces Probolinggo menegaskan bahwa kertas buku
DAK
bukan kertas HVS, tapi kertas hasil daur ulang,” imbuhnya.

Penggunaan kertas daur ulang ini, menurut Misjoto, tentu menimbulkan
kerugian negara. Sebab, harga kertas HVS per kg sekitar Rp 11.600 dan
harga kertas daur ulang cuma Rp 7.600 per kg. “Sementara jumlah buku
DAK
dari 30 SD/MI se Kabupaten Sampang yang diduga kuat menggunakan kertas
daur ulang sekitar 1.110 ekslempar,” ungkapnya.

Kini penyidik tengah mendalami tahapan percetakan buku DAK. Kuat
dugaan,
pencetakan buku DAK juga ada penyimpangan. “Khusus masalah percetakan
buku DAK, dilimpahkan kepada salah seorang jaksa Kejati Jawa Timur
yang
ditunjuk sebagai tim penyidik kasus dugaan tipikor DAK,” terang
Misjoto.

Jaksa kelahiran Pademawu, Pamekasan, ini menambahkan, penyidik juga
sedang mendalami spesifikasi alat multimedia berupa komputer jinjing
(laptop). Sebab, pengadaan laptop 30 lembaga pendidikan penerima dana
DAK 2007 diduga kuat tidak sesuai juknis.

“Untuk memerlancar proses pemeriksaan saksi dan memastikan pengadaan
laptop sesuai dengan spesifikasi maupun juknisnya, kami akan
melibatkan
ahli dari ITS Surabaya. Surat permohonan saksi sudah kami layangkan
kepada pihak ITS pekan lalu,” pungkas Misjoto.

Sekadar mengingatkan, DAK yang dikucurkan pemerintah pada 2007
mencapai
Rp 19.273.000.000. Sementara dana pendamping APBD yang dikeluarkan
Pemkab Sampang sekitar Rp 2.477.000.00. Artinya, jumlah total dana
segar
yang diberikan kepada 87 SD/MI se Kabupaten Sampang mencapai Rp
21.750.000.000. Tapi, yang diduga menyimpang tercatat 30 lembaga.

Saat itu masing-masing SD/MI menerima dana sekitar Rp 250 juta. Dana
dimanfaatkan membiayai kegiatan fisik bangunan Rp 100 juta dan sisanya
untuk biaya pengadaan buku sebesar Rp 150 juta. Kasus ini diusut
karena
ada indikasi tipikor dalam pengadaan buku DAK yang diduga kuat tidak
sesuai spesifikasinya. (yan/mat)

Sumber: Jawa Post, Radar Madura

9 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar

TEMANGGUNG: Pemkab Fasilitasi Petani Tolak Fatwa MUI

TEMANGGUNG, Menanggapi kegelisahan kalangan petani tembakau terhadap munculnya
fatwa dilarang merokok oleh MUI Pusat, Pemkab Temanggung berbaik
hati. Pemkab berjanji akan memfasilitasi penolakan kalangan petani
tembakau setempat terhadap fatwa MUI soal rokok. Sebab, perekonomian
daerah ini bergantung pada tembakau.
Komitmen tersebut merupakan hasil dari pertemuan antara Asosiasi
Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung dan Bupati Hasyim
Affandi kemarin. Fasilitasi tersebut guna menyatukan langkah dan
persepsi stakehorder, sehingga pemkab bisa menyikapi fatwa MUI.
“Bentuknya antara lain, bupati akan memfasilitasi APTI bertemu para
stakeholder, seperti asosiasi buruh dan para ulama di Temanggung.
Pelaksanaannya dalam waktu dekat ini,” kata Sekjen APTI Temanggung
Nurtantio Wisnubrata, kemarin.
Setelah itu, lanjut Wisnu, pihaknya akan menggelar “Rapat Akbar
Petani Tembakau Temanggung”. “Waktunya dalam jangka tidak lebih dari
14 hari ke depan. Yang jelas dalam waktu dekat. Rapat ini akan
diikuti lebih dari 10 ribu petani tembakau. Sedang tempatnya, kami
masih berkoordinasi dengan pihak keamanan,” katanya.
Untuk memuluskan langkahnya ini, Wisnu mengaku telah mendatangi
Ketua MUI Temanggung KH Yakub Mubarok. “Pak Yakub sudah mendukung
langkah kami yang menolak fatwa MUI meski beliau juga ketua MUI
disini,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Temanggung Tomy Eka Kartika,
menyatakan, baru akan menyikapi fatwa MUI setelah MUI mengirim surat
ke pihaknya terkait keluarnya fatwa tersebut. Untuk sementara
dirinya selaku pi-hak dewan belum mau berkomentar le-bih jauh.
“Dewan pasti akan mendengarkan aspirasi petani tembakau,” janjinya.
her-skh

8 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Politik “Haram”

oleh: ISBANDI

SETELAH sekian lama wacana golput telah menghiasi dalam setiap pesta demokrasi di Indonesia, kini golput akan menjadi ancaman hukum dasar umat Islam dalam mengembangkan hak individu untuk menentukan pilihannya. Sidang ijtima MUI di Padang Panjang Sumatra Barat pada tanggal 23-26 Januari 2009 telah melahirkan fatwa haram golput bagi setiap umat muslim dalam setiap pesta demokrasi di negeri ini.

