Lagi-lagi mengomentari soal ekspresi beragama?

Menanggapi artikel serta tanggapan di:

http://pormadi.wordpress.com/2008/08/27/putra-pemimpin-hamas-menjadi-kristen/#comment-12292

Aku pernah berdialog di jalan, dialog jalananlah, sahabat baikku, dia pindah agama, saat ku tanya kenapa ia pindah agama, ia lalu bercerita banyak hal, usahanya maju pesat-luar biasa setelah kepindahan itu, intinya ia memuji-muji agama barunya dan menjelek-jelekan agama lamanya.
Suatu sikap yang kusayangkan, tidak dewasa.
Aku katakan, hargai-menghargai sesama kelompok atau komunitas adala biasa, tapi menghargai seperti itu juga pada bukan sesama komunitas dengan sama baiknya adalah luar biasa, itu butuh kemuliaan hati, perlu kepribadian yang mumpuni.
Menjelek-jelekan orang, pihak lain atau agama lain itu adalahka pekerjaan orang jelek yang berahlak rendah, berjiwa rendah dan berwawasan rendah.
Orang mau percaya atau tidak, ciri khas orang bodoh adalah pada kecenderungan yang suka menjelek-jelekan pihak lain serta mencari kambing hitam pada kesalahan dirinya.
Biasa kita memuji orang untuk kepentingan kita, tapi memuji orang dengan tulus apalagi diluar sistim itu sulit.
Orang yang suka mencari sisi kelemahan orang lain cenderung tidak pernah merasa aman karena kepribadiannya yang selalu bermasalah pada sisi buruk dan sisi baik dalam dirinya.
Ilmu seseorang semakin tinggi maka ia semakin tenang, bersahaja. Semakin bodoh dan rendah budi pekertimya maka semakin sulit seseorang itu menghargai orang atau pihak lain, bahkan cenderung kasar, bar-bar dan sulit dalam keadaan terkontrol dalam berprilaku.
Percaya nggak?

Tinggalkan Balasan