Intisari fatwa haram golput hasil sidang ijtima MUI berisi anjuran agar umat Islam menggunakan hak politiknya. Namun dalam memilih pemimpin hendaknya umat dapat memilih mereka yang beriman dan bertakwa, jujur, bisa dipercaya dan aspiratif terhadap umat Islam, serta mempunyai kemampuan dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat itu, atau tidak memilih sama sekali, padahal masih ada calon yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud, hukumnya haram.

MAKNA POLITIK HARAM

Apa boleh dikata, Fatwa Haram bagi golput telah diputuskan MUI.
Kendatipun masih menyimpan pro-kontra dalam pelaksanaannya, namun setidaknya patutlah kita siasati melalui langkah strategis dalam mengantisipasi berkembangnya politik haram, baik melalui kesadaran hak berpolitik maupun keyakinan dalam hati nurani untuk menentukan pilihan terbaik terhadap calon pemimpin bangsa.

Politik haram yang tumbuh melalui fatwa MUI merupakan suatu kondisi yang akan terjadi jika masyarakat tidak menyalurkan hak politiknya secara benar berdasarkan penilaian kriteria yang diamanatkan dalam menentukan calon pemimpin bangsa.
Beberapa kondisi yang dapat menjadikan politik menjadi haram dalam perhelatan demokrasi dapat terjadi melalui: pertama, apabila terdapat pemimpin terpilih tidak memiliki standar kualifikasi  yang dipersyaratkan oleh MUI yaitu beriman dan bertakwa, jujur, bisa dipercaya dan aspiratif terhadap umat Islam, serta mempunyai kemampuan dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.
Fenomena ini sangat rentan terjadi yang diakibatkan oleh dominasi sistem politik di Indonesia masih bersifat pragmatis serta lebih mengedepankan kekuatan money politic. Serta yang lebih membahayakan jika dalam perhitungan perolehan suara telah terjadi proses manipulasi data pemilihan yang akan menempatkan calon pemimpin yang tidak sesuai dengan standar kualifikasi MUI. Pada sisi lain, politik haram ini dapat dipengaruhi pula oleh berkembangnya tingkat kesalahan masyarakat dalam melakukan sistem pemilihan yang dianggap belum familier, sehingga dapat menimbulkan tingkat kesalahan dalam menentukan pilihan.

Kedua, apabila perolehan angka golput masih relatif tinggi dalam pesta demokrasi di Indonesia. Kondisi ini akan terjadi berdasarkan alasan: kesalahan pendataan pemilih, berkembangnya sikap antipati pemilih terhadap pesta demokrasi, berkembangnya missunderstanding sistem pemilihan, serta berkembangnya ajakan untuk tidak memilih.

Kondisi politik haram yang tergambarkan di atas akan terus terjadi jika selama proses penyelenggaraan pesta demokrasi tidak mampu membuat ketegasan pola rekruitmen calon pemimpin bangsa, baik melalui pintu partai politik maupun perseorangan.
Untuk mengantisipasi berkembangnya politik haram diperlukan penataan sistem penyelenggaraan pemilihan yang diawali dengan ketegasan dalam menentukan standar kualifikasi calon pemimin bangsa dengan melibatkan berbagai pihak yang akan melakukan penilaian dan uji materil terhadap konstentan pesta demokrasi. Dengan demikian, masyarakat dapat melakukan pertimbangan mendasar terhadap tata cara penyaluran hak pilihnya melalui metode pengkajian secara mendalam kapasitas figur pemimpin yang layak menurut persepsi kemaslahatan umat.

ANTISIPASI POLITIK HARAM

Fatwa haram terhadap golput, hingga saat ini diyakini sebagai bagian dalam membentuk penyadaran umat umat untuk menyalurkan aspirasi politiknya melalui pesta demokrasi. Kondisi ini ditenggarai sebagai salah satu metode efektif dalam mengantisipasi berkembangnya golput dalam pesta demokrasi di Indonesia.

Keluarnya fatwa ini dapat menciptakan terbentuknya politik haram dalam tatanan demokrasi, sehingga diperlukan prosedur antisipasi untuk mampu menciptakan kepemimpinan yang beriman dan bertakwa, amanah, jujur, dan membela kepentingan umat di bumi pertiwi.

Beberapa bentuk antisipasi yang harus dilakukan untuk memperkecil berkembangnya politik haram adalah pertama, perlu segera dilakukan penjelasan teknis terhadap kriteria calon yang dipersyaratkan MUI ubtuk memberikan pemahaman dalam menilai figur dan simbolisme partai politik yang tidak masuk dalam kategori hukum haram. Penyusunan kriteria ini dapat dilakukan melalui perumusan bersama antara penyelenggara pemilihan beserta MUI dan tokoh agama lainnya sehingga dapat memperkecil peluang timbulnya calon pemimpin yang memilki kriteria haram untuk dipilih dalam pesta demokrasi.
Kedua, perlu dibentuk lembaga penilaian independen calon pemimpin bangsa yang akan maju dalam pesta demokrasi untuk memberikan rekomendasi halal-haram terhadap sistem pemilihan, sehingga tidak timbul kerancuan fatwa bagi masyarakat dalam menentukan pilihannya.
Pembentukan lembaga ini tentu saja dapat melibatkan unsur MUI dan tokoh agama lainnya yang akan melakukan uji kompetensi dan administratif berdasarkan penyesuaian kriteria dan kelayakan menjadi pemimpin umat. Ketiga, perlu segera dilakukan sistem sosialisasi terpadu terhadap proses penyelenggaraan pemilihan, baik berhubungan dengan penjadwalan, sistem pemillihan, serta pemahaman terhadap pemberlakuan fatwa haram kepada pemilih dengan berbagai kriteria yang dipersyaratkan.

Fatwa haram bagi golput tidak akan memberikan dampak secara psikologis dan teologis pada diri masyarakat Indonesia, jika dalam proses penyelenggaraan demokrasi masih mempertahankan budaya money politik sebagai panglima kekuasaan.
Oleh karena itu, sejatinya bangsa Indonesia mulai melakukan upaya penyadaran rasionalitas politik melalui penilaian terhadap figur calon pemimpin yang kompeten dan amanah.

Selamat berdemokrasi secara halal, dan jadikan demokrasi di Indonesia sebagai bagian dalam mengembangkan ibadah untuk menentukan pemimpin bagsa yang amanah. (*)

Isbandi, S.Sos
Sekretaris ICMI Muda Banten

www.isbandimantap.multiply.com

6 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | | 1 Komentar

Anggaran Pemilu 2009 Honorarium Peliputan Media Rp 1 Miliar

Arfi Bambani Amri, Suryanta Bakti Susila

Komisi Pemilihan menganggarkan Rp 1,09 miliar untuk
honorarium peliputan media. Pos itu menjadi bagian dari mata anggaran
peliputan dan dokumentasi pemilu 2009 sebesar Rp 4,7 miliar.

Koordinator Politik Anggaran Forum Indonesia untuk Transparansi
Anggaran, Roy Salam, menilai anggaran itu perlu direvisi. Menurut
dia, nilainya terlalu besar untuk pos kegiatan itu sehingga
berpotensi pemborosan.
"Honorarium peliputan sebesar 1,09 miliar itu untuk siapa. Kalau
untuk wartawan, tidak perlu. Karena media sudah punya alokasi
sendiri," kata Roy dalam jumpa pers di Media Center KPU, Jalan Imam
Bonjol, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2009.

Roy juga sangsi anggaran sebesar itu untuk optimalisasi pelayanan di
media center. Buktinya, selama ini media center tidak menjadi garda
depan penyebaran informasi pemilu. "Malah, beberapa waktu lalu akses
masyarakat ke media center dibatasi," katanya.
Kliping : VIVAnews

6 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Komentar

10 Kota Terbaik Versi KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi meluncurkan hasil survei
integritas publik. Kota Gorontalo dinilai sebagai kota yang memiliki
nilai integritas antikorupsi tertinggi.

Survei ini diumumkan Wakil Ketua Bidang Pencegahan Komisi
Pemberantasan Korupsi, M Jasin, di Gedung KPK, Jakarta, Rabu 4
Februari 2009.

Survei dilakukan pada Juni-September 2008 terhadap 105 unit layanan
yang berada di 40 departemen tingkat pusat dan 52 kota dan kabupaten
kota dengan melibatkan responden sebanyak 9390. Mereka terdiri dari
3.150 responden tingkat pusat dan 6.240 responden di kabupaten atau
kota. Responden adalah pengguna pelayanan publik.

10 Kota yang memiliki nilai integritas antikorupsi tertinggi adalah
Kota Gorontalo, Kabupaten Magelang, Kota Balikpapan, Kabupaten
Jembrana, Kota Yogyakarta, Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Kapuas, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Probolinggo.

Sedangkan 15 kabupaten atau kota yang memiliki nilai integritas
terendah adalah Kota Tanjung Pinang, Kota Bandung, Kabupaten Sumenep,
Kabupaten Bandung, Kota Pontianak, Kabupaten Sambas, Kota
Palangkaraya, Kabupaten Serang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota
Malang, Kabupaten Kota Baru, Kota Banjarmasin, Kota Tangerang,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan DKI Jakarta.

Secara spesifik, ada 12 pemerintah kota dan kabupaten yang unit
layanan sampelnya berada di bawah nilai rata-rata. Daerah itu antara
lain Kota Bandung, Tangerang, Malang, Pontianak, Tanjung Pinang,
Palangkaraya, Manado, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Kutai
Kartanegara.

http://korupsi.vivanews.com

4 Februari 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.